Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Jangan Panggil Aku Dokter


__ADS_3

Sore itu, Fitri bersama dengan Bi Sumi nampak sedang memasak makanan untuk makan malam mereka.


Setelah lebih dari satu bulan, kondisi Fitri semakin membaik, dia sudah lincah berjalan dan naik turun tangga, ASI nya juga tidak berlebih seperti waktu pertama.


Karena Fitri rajin memompa ASI nya, kini dadanya sudah tidak merasa nyeri lagi, kondisi Fitri benar-benar sudah pulih dan nampak sehat.


"BI Sumi, lauk yang terakhir sudah matang belum? Sebentar lagi Dokter pulang!" tanya Fitri.


"Sudah Mbak, sekarang tinggal potong buah saja, Bibi akan angkat panci sayurnya, kata Pak Dokter Mbak Fitri di larang mengangkat berat dulu!" jawab Bi Sumi.


"Iya Bi, biar aku yang membereskan meja makan saja!" kata Fitri yang langsung beranjak menuju ke meja makan.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil Dicky. Buru-buru Fitri ke luar rumah untuk menyambut kepulangan suaminya itu.


Fitri langsung membawakan tas Dicky saat Dicky turun dari mobilnya.


"Terimakasih Fit!" ucap Dicky.


"Dokter, hari ini aku masak spesial buat Dokter, sudah siap di meja makan," kata Fitri.


"Oya? Rajin sekali istri yang satu ini, pasti aku akan makan yang banyak sekali!" ucap Dicky sambil mengelus rambut Fitri.


"Sekarang Dokter mandi dulu, setelah itu baru kita makan!" ujar Fitri.


"Baik Nyonya Dicky!" Dicky mencubit dagu Fitri gemas, kemudian langsung menuntunnya ke atas menuju ke kamarnya.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu Dokter, kau bisa langsung mandi sekarang!" ujar Fitri.


"Entah mengapa sejak ada dirimu hidupku menjadi bahagia, sekali lagi ku ucapkan terimakasih ya Fit!" ucap Dicky dengan tatapan menghangat.


Kemudian Dicky segera masuk ke kamar mandi dan langsung mandi, sementara Fitri menunggu sambil memompa ASI nya.


Tak lama kemudian Dicky sudah selesai mandi, wajahnya nampak segar.


"Wah, wangi sabun mandinya sampai tercium kemari!" ujar Fitri.


"Masa?"


"Iya Dokter, Dokter kelihatan segar!" sahut Fitri.


Dicky lalu mendekati Fitri yang baru selesai memompa ASI nya.


"Fit, coba kau cium pipiku, pasti lebih harum dari pada yang kau rasakan tadi!" ucap Dicky.


Ada yang bergetar di dalam hati Fitri, dulu Fitri pernah mencuri ciuman Dicky saat tidur, sekarang Dicky memintanya sendiri.

__ADS_1


"Tapi Dokter ...."


"Ayolah, wajar istri mencium suaminya sendiri, apalagi suaminya tampan seperti aku!" ucap Dicky.


Perlahan Fitri mencium pipi Dicky, rasa harum dan segar Fitri rasakan, apalagi Dicky baru mandi. Fitri bahagia bisa merasakan hangatnya perlakuan Dicky.


"Sudah Dokter!" ujar Fitri dengan wajah bersemu merah.


"Fitri, aku punya satu permintaan padamu!" ucap Dicky sambil menatap Fitri.


"Apa itu Dokter?" tanya Fitri.


"Mulai hari ini, jangan panggil aku Dokter, panggilan Dokter membuat jarak di antara kita, kau bukan lagi pasienku, kau adalah istriku Fitri!" jawab Dicky lembut.


"Tapi ... aku sudah terbiasa dengan panggilan itu, lalu aku harus memanggil apa?" tanya Fitri bingung.


"Terserah kau mau memanggilku apa, asal jangan Dokter!" jawab Dicky.


"Bagaimana kalau aku memanggilmu Mas Dicky? Kau keberatan tidak? Aku bingung mau memanggilmu apa!" ujar Fitri.


"Nah, kalau itu aku setuju, itu lebih terlihat suami istrinya, dari pada kau memanggilku Dokter, apalagi ada embel-embelnya, misalnya Mas Dicky ganteng, Mas Dicky sayang ..." ucap Dicky sambil menatap dalam ke arah Fitri.


