
Dicky kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu dia menunjukannya di hadapan Fitri, Bu Eni dan Pak Karta.
"Kita bisa mencari mereka melalui ini, pasti di RT setempat tau KTP dan identitas mereka kan, kita langsung sebar melalui media sosial, di jamin dalam waktu singkat mereka pasti akan di ketemukan!" jelas Dicky.
"Wah, benar juga Nak Dicky, otakmu sangat cerdas, kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita balik sekarang!" ujar Pak Karta.
Semua yang ada di situ menganggukan kepalanya.
Mereka kemudian segera kembali ke tempat kontrakan Mak Acih dan langsung menuju ke rumah Pak RT, dengan bertanya pada warga sekitar.
Kebetulan Pak RT masih ada di tempat itu, dia bingung melihat kedatangan Dicky sekeluarga.
"Ada apa kalian mencari saya?" tanya Pak RT.
"Sebelumnya mohon maaf Pak atas ketidak nyamanan nya, kami ke sini ingin mencari informasi mengenai Mak Acih dan Tata anaknya, yang katanya sudah pindah tadi subuh!" jawab Dicky sopan.
"Ooh, jadi begitu, sebenarnya Mak Acih dan anaknya itu bukanlah warga asli sini, tapi waktu mereka baru pindah mereka sempat menyerahkan KTP mereka, tunggu sebentar ya!" Pak RT yang berperawakan gemuk dan sedikit botak itu lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tak berapa lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah foto kopi KTP milik Mak Acih dan Tata.
Bu Eni dan Pak Karta nampak shock melihat foto Mak Acih.
"Pak, ini benar Bidan Acih! Yang dulu membantu aku melahirkan Pak!" seru Bu Eni.
"Iya Bu, aku yakin yang bersamanya itu adalah anak kita si putri, saudaranya Fitri!" ujar Pak Karta.
Dicky dan Fitri saling berpandangan. Kemudian Dicky mengambil ke dua Fotocopy KTP itu dan mengamatinya lebih lagi.
"Astaga! Di KTP ini, nama lengkap Tata itu adalah Anita! Bukankah Anita adalah tunangan si Kampret yang meninggal itu??" tanya Dicky yang terlihat sangat terkejut.
"Iya Mas, namanya Anita, bisa jadi si Tata itu dulu tunangannya Pak Donny, kasihan sekali Pak Donny ..." lanjut Fitri.
"Apa? Si Putri sudah punya tunangan??" tanya Pak Karta makin heran.
"Kalian tau dari mana kalau dia sudah punya tunangan??" timpal Bu Eni.
"Panjang ceritanya Pak, Bu, sekarang kita harus foto KTP ini, lalu segera kita sebarkan melalui media sosial!" ujar Dicky.
Dengan seijin Pak RT setempat, Dicky lalu mulai memfoto KTP milik Mak Acih dan Tata alias Anita.
Kemudian Dicky dan Fitri mulai mengunggah foto tersebut dan dalam waktu singkat foto itu telah tersebar hampir ke pelosok Indonesia bahkan sampai ke luar negri.
Setelah pamit pada Pak RT, mereka kemudian berjalan kembali ke mobil yang terparkir, Dicky mulai memegangi perutnya karena lapar sejak pagi belum sarapan.
"Kamu kenapa Mas? Lapar ya?" tanya Fitri karena dia juga mulai merasa lapar.
__ADS_1
"Iya sayang, lapar nih, biasanya aku sudah makan dua kali, ini sarapan saja belum!" keluh Dicky.
"Kalau begitu Mas Dicky tunggu di mobil dulu ya, aku akan cari makanan! Tolong jaga Alex dulu ya!" kata Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.
Dicky akhirnya menunggu di mobil bersama dengan Pak Karta dan Bu Eni.
Fitri yang berjalan cepat kemudian mulai mencari tempat makanan yang terdekat.
Di dekat situ ada restoran Padang, akhirnya Fitri membeli nasi Padang sebanyak empat bungkus, sekalian buat pak Karta dan Bu Eni.
Setelah mendapatkan makanan, dia segera kembali ke mobil.
"Mas, ini ada nasi Padang, makanlah Mas!" kata Fitri sambil menyodorkan bungkusan makanan itu ke arah Dicky.
Kemudian dia memberikan dua bungkus lagi untuk kedua orang tuanya.
