
Beberapa hari belakangan ini Bu Eni selalu murung, sejak Donny dan Anita pergi, Bu Eni selalu melamun dan cenderung mengurung Diri.
Tubuhnya kini semakin kurus dan wajahnya tirus, apalagi Bu Eni masih belum bisa berjalan, dia masih duduk di kursi roda.
"Bu, makan dulu ya, ini sudah lewat jam makan siang lho!" kata Fitri yang menyusul ibunya di teras depan rumahnya.
"Ibu belum lapar!" sahut Bu Eni singkat.
"Kalau Ibu terlambat makan terus nanti Ibu bisa sakit, ayo makanlah Bu!" bujuk Fitri.
"Nanti saja Fit, Ibu belum lapar!" sahut Bu Eni.
"Sudahlah Fit! Kalau Ibumu belum mau makan jangan di paksa! Bapak juga capek dari tadi bujukin Ibumu! Sudah! Cuekin saja!" sergah Pak Karta yang tiba-tiba muncul itu.
"Tapi Pak, kalau Ibu makan tidak teratur dia bisa sakit lagi, Mas Dicky bilang biar sedikit tapi harus makan, Ibu kan masih rutin minum obat!" ujar Fitri.
Tiba-tiba Bu Eni menangis, Pak Karta dan Fitri yang melihatnya sedikit terkejut.
"Lho Bu, ada apa? Kok menangis?" tanya Fitri yang langsung mendekati Ibunya itu dan mengisap punggungnya.
"Semalam Ibu mimpi Fit, Ibu mimpi ketemu sama Anita dan Donny, Ibu kangen mau ketemu sama mereka!" Isak Bu Eni.
Pak Karta dan Fitri saling berpandangan.
"Bu, kau ini bagaimana sih, giliran mereka dekat kau tidak betah tinggal bersama mereka, giliran jauh malah kangen! Gimana sih?" tanya Pak Karta.
"Pak, yuk kita nyusul mereka ke Jogjakarta yuk Pak, kita temani Anita yuk Pak!" ajak Bu Eni tiba-tiba.
"Mana bisa begitu Bu, lihat kondisimu, berjalan saja susah! ini itu susah, apa kau mau di sana kau malah menyusahkan mereka??" kilah Pak Karta.
Bu Eni semakin menangis tersedu-sedu.
Fitri yang tidak tahan melihat Ibunya seperti itu kemudian langsung menyingkir dan berlalu dari tempat itu, membiarkan Pak Karta saja yang menemani Ibunya itu.
"Bu Eni masih belum mau makan ya Mbak?" tanya Bi Sumi yang terlihat menemani Alex main mobil-mobilan di karpet ruang keluarga.
"Iya Bi, aku juga bingung bagaimana cara membujuknya, setiap hari Anita saja yang di tanyanya!" jawab Fitri yang kini duduk di samping Bi Sumi.
Alex langsung duduk di pangkuan Fitri sambil mendekap mainannya.
__ADS_1
"Kenapa tidak di telepon pakai video saja Mbak? Kan jaman sekarang bisa ngobrol lewat ponsel, bisa lihat mukanya lagi!" ujar Bu Sumi.
"Itu dia Bi, berapa hari ini ponsel mereka sulit di hubungi, mungkin karena sinyal buruk, dengar-dengar mereka tinggal di daerah pegunungan!" jelas Fitri.
"Oalah, pantesan, tapi menurut Bibi, biarkan mereka bahagia dulu Mbak, selama ini mereka sudah cukup tertekan dengan masalah yang ada, apalagi kan Mbak Anita juga lagi hamil, orang hamil itu paling bahagia ya ada di dekat suami!" kata Bi Sumi.
"Iya juga sih Bi, aku juga begitu, kalau Mas Dicky pulang telat dikit bawaannya sudah ketar ketir saja!" ucap Fitri tersipu.
"Ciyeee Mbak Fitri nih, sekarang sudah takut kehilangan Pak Dokter ganteng ya, Bibi jadi seneng!" ledek Bi Sumi.
Wajah Fitri merah padam menahan malu.
****
Dicky yang baru pulang dari mengontrol rumah sakitnya nampak menghempaskan tubuh lelahnya di tempat tidurnya sore itu.
