
Fitri tersenyum menyambut kedatangan suaminya itu. Dengan sedikit manja dia bergelayut di lengan kekar Dicky.
"Duh yang lagi senang karena suaminya pulang siang!" goda Dicky.
"Iya Mas, kau bahkan pulang lebih cepat dari pada anak-anak!" sahut Fitri.
"Aku selalu menepati janjiku Fit, dan aku ada kabar gembira untukmu!" ujar Dicky sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga itu.
"Kabar gembira apa Mas?" tanya Dicky.
"Ehm ... kita makan dulu yuk, sudah lapar aku!" sahut Dicky.
"Iiih Mas Dicky mah buat orang penasaran saja!" sungut Fitri cemberut.
Mereka kemudian beranjak menuju ke meja makan yang sudah terhidang makanan yang aromanya menggugah selera.
"Wah, ini pasti soto ayam nih, duh aku bakalan tambah gemuk nih kalau tiap hari di suguhkan makanan yang enak-enak begini!" ucap Dicky sambil mulai menyantap makanannya.
Tiba-tiba matanya tertuju pada jari Fitri yang di perban. Dicky membulatkan matanya.
"Kenapa jarimu Fit?" tanya Dicky cemas.
"Eh ini, tidak apa-apa Mas, cuma tergores sedikit saja!" kilah Fitri.
"Bohong!" cetus Dicky.
"Iya Mas, cuma tergores usai sedikit, Mas Dicky lebay ah!" sahut Fitri.
"Bi Sumi? Ini kenapa tangan Fitri Bi??" tanya Dicky saat melihat Bi Sumi menaruh minuman dingin di meja makan.
"Oh anu Pak Dokter, tadi Mbak Fitri sedang memotong buah, tidak sengaja tangannya teriris pisau, tapi saya sudah beri obat lukanya!" jawab Bi Sumi.
"Lain kali jangan menyentuh yang berhubungan dengan pisau lagi, dan jangan menyentuh alat-alat dapur, tolong ingatkan Bi Sumi! Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi!" ujar Dicky sambil mengecupi jari Fitri yang di perban itu.
"Iya Pak Dokter, tadi Bibi sudah ingatkan, tapi Mbak Fitri ngotot mau membantu!" sahut Bi Sumi.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang di kendarai Mang Salim masuk ke dalam parkiran, Dina dan Dara nampak berhambur masuk ke dalam rumah.
"Selamat siang Papa Mama!" ucap Dina dan Dara serempak.
"Siang sayang, kalian ganti baju dulu, cuci tangan dan kaki setelah itu makan siang di sini!" titah Fitri.
"Iya Ma!" sahut keduanya yang langsung berjalan menuju ke kamar mereka.
Sementara Dicky dan Fitri melanjutkan makan siang mereka.
__ADS_1
"Oya Mas, tadi ada guru les privat nya Dina dan Dara datang, namanya Pak Hardi, Mas Dicky dapat rekomendasi dia dari mana?" tanya Fitri.
"Oh, dari lembaga penyalur guru privat Fit, menurut mereka Pak Hardi ini guru profesional karena dia mengajar di sekolah internasional, makanya aku pilih dia!" jawab Dicky.
"Begitu ya, soalnya aku seperti tidak asing dengan Pak Hardi ini, tapi mungkin cuma perasaanku saja kali ya!" gumam Fitri.
"Mungkin cuma perasaanku saja, sudahlah Fit, kau jangan terlalu banyak pikiran, ayo cepat habiskan makananmu, aku saja sudah nambah dua kali nih!" ujar Dicky.
Fitri kemudian dengan cepat menghabiskan makanannya.
Setelah mereka selesai makan, Dina dan Dara sudah selesai berganti pakaian, mereka berjalan menuju ke meja makan.
"Ayo cepat kalian makan, sebentar lagi guru les kalian akan datang, kalian belajar yang serius ya, kalau ada pelajaran susah jangan sungkan bertanya padanya!" ujar Dicky.
"Iya Pa!" sahut mereka.
Kemudian Dina dan Dara mulai makan dengan lahapnya di meja makan itu, sementara Dicky dan Fitri duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton acara televisi.
Waktu sudah hampir menunjukan pukul dua siang.
Terdengar suara motor yang terparkir di luar, tak lama kemudian suara bel rumah berbunyi.
