
Bu Eni mengalami kecelakaan saat berada di dapur rumah Anita,
Saat dia naik ke atas bangku untuk mengambil sesuatu di lemari atas kitchen set, bangku yang terbuat dari plastik itu tiba-tiba patah.
Bu Eni terjatuh dan perutnya tertancap pisau dapur yang saat itu baru di cuci, dan ada di samping tempat cuci piring, tepat di bawah lemari kitchen set.
Darah segar menyembur keluar membasahi lantai dapur itu, kakinya juga keseleo akibat terjatuh dari bangku.
Anita yang terlebih dahulu melihatnya langsung panik dan berteriak memanggil Pak Karta dan Donny.
Tanpa menunggu lama, Donny langsung melarikan Bu Eni ke rumah sakit milik Dicky, dengan Anita dan Pak Karta.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Anita menyempatkan diri untuk memberitahu Fitri perihal musibah yang baru saja di alami oleh Bu Eni, Ibu mereka melalui telepon.
Fitri langsung berdiri dari posisinya dan menyambar mantelnya, Dicky juga yang melihat Fitri langsung bersiap diri, ikut menyambar jaketnya, padahal hari sudah tengah malam dan mereka juga belum lama sampai rumah.
"Kalau Mas Dicky capek, aku bisa minta tolong Mang Salim untuk mengantarkan aku Mas!" kata Fitri.
"Tidak sayang, mana mungkin aku membiarkanmu sendiri ke rumah sakit, walaupun dengan Mang Salim, aku sendiri yang akan mengantarmu!" jawab Dicky.
"Tapi kan Mas Dicky sudah nyetir seharian ini, apa tidak capek??" tanya Fitri.
"Ya cepak sih, tapi kan ini menyangkut Ibumu, sudah jangan berdebat, ayo kita jalan sekarang!" sahut Dicky yang langsung menggandeng tangan Fitri turun ke bawah dan langsung menuju ke parkiran.
"Mas, nanti kalau Alex cari kita gimana Mas?" tanya Fitri.
"Kan ada Bi Sumi dan Mbok Jum! Besok pagi-pagi sekali kita bisa pulang ke rumah, atau subuh nanti!" sahut Dicky.
"Fitri menganggukan kepalanya, dan merekapun segera naik ke dalam mobil.
Dalam perjalanan, Fitri mengirim pesan pada Bi Sumi dan Mbok Jum untuk menjaga Alex sementara.
Tak lama merekapun sampai di rumah sakit, Dicky dan Fitri kemudian berjalan cepat menuju ke UGD.
Di depan ruangan itu nampak Anita sedang menangis dalam pelukan Donny, sementara Pak Karta duduk di sampingnya dengan wajah cemas.
Melihat kedatangan Dicky dan Fitri, Anita segera memeluk Fitri sambil menangis.
__ADS_1
"Kenapa bisa terjadi seperti itu pada Ibu?!" tanya Fitri.
"Aku tidak tau Fit, padahal kami sudah bersiap akan tidur, entah Ibu ingin membuat apa, dia sampai naik bangku dan jatuh, dan ... dan ..." Anita tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya.
"Biar aku lihat kondisinya di dalam!" ujar Dicky yang langsung masuk ke dalam ruang UGD itu.
Seorang Dokter UGD nampak sedang menangani Bu Eni di dampingi oleh seorang perawat.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Dicky.
"Pendarahannya banyak sekali Dokter Dicky, sepertinya sebelumnya si Ibu menderita diabetes, karena lukanya sangat sulit untuk tertutup dan darah masih terus mengalir!" jelas Dokter jaga itu.
Dicky kemudian mulai memeriksa kondisi Bu Eni.
"Kalau seperti ini terus dia bisa kehilangan banyak darah dan kehabisan darah!" seru Dicky.
"Golongan darahnya agak langka Dokter, mungkin saudara terdekatnya bisa mendonorkan darahnya, ini kondisi gawat darurat!" sahut Dokter jaga itu.
"Kau terus pantau dia, pasang oksigen dan infus, jangan sampai dia kehilangan oksigen, karena itu sangat berbahaya!" ujar Dicky.
