Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Acuh Tak Acuh


__ADS_3

Malam itu Fitri belum dapat memejamkan matanya, pertanyaannya di pesan singkat terhadap Dicky suaminya belum terjawab, Dicky tidak menjawab pesan singkat mengenai wanita yang Fitri tanyakan.


Sementara Dicky masih asyik di depan laptopnya, seperti biasa jikalau malam dia menerima konsultasi online.


Sebenarnya Fitri kesal, baru kali ini ini Dicky tidak mengatakan apapun terhadap dirinya, meski sudah ditanyakan sekalipun, seolah ada rahasia yang Fitri tidak boleh mengetahuinya.


Padahal dua hari lagi, Ken sepupunya Dicky akan menikah, Fitri ingin sekali membicarakan masalah ini pada Dicky mengenai pakaian couple atau mengenai hadiah yang akan mereka berikan untuk Ken dan Dinda.


Namun setelah melihat sikap Dicky seperti itu, Fitri jadi enggan menanyakannya, dan Fitri juga tidak akan bertanya lebih lanjut, karena di awal Dicky sudah merahasiakan wanita itu dihadapan Fitri.


Dicky terlihat mulai menutup layar laptopnya, sepertinya dia sudah selesai, Fitri langsung memejamkan matanya berpura-pura tidur, dia malas kalau Dicky datang dan bertanya ini itu terhadapnya.


"Ma, Kau sudah tidur? Cepat sekali tidurnya, tumben tidur duluan, biasanya kau selalu menemani aku!" ucap Dicky sambil mengelus kepala Fitri yang nampak memejamkan matanya itu.


Fitri diam saja tanpa merespon apapun, dia berusaha untuk tetap tak bergeming dengan posisinya.


Dicky terlihat ikut berbaring disebelah Fitri sambil memeluk pinggangnya dari belakang, hembusan nafas Dicky terasa hangat di leher Fitri, Fitri agak merinding, seperti biasa ada getaran aneh yang dia rasakan di dalam tubuhnya, namun setelah Fitri teringat wanita di rumah sakit tadi, dia langsung berubah kesal, spontan Fitri mendorong tubuh Dicky untuk menjauhinya.


"Kau kenapa sih Ma? masih cemburu dengan persoalan yang tadi? Kan aku sudah bilang, kau percaya saja padaku Masa iya sih aku akan menghianatimu?" bisik Dicky.


Fitri diam saja berusaha untuk tetap tenang, meskipun dadanya begitu bergemuruh mendengar pertanyaan Dicky.


Wanita mana yang tidak akan curiga, melihat suaminya mengobrol begitu lama dengan wanita lain, bahkan wanita yang sama sekali tidak pernah dilihatnya apalagi dikenalnya.


Dicky beringsut mendekati Fitri, tangannya mulai membelai wajah Fitri, namun tangan Fitri segera menepiskan sentuhan Dicky, saat ini dia sangat tidak ingin disentuh, hati Fitri sedang kesal, benar-benar kesal, namun untuk mengungkapkannya, seperti biasa Fitri tidak bisa.


"Yah, ini mah benar-benar marah, Sayang sabar sebentar lagi ya, nanti aku akan jelaskan semuanya, tapi aku tidak bisa mengatakannya saat ini!" ucap Dicky.


Fitri semakin kesal, Dicky sudah tahu kalau Fitri saat ini sedang marah dan cemburu, tapi seolah Dicky menutupi semuanya itu, bahkan sepertinya Dicky merahasiakan sesuatu di depan Fitri.


Tidak mau melanjutkan suasana seperti ini Fitri langsung menarik selimutnya dan menutupi wajahnya, dia mulai memejamkan matanya berharap kantuk akan segera datang kepadanya.

__ADS_1


Dicky nampak tidak lagi mendekati Fitri, dia juga ikut berbaring disebelahnya, dan mulai menarik selimutnya dan tak lama kemudian, terdengar suara dengkuran halusnya, ternyata Dicky sudah cepat sekali tertidur tanpa merasa berdosa, hati Fitri semakin dongkol.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Tiba-tiba terdengar suara ponsel Dicky yang bergetar, Dicky terlihat masih tertidur.


Fitri kemudian perlahan mengambil ponsel suaminya itu, di layar ponsel itu itu ada sebuah nama yang membuat hati Fitri bergetar seketika, nama itu adalah Karina.


"Siapa Karina? Sejak kapan Mas Dicky punya teman wanita yang bernama Karina?" gumam Fitri.


Dengan lemas Fitri mengembalikan ponsel Dicky di atas meja samping tempat tidurnya.


