
Sejak kematian Pak Karta, Bu Eni berubah menjadi pemurung, seringkali dia mengurung diri di kamarnya, bicara hanya seperlunya, dan makan pun selalu dibujuk oleh fitri atau Anita.
Anita menginap di rumah Fitri, sementara Donny kembali ke Jogjakarta, karena harus mengurus usahanya yang semakin maju itu.
Anita dan Reino sengaja tinggal sementara di rumah Fitri, untuk menghibur Bu Eni dan selalu mendampingi Bu Eni, supaya Bu Eni bisa melihat, kalau dia masih punya anak-anak dan cucunya yang lucu-lucu.
Alex dan Alena sangat senang sekali, karena Reino menginap di rumahnya, mereka Jadi ada teman bermain, dan rumah itu menjadi semakin ramai.
Tapi tetap saja Bu Eni selalu menarik diri, dan kini tubuhnya semakin terlihat kurus, matanya sayu dan seolah tidak memiliki lagi semangat untuk hidup.
Anita dan Reino sengaja tidur di kamar Bu Eni, supaya Bu Eni tidak merasa sendirian, dan Anita bisa selalu mengawasi dan menemani ibunya itu.
Malam itu mereka terlibat makan malam di meja besar rumah Dicky, namun Dicky belum pulang dari rumah sakit, karena ada tamu yang datang dari luar negeri, juga ada beberapa hal yang harus diselesaikan di rumah sakit.
"Fit, tadi ayahnya Reino menelepon, dia kangen sama anaknya, sepertinya dalam beberapa hari kedepan aku harus pulang ke Jogjakarta!" ucapan Anita.
"Yah kalau kau ingin pulang ke Jogjakarta, aku tidak bisa menahanmu Ta, walau Bagaimana, Pak Donny itu kan suamimu, dia juga butuh kalian berada di dekatnya!" jawab Fitri.
"Tapi Ibu Bagaimana Fit? Aku masih mencemaskan Ibu, kadang-kadang tengah malam, Ibu masih suka menangis di kamar, Bagaimana kalau dia sendirian saja di dalam kamar?" tanya Anita.
"Sudahlah Ta, biar nanti aku saja yang menemani Ibu, Kalau kau ingin pulang, ya pulang saja, kasihan juga Pak Donny sendirian di sana!" sahut Fitri.
"Baiklah Fit, hari Sabtu ini aku akan pulang ke Jogjakarta, aku titip ibu ya, pokoknya kalau ada apa-apa, kau langsung beritahu aku!" kata Anita.
Fitri menganggukan kepalanya, kemudian mereka melanjutkan makan malam mereka.
Bu Eni nampak duduk termenung di depan teras rumah itu, malam ini dia makan sedikit sekali, setelah makan dia langsung pergi ke teras, seperti biasa Bu Eni akan melamun di sana.
Setelah selesai makan malam, anak-anak nampak bermain puzzle di ruang keluarga ditemani oleh Bi Sumi dan Mbok Jum.
Sementara Fitri dan Anita pergi ke teras menyusul ibunya yang duduk di sana, mereka lalu ikut Duduk bergabung dengan Bu Eni.
"Bu udara di luar dingin, kita masuk kedalam yuk!" ajak Fitri.
__ADS_1
"kalian saja yang masuk, Ibu masih mau di sini!" sahut Bu Eni.
"Kita ngobrol di ruang tamu saja Bu, ini anginnya dingin sekali, sepertinya akan turun hujan!" timpal Anita.
"hujan! bapak pasti kedinginan sendirian, Fitri, Anita, antar ibu ke makam bapak yuk, Kasihan bapak pasti akan kedinginan dan kehujanan!" ucap Bu Eni sambil menatap kedua anaknya itu.
Fitri dan Anita saling berpandangan, tidak menyangka reaksi Bu Eni akan seperti itu.
"Bu, Bapak sudah tenang disana, besok saja ya aku akan antar ibu ke makam Bapak, sekarang kan sudah malam Bu, sudah mau hujan lagi!" tukas Fitri.
"Fitri benar Bu, tuh sudah ada suara petir, sebentar lagi mau hujan lebat Bu, kita masuk saja yuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam!" ajak Anita.
