Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Ziarah


__ADS_3

Kini Dicky telah resmi menjadi seorang pemilik rumah sakit, semua surat-surat kepemilikan atas nama Dicky baru saja selesai di urus oleh Pak Dirja.


Bu Anjani mulai melaksanakan janjinya untuk membuat sebuah pesta syukuran, yang akan di laksanakan pada hari Sabtu ini, di akhir pekan.


Undangan untuk para sahabat dan kerabat juga sudah mulai di sebarkan, baik secara langsung maupun online.


"Dicky, pastikan semua Dokter, perawat dan karyawan rumah sakit bisa menghadiri acara syukuran di sini, Ibu ingin orang mengenalmu sebagai pemilik tunggal rumah sakit ini, karena hanya rumah sakit ini satu-satunya warisan dari Ayahmu!" kata Bu Anjani pada saat selesai sarapan.


"Baik Bu, Ibu ... bolehkah aku mengunjungi makam Ayah? Aku sangat ingin berziarah ke makam Ayah!" pinta Dicky tiba-tiba.


"Maafkan Ibu Nak, karena terlalu banyak kesibukan dan masalah belakangan ini, Ibu sampai lupa mengajakmu berziarah ke makam Ayahmu!" ucap Bu Anjani.


"Tidak apa-apa Bu, sekarang kan semua masalah di rumah ini sudah beres, mungkin waktunya kita mengunjungi makam Ayah!" kata Dicky.


"Baiklah, kalau begitu siang ini kita akan ke sana, kau siapkan Fitri dan Alex, Ibu juga mau siap-siap!" kata Bu Anjani yang langsung beranjak menuju ke kamarnya.


Dicky kemudian juga langsung beranjak dan bersiap-siap, dia langsung memberitahukan Fitri dan menyiapkan Alex.


Setelah selesai, mereka berkumpul di teras.


"Eh, kalian semua mau kemana? Kok sudah pada rapi begini?" tanya Bu Eni yang sedang jalan berkeliling seperti biasa.


"Kami mau ke makam Ayah Bu!" jawab Dicky.


"Wah, ibu boleh ikut ya! Bosen Ibu di timah terus, sudah berkeliling sampai capek, tetap saja bosen!" ujar Bu Eni.


"Ibu, kan tidak enak dengan Bu Anjani, Ibu di rumah aja lah!" tukas Fitri.


"Kalau Ibu kau ikut biarkan saja Fit, Ibu juga pasti tidak akan keberatan kok!" ujar Dicky.


"Tuh denger Fit! Mantu ganteng saja bilang boleh, kamu mah memang sentimen sama Ibu!" sungut Bu Eni.


"Bukan begitu Bu, tapi kan ..."


"Sudah siap semua? Kalau begitu ayo kita berangkat!" seru Bu Anjani tiba-tiba dari arah dalam.


"Siap Bu!" jawab Dicky.


Sebuah mobil mewah telah terparkir di depan teras rumah itu.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang!" ujar Bu Anjani ya g langsung naik ke dalam mobil itu.

__ADS_1


"Ayo! Let's Go Fit!" seru Bu Eni yang langsung naik ke dalam mobil juga.


Mereka kemudian mulai berangkat menuju ke sebuah taman makam pahlawan yang jaraknya sekitar 30 menit dari rumah.


"Kenapa Ayah di makamkan di taman makam Pahlawan Bu?" tanya Dicky.


"Ayahmu dulu adalah seorang pejuang Dicky, di jamannya dia punya jabatan penting di pemerintahan!" jawab Bu Anjani.


"Wuuuih! Hebat pisan besan saya! Makin bangga Fitri jadi mantunya!" celetuk Bu Eni antusias.


Tak lama kemudian mereka telah duduk di hadapan sebuah makam.


Dicky mengusap bagu nisan bertuliskan nama Ayahnya, Rahmat Pradita.


Ada rasa haru yang menyelimuti hatinya, selama ini dia bahkan tidak pernah mengenal sosok sang Ayah.


"Mas Rahmat, di sini ada anak, cucu dan mantumu yang datang mengunjungimu Mas!" ucap Bu Anjani.


"Juga ada besan yang baik hati!" Timpal Bu Eni.


"Ayah ... " cuma itu kata yang bisa Dicky ucapkan, tidak dapat lagi dia membendung air matanya.


