
Dicky menghempaskan tubuh lelahnya di kursi kebesaran nya itu, setelah begitu banyak pasien yang ditanganinya hari ini.
Dia masih memikirkan sikap aneh Bu Anjani terhadapnya tadi pagi.
Setelah mengusap wajah dan rambut Dicky, Bu Anjani langsung berjalan cepat meninggalkan Dicky sambil mengusap matanya. Ini benar-benar aneh.
Ceklek!
Dimas masuk tanpa basa basi dan langsung duduk di depan meja Dicky.
"Hei Bro!! Masih siang bengong saja!! Kita makan yuk di kantin!" ajak Dimas.
"Biasanya kau makan duluan dengan Mia!" sahut Dicky.
"Mia sibuk, hari ini ada sembilan bayi yang di lahirkan! Dia sudah makan duluan tadi!" jawab Dimas.
"Duh, kalau Fitri juga melahirkan pas banyak orang begitu gimana ya? Jangan-jangan istriku akan terlantar nanti!" gumam Dicky.
"Kau pikir calon istriku si Mia bukan Dokter profesional?? Sudah ayo makan, suntuk dari tadi ada di ruangan terus!" ajak Dimas sambil beranjak berdiri dari tempatnya.
Dicky juga ikut berdiri dan mereka keluar dari ruangan itu menuju ke kantin rumah sakit.
Mereka lalu mulai memesan makanan mereka.
"Dim, kita kan satu angkatan, sama-sama bekerja di sini sejak lulus kuliah kedokteran!" kata Dicky.
"Terus kenapa?" tanya Dimas.
"Selama itu pula, kita kan jarang sekali bertemu dengan Bu Anjani, walaupun dia owner rumah sakit ini, tapi kehadirannya jarang sekali di ekspos media!"
"Kenapa tiba-tiba kau membicarakan tentang Bu Anjani? Tumben, biasanya kau paling cuek soal begituan!' tanya Dimas.
"Yah, itu memang bukan urusanku sih, tapi aneh saja, tadi pagi dia menungguku di depan ruanganku, dia meminta untuk mengusap dan membelai wajah dan rambutku, dari sorot matanya, ada sebuah kerinduan yang mendalam, yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata!" ungkap Dicky.
"Hahahaha sejak kapan kau mulai melankolis Bro!!" Dimas tertawa terbahak-bahak.
"Ah sial! Maksudku mau curhat,tapi kenapa kau malah mentertawakan aku?!!" sungut Dicky.
"Sorry Bro, banyak orang tau kalau Bu Anjani itu adalah seorang janda tanpa anak, mungkin saat melihatmu dia ingat anaknya, karena nama belakangmu kan sama dengan suaminya Bu Anjani!" ujar Dimas.
"Bisa jadi juga sih, namaku memang mirip dengan almarhum suaminya Bu Anjani, Pak Rahmat Pradita!" sahut Dicky.
"Nah, aku dengar dari desas-desus Dokter senior, yang sudah puluhan tahun kerja di sini, Bu Anjani itu adalah istri kedua, karena istri pertamanya mandul dan tidak bisa punya anak, makanya dia menikah lagi dengan Bu Anjani, dan memang Bu Anjani hamil dan punya anak!" jelas Dimas.
__ADS_1
"Lalu??"
"Saking bahagianya punya seorang putra, Pak Rahmat mewarisi seluruh aset termasuk rumah sakit ini pada putra beliau, itu sudah tertulis di surat wasiat, tapi sayang, Pak Rahmat sudah keburu meninggal saat putranya itu masih bayi, begitu yang aku dengar!" jelas Dimas.
"Kenapa kau bisa tau banyak begitu Dim??" tanya Dicky.
"Semua orang juga tau kali! Kau saja tuh yang terlalu sibuk ngurusin pasien, jadi kurang update deh, makanya gaul dikit dong Bro!" sahut Dimas.
"Dim, kok aku jadi kepo ya, di sini siapa yang paling senior selain Dokter Rizky?" tanya Dicky lagi.
"Banyak Bro! Ada Dokter Tika, Dokter Toni, dan yang paling lama kerja itu ya Pak Bram, ajudannya Bu Anjani, lagian ngapain juga kepoin urusan orang, kepoin tuh Fitri, mau brojol bentar lagi!" cetus Dimas.
