Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Cinta Datang Terlambat


__ADS_3

Transfusi darah yang di lakukan Donny untuk Bu Eni membuahkan hasil, Bu Eni selamat dan bisa melewati masa kritisnya.


Kini dia di pindahkan ke ruang perawatan, untuk memulihkan kesehatannya, juga menjalani beragam pengobatan.


Karena setelah di deteksi lebih lanjut, ternyata Bu Eni mengidap diabetes alias gula darah stadium lanjut, itulah sebabnya luka di perutnya susah untuk cepat kering, meski sudah di beri obat sekalipun.


Bukan hanya itu saja, akibat kecelakaan itu, Bu Eni mengalami syaraf kejepit yang menyebabkan dia kini tidak bisa berjalan alias lumpuh, karena pada saat dia terjatuh tepat mengenai tulang ekornya.


Sementara setelah melakukan transfusi darah, Donny tiba-tiba teringat dengan mendiang Ibunya yang sudah tiada, dia memutuskan untuk mengajak Anita pulang ke kampung halamannya, untuk berziarah ke makam ibunya dan tinggal beberapa saat lamanya.


"Jadi kau akan berangkat pagi ini juga?" tanya Dicky pada saat Donny dan Anita mampir ke rumah sakit untuk berpamitan.


"Ya, lebih cepat lebih baik, lagi pula aku sudah mengajukan cuti dari sekolah, nanti kalau kami betah di sana, mungkin kami akan menetap di sana!" jawab Donny.


Wajah Fitri nampak sendu, baru saja dia merasakan memiliki saudara, kini dia harus merelakan saudara kembarnya berpisah sementara waktu dengannya.


"Fitri, aku akan sering-sering meneleponmu, aku pasti akan sangat merindukanmu!" ucap Anita sambil memeluk Fitri.


"Pokoknya awas saja kalau kau lama di sana! Aku akan menyusul mu!" cetus Fitri.


Pak Karta keluar dari ruangan, dia kemudian langsung menyalami Donny dan Anita.


"Bapak mewakili Ibu minta maaf ya, atas semua kesalahan yang pernah Bapak dan Ibu perbuat pada kalian, baik sengaja ataupun tidak!" ucap Pak Karta yang langsung serta merta memeluk keduanya.


"Jangan pernah mengungkit hal yang sudah lewat, aku belajar ikhlas, maafkan kalau aku tidak sempat pamit pada Ibu, karena kondisi beliau yang saat ini masih belum stabil!" ungkap Donny.


"Pak Donny, aku titip Anita padamu, awas saja kalau kau membuatnya menangis lagi!" ujar Fitri tiba-tiba.


Donny nampak tertawa sambil merangkul Anita dengan erat.


"Walaupun aku manusia biasa, tapi aku berani jamin kalau cintaku luar biasa, apalagi akan ada Donny junior yang akan launching ke dunia, kau boleh pegang kata-kataku Fit, selama ini aku begitu sayang pada Anita, sikapku selama ini tak lain karena kesalahpahaman saja!" ucap Donny.

__ADS_1


"Dulu aku sangat membencimu kampret! Tapi sekarang, ku cabut kebencianku padamu!" cetus Dicky.


"Kenapa tidak sekalian kau cabut saja panggilan kampret mu itu pada Pak Donny?!" tanya Fitri.


"Oh, kalau itu tidak bisa di ganggu gugat, sekali kampret tetap kampret!" sahut Dicky.


"Oke, sepertinya aku harus berangkat, atau matahari akan semakin panas, ayo sayang!" Donny menggenggam tangan Anita dan mereka kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.


Di iringi dengan pandangan mata Dicky, Fitri dan Pak Karta dengan rasa haru.


"Mungkin itu jalan terbaik bagi mereka berdua, semoga kebahagiaan selalu menyertai kemanapun mereka pergi!" gumam Dicky.


