Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pulang Kampung Dulu


__ADS_3

Pagi itu, Pak Karta dan Bu Eni bersiap-siap kembali ke kampung halamannya di Sukabumi.


Mereka sudah hampir dua Minggu menginap di rumah Dicky dan menemani cucu mereka Alex.


"Bapak dan Ibu cepat sekali pulangnya, Alex akan kesepian deh!" ucap Dicky saat mereka sarapan pagi di meja makan.


"Tau tuh Bapak! Sawah saja kok di pikirin, memangnya tidak bosan Pak jadi petani bertahun-tahun? Ibu saja bosan!" celetuk Bu Eni.


"Bu! Kalau bukan dari sawah kita makan dari mana??" tanya Pak Karta.


"Si Bapak gimana sih! Tiap bulan kan Nak Dicky selalu kirim uang buat kita, uangnya cukup buat kita makan sebulan bahkan lebih, Ibu kan malu Pak sama besan, masa kerajaan nya di sawah, nanem padi, ternak lele, kapan naik pangkatnya!" sahut Bu Eni.


"Terserah Ibu kalau mau di sini, kalau Bapak tidak mau bergantung sama orang lain, walaupun itu menantu sendiri, lebih baik Bapak pulang saja sendiri!" ujar Pak Karta.


"Dih, begitu saja ngambek! Dasar baper!" sungut Bu Eni.


Setelah sarapan, mereka kemudian mulai berjalan ke parkiran depan, mobil Pak Karta yang di berikan Dicky sudah di cuci oleh Mang Salim.


"Bapak dan Ibu Hati-hati ya, nanti kalau Alex sudah kuat, Alex juga mau pulang kampung, belajar bertani dan beternak!" ucap Dicky.


"Duh, jangan deh, ibu tidak rela cucu Ibu yang ganteng ini main becek-becekan di sawah! Mending main mobil-mobilan ya Lex, sini Nenek cium!" Bu Eni maju dan mencium Alex yang ada di gendongan Fitri.


Pak Karta mulai masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


Bu Eni kemudian juga naik kedalam mobil dan duduk di samping Pak Karta.


"Eh, Ibu ikut juga, kirain masih mau di sini!" ledek Pak Karta.


"Yah namanya juga istri, biar gimana ya harus ikut suami, tapi nanti panen berikut kita kesini lagi ya Pak, nengok cucu!" ujar Bu Eni.


"Pasti dong Bu, Bapak juga pasti akan kangen sama Alex cucu kita!" sahut Pak Karta.


Dicky kemudian menyodorkan sebuah amplop coklat untuk mertuanya itu.


"Ini sedikit untuk Bapak dan Ibu, karena sudah menjaga Alex selama ini, juga menemani Fitri istriku!" ucap Dicky.

__ADS_1


"Aduh Nak Dicky, Bapak jadi malu, kau sudah terlalu banyak memberikan kami uang dan hadiah, kami bahkan belum bisa memberi apa-apa untuk kalian!" kata Pak Karta malu.


"Jangan sungkan Pak, saya tulus, wajar sebagai menantu saya memberikan sesuatu untuk mertua yang sudah banyak membantu dan menghibur!" ujar Dicky.


"Tau si Bapak pakai pura-pura, jangan Munaroh deh Pak, sini Nak kasihkan ke Ibu saja kalau Bapak nolak, dosa lho menolak rejeki!" timpal Bu Eni sambil mengambil amplop itu.


"Bu! Kau ini tau malu sedikit kenapa?! Sudah ayo kita pulang! Semakin lama di sini kau membuat Bapak semakin darah tinggi!" sergah Pak Karta.


"Terimakasih lho Nak Dicky ganteng, menantu kesayangan Ibu!" ucap Bu Eni saat mobil yang di naiki nya sudah bergerak meninggalkan tempat itu.


"Maafkan Ibu ya Mas, aku malu sekali sama kamu, kelakuan Ibu memang keterlaluan!" kata Fitri dengan wajah sedih.


"Hei, apa kau sadar sayang, tiap orang memiliki karakter yang unik, aku kagum pada Ibumu, walau dia seperti itu, tapi tetap setia mendampingi Bapakmu, dan Ibu tetap mengsampingkan keinginannya demi bersama Bapak, aku juga ingin istriku seperti itu!" ucap Dicky sambil membelai wajah Fitri.


