Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tetap Tersenyum Meski Hati Pilu


__ADS_3

Riana menatap bangunan bertingkat dua yang nampak besar, meski tidak semewah rumah elit pada umumnya. Akan tetapi rumah yang terpampang di hadapannya sangat mewah jika dibandingkan rumah milik kedua orang tuanya yang sederhana, tidak bertingkat tetapi cukup luas.


Wanita itu terburu-buru datang dari kantor, hingga ia melupakan mengisi daya ponselnya yang hanya hitungan menitan saja mungkin sudah membuat ponselnya tidak aktif. Riana bahkan belum memberikan kabar kepada Raihan jika sudah tiba di rumahnya.


Riana melangkah masuk setelah penjaga disana mempersilahkannya. Dengan penuh semangat Riana mengetuk pintu, hingga pada ketukan ketiga pintu itu di buka oleh seseorang.


"Riana??" pekik seorang wanita paruh baya. "Ayo masuk sayang, Mama udah nunggu kamu dari tadi loh." Dengan wajah sumringah Mama Nina memeluk lengan Riana, lalu menuntun masuk ke dalam. "Mau minum apa?" tanyanya kemudian setelah keduanya sudah membenamkan tubuh di sofa.


"Nggak usah repot-repot, Ma. Nanti kalau Riana haus, Riana ambil sendiri kok." Memang tidak ada rasa sungkan antara Mama Nina dengan Riana. Bahkan sejak dulu Riana sudah memanggil Mama Nina dengan sebutan Mama.


"Yaudah, nanti kamu ambil sendiri ya," katanya lembut. Mama Nina memang tidak memiliki anak perempuan, karena Raihan hanya memiliki adik laki-laki, sehingga Mama Nina begitu menyukai sosok Riana yang cantik dan penurut.


"Iya Ma," sahutnya mengangguk.


"Kamu udah ngabarin Rai kalau kamu udah disini?" tanya Mama Nina penasaran.


"Belum Ma. HP Riana lowbet, tadi lupa charger di kantor," sahut Riana.


Mama Nina mengangguk. "Kalau gitu Mama ambilin charger dulu ya, pakai aja punya Mama." Belum sempat Riana menjawab, Mama Nina sudah lebih dulu beranjak dari tempat duduk menuju kamar yang berada di lantai bawah.


Tidak berselang lama, Mama Nina kembali dengan membawa charger berwarna putih. "Ini Ri, pakai aja punya Mama. Kamu charger di tempat biasanya," katanya lembut.


Riana mengangguk, lalu merogoh ponsel di dalam tas miliknya. Sebelum kemudian bangkit berdiri untuk mencharger ponselnya pada stop kontak yang berada di ruang tamu. Riana membiarkan ponselnya dalam keadaan mati, setidaknya membiarkan ponselnya terisi setengah daya.


"Sini Ri, ada yang mama mau kasih liat ke kamu." Mama Nina yang sudah duduk di sofa memanggil Riana agar menghampirinya.


"Loh, apa ini Mah?" Riana heran melihat banyaknya katalog wedding organizer yang berjajar di atas meja.


"Tentu aja katalog dong sayang. Mama mau kamu pilih dari sekarang," kata Mama Nina tersenyum, matanya sibuk meneliti yang paling bagus di antara pilihan itu.


"Tapi Ma, Rai nggak bicara apa-apa sama Riana. Kita 'kan baru bertunangan 6 bulan yang lalu, jadi nggak usah terlalu buru-buru, Ma."


Mama Nina nampak berpikir, ia menatap calon menantunya. "Iya sih, tapi Mama udah nggak sabar. Soalnya nggak baik juga kalau kalian lama-lama menunda. Bukannya lebih cepat lebih baik, hm?" Dan Mama Nina kembali bersemangat.


Riana hanya bisa tersenyum. Mama Nina memang selalu heboh sama seperti Mama kandungnya, Mama Linda. Berada di samping Mama Nina mengingatkan Riana akan Mama Linda yang sudah dua minggu ini tidak bertemu. Mungkin setelah pulang dari rumah Mama Nina, ada baiknya Riana pulang ke rumah kedua orang tuanya untuk melepaskan rindu.


"Riana ikut apa kata Rai aja Ma. Kalau Rai mau nikahin Riana sih Riana oke-oke aja." Riana terkekeh hingga kemudian mendapatkan tepukan di lengannya oleh Mama Nina.

__ADS_1


"Kamu ini... Ya pasti Rai mau nikahin kamu-lah. Kalian 'kan udah lama bersama dan Mama liat Rai cinta banget sama kamu," goda Mama Nina.


"Ish, Mama bisa aja." Apa yang dikatakan Mama Nina, tentu saja membuat Riana tersipu malu.


Mereka melanjutkan perbincangan dengan ditemani cemilan. Adik Raihan yang bernama Rendi tidak terlihat, mungkin masih ada kuliah karena mereka berbeda tiga tahun. Sementara Papa Raihan, masih berada di Pabriknya. Papa Raihan memang memiliki Perusahaan Garment dan selalu pulang sore hari.


Hingga dua jam terlewati begitu saja, mereka baru sadar jika Raihan belum juga kembali. "Mama udah masak, kita makan yuk. Nggak usah nunggu Rai, mungkin Rai baru pulang nanti sore," ucap Mama Nina beranjak berdiri terlebih dahulu.


Riana mengangguk, lalu mengekori Mama Nina menuju meja makan. Tidak banyak menu yang tersaji, karena Mama Nina memang memasak sendiri, asisten rumah tangga hanya membantu berbenah rumah.


"Gimana, enak nggak?" tanya Mama Nina begitu melihat Riana memasukan suapan pertama ke dalam mulut.


