
Malam itu Dicky dan Fitri berbaring di tempat tidur mereka, Mereka melihat-lihat destinasi tempat wisata di Jepang melalui ponsel Dicky.
Fitri nampak senang bisa kembali berlibur dengan sang suami tercinta, setelah waktu di Bali itu ambyar seketika hanya karena sebuah kesalahpahaman.
Kini mereka kembali memiliki kesempatan untuk kembali menikmati liburan berdua.
"Mas Dicky ..."
"Iya sayang?"
"Dina dan Dara bagaimana kalau kita pergi ke Jepang? Kasihan mereka Mas!" ujar Fitri.
"Kan ada Bi Sumi, lagi pula kan mereka harus sekolah sayang, anggap saja kita kembali bulan madu!" bisik Dicky sambil mengelus pipi Fitri.
"Jadi kita kapan berangkatnya Mas?" tanya Fitri.
"Hari Senin depan sayang, kita siap-siap dari sekarang ya, Oya, besok katanya Ibu dan Bapak mau datang Fit, mau antar beras panen katanya!" jawab Dicky.
"Iya Mas, paling mereka tidak bisa lama-lama, Bapak kan harus nyawah lagi!" sahut Fitri.
"Eh lihat nih Fit, saljunya bagus ya, nanti di sana kita harus pakai pakaian tebal, sedang musim salju di sana, bukankah kau mau lihat salju Fit?" tanya Dicky dengan mata berbinar sambil menunjuk sebuah gambar dari ponselnya.
"Iya Mas, aku sangat ingin sekali bisa melihat salju, bukan cuma melihat, tapi merasakannya!" ucap Fitri.
"Pasti sayang, semua keinginanmu pasti akan terwujud, aku yang akan mewujudkannya!" ucap Dicky.
"Terimakasih ya Mas, Mas Dicky baik sekali! Aku ... jadi makin cinta sama Mas Dicky!" lirih Fitri dengan wajah yang bersemu merah karena pengakuannya itu.
"Hmm, bahagianya di cintai istri, terimakasih ya Fit, karena sudah mencintaiku, laki-laki yang tidak sempurna ini!" bisik Dicky sambil mulai membelai wajah Fitri.
"Mas Dicky ..."
"Iya sayang?"
"Jangan pernah berhenti mencintaiku ya mas, walaupun nanti aku tak bisa melihat lagi!" ucap Fitri.
"Ssst, jangan bilang begitu, kita akan terus berusaha sayang, nanti setelah melahirkan akan aku bawa kau berobat, kita cari Dokter yang hebat, kau pasti akan sembuh!" hibur Dicky menenangkan.
"Terimakasih Mas, aku kangen ..." Fitri menghentikan ucapannya.
"Kangen apa sayang? Kan Mas Dicky mu ada di sini!" tanya Dicky.
"Itu Mas, kangen mainin punya Mas Dicky, seperti dulu, waktu pertama kali aku melihatnya!" bisik Fitri malu.
"Ehm, istriku mulai nakal, kalau mau lihat keluarkan sendiri!" ujar Dicky dengan senyum yang sumringah karena senang.
__ADS_1
Perlahan Fitri mulai membuka sarung yang di pakai Dicky, langsung terlihat pemandangan yang selalu di rindukan Fitri.
Fitri menatap nya dengan penuh kerinduan.
"Aneh Mas, kalau melihat junior ini kenapa tiba-tiba mataku jadi jelas ya?" tanya Fitri bingung.
"Masa sih Fit? Ya kali aku harus sodorkan ini terus supaya kau jelas melihat!" sahut Dicky.
Perlahan Fitri mulai meremas sang junior yang tiba-tiba berubah wujud menjadi sangat besar itu.
"Iya Mas, mataku jelas ini, tidak seburam kemarin!" seru Fitri senang.
"Syukurlah Fit, aku sangat bahagia, ayo terus remas Fit, siapa tau matamu tambah terang, ayo Fit!" ujar Dicky bersemangat.
Fitri kemudian mulai memainkan aksinya, membuat Dicky terbuai dalam kenikmatan dunia, hingga berapa lama kemudian Dicky mulai menyemburkan benih-benihnya.