"Mas Dicky selalu bisa menutupi kelemahan seseorang!" sahut Fitri.


"Karena di balik kejelekan seseorang, pasti ada sisi baiknya!" ucap Dicky.


Fitri kembali tersenyum, dalam hati dia bersyukur dalam hidupnya bisa mengenal sosok Dicky, laki-laki tampan dan mapan yang memiliki sifat lembut dan baik hati, membuat rasa sejuk siapa saja orang yang berada di dekatnya.


Wajah Fitri bersemu merah.


"Mas Dicky ah! Sebel!" Fitri segera masuk ke dalam rumah, Dicky kemudian mengejarnya.


****


Dicky baru tiba di rumah sakit menjelang siang, dia sangat rindu menyapa pasiennya dan melihat suasana rumah sakit yang baginya adalah seperti rumah kedua.


Ketika Dicky berjalan menyusuri lorong, semua orang menunduk hormat terhadapnya, kini semua orang tau bahwa Dicky adalah putra dari Bu Anjani, membuat para Dokter sangat sungkan dan menghormatinya kecuali Dimas dan Mia.


Hingga Dicky berjalan ke arah pusat administrasi yang dekat dengan ruangan barunya.


"Selamat siang Dokter!" Sapa seorang pegawai administrasi yang kebetulan baru keluar dari ruangannya.


"Selamat siang, ini siapa ya namanya? Sudah lama melihat tapi tak saling kenal!" tanya Dicky.

__ADS_1


"Saya Mila Dokter, yang kerja di bagian administrasi!" jawab Mila.


"Oh, maaf, karena begitu banyak karyawan dan staff di sini saya jadi tidak hafal nama satu-satu!" kata Dicky.


"Tidak apa-apa Dok, tapi setidaknya semua orang di rumah sakit ini mengenal Dokter, apalagi sekarang kami semua tau kalau Dokter bukan hanya pimpinan kami, tapi juga pemilik rumah sakit ini, kami jadi merasa semakin nyaman bekerja di sini Dokter!" ucap Mila.


"Kau bisa saja, Oya, biasanya kalau laporan administrasi di laporkan kemana ya kalau tidak ke pimpinan?" tanya Dicky.


"Dulu pertama-tama sih, kami langsung laporkan ke kepala rumah sakit sebelum di ajukan ke pemilik, tapi ... beberapa tahun belakangan kami hanya melaporkan ke Pak Bram saja, apalagi kami tau Pak Bram adalah wakilnya Bu Anjani!" jawab Mila.


"Hmm, baiklah, besok aku akan datang lagi ke sini, tolong kau print out catatan administrasi rumah sakit sebelum di serahkan ke Pak Bram!" ujar Dicky.


"Baik Dokter!" jawab Mila.


Kemudian Dicky kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya yang baru selesai di perbarui itu.


Pada saat Dicky melewati lorong yang menghubungkan ruang administrasi dan ruangan pribadinya, dia berpapasan dengan Pak Bram yang kebetulan lewat berlawanan arah dengan Dicky.


"Selamat siang Pak Bram!" sapa Dicky ramah sambil tersenyum.


"Hmm!" Pak Bram hanya menjawab dengan gumaman saja.


Wajahnya nampak dingin dan datar tanpa ekspresi.


Dicky heran, padahal sebelumnya Pak Bram itu begitu ramah dan baik terhadapnya, mengapa kini dia berubah 180 derajat?


Ada rasa tidak nyaman yang Dicky rasakan, apalagi dia tau Pak Bram masih ada hubungan kerabat dengan Ayahnya, Pak Rahmat Pradita.


Dicky membalikan tubuhnya untuk melihat kemana Pak Bram akan pergi, Dicky terkesiap saat di lihatnya Pak Bram mulai memasuki ruangan administrasi.


Tiba-tiba ada perasaan curiga yang muncul dalam benak Dicky, dia harus menyelidiki sesuatu yang mungkin saja sudah lama tersembunyi bertahun-tahun lamanya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2