
Pagi itu Dicky dan Fitri berkunjung ke salah satu rumah sakit besar di Tokyo. Sesuai janjinya Dicky membawa Fitri untuk memeriksa kehamilannya di salah satu Dokter kandungan atas rekomendasi Dokter Mia.
"Apakah anda Dokter Dicky? Saya Dokter Jane, kawan lama Dokter Mia!" kata Dokter itu memperkenalkan diri.
Melihat dari tampangnya, Dokter Jane ini bukan seperti orang Jepang, dia malah seperti orang bule karena rambutnya sedikit pirang.
"Yah benar, saya Dicky dan ini istri saya Fitri!" jawab Dicky sambil menjabat tangan Dokter itu.
"Kandungan istrimu sudah sangat besar sekali, mari kita lihat di layar USG!" ujar Dokter Jane.
"Fitri kemudian mulai berbaring di ranjang pasien itu.
Layar monitor USG 4D terlihat lebih besar dari pada yang biasa Fitri lihat, semuanya terlihat sedikit lebih canggih.
"Kenapa Dokter bisa berbahasa Indonesia?" tanya Fitri penasaran.
"Aku hanya bersekolah di Jepang, tapi Ibuku asli orang Indonesia, makanya aku satu kampung dengan Mia, Ayahku keturunan Jerman, jadilah anaknya seperti ini!" jelas Dokter Jane.
Dokter Jane mulai memeriksa kandungan Fitri dengan seksama.
"Hmm, sejauh ini bayinya baik-baik saja, tidak ada masalah serius, berat badannya juga sesuai dengan usianya!" jelas Dokter Jane.
"Tapi Dok, kenapa kadang-kadang perut saya seperti keram dan keras? malah suka nyeri di bagian perut atas!" ungkap Fitri.
"Itu karena anda terlalu lelah Bu Fitri, kondisi hamil itu berbeda dengan kondisi normal, orang hamil lebih mudah lelah, saya sarankan menjelang persalinan, Bu Fitri harus ekstra hati-hati dan banyak istirahat!" ujar Dokter Jane.
"Baik Dokter, saya akan menjaga ekstra istri saya!" sahut Dicky.
"Oya, saya dengar dari Mia, Bu Fitri ada masalah di penglihatannya, saya ada resep obat tradisional, yang di buat dari bahan-bahan alami khas tradisional Jepang, untuk menjernihkan mata, tidak ada efek sampingnya untuk orang hamil!" tambah Dokter Jane.
"Katakan Dokter, berapa saya harus membayar obat itu, saya akan bayar berapapun juga asalkan istri saya sembuh dan bisa melihat jelas lagi!" ucap Dicky.
"Tapi itu obat langka Pak Dokter, karena dedaunan yang jadi bahan obat itu sangat sulit di dapat, tapi saya masih menyimpan satu botol, sebenarnya itu milik salah satu pasien saya, yang mengalami kebutaan saat akan melahirkan, namun sayang dia sudah keburu meninggal karena pendarahan!" jelas Dokter Jane.
"Kalau obat itu masih ada, saya mohon berikan pada saya Dokter, saya akan membayar berapapun juga, asalkan istri saya sembuh!" pinta Dokter Dicky sambil menautkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Baiklah Pak Dokter, kelihatannya anda sangat mencintai istri anda, saya akan berikan obat itu untuk anda!" Dokter Jane lalu berdiri dan menuju ke sebuah lemari besar dan membukanya, lalu dia mengambil satu botol kecil obat yang di maksud.
__ADS_1
Kemudian dia menyodorkan botol kecil itu ke arah Dicky dan Fitri.
"Ini ambilah Pak Dokter, teteskan satubkali saja satu hati menjelang tidur malam, jika sudah ada perubahan, hentikan pemakaian, efek samping dari obat ini adalah kepala akan menjadi pusing!" jelas Dokter Jane.
"Terimakasih Dokter, berapa saya harus membayarnya??" tanya Dicky.
"Tidak usah membayar Pak Dokter, anggap saja ini pemberian dari saya karena kalian juga adalah teman satu Mia, berterimakasih lah pada Mia!" jawab Dokter Jane.
Wajah Fitri mulai berbinar, karena harapan akan dapat melihat jelas sudah ada di depan matanya.
