
Fitri duduk termenung dengan bertopang dagu di meja kerjanya di ruang guru, pikirannya mengarah ke Dicky suaminya yang saat ini sedang menuju rumah sakit guna berusaha menenangkan orang-orang yang demo di rumah sakit.
"Bu Fitri tumben melamun, lagi pikirin apa sih Bu?" tanya Bu Erna yang kini duduk di hadapan Bu Fitri.
"Eh Bu Erna, tidak apa-apa kok Bu, biasa lah pikiran Ibu rumah tangga hehehe!" jawab Fitri terkekeh.
"Mungkin mikirin ekonomi Bu Erna, sekarang kan suaminya Bu Fitri bangkrut, makanya dia kembali ngajar jadi guru!" celetuk Bu Sita dari sudut mejanya.
"Eh Bu Sita! Jangan ngomong sembarangan! Itu berburuk sangka namanya!" sergah Bu Erna.
"Lho, benar kok! Memangnya Bu Erna tidak lihat berita apa? Dokter Dicky itu sudah tidak kerja di rumah sakit besar lagi, sekarang malah buka klinik kecil, mana ada duitnya Bu!" bantah Bu Sita.
"Sudah Bu Fitri, jangan di pikirin tuh omongannya Bu Sita, nanti kita jadi stress!" ujar Bu Erna.
"Iya Bu!" sahut Fitri.
"Kalau Bu Fitri masih kaya, ngapain juga jadi guru yang gajinya pas-pasan!" sambung Bu Sita yang merasa kurang puas karena di cuekin.
Fitri tiba-tiba berdiri dan menoleh ke arah Bu Sita.
"Maaf Bu Sita, kita ini guru, saya rasa tidak pantas seorang guru mengucapkan hal yang negatif, terutama untuk sesama guru!" kata Fitri.
"Tapi kalau memang butuh uang ya ngaku sajalah, apa susahnya sih!" sahut Bu Sita.
"Mengajar itu bukan semata-mata karena butuh uang Bu, menjadi Dokter juga bukan karena butuh uang, uang akan datang kalau kita dengan ikhlas menjalankan profesi kita!" ucap Fitri.
"Sudahlah Bu Fitri, capek meladeni orang kayak Bu sita, di sini kan dia cuma guru cadangan! Itu juga karena Pak Jamal kasihan dia tidak punya pekerjaan!" timpal Bu Ria yang sejak tadi diam saja.
"Betul itu Bu, apalagi sekarang dia juga patah hati karena gagal nikah, karena calon suaminya sadar kalau Bu sita seperti apa wataknya!" tambah Bu Erna.
"Eh, kurang ajar kalian semua ya! Awas saja! Kalian sama saja semua!" berang Bu Sita.
Bel masuk sekolah pun berbunyi, Fitri biru-biru berjalan masuk ke dalam kelasnya, tidak ingin mendengar keributan hal sepele itu lagi.
Bagi Fitri, meributkan hal receh di lingkungan sekolah itu sangat memalukan.
Bu Sita nampak kesal karena dia merasa sudah di sudutkan oleh rekan-tekan kerjanya.
****
Sementara itu di depan gerbang rumah sakit besar itu, Dicky terkesiap melihat ada begitu banyak pendemo yang berdemo di depan rumah sakit itu.
Mereka berteriak-teriak karena pelayanan yang buruk, yang menyebabkan kesembuhan pasien kurang maksimal, di tambah naiknya biaya pengobatan tanpa ada asuransi dari pemerintah.
__ADS_1
Sepanjang sejarah rumah sakit ini berdiri, baru kali ini terjadi demo besar-besaran di Sertai kericuhan.
Aparat setempat kini sedang berusaha menenangkan dan menjaga keamanan sekitar rumah sakit.
Para Dokter dan Perawat juga nampak ketakutan di dalam rumah sakit, karena para pendemo melakukan tindakan anarkis yaitu melempar benda-benda ke dalam rumah sakit itu.
Suasana semakin panas, Dicky juga bingung apa yang harus di lakukannya. Apalagi dia kini sudah tidak menjadi bagian dari rumah sakit ini.
Dicky lalu meyelinap masuk melalui pintu belakang rumah sakit.
Dokter Toni yang melihat kedatangan Dicky langsung menarik tangannya ke dalam ruangan.
"Ah Syukurlah akhirnya kau datang juga Dokter! Ini bagaimana? Reputasi rumah sakit ini semakin buruk! Pasien mulai marah karena mereka mengira layanan di rumah sakit ini buruk! Padahal hanya satu dua kasus saja yang terjadi, tapi kenapa malah merembet begini!??" ungkap Dokter Toni dengan wajah frustasi.
"Tenang dulu Dok! Itu nanti saja di bicarakan lagi, sekarang intinya kita harus menenangkan pendemo itu!" sahut Dicky.
