
Pagi itu, Fitri kembali bersiap mengajar di sekolah, setelah beberapa hari dia ijin karena ada kedukaan.
Untuk sementara, Bu Eni dan Pak Karta juga Anita masih tinggal di rumah Dicky, mereka ingin menciptakan suasana ramai agar Dicky terhibur dan tidak kesepian sehingga teringat kembali dengan mendiang Ibunya.
"Fit, aku ijin mau ke rumah Pak Dirja, membicarakan mengenai surat-surat penting, karena aku kurang paham!" ucap Dicky di meja makan, saat mereka sarapan bersama.
"Kenapa kau harus pergi sekarang?" tanya Fitri.
"Lebih cepat lebih baik Fit, supaya cepat beres juga urusannya!" jawab Dicky.
"Tapi, nanti di sana kau akan bertemu dengan ..." Fitri menghentikan ucapannya.
Dicky tertawa mendengar ucapan Fitri yang bernada khawatir.
"Kau pikir aku akan mudah jatuh ke dalam pelukan Keyla?? Kau ini Fit, seperti baru mengenal suamimu saja!" cetus Dicky.
"Bukan begitu Mas, coba kau pikir saja, kucing mana kalau di sodori ikan dia akan menolak? Tidak ada kan? Karena pada dasarnya kucing itu suka ikan!" ujar Fitri.
"Jadi, kau menyamakan aku dengan kucing?? Asal kau tau saja, kucing juga bisa memilih ikan, kalau ikannya busuk dia tidak akan mau!" sahut Dicky.
"Sudahlah! Capek berdebat dengan Dokter, pasti aku selalu kalah!" sahut Fitri yang langsung mengambil tasnya dan berjalan ke depan, Mang Salim sudah menunggunya di dalam mobil.
Dicky segera berjalan menyusul istrinya itu.
"Jangan marah dong sayang, nih cium tangan Mas dulu, Mas janji deh tidak akan pernah sedikitpun berpaling dari istri yang luar biasa ini!" ucap Dicky sambil menyodorkan tangannya.
Fitri kemudian mencium tangan Dicky, seperti biasanya.
Dicky lalu memeluk Fitri dengan erat, kemudian mencium keningnya.
"Aku berangkat dulu ya Mas!" pamit Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.
Kemudian Fitri segera naik ke dalam mobil, Dina dan Dara sudah terlebih dahulu naik ke dalam mobil itu.
Setelah mobil yang di ke darai Mang Salim berangkat, Dicky kembali masuk ke dalam rumahnya itu,
"Tuan muda ..." Mbok Jum tiba-tiba memanggil Dicky dari arah ruang makan.
"Ya Mbok? Ada apa Mbok?" tanya Dicky.
"Saya, ijin mau pulang kampung Tuan muda, sekedar ingin menjenguk keluarga saya di sana!" jawab Mbok Jum.
"Silahkan Mbok, aku menginjinkanmu, tunggu sebentar ya!" Dicky segera berlari kecil menuju ke kamarnya, tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat.
"Ini terimalah Mbok, untuk berbagi dengan keluarga Mbok Jum juga di kampung!" kata Dicky sambil menyodorkan amplop itu.
__ADS_1
"Aduh Tuan, sungguh saya masih punya uang yang di berikan oleh mendiang Nyonya, sebelum dia pergi, bahkan Nyonya Anjani membelikan saya sawah seluas satu hektar di kampung, makanya ini saya mau pulang sekalian mengurusnya!" tukas Mbok Jum sungkan.
"Terima saja Mbok, sawah itu kan pemberian dari Ibu, ini pemberian dari aku, aku akan sedih kalau Mbok Jum menolaknya!" ucap Dicky.
Dengan tangan sedikit gemetar, Mbok Jum mengambil amplop itu dari tangan Dicky.
"Terimakasih Tuan Muda, terimakasih!" ucap Mbok Jum sambil membungkukan badannya.
Kemudian Mbok Jum segera berjalan ke belakang untuk bersiap-siap pulang kampung.
Dicky juga berjalan ke kamarnya untuk siap-siap pergi ke rumah Pak Dirja.
****
Rumah Pak Dirja terletak tidak jauh dari rumah mendiang Bu Anjani, rumah itu berada di sebuah komplek perumahan mewah di kota itu, walaupun rumah itu tidak sebesar rumah Bu Anjani, namun terlihat sangat artistik dan elegan.
Dicky memarkirkan mobilnya telat di depan gerbang rumah itu, kemudian dia turun dan langsung memencet bel Yang ada di gerbang rumah itu yang tinggi menjulang.
Seorang wanita berseragam pelayan nampak membukakan pintu gerbang.
"Selamat pagi, bisakah saya bertemu dengan Pak Dirja?" tanya Dicky.
