Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Telepon Dari Kampung


__ADS_3

Siang itu setelah memeriksa pasien yang sejak pagi mengantri, Dicky nampak menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya, rasanya capek juga kerja nonstop tanpa ada jeda waktu istirahat, karena pasien yang datang silih berganti.


"Masih ada waktu satu jam Dok, kita bisa istirahat!" kata suster Wina yang mulai membuka bekal makan siangnya.


"Lho Sus, kenapa bawa bekal? Makan saja di dalam, Bi Sumi juga masak lebih setiap hari, kan aku sudah bilang, kau boleh makan free di rumahku!" ujar Dicky.


"Tidak apa-apa Dok, nanti kalau saya kelupaan bawa bekal, saya baru makan di dalam, tidak enak saya numpang makan terus!" tukas Wina.


"Siapa bilang numpang, itu fasilitas dari aku, mulai besok kau tidak perlu repot membawa bekal lagi, aku masih sanggup kalau hanya memberikanmu jatah makan di rumahku!" tegas Dicky.


"Baik Dok!" sahut Wina.


"Ada berapa jumlah pasien dari tadi pagi sampai siang ini Sus?" tanya Dicky.


"Di catatan saya ada 250 pasien Dok!" sahut Wina.


"Oya, banyak juga ya, padahal baru beberapa jam, apalagi sampai malam nanti, pantas saja aku lelah!" ujar Dicky.


"Oya Dok, saya dengar, Dokter tadi berhasil membubarkan demo di rumah sakit, saya salut sama Dokter!" puji Wina.


"Sebenarnya mereka itu hanya butuh di dengarkan dan di perhatikan, tapi kadang kita begitu sibuk, pelayanan terbaik itu adalah mendengarkan setiap keluhan mereka, walau tak ada solusi, mereka tetap puas!" ungkap Dicky.


"Dokter benar, saya banyak belajar dari Dokter, mudah-mudahan Dokter yang masih tinggal bisa belajar juga dari dokter Dicky!" ucap Wina.


Terdengar suara mesin mobil yang di kendarai Mang Salim terparkir di garasi depan rumah.


Fitri, Dina dan Dara baru pulang dari sekolah, Dicky langsung berjalan menghampiri mereka.


"Sudah pulang Fit?!" tanya Dicky yang langsung memeluk Fitri yang baru pulang itu.


"Iya Mas, sudah makan siang?"


"Belum, nungguin anak istri!" sahut Dicky.


"Yuk masuk, kita makan sama-sama ya, Alex mana?" tanya Fitri sambil mengandeng tangan Dicky masuk ke dalam.


"Alex baru tidur setelah tadi minum susu!" jawab Dicky.


Mereka langsung duduk mengelilingi meja makan itu, Dina dan Dara yang sudah berganti pakaian juga duduk bergabung di meja itu.


Mereka mulai menyantap makan siang mereka.

__ADS_1


"Suster Wina mana? Kenapa kau tidak mengajaknya makan Mas?" tanya Fitri.


"Dia sudah bawa bekal, mungkin besok-besok dia makan disini bersama kita!" sahut Dicky.


"Gimana kabar rumah sakit? Kau tau Mas, sepanjang mengajar tadi aku kepikiran terus lho!"


"Semuanya aman terkendali, mungkin aku akan mencoba mentraining para dokter baru dan muda untuk belajar bagaimana menangani pasien dengan hati!" ungkap Dicky.


Kring ... Kring ... Kring ...


Terdengar suara telepon rumah di meja sudut dekat ruangan itu.


Bi Sumi nampak berjalan untuk mengangkat telepon.


Tak lama kemudian Bi Sumi mendekati Meja makan tempat Dicky dan keluarganya makan bersama.


"Mbak Fitri, ada telepon dari Bu Eni!" kata Bi Sumi.


"Dari Ibu??"


"Iya Mbak, tuh Bu Eni masih menunggu di sebrang!" jawab Bi Sumi.