Selama ini dalam hidupnya dia selalu merasa sebatang kara, hanya Bu Nuri yang selalu menjadi tempat pelipur laranya.


Fitri yang melihat suaminya itu langsung menyerahkan Alex pada Bu Eni. Kemudian dia langsung merengkuh bahu suaminya itu untuk menenangkan hatinya.


"Ayah sudah tenang Mas!" ucap Fitri.


Dicky menganggukan kepalanya sambil mengusap matanya yang sempat basah.


Bu Anjani nampak duduk terpekur sambil menatap dalam pusara makam, yang kini penuh dengan taburan bunga itu.


Mungkin sudah menjadi kebiasaannya dia akan termenung di makam itu sambil mulutnya komat-kamit berbicara pada almarhum suaminya itu.


Di lihat dari sikap Bu Anjani saat di makam, tersirat bahwa semasa hidupnya Bu Anjani sangat mencintai suaminya itu, begitupun sebaliknya.


"Kalau sudah selesai, sebaiknya kita pulang!" kata Bu Anjani tiba-tiba.


"Baiklah Bu, kelihatannya langit mendung, kasihan Alex kalau kita terlalu lama!" ujar Dicky.


Mereka kemudian bangkit dan mulai berjalan meninggalkan area makam itu.

__ADS_1


Kemudian mereka kembali naik ke dalam mobil dan pulang ke rumah.


Dalam perjalanan hujan pun turun, begitu lebat dengan suara petir yang menggelegar.


Alex mulai menangis dan minta menyusu. Fitri pun mulai menyusui Alex di dalam mobil itu dengan di tutupi kain.


Setelah mereka sampai kembali ke rumah, Bu Anjani langsung berjalan menuju ke kamarnya, sepertinya wanita itu teringat akan almarhum suaminya itu, karena sejak tadi Bu Anjani hanya diam saja.


Alex terlihat sudah tertidur di pelukan Fitri setelah kenyang menyusu, Bu Eni juga langsung menuju ke kamarnya karena mungkin dia lelah.


Fitri duduk di teras sambil memandangi turunnya hujan yang lebat itu, suasana hujan membuat cuaca jadi dingin, dan Fitri menikmati itu bersama Alex.


"Fitri, kau tidak masuk ke dalam?" tanya Dicky.


"Aku di sini dulu Mas, enak adem!" jawab Fitri.


"Baiklah, aku ke dalam duluan ya, mau ganti baju, basah!" kata Dicky sambil menunjuk bajunya yang basah terkena tampiasan air hujan tadi. Fitri menganggukan kepalanya.


Dicky kemudian masuk kembali ke dalam rumah itu.


Alex masih nampak tertidur di pelukan Fitri, Fitri tidak mau meletakan Alex di tempat tidurnya, mumpung dia bisa leluasa menggendong Alex.


Karena biasanya Alex selalu di bawa oleh Bu Anjani kemanapun kalau Bu Anjani ada di rumah, tapi sejak dari makam, Bu Anjani tidak menggendong Alex dan malah masuk ke dalam kamarnya sendirian.


Bi Sumi tiba-tiba datang ke arah Fitri dan langsung duduk di sampingnya.


"Mbak Fitri, maaf Mbak, tadi security tanya sama Bibi, memangnya tidak apa-apa ya paket punya Mbak Fitri di ambil oleh mereka, soalnya isinya bagus-bagus katanya!" ujar Bi Sumi.


"Paket? Memangnya paket aneh itu masih datang lagi??" tanya Fitri.


"Iya Mbak, walaupun tidak tiap hari, tapi dia rutin datangnya, seperti sudah di jadwalkan begitu, kalau di ambil untuk security kan kasihan yang kirim, di kiranya Mbak Fitri yang ambil!" jawab Bi Sumi.


"Ooh, begitu ya Bi!"


"Kan waktu itu Bibi sudah kasih tau si pengirim mengirim paket dia kantor ekspedisi yang sudah di catat Bibi alamatnya, Mbak Fitri belum sempat ke sana ya?" tanya Bi Sumi.


Sesaat lamanya Fitri tertegun. Dia mulai berpikir sesuatu.


Paket misterius itu sudah mulai di lupakan Fitri dan Dicky, karena masalah yang datang belakangan ini, namun kini Fitri kembali teringat dan penasaran, siapa sebenarnya orang iseng yang terencana itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2