"Tapi bagaimana caranya??" tanya Dokter Tika.
"Kita harus bertindak cepat sebelum mereka bertambah brutal dan anarkis!" sela Dokter Rizky yang juga datang ke rumah sakit itu, padahal dia sudah pensiun.
Seorang perawat lari tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Dokter! Gawat Dokter, mereka melempari rumah sakit ini dengan api, lama-lama rumah sakit ini bisa kebakaran!!" seru perawat itu dengan wajah tegang.
"Begini Dokter, sejak Dokter mengundurkan diri, banyak yang ikut mengundurkan diri juga, layanan semakin buruk karena ada kasus pasien yang meninggal karena terlambat penanganan, itu karena kurangnya tenaga medis di tambah dengan naiknya biaya pengobatan efek dari sedikitnya pasien, tidak di sangka mereka akan semarah ini dan menuntut rumah sakit ini!" jelas Dokter Toni.
"sekarang rumah sakit ini menjadi sorotan media dan publik!" timpal Dokter Tika.
Tanpa bicara lagi, Dicky kemudian bergegas ke halaman depan, mengambil toa dan mulai berbicara pada semua pendemo yang mulai panas itu.
"Ayo kita bakar rumah sakit ini!!!" seru seorang pendemo yang merupakan provokator.
"Rumah sakit tidak ada kemanusiaan!!"
"Cari untung besar!!" timpal yang lain.
"Pelayanan semakin buruk! Kita rugi berobat di sini!"
"Selamat pagi Bapak dan Ibu! Apakah kalian sudah selesai menumpahkan uneg-uneg kalian??" tanya Dicky dengan pengeras suara.
"Sejak Dokter Dicky tidak ada, tidak ada lagi layanan berobat gratis!!" seru seorang Ibu.
"Saya kecewa Dokter!! Istri saya meninggal di rumah sakit ini karena terlambat penanganan! Saya mau tuntut rumah sakit ini!!" seru seorang Bapak.
__ADS_1
"Lalu, ada lagi??!" tanya Dicky.
"Anak saya berobat sudah satu Minggu tapi tidak sembuh-sembuh, malah tambah parah!" teriak seorang Ibu.
"Kemarin saya di bentak oleh suster karena tidak mau antri, karena Ibu saya gawat darurat Dokter!" tambah seorang pemuda.
Dicky hanya manggut-manggut mendengar keluhan dan kekecewaan mereka semua.
"Sekarang rumah sakit ini sangat buruk!! Tidak recommended!!" celetuk seorang Bapak dari arah belakang kerumunan itu.
"Baik! Saya paham kondisi kalian semua, mulai hari ini, di bagian lobby ada kertas kosong, Bapak Ibu bisa menulis semua keluhan dan masalah di sana, nanti kami para Dokter akan menjawab satu-satu keluhan kalian! Tapi ingat, jangan pakai kekerasan!!" ujar Dicky.
"Tapi kalau kami sudah menulis di kertas, apakah semuanya akan selesai?? Apakah masalah dan keluhan kami akan hilang?!" tanya salah seorang di antara mereka.
"Paling tidak berikan kesempatan pihak rumah sakit untuk memperbaiki diri, melalui evaluasi, dan jangan lagi ada demo seperti ini, karena ini tidak mendidik, curahkan aspirasi kalian di kertas saja!" jawab Dicky.
"Oke! Kami setuju, tapi ingat Dokter, kalau sampai kami menemui lagi keburukan di rumah sakit ini, awas saja!!" ancam seorang pendemo.
Dicky hanya tersenyum menanggapi mereka semua.
Dalam hitungan menit, para pendemo itupun bubar teratur dari tempat itu.
Prok ...Prok ... Prok!!!
Para Dokter dan perawat bertepuk tangan di belakang Dicky.
"Terimakasih Dokter Dicky! Sekali lagi kau telah menyelamatkan rumah sakit ini!' ujar Dokter Rizky sambil menjabat tangan Dicky.
"Sama-sama Dokter!" balas Dicky.
"Dokter Dicky, kembalilah ke rumah sakit ini, seperti nya kami membutuhkan Dokter seperti anda!!" kata Dokter Toni.
"Maaf Dokter, sebentar lagi jam sembilan, ada pasien saya yang menunggu di klinik, kalian jangan khawatir, tampung saja aspirasi rakyat itu, mereka hanya butuh di perhatikan, dan kalian semua harus rapat untuk menyelesaikan ini!" ucap Dicky.
Dicky kemudian melangkah meninggalkan halaman rumah sakit itu, lalu kembali menuju di mana mobilnya terparkir.
Bersambung ....
*****
Note: Masalah boleh ada dalam hidup, tapi yang penting bagaimana cara pandang kita untuk menyikapi masalah tersebut.
Yuk Ah dukung Authornya 😁😉😘🙏
__ADS_1