Dicky segera bangkit dan membukakan pintu rumahnya.
"Selamat siang Pak Dokter Dicky, saya Hardi guru lesnya Dina dan Dara!" ucap Hardi memperkenalkan diri.
Hardi lalu masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu yang luas itu.
Dicky mulai memanggilkan Dina dan Dara. Mereka kemudian memulai pelajaran mereka di ruang tamu itu yang sudah di sediakan sebuah meja belajar dan kursi-kursinya.
"Mereka sudah mulai belajar Mas?" tanya Fitri.
"Iya Fit, mereka baru memulai pelajaran mereka di depan!" sahut Dicky.
"Mas Dicky pernah merasa mengenal Pak Hardi ini tidak?" tanya Fitri.
"Tidak Fit, aku baru saja mengenalnya!" jawab Dicky.
"Oh, ya sudah Mas, mungkin hanya perasaanku saja ini!" ujar Fitri.
"Sayang, kan aku sudah katakan padamu, jangan banyak pikiran, kita fokus saja yuk Sama Dedek, kapan kita akan kontrol lagi ke rumah sakit Fit?" tanya Dicky.
"Masih Minggu depan Mas, tapi kata Dokter Mia, kalau sudah masuk bulan ke delapan, harus mulai dua Minggu sekali kontrolnya!" jawab Fitri.
"Iya sayang, kapanpun kau kontrol aku pasti akan mendampingimu!" ucap Dicky, Dia mulai merebahkan kepalanya di pangkuan Fitri di sofa itu.
__ADS_1
Sesekali Dicky mengelus dan menciumi perut Fitri yang terlihat sangat buncit itu.
Dengan lembut dan perlahan Fitri mulai membelai wajah dan rambut Dicky.
Bi Sumi kemudian berjalan mendekati mereka.
"Pak Dokter, Mbak Fitri, itu gurunya anak-anak mau di suguhkan apa ya?" tanya Bi Sumi.
"Dia buatkan teh manis dingin saja Bi, cuaca panas begini pasti segar minum yang dingin-dingin!" jawab Fitri.
"Bi Sumi tanya dulu mau di buatkan apa, mana tau Pak Hardi ada diabetes yang tidak boleh makan gula!" lanjut Dicky.
"Baiklah kalau begitu!" sahut Bu Sumi yang kemudian berjalan ke depan hendak menawari Pak Hardi.
"Hmm, mentang-mentang kau Dokter Mas, semua serba di ukur-ukur kadar kesehatannya!" ujar Fitri sambil mencubit gemas hidung mancung Dicky.
"Ya harus dong Fit, kita memberi itu harus sesuai dengan kebutuhan orang, seperti pasien di beri obat sesuai dengan penyakitnya!' jelas Dicky.
"Ah Mas Dicky, aku jadi makin ..."
"Makin cinta ya Fit, aku senang mendengarnya!" goda Dicky.
"Dih, siapa yang bilang?"
"Hatiku yang bilang Fit, Oya aku sampai lupa mau menyampaikan kabar gembira ini padamu!" ucap Dicky.
"Kabar gembira apa sih Mas? Bukankah Mas Dicky selalu membuatku gembira?" tanya Fitri penasaran.
"Ciyee ... penasaran nih yee, jadi begini sayang, aku dapat hadiah dari pemilik rumah sakit, dua tiket liburan ke Jepang selama tiga hari!" ujar Dicky.
"Ke Jepang? Yang benar Mas??" tanya Fitri terkesiap seolah tak percaya.
"Sejak kapan Mas Dicky mu ini suka bohong Fit, tentu saja benar! Bukan hanya tiket pesawat dan fasiltas hotel, tapi juga uang saku selama di sana!" jelas Dicky. Mata Fitri nampak berbinar senang.
"Tapi Mas ... sekarang ini kan penglihatan ku sedang bermasalah, aku juga sedang hamil, padahal aku ingin sekali melihat salju!" ungkap Fitri yang tiba-tiba berwajah mendung.
Dicky langsung bangkit dari pangkuan Fitri, dia kemudian mulai mendekap Fitri dengan erat dan hangat.
"Jangan khawatir selama aku selalu ada di sampingmu Fit!" Bisik Dicky.
Ada rasa damai dan nyaman yang kembali Fitri rasakan.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Ayo dukung guys ... Authornya tidak pintar promo ini hehehe 😉