Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Masih Menunggu


__ADS_3

Di kamar Dicky, Mia memeriksa kondisi kehamilan Fitri, dia sudah membawa berapa alat-alat untuk menunjang pemeriksaan.


Sementara Dimas menunggu di luar dengan wajah cemberut dan hati dongkol, karena kencannya di ganggu oleh Dicky.


"Ini masih belum ada pembukaan, masih bisa menunggu sesuai HPL yang di tetapkan, yang tadi itu ya hanya semacam kram perut karena bayi sudah besar dan sesak di dalam rahim!" jelas Dokter Mia.


"Jadi, bukan mau melahirkan kan Mia??" tanya Dicky.


"Tentu saja tidak, tapi tetap saja ini sudah memasuki bulannya, kalian harus siap-siap dengan segala sesuatu, karena bisa saja kelahiran akan lebih cepat, Fitri walaupun harus banyak istirahat tetap harus melakukan senam ringan untuk memperlancar waktu bersalin nanti!" jawab Mia.


"Tuh kan Mas, terlalu buru-buru sih memanggil dokter Mia, ini kan bukan gawat darurat!" cetus Fitri cemberut.


"Ya tetap saja, aku kan khawatir Fit! Maklum belum pernah punya anak hehe!" sahut Dicky sambil menggaruk kepalanya.


"Kalau begitu aku pamit pulang, kalau ada apa-apa langsung saja ke rumah sakit, karena kalau aku ke sini peralatan yang di bawa juga terbatas!" ujar Mia.


"Trimaksih Dokter Mia, maaf sudah sangat mengganggumu malam-malam begini!" ucap Fitri sungkan.


Dicky dan Mia kemudian keluar dari kamar itu, sementara Fitri melanjutkan istirahatnya.


"Bagaimana? Kapan istrimu akan melahirkan Bro?? Malam ini? Besok?" tanya Dimas.


"Masih lama Dim! Belum ada pembukaan!" sahut Dicky.


"Huuu! Makanya jangan panik dulu! Kau sudah mengganggu waktuku!" cetus Dimas dengan wajah masam.


"Sorry Dim! Sekarang kau lanjutkan lagi kencanmu itu, aku mau tidur sama istriku!' ujar Dicky.


Dimas dan Mia kemudian pamit dan keluar meninggalkan rumah Dicky.


Setelah mereka pulang, Dicky kembali masuk ke dalam kamarnya, waktu sudah menunjukan jam 12 malam.


Dia langsung berbaring di sebelah Fitri.


"Ahh, syukurlah tidak mengkhawatirkan, aku jadi lega, aku pikir kau benar-benar akan melahirkan sekarang Fit!" ujar Dicky.


"Makanya jangan cepat bertindak sebelum jelas, ngomong-ngomong terimakasih ya Mas!" ucap Fitri sambil berbalik ke arah Dicky dan memeluknya.


"Trimaksih untuk apa?" tanya Dicky.


"Kejutanmu tadi pagi!" jawab Fitri.


"Kejutan? Kejutan apa Fit? Seharian ini aku begitu sibuk, sampai tidak terpikirkan soal apapun selain kerjaan!" tukas Dicky.


Fitri tertegun mendengar ucapan Dicky.

__ADS_1


"Jadi, bukan Mas Dicky yang memberi kejutan bingkisan berupa pakaian dan perlengkapan bayi??" tanya Fitri sambil menatap ke arah suaminya itu.


"Bukan Fit! Lagian ngapain juga aku kasih kejutan bingkisan, lebih baik aku langsung mengajakmu ke toko perlengkapan bayi sehingga kau bebas memilihnya!' jawab Dicky.


"Lalu, siapa yang memberikan kejutan bingkisan itu??" wajah Fitri mulai cemas.


"Mana aku tau! Kenapa kau bisa berpikir kalau kejutan itu dari aku??" tanya Dicky.


"Karena, ada inisial nama 'D' dalam bingkisan itu, kupikir itu inisial namamu Mas!" jawab Fitri.


Dicky langsung bangun dari posisi tidurnya.


"Kurang ajar!! Mulai berani dia berniat macam-macam padamu!! Awas saja, ku beri dia peringatan besok!!" geram Dicky.


"Memangnya kau pikir siapa Mas yang melakukan itu??" tanya Fitri.


