
Fitri memgerjapkan matanya saat seorang perawat membuka gorden ruangan itu.
Matahari sudah terlihat terang, sinarnya masuk melalui jendela kaca kamar itu, Dicky masih berbaring dengan posisi yang sama seperti saat dia di pindahkan ke ruangan ini.
"Selamat pagi Bu Fitri!" sapa seorang suster yang cantik itu.
"Pagi suster, ini suster siapa ya?" tanya Fitri.
"Saya suster Tia Bu!" jawab Suster Tia yang terlihat baru di rumah sakit ini.
Tak lama kemudian Bu Eni muncul dari arah pintu, dia datang dengan membawa bungkusan makanan.
"Sudah bangun Fit? Ini Ibu bawakan makanan buatmu, supaya kamu dan bayimu sehat, kau harus makan Fit, semalam hanya makan roti saja!" ujar Bu Eni sambil meletakan bungkusan makanannya di nakas.
"Mas Dicky ... kau belum sadar juga Mas, bukalah matamu Mas, apa kau tidak lapar dari kemarin bahkan kau belum makan!" ucap Fitri sambil mengelus rambut suaminya itu.
"Bu Fitri, sebentar lagi Dokter Yudi akan datang mengontrol, Bu Fitri sabar dulu ya, Dokter Dicky pasti sembuh kok!" ujar Suster Tia sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Fitri kembali menoleh ke arah Dicky yang tetap tak bergeming sedikitpun.
"Fit, nanti setelah sarapan kau pulang ke rumah ya istirahat, biar Ibu yang menjaga menantu Ibu!" kata Bu Eni.
"Tidak Bu, aku harus tetap berada di samping Mas Dicky sampai dia sadar, aku tidak mau beranjak sedikitpun, kalau Ibu capek ibu pulang saja ke rumah!" tukas Fitri.
"Kau ini keras kepala Fit! Ingat cucu ibu yang ada di perutmu, dia kan juga butuh istirahat!" cetus Bu Eni.
"Bayiku tidak akan apa-apa Bu, selama dia berada dekat dengan Papanya!" jawab Fitri.
Bu Eni diam tidak bisa lagi menyangkal putrinya itu, dia lalu duduk di sofa dan mulai memejamkan matanya.
Tak lama kemudian Dokter yudi masuk dengan seorang perawat di sampingnya.
Dokter Yudi mulai memeriksa kondisi Dicky, dengan perlahan dan hati-hati, karena banyak bagian tubuh Dicky yang rentan dan sensitif.
"Bagaimana kondisi suami saya Dokter?" tanya Fitri tak sabar.
"Jantungnya stabil, tensinya bagus, kita hanya menunggu dia sadar saja kok, yang parah adalah luka retak dan patah tulangnya, ini penyembuhannya agak lama!" jelas Dokter Yudi.
"Bagaimana dengan kepalanya? Apakah benturannya membuat dia lupa ingatan?" tanya Fitri lagi.
"Tidak Bu, hanya terjadi pendarahan ringan di kepalanya, hanya saja dahinya robek, tapi sudah langsung di jahit, untuk kaki dan tangan sementara tidak bisa bergerak dulu karena masih di gips!" jelas Dokter Yudi.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter!" ucap Fitri.
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti sore saya akan mengontrol lagi!" pamit Dokter Yudi yang langsung keluar dari ruangan itu di ikuti oleh susternya.
Karena tidak boleh menyentuh, Fitri hanya bisa mengelus pipi Dicky saja.
"Mas Dicky cepat sembuh ya, supaya kita bisa beli perlengkapan Dedek sama-sama, Mas Dicky kan mau pilihkan sendiri box untuk Dedek!" bisik Fitri di telinga Dicky.
Dicky diam saja tanpa merespon apapun, hingga Fitri mencium bibirnya yang pucat.
"Sudah Fit, orang belum waktunya bangun untuk apa di bangunkan, pakai di cium segala, mendingan kau istirahat, jangan buang energimu Fit!" ujar Bu Eni.
Drrt ... Drrrt ... Drrrt
Terdengar suara getaran ponsel Fitri. Dengan cepat Fitri langsung mengusap layar ponselnya.
"Halo ..."
"Halo Mama, ini Dara, aku pinjam ponsel Bi Sumi, Papa bagaimana Ma?" tanya Dara.
"Papa ... Masih belum sadar Nak, doakan Papa supaya cepat sadar ya, mana Bi Sumi?" tanya Fitri balik.