Tanpa menunggu lagi, Fitri langsung beranjak dari tempatnya menuju ke meja telepon dan mengangkat telepon yang masih menyala itu.


"Fitri? Ibu tadi menelepon ke ponselmu, tapi tidak kau angkat-angkat, Ibu telepon ke rumah Bu Sultan, kata pembantunya kalian sudah pindah ke rumah lama, apa terjadi Fit?" tanya Bu Eni.


"Panjang ceritanya Bu, tapi yang pasti kami baik-baik saja!" jawab Fitri.


"Fit, kapan kamu pulang kampung? Bapak mu sakit Fit, asmanya kambuh!" kata Bu Eni.


"Bapak sakit?? Bu, besok kan hari Jumat, nanti sepulang mengajar di sekolah aku langsung ke sana ya Bu!" ujar Fitri cemas.


"Sepulang mengajar?? Memangnya kau mengajar lagi?? Kenapa Fit, apa kalian sedang ada masalah dengan si Bu Sultan itu??" tanya Bu Eni bernada khawatir.


"Tidak Bu, sudahlah, pokoknya besok siang aku langsung berangkat dari sini, sampaikan salam ku sama Bapak ya Bu, aku kangen!" ucap Fitri sebelum menutup teleponnya.


Fitri menarik nafas panjang, dia harus menutup teleponnya, atau ibunya akan bertanya lebih detail terhadapnya.


Fitri kemudian berjalan kembali ke meja makan. Dicky masih duduk menunggunya, sementara Dina dan Dara sudah selesai makan dan masuk kedalam kamar mereka.


"Ada kabar apa Fit?" tanya Dicky.

__ADS_1


"Bapak sakit Mas, besok sepulang ngajar aku langsung ke Sukabumi ya?" pinta Fitri.


"Baiklah, aku akan mengantarmu!" sahut Dicky.


"Jangan Mas, biar Mang Salim yang mengantar aku, Mas Dicky kan harus melayani pasien, apalagi pasien Mas Dicky bertambah banyak, jangan mengecewakan mereka!" sergah Fitri.


"Tapi Fit ..."


"Klinik ini masih baru, tunjukan profesional Mas Dicky melalui konsisten dalam menangani pasien, aku tidak apa-apa pulang kampung sendirian, lagi pula di sini kan ada Bi Sumi, Dina dan Dara, aku hanya membawa Alex saja kok!" ungkap Fitri.


"Berapa lama kau akan pergi Fit?" tanya Dicky.


"Paling lama dua hari Mas, tapi aku usahakan pulang lebih cepat, aku sudah lama juga tidak pulang kampung!" jawab Fitri.


Dicky terdiam, dia tidak tau apakah dia bisa tidur tanpa Fitri ada di sampingnya, selama ini hanya Fitri yang selalu mendengarkan setiap keluhannya dan bisa terus memuaskan hasratnya.


"Kenapa kau diam Mas?" tanya Fitri yang bingung melihat ekspresi suaminya itu.


"Aku takut Fit ..."


"Kau takut apa Mas?"


"Aku takut tidak bisa menahan rindu!"


"Jangan khawatir Mas, kita bisa bertemu lewat virtual, aku akan sering menelepon mu!" jawab Fitri.


"Tapi ..."


"Aku hanya sebentar Mas, aku harus menengok orang tuaku, kenapa kau begitu khawatir??" Fitri mengelus pipi suaminya itu.


"Entahlah Fit ..."


"Mas ... kalau kau Seperi ini aku jadi berat meninggalkanmu, sudahlah sayang, aku tidak lama kok!" ucap Fitri.


"Baiklah, walaupun kau milikku, tapi kau tetap milik ke dua orang tuamu, aku tidak boleh egois!" sahut Dicky akhirnya.


"Terimakasih Mas, sudah jam dua, kembalilah ke klinik, mana tau ada pasien yang datang dan sudah mengantri lagi!" kata Fitri.


Dicky menganggukan kepalanya dan beranjak kembali ke klinik yang ada di depan rumahnya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2