Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kejadian Malam Itu


__ADS_3

Seperti biasa, makan malam seluruh anggota keluarga di rumah itu sedang berlangsung.


Dina dan Dara nampak makan begitu lahap sekali, mungkin karena di rumah ini, banyak makanan dan lauk yang enak-enak yang di sukai mereka, sehingga mereka makan banyak.


Demikian juga Dicky, laki-laki itu kelihatan sangat antusias menyantap makanannya, di rumah ini, segala jenis makanan enak selalu ada dan tersedia pada setiap jam makan, sehingga membuat siapa saja akan berselera untuk menyantapnya.


Fitri hanya memandangi makanan yang kini ada di piringnya, bukannya dia tidak lapar, dia hanya ingin menguji dan mencoba sesuatu, sesuatu pertanyaan yang belakangan sering bercokol di pikirannya.


"Kenapa kau tidak menyentuh makanan mu sayang?" bisik Dicky saat melihat istrinya hanya bengong saja.


"Perutku mual Mas, nanti aku buat makananku sendiri saja, mungkin aku akan makan sereal nanti!" balas Fitri.


Dicky hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali melanjutkan aktifitas makannya.


Sekitar 15 menitan makan malam selesai, para pelayan membereskan meja makan, biasanya para pelayan akan makan setelah penghuni rumah ini makan, mereka akan makan di sebuah meja makan khusus pelayan yang ada di dapur.


Waktu baru menunjukan pukul tujuh malam ketika mereka selesai makan, anak-anak masih nampak bermain di tuang keluarga itu, Dicky juga masih terlihat sibuk di depan layar laptopnya.


Sementara Bu Anjani masih terlihat bermain bersama Alex cucunya, beraneka ragam mainan Alex yang sengaja di belikan oleh Bu Anjani hampir memenuhi setengah dari ruangan itu.


Fitri duduk di samping Dicky, menemani suaminya itu, namun matanya mengamat-amati suasana di rumah itu.


Kira-kira jam delapan kurang, Dina dan Dara terlihat sudah menguap, mereka kemudian masuk ke kamar mereka.


Mata Dicky juga terlihat merah, beberapa kali pria itu menguap menahan kantuk.


Bu Anjani kemudian berjalan mendekat ke arah Dicky dna Fitri.


"Fit, ini Alex kelihatannya sudah ngantuk, kau susui lah dulu, Ibu juga mengantuk ingin segera tidur!" kata Bu Anjani.


"Iya Bu!" jawab Fitri sambil mengambil Alex dari gendongan Bu Anjani.


Kemudian Bu Anjani segera beranjak menuju ke kamarnya.


"Kita ke kamar yuk Fit, ngantuk nih!" ajak Dicky.


"Baru juga jam delapan Mas, dulu waktu di rumah lama, kita biasa tidur jam 10 malam kan!" sahut Fitri.


"Tapi mataku sudah berat ini Fit, ayolah!" bujuk Dicky.

__ADS_1


Akhirnya Fitri menganggukan kepalanya, dia dan Dicky segera naik ke atas menuju ke kamarnya.


Dicky langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, biasanya setiap malam pasti Dicky selalu minta di puaskan, tapi malam ini dia bahkan langsung memejamkan matanya.


Fitri kemudian mulai menyusui Alex, tak berapa lama kemudian, Alex juga nampak tertidur. Fitri lalu membaringkan Alex di samping Dicky, sengaja memang, kalau Alex bangun supaya Dicky bisa langsung bisa mendengar.


Fitri mengecup kening Alex dan Dicky bergantian, dua laki-laki yang sangat dia sayangi itu.


Fitri masih terjaga, kini waktu sudah hampir jam 9 malam, perutnya mulai terasa lapar, karena dia tadi sengaja tidak menyentuh makanannya.


Kemudian Fitri beranjak dari tempat tidurnya, dia membuka pintu kamarnya. Suasana di rumah itu mulai mencekam, hanya cahaya lampu yang remang-temang, padahal ini belum terlalu malam.


Fitri berniat akan mencari makanan di dapur karena perutnya mulai lapar.


Kraaakk!