****


Pagi itu, Fitri sengaja bangun lebih awal dari biasanya, dia memandikan Alex dan Alena, menyiapkan sarapan di meja makan dan membantu pekerjaan Bi Sumi dan Mbok Jum.


Fitri seolah menghindar dari Dicky. Entah mengapa rasa kesalnya belum hilang sejak semalam, terlebih melihat sikap Dicky yang acuh tak acuh terhadap nya, seolah dia tidak merasa bersalah sama sekali.


"Biar saja dia urus dirinya sendiri Bi, sudah besar juga!" sahut Fitri.


"Duh lagi marahan nih ceritanya, tumben bisa marahan juga, biasanya akur terus!" timpal Mbok Jum.


"Bi Sumi, Mbok Jum, Biasanya apa sih yang membuat laki-laki itu berselingkuh?" tanya Fitri.


Bi Sumi dan Mbok Jum terheran-heran mendengar pertanyaan Fitri yang tidak biasanya itu, mereka berdua saling berpandangan.


"Lho Mbak Fitri, kok tumben tanyain soal perselingkuhan segala? memangnya siapa yang berselingkuh?" tanya Mbok Jum.


"Iya nih Mbak Fitri, tumben amat ya tanya soal perselingkuhan segala, Kalau Pak Dokter sih dijamin deh dia enggak akan pernah selingkuh, iris nih kuping Bi Sumi Kalau Pak Dokter berselingkuh!" timpal Bi Sumi.


"Bi Sumi jangan bilang begitu, Mas Dicky kan juga manusia biasa, dia punya segalanya, apapun bisa dia lakukan, termasuk mendapatkan wanita yang dia inginkan, seperti kebanyakan laki-laki lain pada saat dia sudah ada di atas!" ucap Fitri.

__ADS_1


"Tapi Masa iya sih Pak Dokter seperti itu? Bibi sih tidak yakin, secara Pak Dokter itu sangat menghormati perempuan, mana mungkin dia mau menyakiti hati perempuan!" sahut Bi Sumi.


Dari arah tangga, Dicky terlihat berjalan menuruni tangga sudah dengan pakaian yang rapi, setelah itu Dicky langsung duduk di ruang makan, sambil membuka ponselnya dan terlihat dia sedang menelpon seseorang.


Tidak mau semakin panas dan berprasangka yang tidak-tidak, Fitri langsung menggendong Alena dan menyuapinya di taman samping rumahnya itu, Dicky pasti menyadari bahwa semalam ada wanita yang mencarinya.


Sedang asyik menyuapi Alena di taman, seorang security membukakan gerbang rumah itu, kemudian masuklah sebuah mobil mewah dan berhenti di halaman rumah yang luas itu.


Turunlah seorang wanita berambut panjang, yang Fitri lihat di Rumah Sakit kemarin, tiba-tiba dada Fitri bergemuruh seketika, jantungnya berdegup dengan sangat cepat, Kenapa wanita itu begitu berani datang ke rumah ini?


tanpa menunggu Fitri segera berjalan mendekati wanita itu yang juga berjalan ke arah teras rumah itu.


"Selamat pagi, Dokter Dicky ada?" tanya wanita itu sambil tersenyum manis.


"Ada apa mencari suami saya pagi-pagi?" tanya Fitri Ketus.


"Oh, saya sudah ada janji dengan dokter Dicky, pagi ini ini kami berencana akan pergi ke suatu tempat, Apakah saat ini saya bisa bertemu dengan dokter Dicky?" ucap wanita itu. Dada Fitri semakin bergemuruh.


Tiba-tiba dari arah dalam rumah, Dicky muncul sambil tersenyum ke arah wanita itu, kemudian dia berjalan mendekatinya.


"Hai Karina, cepat sekali kau datang, aku pikir kau masih kena macet di jalan!" ujar Dicky sambil tersenyum ke arah wanita itu.


Fitri yang semakin panas tidak tahan lagi, dia langsung jalan mendekati Dicky, dengan mata yang memerah dia menatap ke arah suaminya itu dengan tatapan yang tajam.


"Papa Dicky! Kalau Papa mau berselingkuh, Kenapa harus di depanku Pa, Kenapa kau menyakiti hatiku? Kenapa kau seolah-olah sengaja membuat aku seperti ini terhadapmu? Apa salahku padamu pa?" tanya Fitri dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Bersambung ...


****


Jangan panas dulu guys ...

__ADS_1


Kita tunggu kelanjutannya besok, yuk dukung Author nya hehehe ...


__ADS_2