Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dalam Perjalanan


__ADS_3

Mobil yang Mang Salim kendarai, kini melaju dengan kecepatan sedang dan mereka sudah sampai di daerah Jawa Barat, tepatnya di daerah Brebes, yang adalah Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.


Mang Salim menghentikan mobilnya sebentar di tempat peristirahatan, untuk beristirahat sejenak, karena sejak dari Jakarta hingga sampai di sini Mereka belum singgah di manapun untuk beristirahat.


Mereka sengaja menggunakan jalur Pantura, tidak melewati jalan tol karena ingin melihat-lihat suasana dan pemandangan, juga kuliner di setiap kota yang mereka lewati.


Sepanjang perjalanan pun Fitri terlihat sehat-sehat saja, Walaupun dia tengah mengandung 2 bulan.


Dia terlihat sangat menikmati perjalanan kali ini, karena dia belum pernah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dengan menggunakan mobil, biasanya kalau keluar kota mereka selalu menggunakan pesawat.


"Pa, lihat deh, di sepanjang jalan banyak sekali yang jual telur asin, kita beli yuk! Aku juga ingin makan telur asin!" kata Fitri, saat mereka baru turun dari mobil yang berhenti di depan sebuah restoran mereka berencana akan makan siang di sini.


"Telur asin? Kalau kau mau membelinya silakan sayang, tapi jangan terlalu banyak makan telur asin, karena ada banyak kandungan garam di dalamnya apalagi kalau sedang hamil!" jawab Dicky.


"Iya Pak Dokter!" sahut Fitri sambil mencubit dagu suaminya itu, kemudian dengan semangat dia pergi ke kedai telur asin yang tidak jauh tempatnya dari mobil yang terparkir.


Fitri membeli beberapa kotak telur asin selain untuk dimakan sendiri dan untuk bekal selama di perjalanan, Fitri juga berencana akan membawa telur asin sebagai oleh-oleh untuk keluarga besar Donny dan Anita di Jogjakarta.


Setelah membeli telur asin, Fitri kembali ke mobil. Dicky dan anak-anak beserta yang lainnya, sudah duduk menunggu di restoran.


Mereka berencana akan makan siang di sana, sementara Fitri langsung memakan telur asin yang dibelinya beberapa butir, setelah itu dia kembali ke restoran dan duduk bergabung dengan mereka.


Brebes berdekatan dengan Cirebon di restoran itu menyajikan menu empal gentong sebagai menu andalan.


Mereka masing-masing memesan menu makanan sesuai dengan keinginan mereka.


"Ayo Ma, disini empal gentong nya paling enak lho, diantara restoran yang lain, kau wajib mencobanya karena ini enak banget!" kata Dicky.


Sebenarnya Fitri tidak terlalu lapar, karena dia sudah memakan beberapa butir telur asin. Namun karena suaminya yang memintanya dia makan, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


Sementara Alex dan Alena nampak lahap menyantap makanannya, mereka baru kali ini mencoba menu khas Cirebon empal gentong.


Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Stop Mang! Stop!!"


Tiba-tiba Fitri berteriak minta mobil itu dihentikan, dengan sedikit gugup dan Panik, akhirnya Mang Salim menepikan Mobilnya di pinggir jalan itu.


"Ada apa sayang?!" tanya Dicky cemas, dia kemudian langsung turun dari mobil dan membukakan pintu bagian tengah.


Fitri langsung keluar dari mobil, dan pada saat itu juga dia langsung memuntahkan semua isi perutnya di pinggir jalan itu.


Howeeeek!!


"Tadi kan aku sudah bilang, kau jangan terlalu banyak makan telur asin! Begini akibatnya!" kata Dicky sambil memijit di tengkuk Fitri.


Kemudian Mbok Jum keluar sambil membawakan air hangat untuk diminum oleh Fitri.


Setelah meneguk air hangat itu, Fitri sudah tidak mual lagi, Dicky memapahnya kembali masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Kini mereka berganti posisi, Alex duduk di depan bersama dengan Mang salim, sementara Alena duduk di belakang bersama dengan Bi Sumi dan Mbok Jum, Dicky menemani Fitri di jok Tengah.


Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka, Fitri setengah berbaring di pangkuan Dicky, sambil kepala Fitri dipijiti oleh Dicky sepanjang perjalanan itu.


****


Matahari sudah tenggelam, saat mereka mulai memasuki daerah Semarang, Jawa Tengah.


Sepanjang perjalanan tadi, Fitri lebih banyak tertidur di pangkuan Dicky, kepalanya sedikit pusing karena menahan rasa mual yang kadang-kadang datang melandanya.


Alex dan Alena tidak rewel sama sekali, mereka terlihat sangat menikmati perjalanan kali ini, dengan celotehan celotehan mereka yang menghibur sepanjang perjalanan.


"Mang Salim! kita cari tempat makan untuk makan malam kita di Semarang! Setelah itu kita cari tempat penginapan, karena Jogjakarta masih lumayan jauh dari sini!" titah Dicky.


"Baik Pak Dokter, sebenarnya kalau kita lewat jalan tol akan lebih cepat sampai!" jawab Mang Salim.


"Tidak apa-apa sesekali, namanya juga liburan, menikmati indahnya kota demi kota yang kita lewati, Alex dan Alena juga bisa belajar mengenal setiap daerah dan makanan khas daerah masing-masing!" kata Dicky.


"Papa! Rumah Reino ternyata jauh sekali ya! Masa kita berangkat dari pagi-pagi belum sampai-sampai, kan sekarang sudah malam!" ujar Alex.


"Sabar sayang, namanya juga jalan-jalan, kalau kita naik pesawat Alex tidak akan tahu kota-kota yang kita lewati sampai menuju tempatnya Reino!" jawab Dicky.


Alex hanya menganggukkan kepalanya mendengar penuturan Papanya Itu, Dicky memang selalu memberikan ilmu kepada setiap hal yang mereka alami dalam hidup, sehingga belajar tidak hanya di sekolah saja tapi belajar kehidupan.


Mereka kemudian tiba di sebuah restoran yang ada di kota Semarang, dengan tubuh yang lumayan pegal-pegal mereka semua turun dari mobil untuk makan malam bersama.


Di restoran ini menyajikan menu khas Semarang, ada bandeng presto, soto semarang, tahu gimbal, juga ada lumpia.


Anak-anak terlihat makan dengan antusias, ternyata sepanjang perjalanan, nafsu makan mereka bertambah dua kali lipat.


Fitri juga nampak menikmati makanan yang dia makan, namun dia juga tidak bisa menyantap makanannya banyak-banyak karena perutnya akan mual.


Tiba-tiba saat mereka sedang menyantap makan malam Mereka, seorang pengunjung datang menghampiri mereka.


"Maaf, ini dokter Dicky yang punya rumah sakit besar di Jakarta itu bukan? "tanya seorang pengunjung itu, yang adalah seorang ibu-ibu muda.


"Ya benar, saya dokter Dicky! "jawab Diki singkat.


"Wah, beruntung sekali saya bisa bertemu dengan dokter Dicky Disini, Boleh saya minta foto bersama dengan dokter Dicky? Saya dengar dari media sosial dokter Dicky ini dokter yang paling digemari masyarakat, juga ... Dokter yang paling tampan!" kata si Ibu itu.


Sekilas Dicky melirik ke arah Fitri, Fitri lalu menganggukkan kepalanya, menandakan kalau dia memperbolehkan Dicky untuk berfoto bersama dengan ibu-ibu itu.


Akhirnya Dicky berfoto dengan ibu-ibu itu, ternyata bukan hanya dia, ada beberapa orang pengunjung lain yang juga meminta foto dengan dokter Dicky, termasuk pemilik restoran tempat dia makan.


"Suatu kehormatan kalau restoran saya dikunjungi oleh dokter Dicky, boleh saya berfoto dengan dokter dan fotonya itu saya taruh di depan restoran saya supaya tambah laris manis?" tanya sang pemilik restoran itu.


Dicky menganggukan kepalanya sambil tersenyum kemudian sang pemilik toko itu pun berfoto dengan Dicky dengan wajah gembira.