Fitri menundukan wajahnya dengan dada berdebar.


"Mas Dicky ..." gumam Fitri pelan.


"Mas Dicky ..."


"Ah, terimakasih Fitri!" Dicky langsung memeluk Fitri, ada kehangatan perasaan diantara mereka.


Dicky juga terlihat mulai sayang terhadap Fitri, Fitri tersenyum bahagia.


Mereka lalu segera turun ke bawah untuk makan.


"Makanannya enak, siapa noh yang memasaknya?" tanya Dicky.


"Siapa lagi kalau bukan Mbak Fitri Pak!" sahut Bi Sumi yang sedang menaruh buah potong ke meja.


"Benarkah? Sejak kapan istriku pandai memasak?" tanya Dicky lagi.


"Kau jangan berlebihan Dokter, eh ... Mas Dicky, rasanya biasa saja menurutku!" sahut Fitri.


"Tapi menurutku ini sangat enak, besok buatkan aku masakan dengan tanganmu Fit, aku senang makan masakan istriku!" puji Dicky.


"Iya Mas, besok aku akan masak lagi untukmu!" jawab Fitri.

__ADS_1


Setelah mereka makan, mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi, sementara Bi Sumi nampak membereskan meja makan dan dapur.


Ting ... Tong ...


Bel di rumah Dicky berbunyi, Dicky lalu bergegas keluar, membukakan gerbang.


Ternyata yang datang adalah Kevin dan istrinya, mereka berdua langsung masuk dan duduk di sofa ruang keluarga itu.


"Apa kabar Dokter Dicky, lama tak berjumpa denganmu?" tanya Kevin.


"Aku baik dan sehat, Fitri juga, kau sendiri, apa kau sudah menambah anak lagi??" tanya Dicky balik.


"Kau jangan meledekku Dokter, anakku masih kecil-kecil, aku tak ingin merepotkan istriku lagi, tunggu sampai anak--anak besar, baru buat lagi!" jawab Kevin sambil tertawa.


Bi Sumi datang membawakan beberapa gelas minuman hangat dan cemilan.


"Ada angin apa kalian berkunjung kemari?" tanya Dicky.


"Begini Dok, sekolah sudah mulai berjalan, kami membutuhkan banyak tenaga guru, bersediakah Fitri menjadi guru di sekolah kami?" tanya Kevin.


"Apalagi Fitri pernah mengajar anak-anak sebelumnya, dan banyak anak-anak yang merindukan Fitri!" tambah Tania istri Kevin.


"Kalau aku sih lebih senang Fitri di rumah, menjadi ibu rumah tangga, tapi aku kembalikan ke Fitri, kalau dia bosan di rumah, mengajar bisa menjadi aktifitasnya!" jawab Dicky bijak.


"Bagaimana Fitri?" tanya Tania sambil menoleh ke arah Fitri yang sejak tadi diam saja.


"Aku mau Mbak Tania, aku juga merindukan anak-anak itu, dari pada di rumah aku tidak ada kerjaan, mengajar bisa membuat pikiranku fresh!" jawab Fitri.


"Lalu siapa yang akan membuat masakan untukku?" tanya Dicky.


"Kau jangan khawatir Dokter, Fitri hanya akan mengajar di pagi sampai siang hari, jadi tidak akan menyita banyak waktunya!" sahut Kevin.


"Baiklah kalau begitu, asal Fitri senang, aku akan selalu mendukungnya!" ujar Dicky.


"Fitri, besok kau boleh datang ke sekolah, aku akan memberi bayaran yang tinggi untukmu, karena kau guru berkompeten!" kata Kevin.


"Terimakasih Pak Kevin, besok aku akan ke sekolah!" ujar Fitri.


"Aku akan mengantarmu!" cetus Dicky.


"Kelihatannya kalian makin harmonis saja, aku senang melihatnya!" timpal Tania.


"Aku juga senang melihat kalian, dan aku tidak sabar menunggu kabar kalian akan segera punya anak!" tambah Kevin.


Dicky dan Fitri saling berpandangan. Mereka menjadi canggung satu sama lain, jangankan punya anak, bahkan mereka sama sekali belum pernah berhubungan.

__ADS_1


****


__ADS_2