"Terimakasih Dokter!" ucap Fitri dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan sungkan, jadi kapan kalian akan kembali ke tanah air?" tanya Dokter Jane.
"Siang ini kami akan berangkat pulang, sebenarnya Ibu Anjani menghendaki kami liburan lebih lama lagi, tapi mengingat Fitri yang sedang hamil besar, lebih baik dia banyak istirahat di rumah saja!" jawab Dicky.
****
Setelah Dicky dan Fitri selesai berkonsultasi, mereka kemudian kembali ke hotel untuk bersiap-siap ke Bandara.
Siang ini mereka akan kembali ke tanah air.
"Iya Mas, Dokter Mia sudah banyak sekali membantu, nanti kita kasih oleh-oleh ya Mas!" timpal Fitri.
"Iya sayang, di dekat bandara juga banyak sekali yang menjual oleh-oleh, kalau kurang kita bisa beli di sana!" ujar Dicky sambil memasukan pakaian dan barang-barang nya ke dalam koper.
Tring ... Tring ...
Bunyi sebuah notifikasi dari ponsel Dicky. Dicky segera meraih ponselnya dan membuka isi pesannya.
"Oh My God!! Hari ini Dimas melamar Mia, di rumah Mia sedang ada acara pertunangan! Sialan Dimas tidak mengundangku!!" sungut Dicky.
"Bagaimana mau mengundang sih Mas, lah kan dia tau kita ada di sini!" sahut Fitri.
"Iya sih, tapi setidaknya kan dia bisa bilang dulu ke aku, dasar Dimas!! Pasti nih dia mau hemat undangan supaya aku tidak datang!" cetus Dicky.
"Sudahlah Mas, yang penting temanmu sekarang kan sudah menemukan jodohnya, ya kita seharusnya senang dan mendukungnya, terlepas dia pelit atau tidak!" ucap Fitri.
__ADS_1
"Kau benar Fit, setidaknya aku senang kini temanku tidak jomblo lagi, ah akhirnya Dimas!" seru Dicky senang.
Mereka kemudian segera turun ke bawah menuju lobby, setelah makan siang Ken mengantar mereka ke Bandara.
Sebelum mereka berpisah, Dicky memeluk Ken sambil menepuk bahunya.
"Terimakasih Ken, kau sudah banyak membantu kami selama di sini!" ucap Dicky.
"Jangan sungkan Pak Dokter, lain waktu jika ingin liburan ke Jepang lagi, hubungi saja aku, aku siap menemani kalian kapanpun!" ujar Ken.
"Kalau aku ketemu dengan pacarmu, akan ku beritahukan bahwa kau adalah pacar yang baik dan bertanggung jawab! Sampai jumpa Ken!" ucap Fitri.
Ken melambaikan tangannya sebelum membalikan tubuhnya dan berjalan lalu menghilang di balik tembok.
Sambil menunggu jam keberangkatan, mereka duduk di bangku bandara itu.
"Kalau capek atau pegal baringan saja Fit di pangkuanku!" tawar Dicky.
"Tidak mau Ah Mas, malu tau!" tolak Fitri.
"Ya sudah, kalau aku sih tidak malu, kita kan suami istri!' ujar Dicky.
Tiba-tiba di ponsel Dicky ada suara panggilan, Dicky segera mengangkat panggilan teleponnya, Bi Sumi yang meneleponnya.
"Halo, Bi, kami otw pulang nih, bilang Dina dan Dara kalau banyak oleh-oleh untuk mereka, untuk Bi Sumi juga ada!" ucap Dicky.
"Pak Dokter, rumah kita baru kerampokan Pak, itu mang Salim di sekap di gudang, Bibi juga di ikat, tapi untung Bibi masih bisa telepon, tolong Pak Dokter!" kata Bi Sumi bergetar.
"Apa?? Siapa yang melakukan itu?? Dina dan Dara bagaimana??" tanya Dicky cemas.
"Dina dan Dara di kurung di kamar mereka, boleh Bibi lapor polisi Pak Dokter??" tanya Bi Sumi.
"Iya Bi, laporkan saja ke polisi, Bibi tolong telepon pak RT, pak RW atau siapa saja untuk meminta bantuan!!" titah Dicky.
"Baik Pak!!" sahut Bi Sumi sebelum menutup teleponnya.
Bersambung ...
__ADS_1
****