
Setelah melakukan operasi dengan tim medis, Dicky merebahkan tubuhnya di kursi ruangannya, rasanya lelah sekali, bahkan dia belum sempat beristirahat.
Dicky yang terlihat sangat mengantuk lalu membasuh wajahnya di wastafel, berharap rasa kantuknya hilang, karena dia hendak pulang kerumahnya, istrinya pasti sudah cemas menunggunya.
Dicky kemudian berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang dingin itu, sesekali dia melipat tangannya, Susana rumah sakit juga terlihat sangat sunyi dan sepi.
Sesampainya di parkiran, Dicky langsung naik ke mobilnya dan langsung melajukan nya menuju ke rumahnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 3 dinihari, tidak mau mengganggu Bi Sumi yang mungkin sedang lelap tertidur, Dicky membuka gerbang sendiri dengan kunci cadangan.
Kemudian Dicky segera masuk ke dalam rumah besarnya itu. Dia langsung naik ke atas menuju ke kamarnya.
Fitri nampak lelap tertidur sambil memeluk gulingnya.
Dicky langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian.
Setelah selesai dia membaringkan tubuhnya di samping Fitri, Dicky membetulkan selimut Fitri, kemudian mengecup keningnya.
Lalu Dicky mulai memejamkan matanya sambil memeluk Fitri, rasanya begitu hangat dan nyaman.
Menjelang pagi, Fitri terbangun dari tidurnya, dia terkejut saat ada tangan berbulu yang memeluknya, pantas saja Fitri semakin nyenyak tertidur, ada pelukan hangat dari suaminya itu.
Fitri Haris bangun untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Perlahan dia menggeser posisinya, menaruh guling untuk menggantikan dirinya di peluk Dicky.
Fitri kemudian menyelimuti Dicky yang wajahnya nampak lelah dan kini tertidur dengan nyenyaknya. Sekilas dia memandangi wajah Dicky.
"Kau pulang jam berapa Mas? Betapa mulia pekerjaanmu ini Mas, aku makin kagum padamu, kau lelakiku yang luar biasa!" gumam Fitri sambil membelai rambut Dicky.
Kemudian dia beranjak keluar dari kamarnya, turun ke bawah dan mulai menyiapkan sarapan, matahari sudah nampak menyembul dari tempat peraduannya.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Fitri kembali naik ke atas untuk mandi, karena hari ini dia harus mengajar di sekolah barunya.
Setelah selesai mandi, Dicky masih terlihat nyenyak tertidur. Fitri lalu duduk di tepi tempat tidurnya sambil menyentuh wajah Dicky dengan jemarinya.
"Mas Dicky, aku pamit mengajar dulu ya!" ucap Fitri sambil terus membelai lembut wajah tampan Dicky, Dicky mulai membuka matanya.
"Fitri, kau sudah rapi sekali, mau kemana?" tanya Dicky.
"Mas Dicky lupa? Aku mau mengajar Mas, hari ini Mas Dicky tidak usah mengantarku, Mas Dicky kelihatan lelah, istirahat saja!" jawab Fitri.
__ADS_1
"Tapi Fit, aku mau mengantarmu, aku tidak ingin kau berangkat sendirian!" tukas Dicky sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
"Tidak! Kali ini kau harus dengarkan aku Mas, aku tau kau pulang menjelang subuh, kau butuh istirahat yang banyak untuk memulihkan tenaga mu, aku sudah siapkan sarapan di meja makan!" ujar Fitri.
"Tapi Fit ..."
"Sudahlah Mas, nanti pulang mengajar kau juga jangan menjemput aku, hari ini kau berangkat agak siang kan kerumah sakit, aku bisa pulang sendiri nanti!" kata Fitri.
"Maafkan aku Fit!" ucap Dicky.
"Kenapa kau minta maaf, aku bangga padamu Dokter Dicky, kau bekerja untuk kemanusiaan, kalau begitu aku berangkat dulu ya!" Fitri lalu mencium tangan Dicky.
