Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Curahan Hati Anita


__ADS_3

Bu Romlah nampak senang dan terharu, saat siang itu di tokonya, Dina dan Dara datang kepadanya, bukan hanya datang, mereka juga akan tinggal bersama dengan Bu Romlah.


"Terimakasih Pak Dokter, Bu Fitri, dulu saya pikir, hanya uang yang memberikan kebahagiaan, tapi ternyata harta yang paling berharga adalah keluarga, Dina dan Dara adalah harta saya!" ucap Bu Romlah sambil menitikkan air matanya.


"Iya Bu, tapi Ibu harus tau, kami tetaplah orang tua asuh Dina dan Dara, setiap bulan mereka punya jatah masing-masing, nanti akan saya kirimkan ke rekening Ibu!" ujar Dicky.


"Aduh Pak Dokter, sudah mau merawat Dina dan Dara saja saya sudah senang, tapi kalau mau kasih jatah, saya juga tidak bisa menolak!" sahut Bu Romlah.


Bu Romlah terlihat senang dan gembira, namun wajah Dina dan Dara nampak berbeda, mereka terlihat sedih dan terpaksa.


Selama ini, Dicky dan Fitri memang memperlakukan mereka selayaknya anak kandung sendiri, tanpa membeda-bedakan dengan Alex yang memang anak kandung mereka.


Semua barang seperti tas, sepatu, atau pakaian mereka bagus-bagus, namun tidak di sangka, hal itu malah membuat mereka besar kepala, merasa memiliki segalanya dengan mudah, tidak seperti dulu, harus mengamen di jalan demi mendapatkan uang yang tidak seberapa.


"Kalau begitu, kami pamit dulu Bu, semoga kalian tetap saling mendukung satu sama lain sebagai keluarga!" pamit Fitri.


"Iya Bu Fitri, sekali lagi saya terimakasih lho, akhirnya saya bisa berkumpul kembali dengan anak-anak saya, kalian tidak makan dulu sama-sama, hari ini saya masak spesial lho!" tawar Bu Romlah.


"Terimakasih Bu, tapi kami harus pulang, kasihan Alex di tinggal di rumah sama Neneknya, lain waktu kami pasti menerima tawaran Ibu!" tukas Dicky.


Kemudian Dicky dan Fitri beralih kepada Dina dan Dara yang sejak tadi diam saja dan kurang bersemangat.


"Dina, Dara, pokoknya Papa tidak mau mendengar lagi kalian mengecewakan Ibu kalian, kalian tau tidak, surga itu ada di telapak kaki Ibu, makanya kalian harus menghormati Ibu kalian, jangan pernah membandingkan Ibu kalian dengan apapun, itu sama saja kalian menyakiti hatinya, kalian mengerti??" tanya Dicky.


"Mengerti Pa!" sahut mereka bersamaan.


"Anak pintar, sekarang kalian temani Emak kalian, bantu-bantu di toko, jangan malas! Orang malas tidak pernah ada yang sukses, kalian ingat itu!" lanjut Dicky sambil mengusap rambut keduanya.


Setelah itu Dicky menggandeng Fitri berjalan meninggalkan toko itu dan kembali naik ke dalam mobilnya, lalu mobil itupun bergerak meninggalkan tempat itu.


"Rumah kita akan kembali sepi deh!" gumam Dicky.


"Tidak Mas, karena akan ada yang mengantikan mereka nanti!" sahut Fitri.


"Siapa?" tanya Dicky.


"Adiknya Alex!" sahut Fitri.

__ADS_1


"Adiknya Alex? Kau ... sedang hamil??" tanya Dicky terkesiap.


Fitri hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Dicky.


"Payah! Papa satu orang anak tidak peka kalau istrinya kembali hamil!" sungut Fitri.


Dicky langsung menghentikan mobilnya dan langsung memeluk Fitri dengan erat.


"Ah sayang, kenapa kau tidak katakan padaku sebelumnya? Ini benar-benar kejutan!" ucap Dicky.