Fitri terperanjat kaget, ada suara seperti pintu di buka dari arah tangga.


Dengan sangat perlahan dan sedikit mengendap Fitri melangkah ke arah tangga, mengintai dari balik tembok.


Pak Bram dan Lina istrinya nampak keluar dari kamar itu.


Jantung Fitri mulai berdegup keras, sosok itu baru pertama kali Fitri melihatnya, dia memakai tudung warna hitam dan kain panjang, walau cahaya lampu begitu remang-remang, Fitri dapat melihat kalau itu adalah seorang wanita.


Keringat dingin mulai mengalir di dahi Fitri, lenyap sudah rasa laparnya, berganti dengan rasa penasaran yang amat sangat.


Ada rahasia apa di atas diri Pak Bram dan Istrinya itu, lalu siapakah orang yang bersamanya itu?


Mereka bertiga terus berjalan mengendap-endap, Fitri juga mengikutinya perlahan, dia nyaris tidak bernafas karena takut ketahuan.


Fitri terkesiap saat mereka berjalan ke arah kamar Bu Anjani, dada Fitri kembali berdebar, apa yang akan mereka perbuat terhadap Bu Anjani.


Sekelebat pikiran buruk mulai bercokol di pikiran Fitri, jangan-jangan mereka punya niat jahat terhadap Bu Anjani.


Fitri mulai bingung apa yang harus di lakukan nya, kalau dia teriak bisa jadi dia yang akan menjadi korban, apalagi seisi rumah ini baru saja di landa tidur lelap, mana mungkin akan mendengar teriakan Fitri.


Fitri terus memutar otaknya, dia ingin sekali merekam mereka, tapi dia tidak membawa ponsel.


Pak Bram nampak membuka gagang pintu kamar Bu Anjani dengan sebuah kunci, apakah itu kunci duplikat, atau apa, tapi tak lama kemudian pintu itu sudah terbuka lebar, nyaris tanpa suara.

__ADS_1


Jantung Fitri semakin berdebar hebat, wajahnya berubah pucat, apa yang hendak di lakukan mereka di kamar Bu Anjani?


Fitri kemudian melangkah mendekati kamar itu, Pak Bram dan Lina juga orang misterius itu sudah masuk ke dalam kamar Bu Anjani.


Fitri mengintip dari celah pintu dari samping, agar kehadirannya tak diketahui.


Bu Anjani nampak tertidur lelap di sebuah tempat tidur besar, dia tidak menyadari kalau kamarnya telah di satroni orang yang tak lain adalah kerabatnya sendiri.


Pak Bram kemudian mulai membuka sebuah lemari besar yang ada di sudut kamar itu, lemari itu sangat besar dan tinggi, terbuat dari besi, seperti brankas tapi berukuran sangat besar.


Lina nampak menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau aksi mereka tak di ketahui siapapun.


Sementara orang misterius itu ada di samping Pak Bram, seolah sedang memberikan komando.


Fitri benar-benar terperangah melihat apa yang ada di depan matanya.


Selama ini berati Pak Bram dan komplotannya telah merampok Bu Anjani secara halus.


Fitri mulai bingung apa yang harus dilakukannya, dia terus memutar otak bagaimana caranya dia menyingkapkan kejahatan Pak Bram yang terselubung itu.


Dia tidak bisa bicara tanpa adanya bukti.


Fitri kaget saat melihat Pak Bram sudah selesai melakukan aksinya, mereka kembali menutup lemari itu, dan melangkah menuju ke luar.


Fitri gelagapan, tanpa membuang waktu Fitri segera melangkah cepat kembali menuju ke kamarnya.


Ketika hampir sampai di kamarnya, wanita misterius itu nampak menoleh ke arahnya, Fitri bersembunyi di balik pot besar di antara pohon palem yang ada di atas pot itu.


Jantung Fitri seketika seolah berhenti berdetak saat orang itu berjalan ke arah pot besar itu.


Bersambung ...


****


Makan ayam pakai daun pepaya


Nanti malam lagi yaa ...


Yuk mampir ke cerita Author yang lain guys ... klik profile saja ya ...

__ADS_1


Terimakasih ...


__ADS_2