Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pembatalan Acara


__ADS_3

Dicky dan Fitri yang duduk di ruang makan itu, sedikit terkejut melihat siapa orang yang datang dan langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Ken??" tanya Dicky.


"Iya Bang, aku sudah tau apa yang terjadi pada kalian semalam itu!" kata Ken membuka pembicaraan.


"Lalu untuk apa lagi kau kesini? Maaf Ken, aku baru sadar kalau kebahagiaan keluargaku ada di rumah ini, bukan di rumah Ibu!" ucap Dicky.


"Iya Bang aku tau, ada hal yang ingin aku bicarakan pada Bang Dicky, juga Mbak Fitri!" sahut Ken.


"Apa yang mau kau bicarakan, cepat katakanlah!" ujar Dicky tak sabar.


"Begini Bang, Ibu memintaku untuk membatalkan acara pesta syukuran yang rencanakan akan di adakan hari Sabtu ini!"


"Lalu??"


"Ibu juga meminta bantuan ku untuk mencabut semua fasilitas kepemilikan atas rumah sakit itu, kecuali Bang Dicky sekeluarga mau kembali tinggal bersama Ibu di rumah itu, maaf Bang, mungkin Ibu sedang kecewa, maka nya dia membuat keputusan seperti itu!" ungkap Ken.


Dicky terdiam mendengar ucapan Ken, dia sedikit terkejut melihat sikap ibunya itu, bukan karena apa-apa, tapi seolah Dicky itu bergantung pada rumah sakit yang selama ini tempatnya mencari nafkah.


"Aku tidak masalah Ken, aku juga selama ini tidak merasa kalau rumah sakit itu milikku, aku akan melepaskannya untuk Ibu!" jawab Dicky.


"Sekali lagi maaf ya Bang, mungkin kalau hati Ibu sudah tenang, segala hak Bang Dicky akan Ibu kembalikan, ini hanya karena beliau sedang emosi!" ungkap Ken.


"Tidak Ken, aku tidak berharap apapun pada Ibu, sepeser uang pun tidak, selama ini, aku juga bisa memenuhi kebutuhanku sendiri, juga untuk seluruh keluargaku, tanpa bantuan siapapun!" ucap Dicky.


"Syukurlah Bang, Bang Dicky ternyata cukup berlapang hati, lalu, apa yang akan Bang Dicky lakukan sekarang?" tanya Ken.


"Aku akan mundur dari rumah sakit itu, aku akan buka praktek sendiri di rumah ini, tidak apa-apa merangkak dari awal, asal aku selalu berkumpul dengan keluargaku!" ucap Dicky.


"Baiklah Bang, aku doakan Bang Dicky bisa Sukses, tanpa harta warisan, aku juga sadar Bang, Warisan bukan segalanya, lebih bangga dengan hasil dari keringat sendiri, aku kagum pada Bang Dicky!" kata Ken.


"Sudahlah Ken, tapi satu hal yang harus kau tau, aku tidak pernah membenci Ibuku sendiri, tolong sampaikan itu pada Ibu, juga permohonan maafku!" ucap Dicky.


"Baik Bang, kalau begitu aku pamit, terimakasih!" ucap Ken sambil beranjak berdiri dari tempatnya.

__ADS_1


Fitri dan Dicky kemudian mengantarkan Ken sampai ke depan rumahnya.


"Mas ..."


"Iya Fit?"


"Apa Mas Dicky tidak sedih, meninggalkan rumah sakit yang sudah banyak mengukir kenangan selama ini? Sejak kau lulus kan langsung bekerja di sana bukan?" tanya Fitri.


Fitri sangat tau apa yang di rasakan suaminya itu, walaupun Dicky tidak mengungkapkannya.


Dicky terdiam mendengar pertanyaan Fitri, sesungguhnya juga hatinya berat meninggalkan rekan-rekan kerjanya, apalagi dia sudah cukup lama bekerja di sana.


"Jangan khawatir Fit, mungkin rejeki kita ada di rumah ini, jadi kau tidak perlu khawatir aku pergi jauh, karena aku akan selalu ada dekat bersamamu, juga anak-anak kita!" ucap Dicky sambil merengkuh Fitri dalam pelukannya.


