Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tamu Datang Terlambat


__ADS_3

Acara ulang tahun Alex terlihat sangat meriah, banyak sekali anak-anak dari panti asuhan yang di undang, termasuk anak-anak panti asuhan Bu Nuri.


Di acara pesta itu juga menghadirkan badut sebagai penghibur, para undangan terlihat sangat senang dan terhibur.


Banyak aneka makanan dan minuman yang tersaji secara prasmanan, semuanya enak-enak, persis seperti sebuah resepsi anak pejabat.


"Bi Sumi, tolong minta panitia untuk menghitung berapa jumlah yang hadir keseluruhan, untuk mengantisipasi jumlah bingkisan yang kurang ya!" ujar Dicky karena terlihat semakin banyak tamu yang datang.


"Semuanya Pak dokter?" tanya Bi Sumi.


"Coba kau minta tolong sama si kampret, soalnya aku bingung kenapa yang datang segini banyak ya, padahal undangan tidak sebanyak itu!" sahut Dicky yang terlihat mulai cemas.


"Iya Pak Dokter, ini kenapa tamu yang datang tidak berhenti-berhenti ya, saya juga bingung! Ngomong-ngomong saya tidak lihat Pak Kampret dari tadi!" timpal Bi Sumi.


"Hush, yang berhak memanggilnya Kampret itu cuma aku Bi, kalian panggil saja namanya, soalnya aku alergi kalau menyebut namanya!" sergah Dicky.


"Iya deh Pak Dokter, kalau begitu saya cari dulu si Pak Kam ... eh maksud saya Pak Donny!" sahut Bi Sumi sambil cepat berlalu dari tempat itu.


Karena tamu yang datang melebihi kapasitas akhirnya Dicky menyuruh Mbok Jum untuk memesan makanan dari berbagai restoran beserta bingkisan tambahan.


Hingga hari menjelang sore, acara pesta ulang tahun pun selesai, semua pulang dengan bahagia dengan membawa bingkisan dari rumah Dicky.


Tenda dan dekorasi sudah mulai di turunkan, panitia acara itu nampak sibuk merapikan halaman yang terlihat berantakan sehabis pesta.


Alex nampak tertidur nyenyak di kamarnya, setelah hampir seharian ini beraktifitas.


Fitri juga terlihat sibuk membantu membereskan sisa makanan di dapur, sementara Dicky masih terlihat mengobrol dengan rekan-rekan seprofesinya.


"Mang Salim, tolong antarkan makanan ini ke tokonya Bu Romlah ya!" kata Fitri sambil menenteng sebuah bungkusan.


"Iya Mbak Fitri!" sahut Mang Salim.


"Tunggu sebentar Mang, saya mau panggilan Dina dan Dara dulu, sepertinya mereka harus menengok emaknya sesekali!" ujar Fitri yang langsung masuk ke dalam untuk memanggilkan Dina dan Dara.


Kedua anak itu nampak sedang asyik membuka kado-kado Alex yang begitu banyak di temani oleh Anita bersama dengan Donny dan Bu Eni.


"Dina, Dara! Sini!" panggil Fitri sambil melambaikan tangannya.


Kedua anak itupun langsung bergegas menghampiri Fitri.

__ADS_1


"Ada apa Ma?" tanya Dina.


"Kalian ikut sama Mang Salim ya, kasih bingkisan sama makanan buat emak kalian, dia pasti senang, kan tadi dia tidak datang!" jawab Fitri.


"Tapi aku mau di sini saja Ma, tidak enak di sana sempit!" sahut Dina.


"Dina, mau besar atau sempit tetap Bu Romlah itu adalah emak kalian, kalian tidak boleh seperti itu, hanya karena kalian mendapatkan fasilitas bagus di sini!"


"Tapi Ma ..." Dara menghentikan ucapannya.


"Dina, Dara, dengar ... bukankah Papa seringkali bilang sama kalian, hormatilah Ibumu selama dia masih ada, jangan pernah jadi kacang yang lupa akan kulitnya, kalian mengerti kan??" tanya Fitri sambil memegang bahu keduanya.


Dina dan Dara menganggukan kepalanya.


"Sekarang cepat kalian ke depan, ikut Mang Salim mengantarkan makanan dan bingkisan buat emak kalian!" titah Fitri.


Dina dan Dara lalu segera berjalan ke arah depan.


