Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Belajar Jalan


__ADS_3

Hari ini jadwal Dicky berobat jalan ke rumah sakit. Mobil yang Dicky pesan juga sudah sampai, sekarang mereka mempunyai supir pribadi yang bernama Mang Salim, seorang laki-laki yang berusia sekitar 50 tahunan.


Setelah mengantar Dina dan Dara ke Sekolah, Mang Salim kemudian mengantar Dicky dan Fitri ke rumah sakit.


"Fit, kata Dokter Yudi aku sudah bisa praktek lagi, tapi di batasi hanya dua jam, hari ini kau temani aku ya Fit!" pinta Dicky.


"Iya Mas ..." jawab Fitri.


"Tapi tetap saja aku masih berjalan menggunakan tongkat, seperti orang cacat saja!" keluh Dicky.


"Jangan bicara begitu Mas, masih untung hanya kakimu yang patah, bagaimana jika lehermu!" cetus Fitri.


"Ah, kau bisa saja Fit, walaupun leherku yang patah, tapi kau tetap cinta sama aku kan Fit?" tanya Dicky sambil meremas tangan Fitri.


"Ssst, jangan mulai lagi Mas, malu sama Mang Salim!" sergah Fitri.


"Lho, memangnya kenapa? Mang Salim juga kan pernah muda, iya kan Mang?" tanya Dicky sambil mengedipkan mata ke arah Mang Salim.


Mang Salim hanya terkekeh.


"Iya Mas Dicky, Mbak Fitri ... tidak apa-apa kalau mau romantisan depan Mang Salim kok!" ujar Mang Salim sambil tersenyum.


Tak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. Mang Salim menurunkan Dicky dan Fitri di depan lobby, sementara ia memarkirkan mobilnya di parkiran.


Fitri langsung berjalan perlahan memapah Dicky yang berjalan menggunakan tongkat.


Sejak di depan lobby, semua security, karyawan, para Dokter dan perawat yang berpapasan dengan Dicky menunduk hormat pada Dicky dan menyapa ramah.


"Kenapa semua orang di sini menghormatimu Mas?" tanya Fitri.


"Kau lupa Fit, sekarang suamimu ini adalah kepala rumah sakit di sini, jadi semua orang tunduk dan hormat padaku!" jawab Dicky.


"Oh, pantas saja, aku lupa kalau Mas Dicky ku ini sudah naik jabatan jadi kepala rumah sakit, aku jadi bangga deh!" ucap Fitri.


"Nah begitu dong, banggalah menjadi istriku, di luar sana banyak yang mengantri untuk mendapatkan hatiku, tapi sayangnya sudah ada yang menguasai hati ini!" ucap Dicky yang membuat perasaan Fitri menghangat seketika.


Mereka terus berjalan menuju ke ruangan Dokter Yudi.


Fitri membantu Dicky untuk berbaring di ranjang pasien, sementara Dokter Yudi membuka perban Dicky.


"Luka luarnya sudah mengering, jadi tidak perlu pakai perban lagi, hanya tinggal tulangnya saja yang mungkin masih nyeri saat berjalan!" jelas Dokter Yudi.

__ADS_1


"Tapi aku masih bisa berjalan normal kembali kan Dok?" tanya Dicky.


"Tentu saja, kau harus sering-sering latihan berjalan tanpa tongkat selangkah demi selangkah, Bu Fitri bisa membantumu Dokter Dicky!' jawab Dokter Yudi.


"Iya Dokter, saya akan membantu suami saya ini untuk latihan berjalan sedikit demi sedikit, mudah-mudahan bisa cepat pulih seperti sedia kala!" timpal Fitri.


"Ini aku hanya memberikan sedikit resep obat dan vitamin yang harus rutin kau minum Dokter Dicky!" ujar Dokter Yudi sambil menuliskan di kertas resep obat yang di maksud.


"Jadi hari ini aku bisa mulai praktek kan?" tanya Dicky meyakinkan.


"Tentu saja bisa, kau memeriksa pasien kan pakai tangan, bukan pakai kaki!" canda Dokter Yudi sambil tertawa.


"Yess! Akhirnya, aku kangen memeriksa pasien lagi!" seru Dicky senang.


Setelah rawat jalan di Dokter Yudi, Dicky kemudian si tuntun Fitri mulai keluar dari ruangan Dokter Yudi.


