Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kembali Ke Jogjakarta


__ADS_3

Hari ini Anita dan Reino rencana akan kembali ke Jogjakarta, mereka akan diantar oleh Mang Salim ke bandara.


Anita nampak sibuk mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan dibawa ke ke Jogjakarta, Fitri juga membawakan oleh-oleh untuk Anita dan keluarga besarnya di Jogjakarta.


"Penerbangan jam berapa Ta? kadang-kadang di Jakarta ini sangat macet, Jadi kita juga harus berangkat lebih awal supaya kau tidak ketinggalan pesawat!" tanya Fitri.


"Jam satu siang Fit, masih ada 3 jam lagi, Reino juga masih belum bangun dari tidur siangnya, nanti Donny akan menjemputku di bandara Jogjakarta, kalau aku sudah sampai!" jawab Anita.


Tiba-tiba Bu Eni muncul dari dalam kamarnya, dengan membawa satu buah koper, pakaiannya juga sudah terlihat rapi, dia memakai batik yang di berikan oleh Dicky kemarin.


Fitri dan Anita terperangah dan mereka saling berpandangan.


"Ibu mau ke mana? Kok sudah rapi dan membawa koper lagi!" tanya Fitri.


"Fit, Ibu ikut Anita dan Reino saja ke Jogjakarta, kalau ibu di sini terus, ibu selalu ingat bapak, paling tidak di sana Ibu bisa menemani Anita yang sedang hamil!" jawab Bu Eni.


"Ibu Serius mau ikut aku dan Reino pulang ke Jogjakarta?" tanya Anita nyaris tak percaya.


"Ya serius lah, mana pernah Ibu bohong!" sahut Bu Eni.


"Tapi Bu, Apa tidak sebaiknya ibu tinggal di sini saja? Kan kalau sewaktu-waktu ibu mau mengunjungi makam Bapak dekat!" tanya Fitri.


"Tidak Fit, ibu harus belajar melupakan Bapak, kalau di sini, Ibu ingat Bapak terus!" jawab Bu Eni.


"Baiklah Bu, keputusan ada di tangan Ibu, kalau ibu merasa ibu lebih baik tinggal di Jogjakarta bersama Anita dan Pak Donny, aku tidak bisa melarang Bu!" ucap Fitri.


"Benar Bu, asalkan Ibu nyaman, di manapun kami tidak akan keberatan, kapan-kapan Fitri juga main-mainlah ke Jogjakarta liburan nanti gantian!" kata Anita.


"Beres Ta, nanti aku akan ajak Mas Dicky untuk liburan ke Jogjakarta, sekalian bawa anak-anak, mereka pasti senang, lagipula sebentar lagi kan liburan tahun baru, dan akhir semester juga!" ujar Fitri.


Kemudian setelah itu, Fitri membantu membawa barang-barang Anita dan memasukkannya ke dalam mobil yang akan Mang Salim kendarai.

__ADS_1


Tak lama kemudian, setelah berpamitan, Anita, Reino dan Bu Eni masuk ke dalam mobil, dan mobil itu pun bergerak keluar dari pintu gerbang rumah itu, menuju ke bandara.


"Yah rumah kita sepi lagi deh Ma, padahal aku baru senang, karena ada Reino disini, kenapa dia cepat sekali pulang?!" sungut Alex.


"Reino memang harus pulang, karena kan rumahnya Reino memang di Yogyakarta, kapan-kapan kita liburan ke Jogjakarta ya, ajak Papa!" ucap Fitri sambil mengelus kepala Alex.


"Yah Mama, kan Papa dokter, Memangnya dokter bisa meninggalkan pasiennya di rumah sakit?" tanya Alex.


Fitri tersenyum mendengar pertanyaan Alex. memang Dicky dan Fitri bersepakat, tidak memberitahu Alex kalau rumah sakit itu adalah milik Dicky Papanya.


Hal itu sengaja dilakukan, supaya Alex tidak menjadi sombong, sampai saatnya nanti dia dewasa, karena Rumah Sakit itupun akan diwariskan pada Alex nantinya.


Saat ini yang Alex tahu, Papanya bekerja di Rumah Sakit itu sebagai dokter, untuk menyembuhkan orang sakit.


"Sudah yuk kita masuk ke dalam, kasihan Alena sedang main sendirian, Kak Alek temani dong, mama mau menelepon Papa dulu supaya Papa cepat pulang!" kata Fitri sambil menuntun tangan Alex masuk kembali ke dalam rumahnya.


