
Bu Anjani menatap punggung putranya yang kini berjalan menjauh darinya menuju pintu gerbang.
Rasanya dia tak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya barusan.
Tiba-tiba ada perasaan takut dan cemas ya g menyelimuti Bu Anjani.
"Dicky!! Jangan tinggalkan Ibu Nak!!" teriak Bu Anjani.
Dia mulai menangis dan hendak mengejar putranya itu, namun tangan Mbok Jum menahan tubuh Bu Anjani.
"Nyonya, mungkin Tuan Muda ingin berpikir tenang dulu, sebaiknya Nyonya kembali masuk saja ke dalam!" ujar Mbok Jum.
"Anakku Mbok! Anakku pergi lagi! Dicky pergi ini Mbok! Ayo cegah dia! Aku tidak mau lagi kehilangannya!" jerit Bu Anjani.
"Tapi Nyonya sudah kehilangan hatinya, seharusnya Nyonya menyadari, Tuan muda sekarang bukalah seorang anak kecil yang mudah di perintah dan dikuasai, sekarang dia sudah memiliki hati yang lain yang harus di jaga!" ucap Mbok Jum.
"Dicky!! Pulang Nak! Pulang! Ibu sayang padamu Nak! Kenapa kau pergi lagi meninggalkan Ibu??" teriak Bu Anjani sambil menangis.
Bu Anjani yang terlihat shock menangis meraung-raung di depan gerbang rumahnya.
Mbok Jum hanya bisa memeluk dan mengusap bahunya untuk sedikit menenangkan nya.
Sementara itu Fitri sambil menggendong Alex terus berjalan di ikuti oleh Bi Sumi, Dina dan Dara, sementara Dicky masih menyusul di belakangnya.
Tiba-tiba mobil yang di kendarai Pak Salim berhenti di pinggir jalan itu.
"Mbak Fitri! Ayo naik Mbak, kita pulang ke rumah Pak Dokter!" seru Mang Salim.
Fitri menoleh, dia nyaris tidak percaya kalau Dicky akan ikut bersamanya pergi meninggalkan rumah besar itu.
"Mas Dicky! Kenapa kau ikut-ikutan pergi dari rumah itu?" tanya Fitri.
"Aku tidak ingin kehilanganmu juga Alex!" sahut Dicky.
"Tapi kau akan kehilangan ibumu lagi!" ..
"Dia tidak akan kemana-mana, kau tenang saja!" Dicky lalu menggenggam tangan Fitri dan menuntunnya naik ke dalam mobil yang di kemudian oleh Mang Salim.
Sementara yang lainnya sudah nampak masuk ke dalam mobil.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah besar itu dan kembali ke rumah Dicky.
Entah mengapa wajah semua orang berbinar, seolah mereka terbebas dari penjara.
Sekitar 45 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah Dicky, rumah itu kelihatan gelap karena kosong berapa waktu lamanya.
__ADS_1
Setelah mobil itu terparkir di depan rumah, mereka segera turun. Mang Salim mulai menyalakan saklar listrik, seketika rumah itu kembali terang memancarkan kehangatannya.
Dina dan Dara nampak antusias berlari ke kamarnya masing-masing, Bi Sumi juga berjalan ke arah dapur.
"Dapur kesayangan Bibi!" seru Bu Sumi sambil mengelus kulkas dan benda yang ada di area dapur.
Dicky tersenyum, menyadari bahwa merekalah harta yang sesungguhnya.
Fitri sambil menggendong Alex mulai menaiki tangga, menuju ke kamarnya, kamar yang amat di rindukannya selama ini.
"Selamat datang di kamar Alex! Mulai sekarang, kau kembali menjadi raja di kamar ini ya sayang!" ucap Fitri sambil mengecup kening Alex yang masih tertidur.
Perlahan Fitri memindahkan Alex ke box bayinya itu.
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, Fitri mengenali tangan berbulu yang kini melingkar di perutnya itu.
"Mas Dicky!" Fitri menyentuh tangan itu dan membalikan tubuhnya ke belakang, berhadapan wajah dengan suaminya itu.
Dicky kemudian mengangkat Fitri ke dalam gendongannya dan membawanya ke tempat tidur besarnya, tempat tidur yang mereka rindukan dan menjadi saksi cinta kasih mereka.
"Maafkan aku Fit, selama ini aku kurang peka terhadap keadaan sekeliling, aku kurang memahami perasaanmu, maafkan aku!" ucap Dicky.
