Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kehilangan


__ADS_3

Fitri berlari keluar dari ruangan itu, menyusuri lorong, memanggil-manggil nama dokter, beberapa orang perawat dan dokter keluar dari ruangan mereka, mereka terkejut mendengar Fitri yang berteriak-teriak malam itu.


"Tolong dokter!! lihat keadaan bapakku! Tolong selamatkan bapakku!" seru Fitri.


beberapa orang dokter dan suster langsung berlarian ke ruangan perawatan Pak Karta, di sisi pembaringan itu, Bu Eni nampak menangis, sambil mengguncang-guncangkan tubuh Pak Karta.


Dokter Nani, yang kebetulan ada di ruangan itu langsung memeriksakan kondisi tubuh Pak Karta, yang kini sudah semakin dingin dan pucat.


Kemudian dia menarik nafas panjang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dia sudah pergi, Pak Karta sudah meninggal, ikhlaskan kepergiannya, ini jalan yang terbaik!" ucap dokter Nani.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" jerit Bu Eni.


Bu Eni nampak histeris, dan langsung memeluk tubuh Pak Karta, dia menangis sejadi-jadinya.


Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa terdiam, sambil menatap ke arah Bu Eni yang terlihat sangat terguncang.


Fitri juga terdiam, tubuhnya gemetar, dan dia juga tidak punya kekuatan apapun, untuk melangkah, semua ini seperti mimpi baginya, dia masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya, juga dialaminya malam ini.


Tiba-tiba Bu Eni nampak jatuh terkulai, dia jatuh pingsan, beberapa orang perawat langsung mengangkat tubuhnya, dan membawanya ke ruangan yang lain.


Perlahan Fitri melangkah mendekati ranjang Pak Karta, beberapa orang perawat juga sudah menutup tubuh itu dengan kain putih.


"Pak, kenapa kau pergi secepat ini? apa yang harus aku katakan pada ibu? Aku tidak tahu lagi Bagaimana cara menjawab ibu! kenapa Bapak tidak pamit dulu? Kenapa Bapak pergi diam-diam?? Kenapa Pak?!" kata Fitri dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Sabar Bu Fitri, Pak Karta sudah berusaha untuk bertahan, tapi sepertinya lebih baik dia pergi dengan tenang, dan sudah tidak merasakan sakit lagi!" ucap Dokter Nani.


"Tapi dokter, ini sangat menyakitkan, bapak itu orangnya baik, sabar, tidak banyak bicara, mengalah, kenapa harus dia yang pergi?" isak Fitri.


"Sekarang sebaiknya Bu Fitri hubungi dokter Dicky, biar saya serahkan untuk segala sesuatunya pada dokter Dicky saja, lalu Bu Fitri harus mendampingi Bu Eni, siapa lagi yang akan mendampinginya kalau bukan anaknya, Saya turut berduka cita Bu!" ucap dokter Nani.


Fitri berusaha menguatkan hatinya, kalau dia juga tumbang, siapa akan mengurus kematian Pak Karta.


Fitri kemudian mengambil ponselnya dan mulai menelepon Dicky suaminya.

__ADS_1


"Halo Ma, ada apa?" tanya Dicky.


"Pa, Bapak sudah pergi Pa, dia sudah meninggal, sekarang Ibu pingsan, bisakah kau datang ke sini sekarang Pa? Aku butuh Papa!" tanya Fitri sambil teriak.


"Tenang Sayang, aku akan datang sekarang, Alex dan Alena akan ku titipkan pada Bi Sumi, kau jangan cemas ya, tunggu aku!" jawab Dicky. Fitri kemudian menutup ponselnya.


Setelah menelepon Dicky, Fitri kemudian mulai menelepon Anita, beberapa kali menelepon akhirnya di angkat juga.


"Halo Fitri? Ada apa menelepon tengah malam begini?" tanya Anita.


"Ta, Bapak sudah tidak ada Ta, Bapak sudah pergi!"


"Apa maksudmu Fit??"


"Bapak sudah meninggal Ta, baru saja, sekarang Ibu sangat drop dan kini dia pingsan!" ucap Fitri lirih.


"Ya Tuhan, kasihan Ibu, aku dan Donny akan cari penerbangan tercepat, kami akan ke sana Fit!" jawab Anita.


"Iya Ta, aku tidak kuat sendirian, Ibu kelihatan begitu rapuh dan kehilangan, aku tidak tega Ta!" isak Fitri.


