
Sudah hampir setengah harian ini Fitri berada di rumah sakit, selama itu pula Dicky tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, dia tetap duduk di samping Fitri yang terlihat sudah sering kontraksi akibat induksi.
"Sakit Mas!" lirih Fitri.
"Ayo Fit, kau pasti bisa, kau kan Ibu yang kuat, jangan khawatir, aku akan selalu ada di sini untukmu sayang!" bisik Dicky lembut di telinga Fitri.
Ceklek!
Seorang perawat masuk ke ruangan itu sambil membawa makan siang untuk Fitri.
"Ibu Fitri harus makan, sejak pagi belum makan apapun, supaya ada tenaga buat melahirkan nanti!" ucap Sang Suster.
"Iya Fit, bawa sini makanannya Sus, biar aku yang menutupinya!" kata Dicky sambil menadahkan tangannya, suster langsung memberikan makanan itu di tangan Dicky.
"Tuh kan mau di suapin Pak Dokter, kalau saya jadi Bu Fitri saya langsung habiskan makanannya asalkan di suapin suami! Apalagi setampan Dokter Dicky!" ujar suster itu.
"Ah suster bisa saja!" sahut Dicky tersipu.
"Nanti saja makannya Mas, aku sedang tidak mau makan!" ucap Fitri sambil memegangi perutnya yang sudah sering mules itu.
"Tapi kau harus makan sayang, ini enak lho, sup iga, ayo sayang, buka mulutmu!" tukas Dicky.
Dengan enggan Fitri membuka mulutnya.
Dicky pun mulai menyuapi Fitri perlahan, hingga suapan terakhir.
"Tuh kan pinter istrinya Mas Dicky!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.
Suster yang melihatnya hanya bisa menatapnya dengan tatapan iri, melihat keromantisan pasangan ini.
"Sus, di mana Dokter Mia? Kenapa sejak tadi dia tidak datang kesini melihat kondisi istriku??" tanya Dicky.
"Dokter Mia sedang ada jadwal praktek Dok, lagi pula Bu Fitri baru pembukaan dua kan tadi saat di cek!" sahut Suster.
"Hah, menunggu sekian lama hanya naik satu pembukaan, sedangkan istriku sudah sakit begini!" sungut Dicky.
"Namanya juga melahirkan normal Dok, kalau tidak mau sakit ya di Caesar saja!" sahut Suster sambil membawa nampan bekas makanan Fitri keluar dari ruangan itu.
"Itu suster akan ku pindah tugaskan nanti! Enak saja menyepelekan orang yang sedang menahan sakit!" gerutu Dicky.
"Aduh!" lagi-lagi Fitri menjerit sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
Dicky mengusap-usap dahi Fitri dan mengelus lembut perut Fitri.
"Katakan padaku sayang, kau mau bagaimana untuk mengurangi rasa sakitmu ini? Ini baru pembukaan awal lho!" ucap Dicky.
"Punggungku Mas, sakitnya sampai tembus kebelakang perut dan punggung!" ujar Fitri sambil meringis.
Dicky kemudian langsung mengusap-usap punggung Fitri yang berbaring dengan posisi miring.
Ceklek!
Bi Sumi masuk dengan membawa tas bayi dan tas pakaian Dicky yang ketinggalan.
"Maaf Pak Dokter, tadi Bibi siapkan makanan untuk Dina dan Dara dulu, jadinya baru sempat datang sekarang!" kata Bi Sumi.
"Tidak apa-apa Bi, belum di pakai juga kok isi tasnya, ini Fitri masih menahan sakit perutnya, padahal baru pembukaan dua!" kata Dicky.
"Duh kasihan Mbak Fitri, biasanya kalau di induksi memang lebih sakit dari pada yang alami, yang kuat ya Mbak, yakin nanti pasti akan melahirkan anak pintar dan cerdas seperti Pak Dokter, tampan lagi!" ucap Bi Sumi sambil mengelus-elus perut Fitri.
Ceklek!
Dokter Mia terlihat masuk ke dalam ruangan Fitri dengan seorang suster.
"Bagaimana Fit? Kau harus enjoy dan jangan banyak beban, nanti tensi naik kan malah bahaya!" ujar Dokter Mia sambil memeriksa Fitri.
