
Hari ini Dicky mengajak Fitri ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya ke Dokter Mia.
Karena masih pagi, belum ada pasien yang mengantri, Dicky dengan bangga menggandeng Fitri masuk ke dalam ruang poli kandungan.
Dokter Mia nampak sedang duduk di meja kerjanya dengan seorang suster.
"Hei Mia, tolong periksakan kandungan istriku! Dia hamil anakku lho!" ujar Dicky sambil tersenyum senang.
"Hmm, wajar saja semua wanita akan bisa hamil, kau ini seperti baru tahu saja, silahkan berbaring dulu aku akan memeriksanya!" sahut Dokter Mia.
Dicky lalu membantu Fitri berbaring di ranjang pasien itu.
Dokter Mia mulai mengoleskan gel di perut Fitri, lalu mulai memeriksanya dengan menggunakan alat USG.
"Yah, memang benar sudah ada janin yang tumbuh di sini, namun masih terlalu kecil, jadi belum bisa terlihat, perkiraan usia janin batu sekitar tujuh Minggu!" jelas Dokter Mia.
"Dokter, kenapa sampai saat ini aku masih selalu merasa mual saat mencium aroma yang tajam? Bahkan parfum Mas Dicky juga membuatku menjadi pusing!" tanya Fitri.
"Itu wajar saja di trimester pertama, lama-lama mualnya juga akan hilang, rajin-rajinlah mengkonsumsi asam folat, ada dalam kandungan susu, nanti aku akan berikan vitamin dan obat penguat janin!" jawab Dokter Mia.
"Terimakasih Dokter!" ucap Fitri.
Mereka kemudian kembali duduk di depan meja Dokter Mia.
"Dicky! Kau jangan sering-sering mengajak Fitri berhubungan, kandungannya masih rentan!" ujar Mia.
"Iya Bu Dokter!" sahut Dicky.
"Fitri juga jangan sering naik turun tangga, kalau kepeleset akibatnya bisa fatal, sepertinya kau ini sering sekali jatuh!" kata Dokter Mia.
"Benar Mia, waktu itu Fitri pernah jatuh di sekolah, kakinya sampai terkilir dan bengkak!" timpal Dicky.
"Tuh kan, aku masih ingat betul saat Fitri kecelakaan dulu, sehingga sampai kehilangan bayinya, jangan sampai itu terulang lagi!" ujar Dokter Mia.
"Iya Dokter, aku akan hati-hati!" ucap Fitri.
"Oke, aku rasa cukup, bulan depan aku akan mengunjungimu lagi Mia, terimakasih, aku harap kau cepat menyusul Fitri, supaya lebih pengalaman!" ledek Dicky.
__ADS_1
"Sudah sana kalian keluar dari ruanganku! Mentang-mentang akan punya anak, kau sombong sekali!" sungut Dokter Mia.
Dicky kemudian menggandeng Fitri keluar dari ruangan Dokter Mia yang masih nampak cemberut.
"Kenapa Mas Dicky berkata seperti itu pada Dokter Mia?" tanya Fitri.
"Bercanda Fit, aku dan Mia itu sudah lama berteman, dia sama seperti Dimas, dulu kita satu angkatan di rumah sakit ini!" sahut Dicky.
"Begitu ya ..."
"Mia itu lucu, jadi dokter kandungan setiap hari memeriksa kandungan pasien, tapi dia sendiri belum pernah hamil, jangankan hamil, menikah saja belum!" lanjut Dicky sambil tertawa.
"Kenapa Dokter Mia belum menikah ya, padahal dia itu Dokter cantik, pintar lagi!" ujar Fitri.
"Entah lah Fit, katanya sih ada yang dia tunggu, entah siapa yang di tunggu, aku malah akan menjodohkannya dengan Dimas, sama-sama lucu!" kata Dicky.
Dicky sebelum mengantar Fitri pulang, mengajak Fitri ke suatu ruangan rawat inap anak-anak.
"Kau mau menjenguk siapa Mas?" tanya Fitri.
Dicky tidak menjawab, dia lalu beranjak mendekati salah satu ranjang pasien.
"Ya ampun, kasihan sekali, tapi kenapa tidak ada yang menjaganya?" tanya Fitri.