Fitri merebahkan kepalanya di dada Dicky, dia sangat paham apa yang suaminya rasakan saat ini, jiwanya pasti terpukul dan sedih saat Ibu kandungnya sendiri mencabut hak waris yang di amanat kan oleh ayahnya langsung.


"Kalau begitu, kapan rencana Mas Dicky untuk memugar halaman depan untuk tempat praktek Mas Dicky nanti?" tanya Fitri mengalihkan kegundahan Dicky.


"Lebih cepat lebih baik Fit, nanti aku akan cari tukang profesional, juga belanja kebutuhan untuk praktek, kau bantu aku ya sayang?" jawab Dicky.


"Tentu saja Mas, tanpa kau minta aku pasti akan membantumu!" ucap Fitri.


****


Suasana rumah yang sebelumnya terlihat ramai, kini sunyi dan sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Sungguh miris dan memprihatinkan.


"Ibu di mana Mbok Jum?" tanya Ken saat melihat Mbok Jum sedang mengepel lantai.


"Anu Den, Nyonya tidak mau keluar kamar dari pagi, sarapannya saja tidak di sentuh!" jawab Mbok Jum.


"Hmm, kasihan Ibu, tapi biar saja Mbok, biar Ibu juga belajar, menerima orang dengan latar belakang yang berbeda, selama ini kan Ibu hanya bergaul dengan orang kalangan atas saja!" ucap Ken sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu.


"Iya Den, kasihan juga Nyonya, dia kelihatan shock, baru saja berkumpul sama anaknya, sekarang malah berpisah lagi! Kalau mau makan, makanannya sudah siap di meja ya Den!" ujar Mbok Jum.

__ADS_1


"Aku juga tidak lapar Mbok, di Jakarta ini, hanya Ibu satu-satunya saudara yang terdekat, baru aku senang punya sepupu dokter Dicky, sekarang malah jadi renggang begini hubungan!" keluh Ken.


"Makanya Den Ken tinggal di sini saja, temani Nyonya!" kata Mbok Jum.


"Yah, sebentar lagi aku malah mau balik ke Jepang Mbok, ada tawaran bisnis bagus di sana!" ujar Ken.


Kring ... Kring ...


Terdengar suara telepon dari meja telepon di sudut ruangan, dengan sigap Mbok Jum bergegas mengangkat telepon itu.


Sementara Ken menyandarkan kepalanya di sofa dengan berselonjor kaki.


Tak lama Mbok Jum berjalan mendekatinya.


"Siapa yang telepon Mbok?" tanya Ken.


"Itu Den, orang dekorasi dan catering, menanyakan soal acara yang hari Sabtu, kan sudah di boking dan di bayar lunas, mereka konfirmasi jam berapa katanya!" jawab Mbok Jum.


"Alamak!! Aku lupa Mbok! Ibu kan mau membatalkan acara itu, aduh, gimana ini, tidak lucu kalau para tamu berdatangan dan rumah ini di dekor sementara tidak ada acara apapun!" seru Ken sambil menepuk jidatnya.


"Jadi ... acara pesta syukuran yang sudah di rancang dari jauh-jauh hari itu batal??" tanya Mbok Jum.


"Iya Mbok batal!" sahut Ken frustasi.


"Ya ampun, bagaimana ini?!" gumam Mbok Jum.


Seorang security penjaga gerbang datang ke ruangan itu.


"Maaf Den, itu di depan gerbang banyak wartawan datang! Saya bingung harus bagaimana??" tanya security itu.


"Apa? Wartawan?? Untuk apa mereka datang?!" tanya Ken.


"Itu lho Den, mereka mempertanyakan tentang pengunduran Dokter Dicky dari rumah sakit, karena pagi ini di akun media sosialnya, Dokter Dicky membuat pernyataan yang mengguncangkan publik, katanya terhitung hari ini, dia sudah tidak menjabat atau ada hubungan apa-apa lagi dengan rumah sakit, dia resmi mengundurkan diri!" jelas security itu dengan wajah tegang.


Ken tambah frustasi, tanpa bertanya lagi dia langsung beranjak naik ke atas menuju kamar Bu Anjani.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2