
Rama segera turun dari motor dan memeluk teman masa kecilnya itu. Sebenarnya Marcell belum pergi dari sana, sehingga menyaksikan laki-laki itu memeluk Riana. Namun hanya sebentar saja, sebelum kemudian Marcell memutuskan untuk pergi dari sana. Melaporkan apa yang dilihatnya kepada Raihan? Entahlah, Marcell merasa jika itu bukanlah urusannya.
"Udah ya Ri nangisnya. Malu di lihatin banyak orang." Rama mencoba menghentikan tangis Riana dengan gurauannya itu. Entah bagaimana pandangan orang mengamati dirinya serta Riana, ia tidak ingin pedulikan.
Riana menarik napas dalam, mencoba menyurutkan air matanya, ia kemudian melepaskan pelukannya itu. "Malu banget ih di lihatin banyak orang." Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Rama jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian.
Rama hanya terkekeh, padahal ia tidak terlalu pedulikan pandangan orang-orang yang berlalu lalang. "Ya udah, naik ke motor. Nanti nangisnya di lanjutin lagi." Rama kemudian berjalan ke arah motornya terparkir.
"Udah nggak mood nangis lagi kali." Riana menggerutu sembari mengikuti Rama.
Rama memberikan helm untuk dikenakan oleh Riana. Ia yang sudah menaiki motornya memperhatikan Riana melalui kaca spion, bibirnya tersenyum tipis, ternyata sekian lama mereka tidak bertemu, Riana masih saja cengeng.
Begitu Riana sudah duduk di belakangnya, Rama segera meninggalkan tempat itu dan berlalu entah kemana. Yang pasti jalan saja lebih dulu, biasanya Riana akan memberitahu tujuannya ingin kemana. Antara pulang ke rumah atau menuju suatu tempat untuk wanita itu berkeluh kesah padanya.
Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan untuk memecah keheningan di antara mereka. Hingga kemudian Riana melihat sebuah tempat makan yang menyediakan makanan sederhana kesukaannya.
"Ram, aku laper. Berhenti di depan sana."
Pandangan Rama mencoba mendelik ke arah tujuan Riana. "Iya...." sahutnya namun suaranya itu teredam oleh angin serta mulutnya tertutup oleh helm.
Rama menepikan motornya di antara jajaran motor lain yang terparkir di rumah makan tersebut. Keduanya duduk di tempat yang masih tersedia, mereka memesan pilihan makanan masing-masing. Selama menunggu pesanan, Riana masih saja diam, tidak ingin memberitahu Rama penyebab dirinya itu menangis.
__ADS_1
Pesanan pun datang, mereka makan dengan tenang tanpa diselingi percakapan. Ternyata Riana masih tidak kunjung bercerita dan Rama tidak mempermasalahkannya. Ia akan welcome jika Riana ingin bercerita padanya, akan tetapi ia tidak akan memaksa jika temannya itu belum siap untuk bercerita.
Usai mengakhiri makan siang mereka, keduanya memutuskan segera pergi dari sana. Riana membuka suara, namun masih enggan membahas permasalahanya dengan Raihan. Baginya itu adalah sebuah aib, mana mungkin ia menceritakan alasannya bertemu dengan Raihan.
"Ri, besok-besok kalau mau ketemu Raihan, jangan lupa ajak aku." Suara Raihan bersahutan dengan suara angin tetapi masih dapat di dengar oleh Riana.
"Hm, iya...." Riana hanya mengiyakan saja. Entahlah, ia belum terpikirkan untuk bertemu dengan Raihan lagi.
Tidak ada percakapan kembali hingga perjalanan mereka harus diakhiri, sebab mereka sudah tiba di depan rumah Riana. Wanita itu segera turun dari motor, ia melepaskan helm dan mengembalikannya kepada Rama.
"Mampir dulu ya Ram. Mama pasti seneng deh lihat kamu lagi." Riana bukan sekedar berbasi-basi menawarkan Rama untuk singgah sejenak. Wanita itu ingin Rama bertemu dengan Mama Linda setelah sekian lama Rama tidak berkunjung ke rumahnya.