"Ahh keluar deh!" kata Dicky dengan nafas yang memburu.
Fitri kemudian mulai membersihkan milik Dicky dan dia juga langsung mencuci tangannya di kamar mandi.
Kemudian Fitri kembali berbaring di samping Fitri.
"Yah Fit, kok udahan sih?" tanya Dicky.
"Kurang Fit! Kamu seperti tidak mengenal Mas mu ini saja!" sungut Dicky.
"Besok lagi ya Mas, beneran ini aku sudah mengantuk sekali!" sahut Fitri yang terlihat mulai memejamkan matanya.
"Yah Fit, padahal dia sudah on lagi tuh, ayo dong Fit, please!" mohon Dicky.
Tidak ada sahutan dari mulut Fitri. Fitri sudah benar-benar tertidur.
Akhirnya Dicky membiarkan juniornya terus on sampai pagi.
****
Pagi datang menjelang, Pak Karta dan Bu Eni sudah sampai di rumah kediaman Dicky.
Mereka membawa banyak sekali beras hasil panen dan oleh-oleh dari kampung.
"Mati masuk Pak, Bu, wah ... banyak sekali bawaannya!" ujar Bi Sumi yang membantu membawakan kering beras dan kantong oleh-oleh.
"Iya dong Bi, itu namanya mertua idaman, iya kan Pak!" sahut Bu Eni sambil menyenggol tangan Pak Karta.
"Kau ini bisa saja Bu, siapa yang bilang kita mertua idaman, hanya dirimu sendiri kan yang bilang!" sahut pak Karta.
__ADS_1
"Idih si Bapak! Ya sudah kalau tidak mau jadi mertua idaman biar ibu saja!" sungut Bu Eni.
Fitri turun dari tangga atas perlahan, dia menghampiri dan menyalami kedua orang tuanya itu.
"Kamu apa kabar Fit? Makin besar perutnya ini!" tanya Bu Eni.
"Baik Bu, cucu ibu akan lahir sekitar dua bulanan lagi!" sahut Fitri.
"Aduuh, tidak sabar Ibu Fit mau lihat cucu Ibu, pasti guanteng kayak papanya! Nanti Ibu mau pamerin sama Ibu-ibu arisan di kampung Fit! Mereka pasti iri sama Ibu, sudah menantunya ganteng, cucunya juga ganteng!" seloroh Bu Eni.
"Hush Ibu! Bikin malu saja!" sergah Pak Karta.
"Dih si Bapak bawaannya sirik aja, mau juga di bilang ganteng?? Ingat umur Pak! Tuh keriput di pipi di permak dulu!" sahut Bu Eni.
Mereka duduk beristirahat di sofa ruang keluarga itu, hawa sejuk AC menyegarkan tubuh mereka.
Bi Sumi nampak sibuk di dapur memasak untuk mereka. Fitri juga mulai membuatkan minuman hangat untuk kedua orang tuanya itu.
"Nih Pak Bu, ada sereal hangat, ayo di minum!" tawar Fitri.
Mereka langsung menyeruput minuman yang di buat Fitri itu.
"Suamimu kemana Fit?" tanya Pak Karta.
"Tadi sih masih tidur Pak, sebentar ya aku lihat dulu!" Fitri kemudian segera naik ke atas menuju ke kamarnya.
Dicky masih tertidur dengan sarung yang tersingkap, Fitri hanya tersenyum melihatnya.
"Untung kita hanya berdua di kamar ini Mas, kalau ada yang lihat, aku tidak tau apa yang akan terjadi!" ucap Fitri sambil kembali menutup tubuh suaminya itu.
Sementara Dicky masih nampak tertidur nyenyak.
"Mas Dicky bangun mas! Di bawah sudah ada Ibu dan Bapak!" kata Fitri sambil mengguncang lembut dada Dicky.
Dicky hanya mengerjapkan matanya, setelah itu dia kembali memejamkan matanya.
"Aduuuh, susah amat bangunin Mas Dicky!" sungut Fitri.
Akhirnya dia kembali meremas milik Dicky dengan gemas.
"Awww!! Ampun Fiit!!" Jerit Dicky kaget.
Bersambung ...
****
__ADS_1