"Iya Mas, walau hati ini begitu berat melepas Anita, Anita yang satu-satunya saudaraku, namun aku harus merelakan dia menggapai kebahagiaannya!" ucap Fitri.


Pak Karta nampak menyeka wajahnya berkali-kali, kendati hatinya begitu berat melepaskan buah hatinya pergi.


****


Hari ini Bu Eni sudah di perbolehkan pulang, Dicky dan Fitri juga Pak Karta membawa Bu Eni pulang ke rumah Dicky.


"Lho, kenapa kita pulang ke sini? Ibu kan menginap di rumah Anita!" kata Bu Eni saat melihat arah jalan pulang menuju rumah Dicky.


"Ibu akan tinggal lagi di rumah Mas Dicky Bu!" ujar Fitri.


"Bukankah kau lebih suka tinggal di rumah Dicky Bu?!" cetus Pak Karta.


"Tidak! Ibu mau tinggal di rumah Anita, kasihan Anita sendirian sedang hamil, mana dia tidak ada asisten rumah tangga!" sergah Bu Eni.


Pak Karta, Dicky dan Fitri terdiam beberapa saat lamanya.


Mereka sengaja tidak memberitahu Bu Eni soal kepergian Donny dan Anita ke Jogjakarta, demi kesehatan Bu Eni supaya tidak kepikiran.

__ADS_1


Tapi sepertinya hal itu sudah tidak bisa lagi di tutupi, apalagi Bu Eni yang selalu menanyakan Anita.


"Kenapa kalian semua diam?? Mana Anita dan Donny? Kenapa mereka tidak muncul menengok Ibu? Kata suster, Donny sudah mendonorkan darahnya pada Ibu, Ibu mau berterimakasih dan minta maaf pada Donny, tapi kenapa dia tidak ada??" tanya Bu Eni.


"Bu, Pak Donny dan Anita sudah berangkat ke Jogjakarta beberapa hari yang lalu saat Ibu masih belum stabil keadaannya!" jawab Fitri.


"Apa?? Ke Jogjakarta? Kau jangan bohong Fit! Dulu Ibu memang banyak salah terhadap mereka, sekarang Ibu mau tinggal sama mereka, Ibu mau menebus semua kesalahan Ibu pada mereka!" ucap Bu Eni yang mulai menangis.


"Sudah terlambat Bu, mereka sudah pergi, andai sejak dulu Ibu baik terhadap mereka tanpa memandang bulu, tanpa membandingkan menantu satu dengan yang lain, tentunya mereka akan tetap di berada sini!" cetus Pak Karta.


"Tidak!! Tidak mungkin! Maafin Ibu Anita! Donny!! Ibu sayang kalian! Bawa Ibu ke sana Fit! Ibu sangat ingin bertemu mereka! Ibu sangat sayang mereka! Ayo Fit!!"


Bu Eni berteriak histeris, Pak Karta dan Fitri mencoba menenangkan Bu Eni.


Bu Eni nampak frustasi di tinggal oleh Anita dan Donny, dia menangis sejadi-jadinya.


Dia baru menyadari, betapa berharganya mereka selama ini, harta yang tidak bisa di tukar dengan nilai uang, bahkan kini Bu Eni berhutang nyawa pada Donny yang sudah memberikan kehidupan untuk Bu Eni.


Sesampainya di rumah, Pak Karta dan Fitri langsung mendorong kursi roda Bu Eni masuk ke dalam rumah.


Bu Eni masih nampak berteriak histeris.


"Bawa Ibu ke Anita dan Donny!! Ibu mau tinggal bersama mereka!! Ayo Fit! Pak! Kenapa kalian membawa Ibu ke sini?? Mereka adalah harta yang Ibu punya!!" jerit Bu Eni.


Bi Sumi dan Mbok Jum hanya bisa menatap Bu Eni Dangan tatapan prihatin.


Wanita paruh baya itu nampak rapuh, tanpa bisa berbuat apapun di kursi rodanya.


Hanya bisa menangis sambil menyesali semua yang telah terjadi.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2