"Kalau kalian tidak bisa mengantar Ibu, Ya sudah Ibu pergi sendirian saja rumah tidak apa-apa! " ucap Bu Eni sambil beranjak dari tempatnya.
Fitri dan Anita terkejut, refleks Fitri langsung memegang tangan Bu Eni, namun Bu Eni menepiskan tangannya.
"Jangan Bu! Pokoknya besok janji aku akan antar ibu ke makam Bapak, tapi aku mohon jangan malam ini!" sergah Fitri.
Bu Eni tidak menjawab ucapan Fitri, dia langsung berjalan menuju ke arah gerbang, Fitri dan Anita menjadi panik.
"Jangan Ta! Kau sedang hamil, aku saja yang menyusul Ibu, kau jaga anak-anak, nanti kalau Mas Dicky datang, minta tolong dia untuk segera menyusul kami!" sergah Fitri.
"Tapi ..."
"Mang Salim!" Fitri memanggil Mang Salim, namun beberapa kali dipanggil, Mang Salim tidak datang-datang.
Akhirnya Fitri berlari menyusul ibunya ke arah gerbang.
"Pak, tadi ibu lewat sini kan? Kenapa kalian tidak mencegah Ibu pergi? Ini kan sudah malam!" tanya Fitri pada kedua security yang menjaga di depan gerbang rumahnya itu.
"Maaf Bu Fitri, tadi kata ibu, dia ada urusan sebentar, makanya kami tidak berani mencegahnya!" kata salah seorang security itu.
"Aduh bagaimana ini? Mana Mas Dicky belum pulang, Mang Salim ke mana sih? Kalian tahu di mana Mang Salim?" tanya Fitri.
__ADS_1
"Tadi Mang Salim izin mau pulang sebentar, katanya dia mau mengambil ponsel yang ketinggalan!" jawab seorang security itu.
"Duh ada-ada saja Ini, Ibu keburu jauh jalannya, kalian punya motor kan? Tolong antarkan aku menyusul Ibu dong, ke arah makam!" pinta Fitri.
Kedua security itu saling berpandangan sesaat lamanya.
"Apa?? Ke arah makam?? Malam-malam begini??" tanya mereka bersamaan.
"Ayo cepat! Waktuku tidak banyak! Nanti Ibu keburu jauh!" seru Fitri.
Kemudian dengan cepat, salah seorang security itu mengambil motor yang terparkir tidak jauh dari gerbang rumah itu, kemudian dia langsung menyalakan nya, tanpa menunggu lagi, Fitri segera naik ke atas motor itu, dan motor itu melaju menyusul Bu Eni yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Angin semakin bertiup kencang, suara petir mulai terdengar menggelegar, sebentar lagi hujan akan turun dari langit.
Dengan perasaan ketar-ketir, Fitri dibonceng oleh salah seorang security itu, menyusul Bu Eni menyusuri jalan ke arah makam.
Jalanan itu terlihat sangat sepi dan sunyi, tidak ada seorang pun yang lewat, karena memang hari sudah sangat gelap, ditambah dengan suara guntur yang bergemuruh.
Gerimis pun mulai turun perlahan, gerimis yang berubah menjadi titik-titik besar disertai dengan kilatan yang menyambar Kian kemari.
Di sisi kiri di ujung jalan itu, Bu Eni nampak berlari-lari menyusuri jalan yang licin itu, menuju ke sebuah tempat pemakaman umum, tempat dimana Pak Karta dimakamkan.
"Ayo cepat! bisa tidak sih ngebut sedikit?!" cetus Fitri terhadap security yang membawanya itu.
"Maaf Bu Fitri, jalanannya terlalu licin, kalau saya ngebut sedikit, kita akan jatuh nanti!" sahut security itu.
Hujan pun turun semakin deras, rambut dan pakaian Fitri sudah basah kuyup tersiram lebatnya air hujan.
Motor yang dikendarai oleh security itu tidak dapat lagi melaju, karena jalanan tanah merah yang sangat licin, sehingga menyulitkan untuk motor itu berjalan.
Fitri kemudian turun dari motor itu, dan segera berlari menyusul ibunya.
Bersambung...
__ADS_1
****