"Iya iya! Namanya juga kepo, apalagi kan aku habis di belai sama Bu Anjani, rasanya gimana itu, damai dan sejuk, sama ketika dulu Bu Nuri membelai aku saat kecil!" ungkap Dicky.
****
Siang itu hidangan makan siang sudah tersaji di meja makan besar itu, hari ini Tania dan Meira akan datang mengunjungi Fitri di rumahnya.
"Semuanya sudah siap kan Bi?" tanya Fitri memastikan.
"Sudah Mbak, seperti ada tamu agung saja nih!" sahut Bi Sumi.
"Iya Bi, Mbak Tania itu adalah istri dari pemilik sekolahnya Dara, jarang-jarang lho dia mau berkunjung ke sini!" ujar Fitri.
Tong ... Tong ...
Terdengar suara bel dari pintu depan, Bi Sumi langsung bergegas membukakan pintu.
Benar saja, Tania sudah datang sambil menuntun tangan Meira di sebelahnya.
Fitri pun langsung datang menghampirinya.
"Mbak Tania apa kabar?? Sudah lama ya kita tidak pernah ketemu!" sapa Fitri bersemangat.
"Kabar baik Fit! Wah, sudah lama tidak ketemu perutmu sudah sebesar ini! Kapan lahirnya?" tanya Tania.
"Sebentar lagi Mbak, ini sudah mau dekat waktunya, Ayo deh Mbak, kita ngobrol sambil makan saja, kebetulan sudah siap nih!" sahut Fitri.
"Lho kok repot-repot!"
"Tidak repot kok, aku senang sekali Mbak Tania mau datang mengunjungi aku, suatu kehormatan!" ujar Fitri.
"Bu Fitri, Dara di mana?" tanya Meira tiba-tiba.
__ADS_1
"Eh, Dara ada di kamarnya, baru saja dia pulang sekolah, Meira susul saja deh ke kamar Dara, main di sana ya, tuh kamarnya yang pintunya ada tulisan dara, naik ke atas!" jawab Fitri sambil menunjuk ke tangga.
"Oke Deh! Mami aku main sama Dara ya!" kata Meira sambil menoleh ke arah Tania.
"Iya sayang, tapi nanti ajak Dara turun ya, biar makan sama-sama!" sahut Tania.
Meira kemudian berlari kecil menaiki tangga menuju ke kamar Dara.
"Aku dengar sekolah semakin ramai dan banyak murid, suatu pencapaian yang kuat biasa!" puji Fitri.
"Yah, mungkin karena sekolah kami itu tidak mematok harga, jadi bisa di jangkau oleh semua kalangan!"' jelas Tania.
"Aku makin kagum pada kalian, sayang aku sudah tidak lagi mengajar di sekolah, padahal aku sangat ingin mengajar, di tambah lagi sudah mau lahiran begini!" kata Fitri.
"Aku juga kagum pada kalian, aku dengar Dokter Dicky sekarang sudah jadi kepala rumah sakit, itu juga pencapaian yang luar biasa!" balas Tania.
Mereka kemudian mulai menikmati santap siang bersama.
BI Sumi kemudian datang mendekati mereka.
"Maaf Mbak Fitri, ini ada paket lagi, paket makanan!" kata Bi Sumi sambil meletakan bungkusan di atas meja.
"Siapa yang kirim paket Bi?" tanya Fitri.
"Tidak ada nama pengirimnya Mbak!" sahut Bi Sumi.
"Inisialnya ada tidak?" tanya Fitri lagi.
"Tidak ada juga!" sahut Bi Sumi.
"Bi, lain kali kalau ada paket tidak ada nama pengirimnya, jangan di terima ya, kembalikan saja!" kata Fitri.
"Baik Mbak!" sahut Bi Sumi yang langsung kembali berjalan ke arah dapur.
"Sepertinya ada pengagum rahasiamu Fit!" ujar Tania.
"Entahlah Mbak! Hanya gara-gara ini Mas Dicky bisa naik pitam!" sahut Fitri.
"Ciyeee ... naik pitam itu tandanya cemburu Fit!" ucap Tania sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bersambung ...
****
__ADS_1