"Aku juga baru tau Mas, karena gejalanya berbeda dengan Alex dulu, yang mual-mual terus, aku hanya bingung kenapa belakangan nafsu makan ku bertambah, dan setelah aku periksa, ternyata aku positif!" ungkap Fitri.


"Ini harus di rayakan, aku akan mengadakan selamatan karena kehamilanmu ini!" ujar Dicky bersemangat.


"Jangan lebay Mas, baru kemarin kita membuat pesta untuk Alex, sudahlah, biasa saja!" tukas Fitri.


"Tidak sangka, Alex begitu cepat punya adik, tapi tidak masalah, yang penting rumah kita akan menjadi ramai!" ujar Dicky.


Saking bahagianya, sepanjang jalan Dicky tak henti-hentinya menciumi jemari Fitri.


Hingga mereka kembali ke rumah, setelah Dicky memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya yang luas itu, dia langsung menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam.


Sementara Alex nampak sedang di suapi oleh Bi Sumi di taman samping.


"Mas Dicky ke kamar duluan ya, habis itu tolong jaga Alex, aku mau mengobrol dulu dengan Ibu dan Anita!" kata Fitri.


"Iya Fit, setelah itu susul aku ke kamar ya!" bisik Dicky.


Fitri menganggukan kepalanya, kemudian dia melangkah mendekati Ibu dan Anita yang sedang duduk di sofa sudut ruang tamu itu.


Melihat kedatangan Fitri, Anita langsung menyeka air matanya.


"Anita, kapan datang?" tanya Fitri sambil duduk di sebelah saudara kembarnya itu.


"Belum lama Fit!" sahut Anita.


"Pak Donny mana?" tanya Fitri.

__ADS_1


"Dia, di rumah, tidak ikut!" sahut Anita.


"Kenapa kau tidak mengajaknya? Bukankah ini hari libur, kasihan kan dia di rumah sendirian!" ujar Fitri.


Anita terdiam beberapa saat lamanya.


"Fit, Anita sedang sedih, katanya Donny ingin sekali punya keturunan, tapi sampai sekarang Anita tak kunjung hamil, padahal dia sudah rutin meminum jamu ramuan dari Ibu!" jelas Bu Eni.


"Oh, jadi itu masalahnya, kau sabar saja dulu Ta, belum juga setahun kalian menikah, banyak pasangan yang menikah bertahun-tahun tapi belum di karuniai anak!" hibur Fitri.


"Iya Fit, aku cuma kasihan saja dengan Donny, tiap hari dia selalu menanyakan aku, apakah aku terlambat datang bulan atau tidak, dan aku selalu mengecewakan dia dengan jawabanku!" ungkap Anita.


"Apakah kau dan Pak Donny pernah memeriksakan diri ke Dokter?" tanya Fitri lagi.


"Pernah, menurut pemeriksaan Dokter, kami tidak ada masalah, normal-normal saja! Karena Donny kecewa aku belum bisa hamil, sikapnya jadi berubah terhadapku!" jawab Anita.


"Itu berarti kalian harus bersabar sebentar lagi, Oya, tadi kau ke sini naik apa?" tanya Fitri.


"Naik taksi!" sahut Anita.


Terlihat pintu gerbang di buka, motor yang di kendarai Donny berhenti dan terparkir di depan rumah Dicky.


Donny turun dan langsung masuk ke dalam rumah itu, dia berhenti saat melihat Anita yang ada di ruang tamu bersama dengan Bu Eni dan Fitri.


"Anita, ayo kita pulang!" ajak Donny.


"Tapi, aku belum lama sampai!" tukas Anita.


"Aku bilang pulang bersamaku, ayo!" titah Donny.


Anita lalu segera berdiri untuk mengikuti perintah suaminya itu.


"Kok Buru-buru Don?" tanya Bu Eni.


"Maaf Bu, tadi Anita pergi tanpa ijin dari saya, jadi sekarang saya berniat akan menjemputnya pulang!" sahut Donny yang langsung menarik tangan Anita ke arah motornya yang terparkir.


Bu Eni dan Fitri hanya bisa saling berpandangan.

__ADS_1


Berpandangan ...


*****


__ADS_2