Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sampai Di Jogjakarta


__ADS_3

Pagi-pagi Dicky dan Fitri terbangun dari tidurnya, mereka akan bersiap-siap kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Jogjakarta.


Fitri kemudian mulai memandikan Alena, sementara Dicky memandikan Alex. Setelah mereka semua rapi, mereka turun ke bawah dan sarapan pagi di hotel itu.


Setelah selesai sarapan, mereka kemudian naik ke dalam mobil, lalu melanjutkan perjalanan mereka ke Jogjakarta, wajah mereka nampak segar pagi itu.


"Papa, rumah Reino jauh sekali, masa kita sudah menginap, tapi belum sampai juga!" ujar Alex saat mereka kembali dalam perjalanan menuju ke rumah keluarga besar Donny.


"Alex, kalau kita naik pesawat hanya 1 jam perjalanan kita sudah sampai, ini kan kita lewat jalur darat, jadi sampainya lebih lama!" jelas Fitri.


"Benar Lex, Pokoknya kau nikmati saja Perjalanan kita ini, nanti juga Kau pasti akan bertemu dengan si Reino!" sambung Dicky.


Sepanjang perjalanan itu, tak hentinya Alex dan Alena menanyakan ini dan itu, Dicky dan Fitri sampai kewalahan menjawabnya, anak-anak itu begitu kritis.


Hingga hari menjelang siang, akhirnya mereka sampai di kota Jogjakarta. mereka mulai menghentikan mobilnya untuk singgah beristirahat di sebuah restoran.


Fitri Mulai mengambil ponselnya untuk menelpon Anita, menanyakan alamat lengkapnya di Jogjakarta.


"Halo Fitri, kalian sudah sampai mana? Lama sekali perjalanan kalian sejak kemarin!" tanya Anita saat dia mengangkat teleponnya.


"Kami sudah sampai dekat alun-alun nih, tidak jauh dari Jalan Malioboro, tolong kirim alamat lengkap mu ya, lewat peta, nanti kami akan langsung mencari alamatmu!" jawab Fitri.


"Wah tidak jauh lagi tuh, Oke, kalau begitu aku akan kirimkan alamatnya di ponsel mu ya! Pokoknya kau jangan makan siang dulu, kami sudah menyiapkan jamuan makan siang di sini untuk kalian semua!" ujar Anita.


"Baiklah Ta, kami hanya sekedar minum dan beristirahat dulu sejenak, setelah itu kami akan langsung mencari alamatmu, tidak sabar rasanya bertemu denganmu dan ibu!" ucap Fitri sebelum menutup teleponnya.


Tak lama kemudian Anita sudah mengirimkan peta alamat rumahnya melalui ponsel fitri.


Di restoran itu mereka hanya minum es dawet dan sedikit camilan saja, karena Anita sudah pesan kalau mereka sudah menyiapkan hidangan makan siang di rumahnya, lagipula jarak dari tempat mereka ke rumah Anita sudah tidak jauh lagi, hanya sekitar 30 menit perjalanan.


Setelah cukup beristirahat kemudian mereka segera melanjutkan perjalanan mereka kini mereka mulai melihat peta yang dikirimkan Fitri.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah kediaman Donny dan Anita.

__ADS_1


Rumah itu terlihat cukup besar dan mewah, memiliki halaman yang luas, dengan pepohonan yang rimbun menambah keasrian rumah itu.


"Luar biasa si kampret! padahal dulu dia hanya seorang guru biasa yang Bahkan gajinya juga pas-pasan untuk membeli sebuah rumah, Aku benar-benar kagum sama si kampret! Perjuangannya sangat luar biasa!" gumam Dicky ketika mereka mulai masuk ke dalam halaman rumah itu.


Mang Salim kemudian memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah itu. Di depan teras rumah itu terlihat Anita dan Donny, juga Bu Eni yang tengah berdiri menyambut kedatangan mereka, juga ada si kecil Reino.


Perut Anita kini sudah terlihat membuncit, sebentar lagi Reino akan memiliki sepasang adik kembar.


Saat mereka semua turun dari mobil, mereka pun saling berpelukan melepas Kerinduan.


"Ibu sehat? kelihatannya Ibu agak gemukan setelah tinggal disini, aku senang melihatnya!" ucap Fitri.


"Ya begitulah Fit, disini Ibu banyak kegiatan, Ibu ikut kegiatan ibu-ibu PKK juga kegiatan Posyandu yang ada di lingkungan sini, Jadi Ibu tidak terlalu mengingat bapak!" jawab Bu Eni.