"Fitri, supaya aku semangat sepanjang hati ini, beri aku sebuah ciuman!" ucap Dicky. Fitri terperangah.
"Ciuman? Kau mau di cium apanya?" tanya Fitri.
"Cium bibir ku!" sahut Dicky.
"Hmm, baiklah, demi suami tampan ini, aku akan memberikan ciuman untukmu Mas!" Fitri kemudian mencium bibir Dicly beberapa kali, Dicky tersenyum senang.
"Kau berangkat naik apa Fit?" tanya Dicky.
"Aku naik ojek online saja Mas, kalau naik taksi sayang cuma sendiri!" jawab Fitri.
"Ssst, tidurlah kembali Mas, percayalah padaku, bukankah kau ingin aku seperti aku yang dahulu, semangat dan ceria, dulu aku sering naik ojek lho, tanya saja sama Pak Kevin!" bisik Fitri sambil kembali mengecup bibir Dicky.
Tanpa menunggu balasan dari Dicky, Fitri langsung beranjak keluar dari kamar itu.
****
Setelah sarapan sebentar, Fitri lalu mulai memesan ojek online di aplikasi ponselnya.
Sekitar 10 menit menunggu, di depan gerbang, ojek online yang di pesan Fitri sudah datang, Fitri bergegas keluar dari rumah itu dan mulai naik ojek menuju ke sekolah.
Jarak dari rumah ke sekolah memakan waktu sekitar 45 menit.
"Ayo Bang agak cepat jalannya, nanti saya terlambat mengajar!" kata Fitri pada tulang ojek itu.
"Ini juga udah cepat Mbak, cuma jalanan agak macet begini!" sahut si tukang ojek.
__ADS_1
Ketika jalanan sudah lancar, tiba-tiba motor yang di tumpangi Fitri menepi ke pinggir jalan.
"Ada apa Bang?" tanya Fitri.
"Wah, kita harus cari bengkel dulu Mbak, ban motornya bocor!" seru si tukang ojek.
"Yah, Abang gimana sih, orang lagi buru-buru juga!" sungut Fitri.
Tiba-tiba sebuah motor besar berhenti di dekat mereka, ketika si pengendara motor membuka helmnya, Fitri agak sedikit terkejut.
"Pak Donny??" pekik Fitri tertahan.
"Ayo Bu Fitri, cepat naik! Sebentar lagi kita akan terlambat!" seru Pak Donny.
"Tapi Pak ..."
"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam, ayo cepat naik!" potong Pak Donny cepat.
Akhirnya dengan sedikit ragu-ragu, Fitri naik ke atas motor milik Pak Donny, kemudian Pak Donny mulai kembali menjalankan motornya.
Ketika mereka tiba di sekolah, terdengarlah suara bel masuk sekolah.
Fitri dan Pak Donny berlari kecil menuju ke kelas mereka masing-masing.
Fitri langsung masuk ke dalam kelasnya. Setelah ketua kelas memberi salam, Fitri mengabsen murid-muridnya satu persatu.
"Ada yang tau Dara kenapa? Hari ini dia tidak masuk! Siapa yang rumahnya dekat dengan Dara?" tanya Fitri.
"Saya Bu Fitri!" seorang anak laki-laki menunjuk tangannya.
"Tito? Kau tau kenapa Dara tidak masuk?" tanya Fitri lagi.
"Kemarin dia baru di marahin sama Emaknya, karena Dara minta di belikan sepatu, Dara tidak punya sepatu Bu!" jawab Tito.
Ada yang tersentuh di sudut hati Fitri, dia hidup dalam kelimpahan harta suaminya, sementara ada seorang anak yang susah hanya untuk membeli sebuah sepatu.
"Tito, nanti sepulang sekolah temani Ibu ke rumah Dara ya!" kata Fitri.
"Iya Bu!" sahut Tito.
__ADS_1
"Baiklah anak-anak, sekarang kita mulai pelajaran kita!" ujar Fitri sambil bangkit dari duduknya dan mulai menulis di papan tulis.
****