
Mobil yang di kendarai Dicky melaju dengan kecepatan tinggi mengejar mobil Ken yang sudah terlebih dulu ada di depan.
Wajah Dicky terlihat kemerahan menyiratkan kemarahan.
Walau bagaimana Ken adalah saudara sepupu terdekat Dicky, apalagi kini sudah tidak ada lagi Bu Anjani, Ken lah yang menjadi tanggung jawab Dicky secara tidak langsung.
Apalagi kini Ken juga sudah tidak punya orang tua lagi, menurut penuturan Ken, yang orang tuanya campuran Jepang Indonesia, saudara Ken banyak di Jepang, namun di Indonesia, hanya Dicky saudara terdekat Ken.
Mobil yang di kendarai Ken berhenti di sebuah hotel berbintang, kemudian mobil itu langsung masuk ke parkiran, Dicky terus mengikutinya hingga berhenti tepat di samping mobil Ken.
Saat turun dari dalam mobil, Ken terperangah melihat Dicky yang sudah berdiri di hadapannya.
Fitri memegang lengan suaminya itu, berusaha untuk menenangkan suaminya yang terlihat sangat emosi itu.
Sementara Alex masih tertidur di jok tengah mobil.
"Bang Dicky?! Ngapain di sini Bang?!" tanya Ken gelagapan, apalagi melihat pancaran serius dari wajah Dicky.
"Seharusnya aku yang tanya padamu, ngapain kau masuk ke hotel ini bersama wanita itu?!" tanya Dicky balik sambil menunjuk wanita yang ada di samping Ken.
Wanita berambut pirang itu nampak menundukan kepalanya takut, sambil memegang erat tangan Ken.
"Apa urusan Bang Dicky dengan dia? Suka-suka aku lah mau jalan sama siapa? Kita urus diri sendiri masing-masing saja lah Bang!" ujar Ken.
"Ini memang bukan urusanku! Tapi kau tau, Dinda itu masih menunggumu, kalau kau memang tidak menginginkannya lagi, kau bisa putuskan dia baik-baik! Jangan kau berselingkuh di belakangnya, itu sama saja kau adalah pecundang!!" sengit Dicky.
"Ngapain Bang Dicky ngurusin Dinda? Bukanlah dia bukan siapa-siapa Bang Dicky! Atau jangan-jangan Bang Dicky ada hati sama Dinda?? Iya Bang?!!" balas Ken.
Buuugghhh!!
Dicky hilang kesabaran dan langsung memukul Ken, tubuh Ken limbung dan jatuh tersungkur, dia meringis sambil memegangi pipinya.
"Mas Dicky sudah Mas!" sergah Fitri yang menarik tangan Dicky yang akan kembali memukul Ken.
Wanita berambut pirang yang bersama Ken nampak membantu Ken bangkit dari posisi nya.
"Ken, memangnya Dinda salah apa sampai kau tega mengkhianatinya? Sampai saat ini dia berpikir kalau kau ada di Jepang dan masih setia padamu!" tanya Fitri.
Ken terdiam mendengar ucapan Fitri.
Kemudian Fitri menatap wanita yang kini ada di samping Ken.
__ADS_1
"Dan Kau juga, kau jalan dengan Ken, seolah-olah di adalah pria single, apa kau tau kau telah menyakiti hati wanita lain? Merebut lelaki yang sudah menjadi milik orang lain??" tanya Fitri.
Wanita itu diam saja, tanpa menjawab ucapan Fitri. Dia terlihat sangat risih, dan nampak jelas kalau wanita itu bukanlah wanita baik-baik.
"Kalian memang pecundang!! Brengsek!!" geram Dicky yang tangannya kembali mengepal.
"Ken, bukankah waktu itu kau berniat akan melamar Dinda? Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Dinda Ken??" tanya Fitri sambil menatap dalam wajah Ken.
"Aku ... aku tidak ada masalah dengan Dinda, aku hanya bosan Mbak, hubunganku dengan Dinda terlalu monoton, dia terlalu baik dan polos!" ungkap Ken.
"Tapi bukan berarti kau bisa menyakiti hatinya seenak mu!" cetus Fitri.