Mereka lalu berjalan menuju ke ruangan Dicky.


"Mas, bukannya kepala rumah sakit itu tidak ada praktek ya? Hanya mengontrol secara umum dan mengelola administrasi rumah sakit!" tanya Fitri.


"Iya, kecuali aku!" sahut Dicky.


"Kenapa begitu?" tanya Fitri.


Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang wanita sudah berdiri menghadang Dicky dan Fitri yang berjalan pelan.


Dicky langsung berhenti dan sangat terkejut melihat wanita itu.


"Dave ... aku merindukanmu, kau kemana saja Dave ..." ucap Santi, wanita yang di takuti Dicky itu.


"Aku Dicky! Bukan Dave!" seru Dicky.


"Kau Dave suamiku! Kau suamiku! Aku sangat merindukanmu Dave!" kata Santi sambil berjalan mendekati Dicky yang mulai mundur.


"Tidak! Dave sudah meninggal! Semua orang tau kalau Dave sudah meninggal!" sengit Dicky.


"Mbak maaf, jangan ganggu suami saya, dia itu Dokter Dicky suami saya, bukan Dave!" ujar Fitri yang sejak tadi diam saja.


Santi menatap tajam ke arah Fitri, sorot matanya menyimpan sesuatu yang misteri, wajah yang begitu dingin dan datar, seolah tanpa ekspresi.


Dicky lalu merogoh ponselnya lalu mulai menelepon security.

__ADS_1


"Halo! Apa saja kerja kalian?? Ada wanita gila di biarkan masuk ke rumah sakit ini!!" sentak Dicky.


"Kami tidak tau kalau dia gila Dokter, kami akan segera menangkapnya!" sahut security itu.


Santi yang kelihatan marah karena Dicky menelepon security langsung melangkah cepat ke arah Dicky, lalu menarik tangannya.


"Aku tidak gila!! Enak saja kau bilang aku gila!! Kau memang suamiku Dave! Ayo kita pulang!!" Santi menarik tangan Dicky hingga tongkat Dicky jatuh lalu Fitri berusaha menahan Dicky, namun Dicky hilang keseimbangan dan dia pun terjatuh.


"Mas Dicky!!" pekik Fitri sambil memeluk Dicky yang kini jatuh tersungkur.


"Pergi kau wanita gila!! Jangan ganggu suamiku!!" teriak Fitri.


Beberapa orang yang kebetulan lewat dan ada di situ mulai menahan Santi agar tidak menyerang Fitri dan Dicky, hingga beberapa security yang datang pun langsung ikut meringkus dan mengamankan Santi.


"Bawa wanita itu ke rumah sakit jiwa!!" titah Dicky.


"Baik Dokter!" sahut para security itu.


Fitri mulai membantu Dicky untuk berdiri. Dicky nampak meringis menahan nyeri di kakinya.


Kemudian perlahan Fitri memapah Dicky dan membantu Dicky untuk duduk di bangku koridor yang ada di dekat situ.


"Kakinya sakit ya Mas? Memang keterlaluan wanita itu, kenapa dia begitu yakin kalau kau ini adalah suaminya?" tanya Fitri.


"Nanti akan ku tunjukan padamu foto Dokter Dave, supaya kau tau kenapa dia menganggap aku ini suaminya!" jawab Dicky.


"Sekarang, apakah kau yakin Mas, ingin praktek di ruanganmu?" tanya Fitri lagi.


"Selama kau ada di sampingku, hatiku menjadi tenang Fit, lupakan wanita tadi, dan tetaplah berada di sisiku, karena hanya dirimu dan ini yang menjadi penyemangat hidupku!" jawab Dicky sambil mengelus perut Fitri.


"Iya Mas, ayo kita jalan lagi ke ruangan mu, anggap saja kau sedang belajar jalan, nanti lama-lama lepas tongkatnya ya Mas!" ujar Fitri sambil kembali berdiri dan menuntun Dicky berjalan perlahan.


"Fit ..."


"Iya Mas?"


"Waktu kita menikah dulu, kita tidak melakukan resepsi pernikahan, apakah kau bersedia Fit kalau kita mengadakan resepsi untuk pernikahan kita?" tanya Dicky.


Fitri menghentikan langkahnya, lalu menatap wajah Dicky dengan tatapan hangat dan dalam.


"Aku mau Mas ..." jawab Fitri.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2