"Ada apa sih, serius sekali?" tanya Dicky yang mendengar suara Fitri lalu berjalan mendekatinya.


Fitri menarik nafas panjang, lalu menarik tangan suaminya itu untuk duduk di sofa ruangan itu.


"Mas, apa kita tidak salah dalam mendidik Dina dan Dara?" tanya Fitri.


"Entahlah Mas, aku hanya merasa semakin lama mereka semakin ... tidak patuh dan agak sombong, aku juga mendapat laporan dari wali kelas Dara, katanya anak itu mulai suka pamer dan tidak mau berteman dengan teman-temanya yang miskin!" jawab Fitri.


"Masa sih Fit?" Dicky nyaris tidak percaya.


"Aku juga bingung Mas, waktu itu aku sudah wanti-wanti sama mereka, agar mengantarkan undangan ulang tahun Alex, padahal Bu Romlah setiap hari ke sekolah untuk menengok mereka, tapi mereka katanya lupa memberikan undangan itu, dan saat aku menyuruh mereka untuk mengunjungi ibunya, mereka terlihat enggan dan ogah-ogahan!" jelas Fitri.


Dicky terdiam untuk beberapa saat lamanya.


"Seringkali kenyamanan membuat orang lupa diri, kita harus terus mendidik mereka untuk menjadi pribadi yang rendah hati, ini juga untuk masa depan mereka!" gumam Dicky.


"Iya Mas, aku khawatir saat mereka dewasa, sifat mereka akan berubah, padahal sejatinya harta hanyalah titipan, tapi semoga saja hal itu tidak terjadi pada anak-anak kita ya Mas!" ucap Fitri.


Bu Eni tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dengan tergopoh-gopoh.


"Ternyata kalian di sini, Ibu cari keliling rumah!" kata Bu Eni dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Ada apa Bu?" tanya Fitri.


"Di depan ada tamu dengan membawa anaknya, kelihatannya dia datang terlambat deh!" jawab Bu Eni.


"Tamu? Tamu siapa ya?" gumam Dicky.


"Kita lihat ke depan yuk Mas!" Ajak Fitri yang langsung berjalan ke arah ruang tamu depan.


Seorang laki-laki duduk dengan seorang anak kecil di sampingnya.


"Dio??" tanya Dicky.


"Dokter, maaf, aku datang terlambat, mana Alex? Ada kado nih dari Chika!" kata Dio sambil menyodorkan bungkusan besar ke arah Dicky.


"Trimakasih, Kenapa kau begitu repot, ayo duduk, Alex kebetulan baru saja tidur!" ujar Dicky.


Fitri lalu jalan ke belakang, meminta tolong Mbok Jum unyuk menyajikan makanan dan minuman. Kemudian dia segera kembali ke ruang tamu.


"Tidak terasa ya, anakmu sudah ulang tahun sekarang dan aku juga tidak menyangka kau akan punya rumah sebesar ini Dokter!" puji Dio.


"Kau bisa saja, Oya, Chika ... sudah sekolah belum?" tanya Dicky yang langsung menyentuh pipi Chika yang kini sudah berusia tiga tahun lebih.


Chika langsung menepiskan tangannya dan melotot ke arah Dicky.


"Chika! Tidak boleh begitu sama Om Dokter!" hardik Dio.


Chika bukannya takut malah berlari keluar ruangan sambil tertawa.


Dicky dan Fitri saling berpandangan heran.


"Maafkan Chika, semakin besar, Chika semakin nakal dan sulit di kendalikan, apalagi dia tumbuh tanpa seorang Ibu yang mendampinginya!" ucap Dio. Dari wajahnya terlihat kesedihan.


"Kau sabar saja, aku memahami posisimu!" sahut Dicky sambil menepuk bahu Dio.


"Bagaimana keadaan Ranti?" tanya Fitri.


"Kalau kalian lihat, keadaanya sangat menyedihkan, dia masih koma dan tergantung sepenuhnya dengan peralatan medis, Dokter menyarankan agar aku mengijinkan untuk dicabut alat-alat penunjang kehidupan Ranti, tapi ... Chika akan benar-benar kehilangan Ibu!" ungkap Dio.


Sesaat mereka saling diam, Dio memang ada di posisi yang sulit, terlebih Chika yang kini terkena dampak secara psikologis.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2