
Fitri kecewa karena kehilangan muridnya yang kabur dari hadapannya, entah malu atau takut.
Kemudian dia pun naik ke dalam mobil Dicky.
"Kok cepat sekali Bu Fitri, harusnya tadi di kejar saja si Dara dan kakaknya, kalau perlu ke rumahnya!" ujar Bu Sita.
"Siapa bilang cepat! Aku merasa Fitri terlalu lama keluar!" cetus Dicky yang kembali melajukan mobilnya.
Tak lama kemudian Bu Sita menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Dicky.
"Stop Pak Dokter, aku turun di sini saja!" kata Bu Sita.
"Lho, rumah Bu Sita di daerah sini? Tidak jauh dong dari rumah kami!" ujar Fitri.
"Yah kan aku sudah bilang Bu, kita searah, Bu Fitri saja yang sombong tidak pernah menawariku untuk pulang bareng!" sahut Bu Sita sambil membuka pintu mobil Dicky.
"Terimakasih ya Pak Dokter!" ucap Bu Sita, Dicky hanya menganggukan kepalanya.
Kemudian Dicky kembali melajukan mobilnya.
"Bu Sita itu aneh, masa dia cuma menyapa Mas Dicky saja, aku yang temannya malah tidak di anggap!" ujar Fitri.
"Sudahlah Fit, orang seperti dia jangan terlalu di anggap, bisa besar kepala dia!" sahut Dicky.
"Mas Dicky, nanti malam maukah mengantarku ke rumah Dara? Aku mau bicara dengan orang tuanya, tadi dia pulang sebelum waktunya tanpa pamit!" pinta Fitri.
"Tentu saja sayang, sebelum sampai rumah kita makan dulu yuk di luar, Fitri mau makan apa?" tanya Dicky.
"Terserah Mas Dicky saja, apapun aku ikut!" jawab Fitri.
"Istri patuh, tidak menyesal aku menikahimu Fit!" ucap Dicky sambil mencubit lembut pipi Fitri.
"Jadi Mas Dicky mau makan apa?" tanya Fitri.
"Aku mau mengajakmu makan seafood Fit, sudah lama aku tidak makan kerang rebus dan ikan bakar!" jawab Dicky.
"Wah, itu pasti enak, aku juga suka seafood Mas!" ujar Fitri.
Dicky kemudian menuju sebuah restoran seafood yang letaknya tidak jauh dari rumah, dia mulai duduk dan memesan kerang rebus dan ikan bakar.
"Kau mau apa lagi Fit? Cumi asam manis? Atau Udang saus tiram?" tanya Dicky.
__ADS_1
"Aku makan ikan bakar saja Mas, sama denganmu, non kolesterol!" ujar Fitri.
"Hmm, baiklah sayang, aku pesankan dua ekor ikan gurame bakar yang besar, kita pesta ikan hari ini!" ujar Dicky.
Setelah pesanan mereka datang, mereka pun makan dengan lahapnya, apalagi Fitri yang pada saat jam istirahat belum sempat makan.
"Wah, hari ini kau makan lahap sekali Fit, aku senang melihatnya!" ujar Dicky sambil tersenyum.
"Ah Mas Dicky, aku kan jadi malu!" sahut Fitri tersipu.
"Kenapa kau harus malu sayang, bukankah aku suamimu? Makanlah yang banyak, supaya kau sehat!" kata Dicky.
Setelah mereka menghabiskan makannya. Mereka langsung pulang menuju ke rumah mereka.
Dicky dan Fitri terkejut ketika sampai di depan rumah mereka, ada sebuah mobil yang terparkir di sana.
"Sepertinya ada tamu Mas!" kata Fitri.
"Iya Fit, ayo kita masuk!" ajak Dicky yang langsung menggandeng Fitri masuk ke dalam rumahnya.
Saat mereka sampai di ruang tamu, mereka tambah terkejut saat melihat Pak Karta dan Bu Eni, orang tua Fitri, sedang duduk sambil menonton televisi.
"Iya Fit! Kamu kok jarang mudik sih, Bapak sama Ibu kangen tau, tidak di sangka Fit, rumah suamimu besar sekali, kamu pasti terjamin di sini Fit!" ujar Bu Eni antusias.