"Siap Dokter!" sahut Dokter jaga itu dan perawatnya.
"Bagaimana Ibu Mas?" tanya Fitri.
"Ibu banyak kehilangan darah, dia butuh donor darah, tapi kalian berdua tidak bisa mendonorkan darah ke Ibu, karena kalian sedang hamil!" jawab Dicky.
"Ya Tuhan, lalu siapa malam-malam begini yang bisa mendonorkan darah ke Ibu?!" keluh Anita frustasi.
"Sayang golongan darahku berbeda dengan Ibu, kalau sama mungkin sejak tadi aku melakukannya!" lanjut Dicky.
"Kalau begitu aku saja yang mendonorkan darahku, ambil Nak!" ujar Pak Karta tiba-tiba.
"Pak, mohon maaf, untuk usia di atas 50 tahun sudah tidak di perkenankan untuk donor darah, Selain itu Bapak kan punya penyakit bawaan!" tukas Dicky.
Wajah mereka yang ada di ruangan itu nampak putus asa dan sedih.
Tiba-tiba Donny berdiri dari tempatnya dan dia langsung mendekati Dicky yang masih berdiri.
__ADS_1
"Dokter, aku tidak tau golongan darahku cocok atau tidak dengan Ibu, mohon kau periksalah aku, aku ingin mendonorkan darahku untuk Ibu!" ucap Donny.
Dicky tertegun beberapa saat lamanya mendengar ucapan Donny, semua orang juga nampak terpana dengan keputusan Donny.
Namun setelah itu Dicky menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, ikutlah denganku kampret!" Dicky lalu berjalan mendahului Donny, dan Donny berjalan di belakangnya, mereka masuk ke dalam sebuah ruangan.
Setelah mejalani serangkaian pemeriksaan, ternyata golongan darah Donny cocok dengan golongan darah Bu Eni, maka transfusi darah pun di lakukan.
Di dalam ruangan itu, ada Bu Eni yang masih terbaring tak sadarkan diri, dengan Donny yang juga terbaring di sebelahnya dengan ranjang terpisah.
Transfusi darah pun di laksanakan, Bu Eni membutuhkan banyak darah karena luka di perutnya itu terus mengeluarkan darah, dan lukanya juga sangat dalam.
Di ruangan itu, ada Dicky dan salah seorang Dokter yang mengawasi, juga seorang perawat yang berjaga-jaga.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga dinihari.
"Dokter Dicky, kalau darahnya tetap kurang kita harus mengambil darah di PMI, karena kebetulan stok di rumah sakit ini sedang habis! Karena kalau terlalu banyak akan berbahaya bagi di pendonor!" kata Dokter yang mendampingi Dokter Dicky itu.
"Tapi ini sudah jam berapa? Akan banyak makan waktu kalau harus ke sana dulu, karena waktunya tidak banyak!" tukas Dicky.
Tiba-tiba tangan Donny menyentuh tangan Dicky, Dicky menoleh ke arah Donny.
"Dokter, ambilah darahku banyak-banyak, aku masih muda dan pasti akan kuat, aku tidak mau untuk kedua kalinya aku kehilangan seorang Ibu, cukup sudah ibuku yang pergi meninggalkan aku, aku tau apa itu rasa kehilangan, dan aku tidak mau melihat ada air mata di pipi istriku karena kehilangan ibunya!" ucap Donny.
Dicky terkesima mendengar ucapan tulus Donny, seorang menantu yang bahkan seringkali tidak mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari seorang mertua.
Namun di saat sang mertua mengalami kritis, tanpa berpikir untuk membalas dendam, dengan tulus Donny menyumbangkan darahnya, memberikan mertuanya kehidupan, dan mengabaikan keselamatannya sendiri.
Ada yang menggenang di sudut mata Dicky, momen langka yang baru saja dia saksikan di depan matanya sendiri, dan kemudian dia menganggukan kepalanya.
"Ah, dasar kampret! Kau membuatku terharu saja!" cetus Dicky sambil mengusap matanya.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Ada motor keserempet truk
Dukung Author yuk 😉