"Ibu masih kenyang Fit, kalian saja yang makan!" ucap Bu Eni yang wajahnya masih terlihat mendung.
"Iya Fit, bapak juga masih kenyang!" timpal Pak Karta.
"Baiklah, makanannya di simpan saja ,Bapak dan Ibu harus makan supaya kuat, tenang saja, Si Tata pasti akan di temukan kok!" hibur Fitri.
"Sambil menunggu kabar, sebaiknya kita pulang ke rumah saja, siapa tau nanti akan ada titik terang di mana keberadaan mereka!" ucap Dicky.
Pak Karta dan Bu Eni menganggukan kepalanya.
Baru saja mereka turun dari mobil, ponsel Dicky berbunyi, buru-buru Dicky mengusap layar ponselnya itu.
"Halo!"
"Dokter Dicky, ini Saya Dokter Toni!"
"Apa kabar Dok? Tumben menelepon saya?" tanya Dicky.
"Dokter Dicky tadi memposting KTP milik Ibu Acih dan Anita?" tanya Dokter Toni.
"Iya Dok, saya memang sedang mencari keberadaan mereka, apakah Dokter Toni tau sesuatu tentang mereka?" tanya Dicky balik.
"Mereka kebetulan sedang ada di rumah sakit Dok, karena Ibu Acih mengalami komplikasi di paru-parunya, tadi pagi anaknya Anita membawanya ke UGD!" jelas Dokter Toni.
"Apa? Jadi mereka ada di rumah sakit sekarang??" tanya Dicky.
"Benar Dokter, sepertinya sakit paru-paru yang di derita Ibu Acih sudah semakin parah, dan kini dia sering muntah darah!" jawab Dokter Toni.
"Baiklah Dokter Toni, kami segera akan ke sana!" ucap Dicky sambil menutup teleponnya.
__ADS_1
Dicky kemudian memandang pada Pak Karta dan Bu Eni juga Fitri bergantian.
"Sudah ada kabar tentang si Putri Nak?" tanya Pak Karta.
"Sudah Pak, sekarang mereka ada di rumah sakit!" jawab Dicky.
"Kalau begitu, ayo kita ke sana, nanti mereka keburu Kabur dan hilang lagi!" seru Bu Eni.
"Mereka tidak mungkin kabur Bu, karena Ibu Acih sedang sakit parah!" ujar Dicky.
"Baguslah! Itu adalah karma bagi si penculik anak orang!" sengit Bu Eni.
"Mas Dicky, jadi bagaimana sekarang?" tanya Fitri.
"Kita kerumah sakit sekarang juga, Ayo!" ajak Dicky.
Mereka lalu kembali naik ke dalam mobil dan langsung menuju ke rumah sakit.
Setelah mereka sampai di rumah sakit, mereka kemudian segera berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang UGD.
Pak Karta dan Bu Eni dengan tidak sabar jalan terlebih dahulu.
"Mas Dicky ..." panggil Fitri sambil menggenggam tangan suaminya itu.
"Ya, ada apa Fit?" tanya Dicky.
"Ajari aku, bagaimana menjadi istri yang baik!" ucap Fitri tiba-tiba. Dicky tertegun.
"Apa maksudmu Fit?" tanya Dicky bingung.
"Kau begitu baik dan sopan terhadap setiap orang tanpa memandang bulu, sedangkan aku, seringkali aku bersikap tidak hormat padamu! Padahal kau adalah suami aku, surga aku!" ucap Fitri menunduk.
"Fitri, seorang istri ada kalanya butuh pelampiasan, butuh teriak, butuh refreshing, juga butuh di dengarkan!" balas Dicky.
"Tapi kenapa kau tidak pernah memarahi aku? Kecuali kalau kau sedang cemburu!" tanya Fitri.
"Kau tau jawabannya apa? Karena aku memberikanmu kesempatan untuk melepaskan segala uneg-uneg mu, kau capek mengurus dan menyusui Alex, juga mengajar di sekolah, belum lagi menyiapkan makanan untukku dan seisi keluarga, kalau itu bisa mengurangi beban pikiranmu, Mana mungkin aku marah padamu hanya karena kau keceplosan bicara!" jawab Dicky sambil mengecup jemari tangan Fitri.
Bersambung ...
****
Hai Guys ...
Bagi yang menyukai cerita yang mengandung bawang, yuk baca novel author yang berjudul "Cinta Selembut Awan"
__ADS_1
Terimakasih ... 😘🙏😉