"Syukurlah Bu, aku senang mendengarnya, makam Bapak aku sudah rawat dengan baik, Ibu jangan khawatir, Bapak sudah tenang di sana!" ujar Fitri.


"Hei kenapa jadi pada ngobrol di sini? Ayo masuk, langsung makan saja ya, kalian semua pasti lapar! Ayo!" ajak Anita.


Sementara Dicky dan yang lainnya sudah nampak masuk ke dalam rumah itu, mereka duduk di ruang tamu yang luas, seorang asisten rumah tangga sudah menyiapkan aneka minuman dingin dan cemilan di meja ruang tamu itu.


Mang Salim, Bi Sumi dan Mbok Jum nampak menurunkan koper-koper mereka, dan meletakkan koper-koper itu di kamar masing-masing, yang sudah ditunjuk oleh Anita.


Dicky dan Donny nampak mengobrol di sofa ruang tamu itu, sekilas Fitri menoleh ke arahnya, dulu mereka adalah musuh bebuyutan yang saling membenci satu sama lain entah mengapa kini mereka menjadi saudara, dan bahkan kini terlihat sangat akrab, walaupun sering mereka saling meledek.


"Selamat datang di gubuk ku ini dokter, semoga kau betah dengan suasana pedesaan seperti ini!" kata Donny.


"kau jangan merendah kampret! Rumah sebesar ini kau bilang gubuk! Sudah jelas ini perkotaan, masa kau bilang desa?!" sahut Dicky.


"Tapi Bukankah Jakarta itu lebih kota? lagi pula di sana lebih ramai daripada di sini, tapi ku harap kau mau berinvestasi di daerah ini, karena di sini belum banyak Rumah Sakit sebagus milikmu!" ujar Donny.


"Tidak tidak, aku tidak berniat untuk membuka cabang, cukuplah satu rumah sakit yang ku miliki, aku tidak sepertimu, yang memperbanyak cabang di seluruh Indonesia!" sahut Dicky.


"kau Jangan meledek dokter! Kalau aku tidak buka cabang banyak-banyak, mana mungkin aku akan seperti sekarang ini?!" ungkap Donny.

__ADS_1


"Sudah-sudah, kalian selalu saja berdebat, Papa, Anita dan ibu sudah menyiapkan makan siang, ayo kita bergabung dengan mereka di sana, mari Pak Donny!" ajak Fitri yang tiba-tiba muncul itu.


Akhirnya Donny dan Dicky menghentikan obrolan mereka, mereka kemudian melangkah ke ruang makan dan duduk bergabung bersama dengan mereka di sebuah meja makan yang besar.


Aneka hidangan sudah tersedia di sana, dan banyak diantaranya adalah makanan khas Jogjakarta seperti gudeg dan sambal krecek juga berbagai macam makanan yang lainnya.


Mereka nampak menikmati sajian makan siang itu dengan sangat lahap dan gembira, karena memang mereka sudah sangat lapar, apalagi makanan yang disajikan itu banyak variasinya, sehingga mereka makan sampai kenyang.


"Nanti setelah ini kalian boleh beristirahat di kamar yang sudah kami siapkan, semoga kalian betah ya tinggal di sini dalam beberapa hari ini!" ucap Anita.


"Nanti malam aku akan mengajak kalian kulineran di sepanjang jalan Malioboro, pokoknya kalian tenang saja, aku yang traktir!" kata Donny.


"Wah, sudah mulai sombong kau kampret!" cetus Dicky.


"Aku ini mentraktir kalian, bukan sombong dokter!" sahut Donny.


"Kata Om Dokter, kampret itu artinya Batman lho! Hebat kan ayah aku, di bilang Batman!" celetuk Reino.


Sontak mereka yang ada di ruangan itu tertawa, kecuali Dicky yang terlihat keki.


Setelah mereka selesai makan, mereka kemudian masuk ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Mbok Jum satu kamar dengan Bi Sumi, sementara kamar Dicky dan Fitri ada di paling depan, kamar tamu yang paling besar, Alex tidur bersama dengan Reino, sementara Alena ikut Dicky dan Fitri di kamarnya.


Bersambung ...


****


Hai guys ...


Jangan lupa mampir yuk ke karya author yang baru ...


Bagi yang bosan dengan kisah roman, bisa mencoba membaca kisah horor yang menegangkan di novel author yang berjudul "Lelaki Bayangan"

__ADS_1


Terimakasih ...


__ADS_2