****


Matahari baru saja terbit di ufuk Timur, sinar hangatnya menerpa wajah Bu Eni yang masih menangis sambil bersimpuh di makam itu, di makam suaminya yang selama ini selalu mendampinginya selama lebih dari 30 tahun.


Fitri juga menangis, ada rasa yang tak pernah dia bisa ungkapkan, tentang sosok Pak Karta, laki-laki yang merupakan panutan dan pelindung selain Dicky.


Beberapa kali Bu Eni pingsan karena tidak kuat menghadapi kenyataan.


Dari situ Fitri dan Dicky sadar, cinta mereka abadi dan suci, cinta yang tak lekang oleh waktu. Cinta yang bisa di buktikan saat nafas tak lagi ada, kini Bu Eni telah kehilangan separuh nafasnya dan jiwanya, dia limbung, berkali-kali tak sadar, dan terlihat begitu hampa.


Dari kejauhan, nampak Anita, Donny dan Reino putra mereka, berjalan menuju ke makam Pak Karta yang mulai sepi itu.


ketika mereka sudah mendekat, Anita langsung menghambur memeluk Bu Eni, dan mereka saling bertangis-tangisan.


Sementara Donny nampak berdiri di samping Dicky, hanya bisa menatap momen itu, Dicky beberapa kali juga menyeka wajahnya yang basah, dia juga membayangkan seandainya maut memisahkan dirinya dan Fitri entah, mereka bisa hidup sendiri atau tidak.

__ADS_1


Fitri nampak bangkit dan mendekati Ibunya dan Anita yang saling berpelukan itu, dia merengkuh tubuh keduanya, kini tidak ada lagi pak Karta, hanya tinggal mereka bertiga, Pak Karta sudah pergi dengan tenang, laki-laki baik, lembut, penyayang dan sabar itu, kini hanya tinggal kenangan.


Matahari sudah mulai tinggi, kini Sinar hangatnya berubah menjadi panas, satu-persatu pelayat sudah pulang ke tempatnya masing-masing, hanya tersisa keluarga Dicky, keluarga Donny, juga Bu Eni yang sejak tadi sedikitpun belum beranjak dari makam Pak Karta.


Dicky dan Donny nampak sabar berdiri menunggu mereka, membiarkan mereka sesaat larut dalam perasaan mereka, istri-istri yang sangat mereka cintai.


"Eh kampret! Sekarang di keluarga kita, tinggal kita laki-laki, dan kita harus melindungi keluarga kita masing-masing!" ujar Dicky.


"Aku juga sudah tahu dokter! Cuma kita laki-laki dewasa di keluarga ini, dan kita harus akur, jangan ada perpecahan lagi!" sahut Donny.


"Memangnya selama ini kau merasa kalau kita dalam perpecahan? Aku kan hanya menegaskan saja kalau laki-laki di keluarga ini hanya kau dan aku!" kata Dicky.


"Tanpa kau beritahu, aku juga sudah tahu kali, kau ini dari dulu tidak berubah dokter, selalu saja!" cetus Donny.


"Selalu Apa maksudmu?! Dasar kampret!" sungut Dicky. Donny terlihat tertawa melihat wajah Dicky yang kini mulai memerah.


"Ayah kenapa berantem dengan om dokter? kakek kan baru meninggal, Kenapa kalian malah bertengkar?" tanya Reino yang sejak tadi ada di antara mereka.


"Tidak sayang, Ayah dan om Dokter tidak berantem, kami biasa sejak dulu seperti ini, ini namanya tanda sayang!" jawab Donny. Reino nampak mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.


"Benar tuh Reino, itu namanya tanda sayang, kan sudah lama Om Dokter tidak bertemu dengan ayahnya Reino!" tambah Dicky.


"Lalu kenapa Om dokter memanggil Ayahku kampret?" tanya Reino.


Dicky menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, mencari jawaban yang pas untuk anak yang masih berusia kurang dari 3 tahun itu, yang bicaranya sudah seperti anak SD.


" Hai Reino, kamu tahu tidak, Kampret itu dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, artinya adalah kelelawar, dan kau tahu Batman itu itu adalah manusia kelelawar, yang memberantas kejahatan, jadi anggap saja Om dokter memanggil Ayahmu itu Batman!" jawab Dicky asal.


Reino semakin bingung.


"Berarti Ayahku itu Batman dong!" cetus Reino.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2