Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Nasehat Orang Tua


__ADS_3

Fitri dan Dicky bersama dengan Bu Eni dan Pak Karta terlihat duduk di ruang makan.


Pagi itu mereka menikmati sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh Bi Sumi.


Dina dan Dara juga duduk di antara mereka dan sudah rapi berseragam.


"Terimakasih lho Pak Bu atas beras kirimannya, pasti rasanya lebih enak karena asli dari panenan sawah!" ucap Dicky.


"Memangnya beras di kota beda ya? Perasaan beras di mana-mana sama saja!" ujar Bu Eni.


"Kalau di kota kan banyak pengawet dan pemutih nya mungkin Bu, makanya rasanya beda!" sahut Dicky.


"Oya, Bapak dan Ibu rencana menginap berapa lama? Aku ingin sekali mengobrol dengan Ibu seputar kehamilan!" tanya Fitri.


"Yah Fit, sekarang Ibu di kampung sudah mulai aktif ikut kegiatan PKK, arisan, juga komunitas lansia, ibu jadi sibuk Fit, kalau dulu ibu kan kuper, sekarang Ibu mulai gaul Fit!" ujar Bu Eni.


"Nah loh, sejak kapan ibu jadi berubah?" tanya Fitri.


"Sejak Ibu punya mantu Dokter kayak Dicky, Ibu jadi pede kalau cerita sama ibu-ibu yang lain, dulu mereka selalu membanggakan anak menantunya, sekarang Ibu kan juga bisa berbangga diri!" ungkap Bu Eni.


"Jangan takabur Bu! Kita harus selalu mawas diri, jangan lupa daratan!" sergah Pak Karta.


"Idih Bapak Nih, dasar aki-aki kurang gaul! Gimana mau gaul ya, tiap hari ketemunya sawah lagi sawah lagi, sekali-kali dong Pak, main tenis kek, bulu tangkis atau main karambol, biar makin gaul!" tukas Bu Eni.


"Kau ini Bu! Kalau bukan gara-gara sawah, selama ini kau tidak bisa makan! Apalagi beli baju, tidak bisa sekolahkan anak! Jangan meremehkan sawah dong Bu!" protes Pak Karta.


Bu Eni hanya cemberut mendengar pembelaan suaminya itu.


"Sudah-sudah! Ini sudah siang, anak-anak mau berangkat sekolah, Mas Dicky juga mau berangkat ke rumah sakit, sebaiknya setelah makan Ibu dan Bapak istirahat dulu ya, pasti capek kan perjalanan jauh!" sergah Fitri.


Bu Eni dan Pak Karta hanya menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian langsung menuju kamar tamu setelah selesai sarapan.


Fitri kemudian mulai mengantar anak-anak dan suaminya itu sampai ke depan rumahnya.


Mang Salim nampak sudah menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


"Dina dan Dara nanti langsung pulang ya saat Mang Salim jemput, kan ada les dengan Pak Hardi!" kata Dicky mengingatkan.


"Beres Pa! Pak Hardi itu orangnya asyik kok, aku suka belajar sama dia!" ujar Dina senang.


"Syukurlah kalau kalian cocok dengan Pak Hardi, semoga nilai kalian semakin meningkat ya!" tambah Fitri.


Dina dan Dara kemudian mulai masuk ke dalam mobilnya.


Dicky agak sedikit tenang meninggalkan Fitri, karena ada Bu Eni dan Pak Karta yang menemani Fitri. Jadi dia tidak terlalu khawatir lagi.


Kecupan manis mendarat di kening Fitri saat Dicky akan mulai masuk ke dalam mobil.


"Jaga dirimu ya sayang, jangan terlalu lelah!" ucap Dicky.


"Iya Mas, Mas Dicky juga ya, jaga diri dan mata Mas Dicky, jangan terjerat dengan godaan setan!" sahut Fitri.


"Lho kok Begitu?" tanya Dicky.


"Yah mana tau ada wanita cantik di rumah sakit yang membuat Mas Dicky memandangnya!" sahut Fitri. Dicky tertawa.


"Mas Dicky nakal!! Awas lho ya!!" sengit Fitri dengan wajah merah bagai kepiting rebus.


****


Hari menjelang siang, Bu Eni nampak sibuk di dapur dengan Bi sumi, mereka mulai memasak untuk makan siang, Fitri juga nampak membantu mereka.


"Mbak Fitri istirahat saja! Jangan di dapur terus!" ujar Bi Sumi memperingatkan, karena Dicky sudah wanti-wanti agak Fitri tidak banyak beraktifitas.


"Biarkan saja Fitri di dapur lah Bi, orang lagi hamil jangan malas! Nanti susah lahiran tau!" cetus Bu Eni.


"Tapi Bu, Pak Dokter sudah bilang kalau Mbak Fitri jangan terlalu banyak melakukan kegiatan, karena ..." Bi Sumi menghentikan ucapannya saat di lihatnya Fitri menempelkan telunjuknya ke bibirnya.


"Biasa lah Bu, Mas Dicky memang suka berlebihan!" tukas Fitri cepat.


"Beruntungnya kamu Fit, dapat laki-laki macam kayak Dicky, memperlakukanmu seperti Tuan Putri, tidak seperti Bapakmu, tiap pulang dari sawah bukannya bawa oleh-oleh malah minta pijit, atau di kerok, dasar aki-aki kurang romantis!" sungut Bi Eni.

__ADS_1


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bel dari pintu depan.


Fitri langsung berjalan perlahan ke arah pintu, karena Bi Sumi terlihat sedang tanggung memasak.


Hari ini matanya sudah agak mendingan, sudah tidak seburam waktu itu, mungkin karena melihat pemandangan indah milik Dicky, atau faktor yang lain.


Perlahan Fitri mulai membuka pintu rumahnya itu.


Matanya sedikit membulat saat melihat di hadapannya, berdiri Dio sedang menggendong Chika.


"Pak Dio?" Fitri menatap heran kearah Dio dan putrinya.


"Bu Fitri, kami sudah tiba di Jakarta, tapi aku harus menemani Ranti di rumah sakit, kondisinya masih koma, bisakah aku menitipkan Chika sementara di sini?" tanya Dio.


Fitri tertegun mendengar permohonan Dio, dia bingung harus menjawab apa.


"Maaf Pak Dio, saya harus ijin dulu ke Mas Dicky suami saya, saya tidak bisa mengambil keputusan sendirian!" ujar Fitri.


"Tapi orang tua ku sedang sakit-sakitan, tidak mungkin juga aku menitipkan Chika pada mereka. Sedangkan keluarga Ranti ada di luar kota!" ungkap Dio.


"Tapi Pak ..."


"Siapa Fit?" tanya Bu Eni yang tiba-tiba menyusul Fitri itu.


"Eh, ini Bu, Pak Dio ingin menitipkan Chika anaknya di sini, karena Mamanya sedang sakit keras!" jelas Fitri.


"Eh Pak, dengar ya, rumah ini bukan tempat penitipan anak, bapak cari saja di luar sana, jasa penitipan anak, kenapa harus kesini?? Memangnya rumah mantu saya ini panti asuhan??" sengit Bu Eni.


Dio hanya termangu mendengar ucapan dari Bu Eni itu.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2