Dokter Mia Lalu mulai memeriksa bagian dalam Fitri untuk mengecek pembukaannya.
"Pelan-pelan Mia! Kau jangan kasar menusuk milik istriku! Sakit tau!" sengit Dicky.
"Kau ini bodoh atau apa sih Dicky!! Dimana-mana ya cek pembukaan pasti ya begini!" sahut Mia.
"Ku kira di dunia ini hanya aku yang melihatnya, ternyata kau juga!" sungut Dicky.
"Aduh! Aduuh!" Fitri lagi-lagi meringis.
Dicky langsung dengan sigap memeluk dan mengelus perut Fitri.
"Mana yang sakit sayang? Kalau boleh di tukar, biar aku saja yang merasakan sakit, asal kau jangan, mana sanggup aku melihatmu kesakitan seperti ini Fit!" Dicky mulai menangis.
"Mas Dicky jangan menangis, aku tidak apa-apa kok!" ucap Fitri sambil mengusap mata Dicky yang mulai basah.
"Tuh Dicky, Fitri sudah mulai pembukaan 4, ada kemajuan, tapi tetap saja prosesnya masih lama!" ujar Dokter Mia.
__ADS_1
"Ah, syukurlah, ayo Fit, berjuanglah bersamaku, jangan buat aku semakin cemas dan takut, ayo sayang ... berjuanglah demi putra kita!" bisik Dicky sambil menitikkan air matanya.
Dokter Mia yang melihat Dicky menangis jadi terharu, membayangkan dirinya ada di posisi Fitri dan seorang suami yang mendampinginya.
"Aakkkh! Aduuuh!" Fitri kembali meringis.
Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerangnya, rasanya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, begitu sakit tak terkira, lebih sakit dari pada terkena tusukan pisau sekalipun.
Dicky terus memegangi tangan Fitri dan membiarkan tubuh nya menjadi korban pukulan dan cakaran Fitri untuk mengurangi rasa sakit yang semakin lama semakin sering di rasakan nya.
"Fit, kalau tau begitu, tadi malam aku tidak usah masuk ke dalam untuk jalan lahir, ternyata semua itu hanya teori, tetap saja kau kesakitan seperti ini!" keluh Dicky menyesal.
"Mas ... sakit sekali Mas, aku tidak kuat, aku ... sakit Mas!" rintihan Fitri mulai melemah, kini wajahnya menjadi pucat.
Dicky terlihat panik melihat kondisi istrinya yang seperti itu.
"Mia!! Kenapa kau diam saja!! Ayo lihat istriku!!" teriak Dicky.
"Suster, tolong periksa tensinya, aku cek bagian dalamnya!" titah Dokter Mia pada suster di sebelahnya.
Dengan cepat suster mulai memeriksa tekanan darah Fitri. Sedangkan Dokter Mia memeriksa bagian dalam, matanya membulat saat dia melihat bagian dalam Fitri.
"Astaga, ini mulai pendarahan, darah sudah banyak keluar tapi pembukaan masih tetap!" seru Dokter Mia.
"Mia! Cepat lakukan operasi untuk istriku!! Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya dan bayiku!! Cepat Mia!!" teriak Dicky makin cemas.
"Dicky! Kau ini aku keluarkan dari sini kalau masih teriak-teriak!! Kau pikir ini kebun raya?? Dia baru saja mulai pendarahan, kalaupun Fitri harus di operasi tidak pakai emosi juga kali!' sengit Mia.
"Maaf, aku panik!" sahut Dicky.
"Tensinya 165 Dokter!" kata suster yang memeriksa tekanan darah Fitri.
"Wah, lumayan tinggi itu, Fitri, kau dengar panduan aku ya, jangan stress, karena kalau kau mulai stress tekanan darah akan naik!" ujar Mia. Fitri hanya mengangguk lemah.
"Sekarang kau Tarik nafas yang teratur, lalu buang perlahan, tenangkan pikiran, alihkan rasa sakit dengan hal yang Indah-indah, misalnya saat pertama kali kau bertemu Dicky, ayo Fit, kau pasti bisa!" kata Dokter Mia.
Fitri mulai melakukan apa yang di perintahkan Mia, sementara Dicky masih menangis melihat istrinya yang sedang berjuang.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Nanti malam lagi ya Guys ...