Alex nampak sedang bermain-main di sampingnya, ada puzzle baru yang Dicky belikan buat Alex.
"Mas Dicky gimana sih, anak belum dua tahun sudah di belikan mainan puzzle, kau pikir dia bisa menyelesaikannya?" tanya Fitri sambil menyodorkan minuman hangat pada suaminya itu.
"Bermain puzzle itu bisa merangsang perkembangan otak Fit, ini lebih baik dari pada bermain game di ponsel atau komputer!" jawab Dicky sambil menyeruput minuman hangatnya.
"Yah kan selingan Fit, dari pada bermain terus, sekali-kali asah otak biar makin pintar!" ujar Dicky.
Fitri kemudian mulai menyiapkan air hangat dan handuk untuk Dicky.
"Langsung mandi saja Mas, sudah siap tuh!" kata Fitri.
"Mandiin dong Fit, lagi pengen!" pinta Dicky.
"Jangan Mas ah, ada Alex, malu!" tolak Fitri.
"Kalau perlu kita sekalian mandi bertiga sama Alex!" sahut Dicky.
"Mas Dicky apa-apaan sih? Waktu itu Alex kan pernah komen, kok Buyung papa besal Buyung Ayek ncil? Malu aku Mas!" tukas Fitri sambil menggendong Alex keluar dari kamarnya.
Semakin lama Fitri di kamar Dicky akan semakin gencar Dicky merayunya.
"Mama mau main agi!" kata Alex saat Fitri membawanya keluar kamar.
__ADS_1
"Nanti ya tunggu Papa mandi!" jawab Fitri.
"Ayek mau mandi cama Papa!" ujar Alex.
"Kan Alex tadi sudah mandi, sudah wangi, masa mau mandi lagi, kita main sama Kakek saja ya, sama Nenek!" ucap Fitri yang langsung mengajak Alex ke ruang keluarga, di mana Pak Karta dan Bu Eni sedang duduk sambil menonton TV.
"Sini Anak ganteng main sama kakek ya!" ajak Pak Karta sambil beringsut mengambil Alex dari gendongan Fitri.
Bu Eni nampak duduk melamun di kursi rodanya, tatapannya kosong, hati Fitri jadi sedih melihat Ibunya yang sering melamun sejak kepergian Anita dan Donny.
Tapi tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan keceriaan Ibunya itu, saat ini Fitri sangat paham, Bu Eni menyimpan kerinduan yang sangat dalam pada Anita dan Donny yang bahkan belum sempat di ucapkan terimakasih oleh Bu Eni, sejak mendonorkan darahnya waktu itu.
Tidak tahan melihat keadaan Ibunya, Fitri kemudian kembali ke atas ke kamarnya.
Dicky terlihat baru selesai mandi dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya.
"Ada apa Fit? Kok wajahmu sedih gitu?" tanya Dicky.
"Mas, kasihan Ibu Mas, kelihatannya dia benar-benar rindu pada Anita dan Pak Donny, kita harus bagaimana Mas?" ungkap Fitri.
Dicky kemudian melangkah mendekati Fitri dan duduk di sampingnya.
"Si Kampret memang selalu menyusahkan! Sudah pergi tidak mengabari pula, kau tenang saja, nanti aku bisa usut lewat sosial media nya!" ucap Dicky.
"Apa mungkin mereka terkendala sinyal Mas? Secara kan kata Anita kampung halaman Pak Donny terletak di daerah pegunungan!" kata Fitri.
"Bisa jadi sih, tapi ya kali mereka berubah jadi Tarzan dan anti sosial! Dari dulu si kampret memang selalu datang dan pergi kayak jalangkung!" cetus Dicky.
"Mudah-mudahan mereka akan baik-baik saja di manapun berada!" gumam Fitri.
"Sudahlah Fit, kau harus pikirkan yang tidak baik-baik saja saat ini!" ujar Dicky.
"Apa maksud mu Mas?"
"Tuh si junior sudah keluar mencari tempat untuk memuntahkan lahar panasnya!" sahut Dicky sambil menunjuk ke arah sesuatu benda yang sedang bergerak keluar dari handuk yang Dicky kenakan.
Bersambung ...
****
__ADS_1