"Kemarin Ayahnya yang mengantarnya, hari ini Ayahnya harus bekerja, sementara Ranti, entah berada di mana, kasihan anak ini, padahal saat ini dia butuh dampingan orang tuanya!" tutur Dicky.
"Biar aku yang menjaganya Mas, kasihan Chika, saat dia bangun pasti dia akan mencari orang tuanya!" ucap Fitri.
"Jangan Fit, kau fokus mengurus calon bayiku saja, aku sudah menitipkannya pada suster Wina untuk selalu menjaganya!" tukas Dicky.
"Lalu, kenapa Mas Dicky membawaku ke sini?" tanya Fitri.
"Supaya Fitri ku tidak cemburu lagi, saat tau aku merawat anak Ranti!" jawab Dicky.
"Ya ampun Mas, kau pikir aku sepicik itu, apalagi ini menyangkut anak kecil, waktu itu kan aku cemburu karena melihat kau berpelukan dengan ... dengan tubuh nyaris polos!" ucap Fitri lirih.
"Sudahlah sayang, walau orang lain melihat tubuhku, tapi tetap hatiku milikmu!" bisik Dicky sambil merangkul Fitri keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Tapi apa Mas Dicky yakin, Ranti tidak berbuat yang tidak-tidak terhadap tubuhmu? Bahkan dia saja bisa membuka pakaianmu!" ujar Fitri.
"Entahlah, tapi aku merasa aset ku, baik-baik saja, dia tidak menjamahnya sama sekali, semua itu dia lakukan hanya untuk membuat kita hancur Fit, makanya kau harus hati-hati!" ucap Dicky.
"Kau juga harus hati-hati Mas, jangan mudah menerima apapun yang tidak jelas, seperti minuman, atau makanan, bisa jadi akan ada racun di dalamnya! Pokoknya kau jangan ceroboh lagi!" ujar Fitri.
"Hmm, sudah mulai takut kehilangan Mas Dicky ya, Fitri sudah protektif nih keliatannya, jadi senang Mas nya nih!" ucap Dicky sambil mencubit lembut dagu Fitri.
"Mas ih, malu di lihat orang, jangan terlalu nempel Mas!" sergah Fitri saat melihat banyak orang yang memperhatikan mereka.
"Biarkan saja sayang, jangan patahkan hati Mas yang sedang berbunga-bunga ini!" ucap Dicky sambil mulai mengelus perut Fitri. Wajah Fitri memerah menahan malu.
Sementara itu, tak jauh dari tempat di mana Dicky dan Fitri berjalan, sepasang mata mengawasi mereka, sepasang mata itu adalah milik Ranti.
Mata Ranti terlihat merah, menahan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya.
"Dicky, sejak masa kuliah kita berhubungan, begitu manis dan indah, kini dengan mesranya kau berjalan dengan perempuan yang bahkan sangat tidak layak untukmu! Kau tidak bisa melupakan aku begitu saja Dicky, bahkan semua kenangan kita masih tetap aku simpan sampai saat ini!" Kemudian air mata wanita itu mulai mengalir membasahi pipinya.
Sebuah tangan menyentuh bahu Ranti, Ranti menoleh dengan terkejut.
"Dokter Rizky??" ujar Ranti kaget.
"Dokter Ranti, bisakah kau ke ruangan ku sebentar? Ada hal penting yang akan ku bicarakan denganmu!" kata Dokter Rizky.
"Baik Dokter!" sahut Ranti.
Kemudian Ranti mengikuti Dokter Rizky berjalan ke arah ruangannya.
"Silahkan masuk, duduklah!" ujar Dokter Rizky.
"Ada apa Dokter memanggil saya?" tanya Ranti.
"Dokter Ranti, ada laporan beberapa kasus yang terjadi di rumah sakit ini, aku tidak akan membeberkannya padamu, tapi kau pasti tau apa yang sudah terjadi, karena itu, dengan berat hati, aku selaku kepala rumah sakit ini terpaksa memberhentikan anda bekerja di sini! Mulai besok, carilah pekerjaan lain!" ujar Dokter Rizky dengan sangat jelas.
Wajah Ranti berubah pias, untuk beberapa saat lamanya dia terdiam tanpa memberikan sanggahan apapun.
"Baik Dokter, Trimakasih!"
__ADS_1
Kemudian Ranti segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
****