"Halo Mbak Fitri, ini Bibi, Mbak Fitri perlu di bawakan apa?" tanya Bi Sumi.
"Iya Mbak, Dara di ajak ya Mbak, kasihan kalau sendirian di rumah, dia juga sangat ingin melihat kondisi Pak Dokter!" ujar Bi Sumi.
"Iya Bi, ajak saja Dara!" sahut Fitri. Kemudian sambungan telepon di matikan.
Fitri kembali duduk di sisi pembaringan Dicky, sambil mengelus Pipi Dicky dan rambutnya.
Tiba-tiba Bu Eni datang mendekatinya.
"Fit, apa tidak sebaiknya anak angkatmu kau kembalikan saja ke ibunya? Dari pada dia menyusahkan mu!" kata Bu Eni.
"Tidak Bu, Dara itu sudah kami adopsi, Mas Dicky pasti akan marah kalau Dara di kembalikan, lagi pula dia sama sekali tidak menyusahkan kok!" tukas Fitri.
"Tapi Ibu kok kurang sreg ya, apalagi saat kalian mengadopsinya, suamimu malah kecelakaan!" sahut Bu Eni.
"Mas Dicky itu kecelakaan karena musibah Bu, bukan karena yang lain! Ibu jangan berpikir negatif tentang Dara, pokoknya aku tidak ingin melihat Ibu bicara keras sama Dara, dia itu masih kecil Bu!" tegas Fitri.
"Baik, ibu tak akan bicara pada anak itu, tapi jangan harap Ibu bisa menyayangi dia seperti Ibu menyayangi cucu Ibu!" cetus Bu Eni.
__ADS_1
Ceklek!
Tiba-tiba Pak Kevin dan Bu Tania muncul di ruangan itu, bermaksud menjenguk kondisi Dicky.
"Selamat Pagi Pak Kevin, Mbak Tania, silahkan duduk!" sapa Fitri.
"Kami turut prihatin ketika mendengar kabar Dokter Dicky kecelakaan!" ucap Kevin.
"Terimakasih Pak!"
"Yang sabar ya Bu Fitri, anggap ini ujian supaya kalian lebih maju lagi!" tambah Tania sambil menepuk lembut bahu Fitri.
"Iya Mbak, cuma sampai sekarang Mas Dicky masih belum sadar, entah kapan dia akan membuka matanya!" ucap Fitri.
Tania lalu memberikan beberapa bungkusan makanan dan buah-buahan kepada Fitri.
"Jaga kandungan mu, jangan terlalu lelah apalagi stress!" kata Tania sambil mengelus perut Fitri.
"Iya Mbak, aku berusaha kuat menghadapi ini semua!" sahut Fitri.
"Padahal Dokter Dicky itu mulia sekali hatinya, asal Bu Fitri tau, Dokter Dicky ini adalah donatur tetap di sekolah kami, walaupun Bu Fitri sudah tidak mengajar lagi di sekolah kami, bahkan kami dengar dia juga mengangkat Dara jadi anak asuhnya!" ucap Kevin.
Tiba-tiba Bu Eni bangkit dan langsung mendekat pada Kevin dan Tania.
"Tapi bukankah kalau mengangkat anak yang masih punya orang tua, bisa membuat masalah keluarga? Nih Buktinya mantu saya kecelakaan!" celetuk Bu Eni.
"Siapa bilang Bu? saya pernah merawat dan mengasuh bayi yang bahkan tidak tau siapa orang tuanya, buktinya hidup saya baik-baik saja! Anak pasti akan membawa rejekinya sendiri, kalau kita terus berburuk sangka, bisa-bisa malah kita yang kena azabnya!" jawab Kevin.
Bu Eni langsung terdiam seketika.
Bi Sumi dan Dara terlihat masuk ke dalam ruangan itu.
"Eh, ada cucu Nenek, sini Cu, Deket Nenek ya, nanti Nenek dongengin pangeran kodok, pasti kamu suka kan!" ucap Bu Eni sambil langsung menarik Dara dan membawanya duduk di sofa.
Semua yang ada di ruangan itu saling berpandangan sambil tersenyum.
****
Halo guys ...
Siapa yang belum membaca novel "Perjaka Tampan Dan Wanita Malam" ?
__ADS_1
Yuk mampir dengan alur yang berbeda dengan novel yang author buat ... 😉