Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Belas Kasihan


__ADS_3

Dicky dan Fitri yang berdiri di sisi ranjang itu terkesiap melihat tubuh kurus Ranti yang kini nampak mengerikan.


Banyak selang dan alat-alat medis yang terpasang di sebagian tubuhnya.


Wajahnya sangat pucat, bibirnya kebiruan, matanya nampak cekung. Beberapa bagian tubuhnya nampak memar kebiruan, mungkin terlalu sering tertancap jarum.


"Mas Dicky, benarkah ini Ranti?" tanya Fitri perlahan. Dia nyaris tidak percaya pada penglihatannya sendiri.


"Iya sayang, ini Ranti!" jawab Dicky setengah berbisik.


"Kenapa Ranti jadi sangat berubah Mas? Padahal batu beberapa bulan lamanya aku tidak melihatnya!" ungkap Fitri.


"Entahlah Fit, aku juga tidak mengerti, sekarang dia bahkan tidak berdaya, kasihan dia!" gumam Dicky.


Ceklek!


Terdengar suara pintu ruangan yang di buka dari luar.


Dio datang, tapi kini tidak sedang menggendong Chika.


"Akhirnya kau datang juga Dokter, beginilah kondisi Ranti, dia bahkan seperti mayat hidup!" ucap Dio dengan pandangan mata yang menyiratkan kesedihan.


Dio juga terlihat agak kurus. Padahal aslinya Dio itu sangat tampan, namun kini seolah ketampanannya luntur karena mengurus istrinya yang sakit itu.


Tiba-tiba timbul belas kasihan dalam hati Dicky, dulu dia sempat pernah membenci Dio, karena Dio telah merebut Ranti kekasihnya dan malah menikahinya.


Sekarang semuanya berubah, rasa benci juga sudah luntur, berganti dengan rasa kasihan yang dalam.


"Kuatkan hatimu Dio, ini ujian buat keluargamu!" ucap Dicky sambil menepuk bahu Dio.


"Terimakasih Dokter!" sahut Dio.


"Aku kagum padamu Dio, kau memiliki cinta yang amat besar dan luar biasa untuk Ranti, walaupun kita semua tau bagaimana Ranti terhadapmu!" ucap Dicky.


"Yah, walaupun mungkin pernikahanku dengan Ranti adalah suatu kesalahan, karena Ranti tidak pernah benar-benar mencintaiku, tapi aku tidak pernah menyesal menikahinya!" jawab Dio.


"Kelak kau pasti akan mendapat cinta yang sesungguhnya Pak Dio, upah dari kesetiaan mu terhadap istrimu!" timpal Fitri.


"Terimakasih Bu Fitri, atas nama Ranti aku minta maaf atas apa yang pernah di perbuatanya padamu!" sahut Dio sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Sebelum kau memintanya, aku sudah memaafkannya, jangan sungkan Pak Dio!' jawab Fitri.


"Dio, sebenarnya kau dan Ranti sudah bercerai atau belum? Waktu itu Ranti bilang kalau kalian sudah resmi bercerai!" tanya Dicky.

__ADS_1


"Ranti memang menggugat cerai aku, tapi aku tidak pernah datang saat di pengadilan, maka dari itu perceraian kami tidak sah di mata hukum, Ranti masih sah istriku!" jawab Dio.


"Oya, di mana Chika?" tanya Dicky.


"Chika aku titipkan di tempat penitipan anak atas rekomendasi mu Dokter, mulanya dia menangis terus, sebenarnya aku tidak tega, tapi apa boleh buat, aku terpaksa!" jawab Dio.


"Kasihan sekali Chika, mudah-mudahan dia bisa tenang ya di tempat penitipan anak itu, aku sungguh tidak tega!" gumam Fitri.


Setelah mengobrol sekian lama, kemudian Dicky dan Fitri pamit pulang ke rumahnya.


Hati sudah terlihat gelap, mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang panjang itu.


Dicky dan Fitri saling diam dengan pikirannya masing-masing.


"Mas Dicky ..."


"Iya Fit?"


"Kenapa kita tidak mengadopsi Chika saja? Setelah aku pikir-pikir kasihan Chika Mas, anak sekecil itu sangat kurang kasih sayang Ibu!" ungkap Fitri.