"Terima kasih Dokter Dicky, semoga restoran saya akan laris manis karena dikunjungi oleh dokter! Sebagai ucapan terima kasih, semua makanan yang sudah dipesan dokter saya akan kasih diskon 50%! jadi dokter hanya membayar setengahnya saja!" ucap sang pemilik restoran itu.

__ADS_1


"Wah terima kasih banyak Pak, saya jadi dapat diskon nih, semoga restoran Bapak Selalu ramai ya dikunjungi orang!" ucap Dicky sambil menepuk bahu si pemilik restoran itu.


****


"Kenapa sih semua orang minta foto sama Papa? Papa kan bukan artis!" tanya Alex setelah mereka semua selesai berfoto dengan Dicky.


"Karena Papa adalah seorang dokter, dokter yang murah hati yang selalu memberikan bantuan untuk orang lain, sehingga banyak orang yang mengenalnya!" jawab Fitri.


"Kalau begitu, aku juga ingin jadi dokter sama seperti papa, supaya aku bisa terkenal!" cetus Alex.


"Aku juga!" timpal Alena.


"Kalian Dengar, motivasi untuk menjadi seorang dokter bukan untuk terkenal, tapi untuk menyembuhkan orang sakit, membantu orang yang susah, kalau kalian ingin terkenal lebih baik jadi artis daripada jadi dokter!" ucap Dicky sambil mengelus kedua kepala anaknya, yang kini berada dalam pangkuan yaitu.


Alex dan Alena menganggukkan kepalanya menandakan bahwa mereka mengerti apa yang Dicky ucapkan.


Setelah mereka selesai makan malam, mereka kemudian kembali naik kedalam mobil dan mencari hotel untuk tempat mereka menginap.


Beberapa kali memutari kota Semarang akhirnya mereka sampai ke sebuah hotel berbintang yang besar, yang ada di pusat kota Semarang.


Mang salim kemudian memarkirkan mobilnya, kemudian mereka sama-sama masuk ke dalam hotel itu.


Mereka memesan 3 kamar, satu kamar kecil untuk Mang Salim, satu kamar berukuran sedang untuk Mbok Jum dan Bi Sumi dan satu kamar besar untuk Dicky, Fitri, dan kedua anak mereka.


Mereka kemudian mulai masuk ke kamarnya masing-masing untuk merebahkan tubuh mereka dan beristirahat sampai besok pagi.


Dicky juga menghempaskan tubuhnya di tempat tidur besar itu, rasanya sepanjang hari ini perjalanan begitu sangat melelahkan.


Fitri juga nampak mulai berbaring disebelahnya, sementara Alex dan Alena tidur di bed kecil masing-masing, yang sudah disediakan dari hotel.


"Papa Dicky mau aku pijitin punggungnya yang pegal-pegal itu?" tanya Fitri saat dilihatnya suaminya nampak begitu lelah.


"Tidak usah Ma, bukankah kau juga sedang kurang fit? Perutmu masih mual tidak?" tanya Dicky balik.


"Aku sudah baikan Pa, Ayolah aku pijitin, aku tahu Papa sangat lelah, kau tidak selalu melayani aku, gantian sekarang aku yang melayanimu!" jawab Fitri sambil mulai membuka kancing kemeja yang Dicky kenakan.


Dicky tidak bisa menolak lagi, apalagi kini seluruh pakaiannya sudah terbuka, tangan lembut Fitri mengelus dada Dicky yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus itu, seketika tubuh Dicky meremang, merasakan sentuhan lembut itu.


Sekilas Dicky melirik, anak anaknya sudah nampak tidur terlelap di bed nya masing-masing.


"Ma, bisa request pijat yang lain tidak?" tanya Dicky setengah berbisik.


"Memangnya kau mau dipijat apalagi Pa? bukannya hanya punggungmu saja yang pegal-pegal?" tanya Fitri balik.


"Burung peliharaanmu juga sudah terasa pegal-pegal dan nyut-nyutan dari tadi Mama!" ucap Dicky.


"Ah, dasar Dokter mesum!" sungut Fitri.


Bersambung ...

__ADS_1


****


Bagi yang suka novel horor yuk mampir ke "Lelaki Bayangan"


__ADS_2