"Oh, ini dengan siapa ya? Nanti coba saya tanyakan ke dalam apakah Bapak bersedia menerima tamu!" tanya Pelayan itu.
"Baik, silahkan duduk dulu di teras!" kata sang pelayan yang langsung kembali masuk ke dalam.
Dicky berjalan dan duduk di teras yang ada di depan rumah yang terlihat sepi itu.
Tak lama kemudian, Keyla muncul dari arah dalam, senyum mengembang di bibirnya saat melihat kedatangan Dokter pujaannya itu.
"Hai Dicky, akhirnya kau datang juga, Ayah sudah menunggumu!" sambut Keyla.
"Di mana ayahmu?" tanya Dicky.
"Ada di ruang kerjanya, ayo masuk!" ajak Keyla.
Dicky kemudian mengikuti langkah Keyla yang berjalan di depannya, menuju ke sebuah ruangan di dekat ruang tamu, kemudian Dicky masuk ke dalam ruangan itu.
Pak Dirja nampak duduk di depan meja kerjanya yang besar itu, ruangan itu sangat artistik, banyak buku-buku yang tertata rapi di dalam rak, menandakan yang punya ruangan sangat suka membaca buku.
"Hei Dicky, silahkan duduk!" tawar Pak Dirja saat melihat Dicky yang sudah masuk ke dalam ruangannya.
Dicky kemudian duduk di hadapan Pak Dirja.
Pak Dirja kemudian menoleh ke arah Keyla.
__ADS_1
"Key, kau tunggulah di luar, Ayah mau membicarakan hal yang penting dengan Dokter Dicky!" ujar Pak Dirja.
"Tapi Ayah ..."
"Ayah katakan kau keluar dulu sekarang, ayo cepat!" titah Pak Dirja.
Dengan wajah cemberut akhirnya Keyla keluar dari ruangan kerja Pak Dirja.
Pak Dirja lalu mukai menatap Dicky sambil tersenyum.
"Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ibu Anjani!" ucap Pak Dirja.
"Trimakasih!" balas Dicky.
"Istrimu itu kurang ajar sekali Dicky, saat kami datang mengunjungimu ke rumah, dia bukannya memanggilkanmu, malah tidak balik-balik, tidak sopan!" cetus Pak Dirja.
"Maafkan istri saya Pak, tapi dia memang sangat lelah, dan saat itu, saya juga tidak ingin di ganggu!" jawab Dicky.
"Lain kali kau harus mendidik istrimu lebih baik lagi, kau harus ingat Dicky, kau berasal dari keluarga terhormat dan berpendidikan!" ucap Pak Dirja.
"Baik Pak, maksud saya datang ke sini, saya hanya ingin menanyakan mengenai surat-surat dan dokumen penting yang Bapak sampaikan waktu itu, jujur saya belum paham semua itu!" ungkap Dicky.
"Hmm, kau tau Dicky, aku ini adalah pengacara keluargamu sejak dulu, aku juga adalah sahabat ayahmu, Pak Rahmat, semua surat dan dokumen yang aku berikan padamu itu juga salah satu amanat beliau sebelum meninggal!" ucap Pak Dirja.
"Tapi kenapa sangat banyak? Bahkan saya sampai bingung untuk menghitung aset almarhum Ayah!" kata Dicky.
"Ayahmu memang sangat kaya Dicky, asetnya di mana-mana, saham nya juga tersebar di banyak perusahaan baik di dalam maupun luar negeri, kau beruntung menjadi satu-satunya ahli waris beliau!" jawab Pak Dirja.
"Baik, saya melihat ada banyak sekali sertifikat tanah dan bangunan, saya ingin bertanya bagaimana jika sebagian aset itu saya hibahkan, bagaimana hukumnya?" tanya Dicky.
Sesaat Pak Dirja nampak terdiam sambil memainkan janggutnya yang panjang itu.
"Kenapa kau mau menghibahkan sebagian aset mu Dicky? Bukankah semua itu bisa kau nikmati bersama dengan keluargamu??" tanya Pak Dirja sambil mengerutkan keningnya.
Bersambung ....
****
Dear Readers,
Author hanya ingin sedikit sharing, Author punya suami yang suka berbagi dan memberikan pinjaman ke orang lain, tapi seringkali orang yang di berikan pinjaman atau di tolong itu malah manfaatkan kebaikan suami.
Tapi tetap saja, dia suka memberi modal atau pinjaman ke orang lain, walau jarang di balikin uangnya, tapi dia nggak pernah negatif, dan anehnya itu juga nggak membuat kami hidup kekurangan, padahal kalau di hitung-hitung sudah rugi secara logika.
Dari situ author melihat, bahwa dengan memberi nggak akan membuat kita jadi miskin, dan itu menginspirasi Author untuk menciptakan tokoh Dicky.
__ADS_1