"Dengar Ken, kau masih mau jalan sama Dinda, atau memutuskan wanita itu?!!" tanya Dicky yang kembali menunjuk wanita berambut pirang itu.
Ken terdiam tanpa mampu memberikan jawaban apapun.
"Kalau kau memang sudah bosan pada Dinda, biar aku dan Fitri yang bilang ke Dinda, supaya dia bisa move on darimu dan mencari pria yang baik, tapi kalau kau mau berubah dan masih mencintai Dinda, kau tinggalkan wanita ini sekarang!!" tegas Dicky.
"Tapi Bang ..."
"Aku tak mau dengar lagi alasanmu!" Dicky lalu menarik tangan Fitri untuk kembali ke mobilnya.
Plakk!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ken, wanita itu terlihat marah dan menampar pipi Ken.
Setelah itu wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Ken yang meringis memegangi pipinya.
Ken lalu masuk ke dalam mobilnya dan langsung keluar dari parkiran hotel itu.
"Sayang, kau yakin Ken akan benar-benar berubah?" tanya Dicky.
"Aku tidak tau Mas, tapi mudah-mudahan, hubungannya dengan Dinda akan kembali pulih, kasihan Dinda!" jawab Fitri.
"Ini peringatan ku yang terkahir, kalau Ken berani lagi berbuat seperti itu, sudah bisa di pastikan kalau Dinda bukanlah jodohnya Ken!" ucap Dicky yang kembali menyalakan mesin mobilnya.
Alex nampak mengucek matanya, anak itu terlihat baru bangun dari tidurnya.
****
Di tempat kediaman Anita, Donny memarkirkan motornya di depan rumah itu, dia langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Agak sedikit terkejut melihat Pak Karta dan Bu Eni yang nampak sedang duduk di ruang keluarga itu sambil menonton televisi.
"Bapak dan Ibu kapan sampai?" tanya Ken yang langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Tadi pagi Nak, saat kau sudah berangkat ke sekolah!" jawab Pak Karta.
Anita nampak muncul dari arah dapur.
"Donny, kau sudah pulang? Kau mandilah dulu, makan malam sudah siap!" kata Anita.
"Baiklah, aku mandi sebentar ya!" Donny berdiri dan bergegas untuk mandi dan berganti pakaian.
Tak lama kemudian dia sudah kembali turun dan duduk bergabung di ruang makan itu, Anita dan kedua orang tuanya telah menunggunya di meja makan itu.
"Wah, tumben menu makanan nya begini lengkap sayang!" kata Donny terkesima melihat aneka hidangan yang sudah tersaji di meja makan itu.
"Bahan makanan ini, tadi Ibu yang membelikannya!" jawab Anita.
"Donny, sesekali kau perhatikan kebutuhan istrimu, masa tadi pas mau taruh bahan makanan, kulkasnya kosong melompong, isi kek buah, sayur, susu, apalagi kan Anita sedang hamil, bukankah kau sangat ingin Anita hamil??" ujar Bu Eni.
"Bu, kami hanya hidup berdua, biasanya kami akan langsung makan di luar atau langsung membeli jika ingin makan sesuatu, jadi tidak terbiasa menyetok makanan di kulkas!" sergah Anita.
"Kau harus belajar dari Fitri Ta, di kulkasnya bahkan penuh dengan banyak makanan dan minuman, belum lagi aneka buah dan sayur, jadi kan kalau butuh tinggal ambil dan masak!" kata Bu Eni.
"Bu, jangan ngomong begitu, tiap orang kan beda-beda cara hidupnya, kau jangan ikut campur urusan rumah tangga anakmu sendiri!!" sergah Pak Karta.
"Siapa yang ikut campur Pak? Ibu kan hanya menasihati?? Apa tidak terima juga nasihat Ibu??" tanya Bu Eni balik.
"Sudah! Sudah! Mau makan saja ribut!" seru Pak Karta menengahi.
Tiba-tiba Donny berdiri dari duduknya.
"Donny, kau mau kemana Donny??" tanya Anita.
"Aku mau ke kamar Ta, aku tidak jadi lapar!" sahut Donny yang langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang makan.
Anita nampak menyusul suaminya itu dari belakang.
Bersambung ....
****
__ADS_1