Dicky nampak menyalami bapak dan Ibu mertuanya itu.
"Mas Dicky belum ambil cuti lagi Bu, rencana kalau liburan agak panjang kami memang mau ke sana, kangen juga sama Bapak Ibu!" jawab Fitri.
"Bapak Ibu sudah makan? Biar aku minta Bi Sumi untuk memasakan sesuatu untuk kalian!" kata Dicky.
"Eh, kami baru makan Nak Dicky, kami juga banyak bawa oleh-oleh, tuh ada di dapur, ada pisang, nangka, aneka kripik, juga talas!" ujar Bu Eni.
"Wah, banyak sekali, terimakasih Bu!" sahut Dicky.
"Iya Nak, namanya mengunjungi anak, rasanya semua ingin di bawa!" kata Pak Karta.
Kemudian Dicky nampak bersiap kembali ke rumah sakit.
"Lho, menantu ganteng mau kemana?" tanya Bu Eni.
"Saya harus kembali ke rumah sakit Bu, jam 3 nanti ada jadwal praktek!" sahut Dicky.
__ADS_1
"Wah, makin bangga aku sama kamu Nak Dicky, hati-jati di jalan ya, dan jangan pernah melirik wanita lain selain anakku!" ujar Bu Eni.
Dicky menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah mengantar suaminya sampai depan, Fitri kembali duduk bergabung dengan kedua orang tuanya untuk melepas rindu.
"Tadi kalian dari mana?" tanya Pak Karta.
"Mas Dicky menjemputku ke sekolah Pak, sekarang aku mengajar di sekolah! Bapak Ibu kalau mau istirahat di kamar tamu saja ya, sudah siap dan tapi kok!" jawab Fitri.
"Hmm, kalau ibu jadi kamu Fit, ibu di rumah saja, atau jalan-jalan ke mall, atau ke salon, toh uang dari suami juga lebih dari cukup kan!" ujar Bu Eni.
"Bukan begitu Bu, aku mengajar karena aku suka mengajar, dan ada kegiatan, kalau di rumah terus kan aku bosan!" sahut Fitri.
"Ya terserah kamu lah Fit, yang penting kamu bahagia, Oya, ngomong-ngomong kapan nih kalian akan memberikan kami cucu?" tanya Bu Eni tiba-tiba.
Fitri tertegun mendengar pertanyaan Ibunya itu, selama ini Ibunya tidak tau kalau Fitri pernah hamil hasil dari pemerkosaan.
Fitri dan Dicky memang sepakat menyembunyikan hal ini untuk kebaikan bersama, tidak ingin membuat orang tua Fitri sedih apalagi Shock.
"Lho Fit, kok malah bengong sih?" lanjut Bu Eni.
"Ibu ini sih, datang-datang malah menanyakan itu, ya kan segala sesuatu ada waktunya, nanti juga waktunya hamil ya kita akan punya cucu juga!" sergah Pak Karta.
"Iih si Bapak, wajar kali orang tua menanyakan ini sama anaknya, bapak saja yang kuno!" cetus Bu Eni.
"Sudahlah Pak, Bu, saat ini aku belum bisa memenuhi permintaan kalian, maafkan aku!" ucap Fitri.
"Sudah Fit, kau jangan sedih, ibumu memang suka bicara ceplas ceplos dari dulu, Bapak mau jalan-jalan sebentar ya keliling taman, pintar Dicky rumahnya asri sekali!" ujar Pak Karta yang langsung berdiri dan berjalan ke arah luar rumah.
Tiba-tiba Bu Eni mengambil tasnya, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu.
"Fit, ini ada jamu kesuburan buat kamu, kamu rutin minum ya, ibu sudah bawakan jadi wajib di minum, dan ini satu lagi, ini obat keperkasaan pria, untuk menyuburkan benih suamimu, kau buatkan tiap malam untuknya!" ucap Bu Eni sambil menyodorkan dua buah kotak jamu itu.
"Ibu apaan sih!? Pakai bawa beginian segala, aku kan malu sama Mas Dicky, lagi pula tanpa jamu ini, Mas Dicky sudah perkasa kok!" sahut Fitri risih.
"Biar lebih Joss!" bisik Bu Eni.
Fitri hanya tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya.
****
__ADS_1