"Tidak bisa sayang, Chika itu masih memiliki Ayah, Ayahnya yang bertanggung jawab penuh atas dia, bukan kita, kecuali Chika sudah yatim piatu!" jawab Dicky.


"Tapi Ayahnya juga sedang bingung, antara mengurus istri yang sakit, mengurus anak dan pekerjaan, kasihan sekali!" tambah Fitri.


"Iya Mas, semoga saja!" sahut Fitri.


****


Malam itu, Dina dan Dara nampak sedang belajar di ruang belajar. Pak Karta dan Bu Eni duduk di sofa ruang keluarga, sedang asyik menonton sinetron kesukaan mereka sambil bercengkrama.


Dicky dan Fitri baru saja pulang setelah mereka makan malam di luar, Dicky membawa martabak manis dan martabak telor untuk mertua dan anak-anaknya di rumah.


"Kalian baru pulang? Fit, sudah hamil besar begini jangan sering keluar malam! Pamali!" ujar Bu Eni saat Dicky dan Fitri masuk ke ruangan itu.


"Tadi kami habis menjenguk seorang teman yang sakit kanker otak Bu!" kata Dicky yang merasa tidak enak karena pulang menjelang malam.


"Sakit kanker?? Pasti semasa hidupnya dia banyak masalah!" cetus Bu Eni.


"Hush Ibu! Jangan menghakimi, dari mana Ibu tau??" sergah Pak Karta.


"Yah mitosnya kan memang begitu Pak, makanya semasa hidup kita jangan suka memendam sesuatu deh, jadi penyakit nanti, makanya suami istri itu harus saling jujur dan terbuka, di jamin hidup sehat dan bahagia!" seloroh Bu Eni.


"Ibu benar, makanya aku juga ingin selalu jujur dan terbuka pada Fitri istriku, tidak ada yang tersembunyi di antara kami, saling terbuka dan tidak ada dusta!" ujar Dicky.

__ADS_1


Fitri lalu membuka martabak yang batu saja di beli Dicky.


"Silahkan Pak, Bu, masih hangat ini martabaknya!" tawar Fitri.


Mereka kemudian mulai menikmati martabak itu sambil menonton televisi.


Fitri kemudian mengambil dua piring untuk di isi martabak, kemudian memberikan pada Bi Sumi yang masih bergelut di dapur juga Dina dan Dara yang masih mengerjakan tugas mereka.


"Ayo anak-anak, kalau sudah selesai langsung tidur ya, jangan tidur malam-malam besok sekolah!" ujar Fitri mengingatkan.


"Iya Ma, ini juga sudah selesai kok!" jawab Dina.


"Ini martabaknya di makan dulu, tadi Papa beli banyak, setelah itu langsung tidur ya!" titah Fitri.


"Iya Ma!" sahut keduanya bersamaan.


Fitri kemudian kembali ke ruang keluarga.


"Fit, martabaknya enak banget! Dicky memang paling pintar deh kalau soal selera!" puji Bu Eni.


"Iya dong Bu, aku tidak pernah salah dalam hal selera, termasuk selera memilih istri!" ucap Dicky sambil melirik ke arah Fitri.


"Mas Dicky bisa saja!" sahut Fitri tersipu.


"Tuh Fit! Bersyukur makanya bisa dapet Dokter Dicky, udah ganteng, kaya, baik lagi!" puji Bu Eni.


"Jadi ibu tidak bersyukur nih dapetin Bapak??" tanya Pak Karta sedikit cemberut. Bu Eni terdiam.


"Siapa bilang tidak bersyukur Pak, biarpun Bapak petani miskin, tapi setianya tidak di ragukan lagi, pokoknya Bapak nomor sati deh di hati Ibu!" jawab Bu Eni.


"Hmm, kalau sudah di sindir baru deh, puji suami sendiri!" sungut Pak Karta.


"Bapak jangan begitu dong, selama ini mana pernah Ibu tidak patuh sama Bapak, biarpun Ibu cerewet tapi tetap menghormati dan menghargai Bapak!" ucap Bu Eni sambil mulai merebahkan kepalanya di bahu Pak Karta.


Dicky langsung menarik tangan Fitri menjauh dari ruangan itu.


"Jangan ganggu kemesraan mereka Fit, kita buat kemesraan kita sendiri saja di kamar!" bisik Dicky sambil mulai mengangkat Fitri dalam gendongannya.


Kemudian Dicky segera berjalan menuju ke kamar mereka.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2