"Siapa lagi kalau bukan si kampret Donny itu!! kan cuma dia yang berinisial 'D'!" sahut Dicky.


Fitri terdiam beberapa saat lamanya, dia mulai menyadari sesuatu.


"Jadi, semua ini perbuatan Pak Donny? Apa motivasi dia melakukan itu padaku?" gumam Fitri.


"Apa lagi? Mungkin karena kau mirip tunangannya yang meninggal itu, makanya dia jadi seperti itu! Kau harus hati-hati Fit, aku tak rela kau di guna-guna oleh si kampret itu!" cetus Dicky.


"Jadi, kau membela si kampret itu Fit?" tanya Dicky.


"Bukan membela Mas, tapi selama ini dia tidak pernah berbuat yang melanggar aturan, memberikan bingkisan aku rasa itu bukan suatu kejahatan!" sahut Fitri.


"Ya ya, tapi mengincar istri orang apakah itu bukan kejahatan??" tanya Dicky.


"Sudah deh Mas, lebih baik kita tidur saja, membicarakan itu tidak akan ada habisnya, nanti aku malah stress lagi!' sungut Fitri.


"Maafkan aku Fit, kau benar, kita lupakan saja si kampret itu, lebih baik kita fokus pada kelahiran bayi kita, kira-kira kita kasih nama siapa ya Fit?"


"Terserah Mas Dicky saja!"


"Nanti aku coba cari di internet deh, nama anak laki-laki yang bagus, pastinya dia ganteng dong kayak Papanya, iya kan Fit?" tanya Dicky.


Tidak ada jawaban dari Fitri, ketika Dicky menoleh ternyata Fitri sudah terlelap dalam tidur.


****


Pagi-pagi setelah selesai sarapan, Dicky langsung meluncur ke rumah sakit, namun sebelum dia ke rumah sakit, dia mampir dulu ke rumah Donny untuk memberikannya peringatan.


Dicky sengaja menunggu Donny di depan warung yang dekat dengan rumah Donny, pada saat Donny keluar rumah dengan menggunakan sepeda motor, Dicky mencegatnya.

__ADS_1


Donny kaget dan langsung menghentikan motornya.


"Kau?!" Donny nampak sangat terkejut setelah mengetahui ternyata Dicky yang mencegatnya.


"Hei Kampret! Aku peringatkan kau baik-baik ya, jangan lagi kau kirim barang aneh-aneh untuk istriku!! Ingat!! Fitri itu istriku!! Kau tidak lupa ingatan kan!!" seru Dicky.


Donny nampak tersenyum sinis pada Dicky.


"Kau tidak ada bukti mengatakan hal itu padaku!! Sekarang minggir! Aku mau lewat!" sergah Donny.


"Oke! Ingat, aku tidak main-main, sedikit saja kau mengganggu istriku! Tamatlah riwayatmu!!" ancam Dicky sambil beranjak dari tempat itu.


Donny hanya tersenyum simpul menanggapi Dicky, kemudian dengan cepat dia menarik gasnya dan berlalu dari hadapan Dicky.


Setelah Donny menghilang, Dicky kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Hari itu rumah sakit terlihat ramai, terbukti dari banyaknya mobil yang terparkir di parkiran rumah sakit itu.


"Selamat pagi Dokter!" sapa beberapa orang ketika Dicky memasuki lobby.


"Pagi!" balas Dicky dengan senyuman ramahnya.


Dicky kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya.


Di depan ruangan Dicky yang terlihat masih sepi, seseorang telah berdiri di sana. Dicky segera mendekatinya.


Betapa terkejutnya Dicky saat melihat siapa orang yang telah berdiri menunggunya.


Dia adalah Bu Anjani, yang tersenyum ke arah Dicky, matanya menatap Dicky dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Selamat pagi Bu Anjani, tumben datang ke ruangan saya!" sapa Dicky.


"Dokter Dicky, bolehkan aku membelai wajah mu, sebentar saja!" pinta Ibu Anjani.


Dicky tertegun mendengar ucapan Bu Anjani, kenapa dia meminta hal aneh seperti itu?


"Hmm, silahkan Bu!" jawab Dicky sungkan.


Bu Anjani lalu mendekat ke arah Dicky, kemudian mulai membelai wajah dan rambut Dicky dengan penuh perasaan.


Ada butiran bening yang jatuh menetes di pipinya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2