"Mas, tapi bagaimana dengan Ibumu? Hatinya pasti hancur melihat anak satu-satunya pergi meninggalkannya!" balas Fitri.
"Aku tau Fit, tapi aku juga tidak bisa menerima perlakuan Ibu terhadapmu, hatiku sakit mendengar perkataan Ibu yang seolah menganggapmu tak berarti, padahal kau sangat berarti dalam hidupku!" ucap Dicky.
Fitri kemudian mengusap wajah Dicky, membelai setiap helai rambutnya, dan menatap mata coklat milik suaminya itu.
"Setiap orang bisa berubah Mas, termasuk Ibu!" bisik Fitri.
Dicky lalu menarik Fitri ke dalam pelukannya yang hangat.
"Tetaplah di sini, jangan pernah beranjak dari pelukanku!" ucap Dicky.
"Mas, soal Agus ... aku minta maaf karena pergi tanpa seijinmu, waktu itu aku begitu bingung di rumah itu, tanpa tau harus melakukan apa!" kata Fitri.
"Jangan bahas itu lagi, kau membuat aku cemburu Fit!" bisik Dicky.
Fitri terdiam, setidaknya dia tenang Dicky sudah paham dan tidak mempersalahkan tentang pertemuannya dengan Agus.
****
Pagi-pagi sekali Bi Sumi sudah berbelanja dan memasak menu spesial untuk sarapan.
Fitri yang sudah mandi dan berpakaian, mendekati Dicky yang masih pulas tertidur di tempat tidurnya.
__ADS_1
Kemudian perlahan dia mengguncangkan bahu Dicky untuk membangunkannya.
"Mas, bangun Mas! Sudah siang lho, sudah jam 8 ini!" seru Fitri.
Dicky mulai mengerjapkan matanya, semalam dia ingat beberapa kali dia pelepasan, untuk sedikit menghilangkan kegundahan hatinya.
Hingga dia terkapar lemas, karena kelelahan.
Fitri sebenarnya juga capek, tapi dia tidak mau menolak ajakan suaminya itu.
"Fitri, sekarang hari apa?" tanya Dicky.
"Hari Kamis Mas!"
"Fit, hari Sabtu ini, Ibu kan merencanakan mengadakan pesta syukuran, semua undangan telah di sebar juga lewat media sosial, gimana ya Fit!" tanya Dicky. Wajahnya nampak gelisah.
"Gimana ya Mas, aku juga bingung, kasihan juga Ibu kalau begini, lalu apa kata orang saat mereka tau kau telah kembali meninggalkannya!" jawab Fitri.
"Fitri, bagaimana menurutmu jika aku buka praktek dokter 24 jam di depan rumah kita ini, jadi aku tidak perlu lagi ke rumah sakit!" kata Dicky.
"Maksud Mas Dicky apa? Bukanya Mas Dicky pemilik rumah sakit itu sekarang? Kok malah mau buka praktek di rumah?" tanya Fitri bingung.
"Fitri, aku ... aku berniat mengembalikan hak kepemilikan rumah sakit itu pada Ibu, aku merasa tidak enak padanya, apalagi kini aku sudah pergi dari rumahnya, dia pasti sangat terpukul!" jawab Dicky.
"Mas Dicky, kita lanjutkan ngobrol sambil makan di bawah yuk, Bi Sumi sudah masak buat sarapan kita, sekalian aku mau lihat Alex, di boxnya di bawah!" kata Fitri sambil beranjak dari posisinya.
Dicky mrmhsnghukan kepalanya, kemudian berdiri dan mengikuti Fitri keluar dari kamar itu.
Fitri langsung menggendong Alex yang kini dalam gendongan Bi Sumi.
"Tadi dia nangis Bi?" tanya Fitri sambil duduk menghadap meja makan.
"Tidak Mbak, cuma Bibi ingin gendong saja, kangen hehe!" sahut Bi Sumi.
Ting ... Tong ....
Terdengar suara bel dari arah pintu depan.
Bi Sumi langsung bergegas membukakan pintu. Sedikit terkejut dia melihat siapa orang yang datang.
"Siapa Bi?" teriak Fitri dari arah dalam.
Bi Sumi tidak menjawab, karena orang itu langsung masuk ke dalam rumah menuju ke ruang makan tempat Fitri dan Dicky sedang sarapan.
Bersambung ...
__ADS_1
****