"Iya enak. Masakan Mama 'kan selalu enak." Tidak dipungkiri jika Riana selalu menyukai masakan Mama Nina. Rasa lezatnya sama dengan masakan Mama Linda.


"Kamu bisa aja." Mama Nina tersipu malu. "Nanti kamu harus belajar masak buat Rai ya, dia itu paling suka masakan rumahan." Mama Nina teringat jika calon menantunya itu tidak bisa memasak, tetapi ia tidak pernah mempermasalahkannya.


Riana tersenyum tipis. "Iya Ma, nanti Riana belajar memasak kok."


"Bagus, nanti Mama ajarin ya. Pelan-pelan aja nggak apa-apa. Mama dulu juga sebelum nikah nggak bisa masak." Mama Nina memberikan semangat agar Riana tidak merasa insecure karena tidak bisa memasak. Lagi pula memasak bisa dipelajari jika bersungguh-sungguh.


"Iya Ma, makasih." Riana kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Hingga samar-samar ia mendengar suara mesin mobil di halaman. Berhubung makanan Riana sudah habis, Riana segera meneguk air putih. "Ma, apa Rai udah pulang?" cicitnya menebak-nebak.


Dan benar saja, yang dibicarakan baru saja melangkahkan kaki menuju meja makan.


"Kamu udah disini sayang? Kok nggak ngabarin aku?" Raihan pikir Riana tidak jadi ke rumahnya karena kekasihnya itu tidak memberi kabar padanya.


"Baterai HP-ku lowbet By. Itu lagi di charger di ruang tamu." Riana menjawab jujur, ia memang tidak pernah berbohong kepada Raihan.


Dan Raihan mengangguk sembari mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan. Ia sempat kesal karena Riana tidak memberi kabar, bahkan ponselnya tidak aktif. Karena kemanapun Riana pergi, kekasihnya itu harus mengatakan kepadanya.


"Kamu udah makan Rai?" tanya Mama Nina yang sejak tadi memperhatikan kedua anak muda di hadapannya itu.


"Udah tadi, Ma" Raihan menyahuti pertanyaan sang Mama. Tangannya terulur mengangkat pitcher kaca lalu menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Oh iya Rai, Mama udah bawain katalog wedding organizer. Kamu sama Riana bisa milih bareng-bareng." Dan perkataan Mama Nina membuat Raihan yang tengah meneguk air putih gagal meluncur, hingga membuatnya tersedak.


"Ma, kenapa buru-buru? Rai 'kan udah bilang nanti Rai pikirin lagi!" sentak Raihan tanpa sadar membentak Mama yang telah melahirkannya.

__ADS_1


"Loh, apa yang harus kamu pikirin lagi sih Rai? Kalian 'kan udah lama bersama-sama. Apalagi yang perlu ditunggu?" Suara Mama Nina sedikit meninggi, ia tidak suka apa yang baru saja diucapkan oleh Raihan.


Sementara Riana hanya tersenyum pilu di dalam hatinya. Kenapa reaksi Raihan berlebihan seperti itu? Apa Raihan tidak ingin menikah dengannya?


***


Tubuh Riana terguncang ke depan karena mobil yang tiba-tiba berhenti. Mata Riana mengedar ke sekitar, ternyata Raihan sudah mengantarnya sampai rumah kedua orang tuanya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Raihan membenahi posisi berhadapan dengan Riana.


Sebenarnya Riana benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan Raihan. Akan tetapi ia teringat jika Raihan pasti akan memperpanjang masalah jika ia diam saja. "Nggak apa-apa." Dan akhirnya Riana hanya bisa memaksakan senyumnya.


"Sayang, dengerin aku ya. Kita pasti nikah, aku juga cuma mau nikah sama kamu. Tapi nggak buru-buru kayak gini. Karir aku baru naik, jadi kamu tolong ngerti ya?" Selembut mungkin Raihan menjelaskannya kepada Riana.


"Aku heran sama kamu Rai. Kenapa belakangan ini kamu berubah. Bukannya dulu kamu yang pengen kita cepat-cepat nikah." Dada Riana naik turun antara sesak di dada sekaligus amarah yang tertahan.


Raihan menyugar rambutnya, lalu meraih kedua tangan Riana. "Iya sayang, aku ingat banget. Tapi aku cuma minta pengertian kamu. Itu aja."


"Tapi aku udah sering ngertiin kamu Rai!" bentak Riana menarik tangan yang tengah di genggam oleh Raihan. Untuk pertama kalinya Riana membentak Raihan.


"Kok kamu bentak aku sih Ri?" Tentu saja membuat Raihan tidak terima.


"Maaf, aku nggak sengaja," cicit Riana tertunduk. Dalam hubungan mereka memang Raihan-lah yang selalu mendominasi. Riana harus menuruti apa yang dikatakan oleh Raihan.


Wajah Raihan mendadak melembut, ia tidak tega melihat Riana yang nampak ingin menangis. "Maaf sayang, aku nggak bermaksud lain. Aku cuma pengen kamu ngerti, itu aja. Kamu tau 'kan aku cuma cinta sama kamu." Raihan kembali menekankan kata cinta. Raihan memang selalu mengumbar kata cinta kepada Riana.


"Iya, aku ngerti." Dan lagi-lagi Riana harus mengalah.


Raihan tersenyum. "Makasih sayang. Yaudah kamu masuk dulu ya. Aku juga harus pulang. Salam buat mama."


Riana hanya mengangguk saja. Ia pun segera turun dari mobil setelah heran mengecup lama keningnya. Raihan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman calon mertuanya itu. Hingga Riana langsung masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Namun ia berusaha untuk tetap tersenyum meski hati pilu kerena ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya yang sudah lama sangat ia rindukan.


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2