Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sesuatu Yang Aneh


__ADS_3

Bu Anjani mengajak Dicky berjalan ke sebuah ruangan yang kini terlihat sedang di pugar.


Sebuah ruangan yang luasnya dua kali lebih besar dari pada ruangan Dicky sebelumnya.


Entah sejak kapan ruangan ini di buat Dicky juga tidak tau.


"Nanti siang kita makan siang sama-sama ya, Ibu sangat rindu bisa makan bersamamu Nak!" ucap Bu Anjani.


"Iya Bu!" sahut Dicky.


"Besok Ibu akan mengajakmu ke kantor pengacara Pak Hendra, dia yang selama ini mengurus surat-surat warisan Ayahmu!" jelas Bu Anjani.


"Ibu, bertemu dengan Ibu saja itu merupakan suatu keajaiban, aku tidak menginginkan warisan Ibu, aku sudah sangat bersyukur dengan penghasilanku yang sekarang Bu!" ucap Dicky.


"Itu bukan warisan sayang, sebelum kau lahir ke dunia ini, semuanya itu sudah di siapkan oleh Ayahmu, dan sekarang keinginan Ayahmu terkabul, kau sudah menjadi Dokter hebat, dia pasti bangga!" ungkap Bu Anjani.


Mereka lalu berjalan ke arah ruangan itu, ruangan yang hampir rampung sempurna.


"Nanti Ibu akan sering datang ke sini!" lanjut Bu Anjani.


"Bagaimana mengenai wartawan yang berdatangan itu Bu, jujur aku sangat tidak suka di wawancarai, aku ingin menjadi Dokter yang bebas seperti dulu, tanpa ada pembicaraan macam-macam!" ungkap Dicky.


"Kau jangan cemaskan itu, Ibu sudah atur, mereka tidak akan ada lagi yang datang untuk mewawancarai mu!" sahut Bu Anjani.


Kemudian mereka berjalan menyusuri koridor ke ruangan Pak Bram, selama ini Pak Bram yang memegang kendali rumah sakit ini, segala laporan juga di ajukan ke Pak Bram.


Boleh di katakan kalau Pak Bram adalah tangan kanan Bu Anjani, walau mereka masih kerabat dan tinggal dalam satu rumah, karena rumah yang di tempati Bu Anjani sekarang adalah rumah milik almarhum Pak Rahmat Pradita.


Ceklek!


Bu Anjani membuka pintu ruangan itu, Pak Bram nampak terkejut saat melihat kedatangan Bu Anjani bersama dengan Dicky, ada yang berubah dari raut wajahnya.


"Bram, kau tau saat ini aku telah mengakui di depan publik kalau Dokter Dicky adalah putraku, jadi untuk segala hal yang berkaitan dengan rumah sakit ini kini telah menjadi urusannya, karena aku telah menyerahkan hak waris seluruhnya padanya!" ucap Bu Anjani.


"Baik!" jawab Pak Bram singkat.


Sekilas Pak Bram melirik ke arah Dicky, tatapannya aneh dan sulit untuk di artikan, wajah yang dulu murah senyum sekarang berubah jadi tanpa ekspresi, sangat datar dan dingin.


Jantung Dicky terasa berdetak tak beraturan, entah mengapa dari sorot mata Pak Bram, seperti menyimpan sesuatu, entah apa.


Sejak di ketahui kalau Dicky adalah putra Bu Anjani, semua orang di rumah sakit ini kelihatan senang, kecuali Pak Bram.


"Pokoknya kau harus patuhi apa yang putraku katakan, ingat Bram, mulai hati ini, Dicky yang akan mengontrol dan mengelola rumah sakit ini, karena dia adalah pemiliknya!" tambah Bu Anjani.


"Baik!" sahut pak Bram lagi.


"Bu, kenapa Ibu terburu-buru menyerahkan semuanya padaku? Aku belum siap Bu!" kata Dicky.

__ADS_1


"Sudah saatnya Nak, kau sudah dewasa, ini semuanya adalah mandat dari Ayahmu!" jawab Bu Anjani.


Mereka lalu beranjak keluar dari ruangan itu.


Hari sudah menjelang siang, tak terasa Dicky dan Bu Anjani telah mengelilingi hampir setengah dari rumah sakit besar ini.


"Apakah Ayah juga membagi warisannya ke Ibu Arini?" tanya Dicky.


"Tentu saja, dia sudah mendapatkan setengah dari seluruh aset yang Ayahmu miliki, tapi rumah sakit ini, Ayahmu hanya ingin kau yang mewarisinya!" jawab Bu Anjani.