Alena nampak sedang bermain boneka di ruang keluarga itu sendirian, Fitri dan langsung duduk di samping Alena.


"Dek, jangan main boneka terus, Kak Alex kan cowok Dek, kita main puzzle saja yuk, atau kita mewarnai gambar?" ajak Alex.


Fitri kemudian meraih ponselnya sambil mengawasi kedua anaknya bermain, dia mulai menelepon Dicky menggunakan panggilan video.


"Halo Ma, baru aku setengah harian pergi, kau sudah kangen saja, Ada apa sayang?" tanya Dicky yang terlihat tersenyum ke arahnya di video itu.


"Hari ini Papa pulang jam berapa? Oh ya Pa, baru saja Anita dan Reino pulang ke Jogjakarta, Ibu ikut bersama mereka Pa, kata Ibu supaya dia bisa melupakan Bapak!" jawab Fitri.


"Aduh kasihan sekali ibu, aku tidak sempat berbicara banyak lagi sama ibu, coba saja kalau tahu ibu akan ikut ke Jogjakarta!" kata Dicky.


"Sudahlah Pa, mungkin memang lebih baik sementara ibu di Jogjakarta saja, nanti kalau dia sudah stabil, kan dia bisa tinggal di sini lagi, jadi nanti kamu pulang jam berapa Pah?" tanya Fitri.


"Yang sudah kangen berat, sampai tanya jam pulang segala, aku sedang menemani tamu dari luar negeri nih, untuk riset penelitian kedokteran menggunakan teknologi, kemungkinan aku akan pulang sore!" jawab Dicky.

__ADS_1


"Oh, ya sudah deh kalau begitu papa hati-hati ya, dah papa!" ucap Fitri sebelum menutup panggilan video teleponnya.


Bi Sumi terlihat datang menghampiri Fitri, yang baru selesai menelepon Dicky dengan panggilan video.


"Mbak Fitri, itu di depan ada yang menunggu Mbak Fitri lho, di teras depan!" kata Bi Sumi.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Fitri segera beranjak menuju ke teras depan rumahnya itu, ternyata Dinda sudah menunggunya di sana, Fitri tersenyum melihat kedatangan Dinda kemudian dia duduk di samping wanita itu.


"Hai Dinda, apa kabar? aku senang Kau main ke rumahku!" sapa Fitri.


"Kabarku baik mbak, sekarang aku makin sibuk di sekolah, jadi aku bisa sedikit melupakan kejadian itu, kejadian yang membuat aku sangat sakit hati!" ucap Dinda.


"Kita ambil positifnya saja Din, kalau kau batal menikah dengan si Ken, itu berarti kau memang tidak berjodoh dengannya, dan pasti akan ada jodoh yang lebih baik daripada si Ken bajingan itu!" sahut Fitri.


"Iya mbak, oh ya, ada yang mau aku konsultasikan sama Mbak Fitri, bukankah kita sesama guru Mbak, Mbak Fitri berpengalaman mengajar di SD bukan?" tanya Dinda.


"Iya Dinda, aku memang lumayan lama mengajar di SD, apa yang yang hendak kau tanyakan padaku?" tanya Fitri balik.


"Begini Mbak, Apakah Mbak Fitri pernah punya pengalaman menangani anak yang sangat luar biasa nakal? Kebetulan di kelasku, Aku punya seorang murid yang sangat nakal dan dia dimusuhi teman-temannya, aku kasihan padanya Mbak, karena dia tidak punya ibu, Mungkin dia nakal karena kurang perhatian dan kasih sayang ibu!" ungkap Dinda.


"Dinda, kalau kau tahu masalahnya, karena dia kurang kasih sayang ibu, berikanlah dia perhatian dan kasih sayang seperti seorang ibu terhadap anaknya, kata Mas Dicky, hanya Cinta yang bisa menyembuhkan luka!" ucap Fitri.


Dinda tersenyum dan langsung memahami apa yang dimaksud Fitri, kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Mbak Fitri!" ucap Dinda.


Bersambung ...


****


Yuk mari di lanjut di novel terbaru author "Hujan, Sampaikan Rinduku"

__ADS_1


Kisah yang agak sedikit melow dari sebelumnya ...


Jangan lupa dukungannya guys... Trimakasih ...


__ADS_2