"Di mana sekarang keberadaan Bu Arini?" tanya Dicky.


"Ibu juga tidak tau kemana dia pergi, bagaimana kabarnya, yang ibu ingat, saat dia pergi dia dalam keadaan marah dan penuh dendam, sinar matanya menyiratkan kebencian terhadap Ibu!" jawab Bu Anjani.


****


Dicky pulang ke rumah nya menjelang sore, seperti biasa, Fitri akan menyambutnya sambil menggendong Alex.


"Papa sudah pulang! Papa sudah pulang!" seru Fitri pada Alex putranya.


Setelah Dicky turun dari dalam mobilnya, dia langsung mengecup bayi mungilnya itu.


"Mandi sulu Mas, air hangatnya sudah siap di kamar mandi!" ujar Fitri.


Iya sayang!" sahut Dicky yang langsung bergegas menuju ke kamarnya.


"Kau layani saja suamimu sana, biar Alex sama Ibu dulu!" kata Bu Eni.


"Iya Bu!" jawab Fitri sambil berjalan menyusul Dicky ke kamarnya.


Bu Eni juga segera berjalan ke arah dapur rumah itu, Bi Sumi nampak sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Sssst, Bi Sumi! Malam ini masak yang enak ya! Buat mantu ku, dia itu anak sultan! Jadi kita harus memperlakukannya sebagai raja!" bisik Bu Eni.


"Ah Bu Eni ini, Pak dokter kan tidak suka berlebihan Bu!" tukas Bi Sumi.


"Yah kamu jangan bilang jujur dong, pokoknya mulai hari ini, masak makanan yang enak-enak buat mantu kesayanganku, biar dia senang hatinya, nanti kan aku bakalan di kasih hadiah tuh sama si mantu ganteng!" ujar Bu Eni dengan senyum sumringah.


Bi Sumi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara di kamarnya, setelah selesai mandi, Dicky langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, rasanya nyaman sekali.


Fitri membawakan susu hangat untuk suaminya itu.


"Di minum dulu Mas susunya, biar segar badannya!" ujar Fitri.


Dicky tersenyum lalu segera meneguk gelas minumannya sampai habis.

__ADS_1


"Terimakasih ya sayang!" ucap Dicky.


"Sama-sama Mas!" balas Fitri.


"Fit, lagi pengen aku, apa kau sudah boleh melakukan ritual suami istri?" tanya Dicky lebih harap.


"Belum boleh lah Mas, Alex juga belum 40 hari kok umurnya!" jawab Fitri.


"Yahh!!" Dicky mengeluh kecewa.


"Mas lagi pengen ya, kalau begitu biar aku bantu Mas!" tawar Fitri.


"Bagaimana caranya Fit?" tanya Dicky sambil menatap wajah istrinya itu.


"Mas tenang saja, sekarang Mas Dicky tiduran saja, aku yang akan membuat Mas Dicky keren melek hari ini!" bisik Fitri.


"Ah, kau bisa garang juga Fit!" ucap Dicky sambil memejamkan matanya.


Fitri mulai beraksi, di bukanya seluruh pakaian Dicky, lalu dia mulai membelai dan meremas milik suaminya itu dengan penuh perasaan.


Hingga sang junior membesar menjulang dengan sangat penuh di genggaman Fitri, hingga Dicky bergetar menahan rasa.


"Ini sangat besar dan berisi, aku suka memainkan benda ini Mas, sangat suka!" bisik Fitri.


Kemudian dengan lembut Fitri mulai mengecupnya dan merasakan lewat sentuhan mulutnya.


"Ahh, ampun Fit! Kau luar biasa!" Dicky mulai bergetar dan mengerang.


Telolet ... Telolet ...


Ponsel Dicky berbunyi, Dicky mendengus kesal.


"Sial!! Mengganggu saja!" sungut Dicky.


"Angkat saja pakai load speaker!" sahut Fitri.


Fitri kemudian mulai mengusap layar ponsel Dicky dengan pengeras suara.


"Halo!" cetus Dicky kesal.


"Halo Dokter, ini Pak Bram, aku harap kau jangan senang dulu menerima pemberian Bu Anjani, karena bukan cuma kau saja yang berhak atas rumah sakit itu!" ujar Pak Bram.


Sesaat lamanya Dicky tertegun mendengar ucapan Pak Bram.


Fitri juga langsung menghentikan aktifitasnya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2