"Iya Ri." Rama tentu semangat. Jika saja Raihan tidak melarang Riana untuk berhubungan dengannya, pasti sudah sejak lama ia bersilaturahmi dengan Mama Linda.
Buru-buru Mama Linda membukakan pintu untuk putrinya itu. "Ri, kamu udah pulang?" serunya menyambut dengan mengulas senyum, hingga kemudian matanya beralih pada sosok laki-laki yang menjulang tinggi, namun merasa tidak asing. "Loh Rama ya?" Seketika raut wajah Mama Linda berubah sumringah saat mengetahui sosok laki-laki itu adalah teman baik putrinya sedari kecil.
"Iya Mi." Rama menyahut, lalu menyalami tangan Mama Linda dengan mencium punggung tangannya. Rama memang sangat sopan, tidak heran jika Mama Linda nampak menyukai laki-laki itu. Rama terbiasa memanggil Mama Linda dengan sebutan Mami, entah apa yang membuat laki-laki itu memanggil demikian. Namun karena sudah terbiasa dengan panggilan itu sehingga tidak dipermasalahkan oleh Mama Linda.
"Ayo masuk." Mama Linda mempersilahkan Riana dan Rama untuk masuk ke dalam. Lalu menggiring teman putrinya itu untuk duduk. "Duh, udah lama banget ya kamu nggak main kesini." Mama Linda turut membenamkan tubuhnya di sofa panjang, bersisian dengan Riana.
"Iya Mi, Rama fokus kerja dan kelarin kuliah. Jadi nggak sempet main ke rumah." Rama berdusta, ia tidak ingin membuka permasalahan yang membuat hubungannya dengan Riana merenggang. Selama beberapa tahun ini ia memang bekerja sembari menyelesaikan studinya. Ia yang terhambat biaya kuliah, memutuskan bekerja terlebih dahulu dan menabung untuk membiayai kuliahnya. Tidak heran jika Rama baru mendapatkan gelar sarjana satu tahun yang lalu.
__ADS_1
"Oh gitu, Mami kira kamu udah nggak mau main kesini lagi karena Riri udah ada pacar. Coba kalau dulu kamu sering main kesini, kamu bisa ketemu dan berteman juga sama Raihan, tapi sayangnya mereka udah nggak sama-sama lagi." Mama Linda mencoba menyematkan senyumnya, meski tersimpan kekecewaan karena berakhirnya hubungan putrinya dengan Raihan.
Riana hanya diam mengamati percakapan Mamanya dengan teman masa kecilnya itu. Ia tersenyum kecut karena lagi-lagi Mama Linda membicarakan Raihan. Riana tahu jika selama ini Mama Linda masih belum dapat mengikhlaskan kandasnya hubungan mereka. Terlebih Mamanya itu sering kali membangga-banggakan mantan menantunya itu. Jika saja Mama Linda mengetahui sifat asli Raihan yang sebenarnya, sudah pasti Mama Linda turut membenci laki-laki yang sudah melukai putrinya dengan begitu dalam. Riana masih menyimpan rapat-rapat keburukan Raihan, ia hanya tidak ingin membuat Mamanya itu shock mendapati sebuah fakta mengenai kelakuan Raihan.
"Iya Mi. Rama belum ada kesempatan kenal sama Raihan. Sayang banget ya Mi." Dalam hati, Rama mengumpati laki-laki itu. Mana mungkin ia mendapatkan kesempatan mengenal laki-laki berengsek itu. Berhubungan kembali dengan Riana saja ketika Riana sudah putus dengan laki-laki itu.
"Ma, nggak usah bahas Raihan lagi." Entahlah, mood Riana kembali rusak mendengar nama mantan tunangannya itu.
"Iya.... iyaa... maaf ya." Mama Linda mencoba memahami perasaan putrinya itu. Ia melemparkan senyum kepada Rama ketika pandangan mereka bertemu. "Ya udah, Mama tinggal ke dapur dulu ya."
Riana dan Rama serempak mengiyakan. Kemudian Rama melirik Riana yang menekuk wajahnya. "Ri, besok temenin nonton ya. Ada film baru, aku nggak ada temen yang bisa di ajak nonton bareng."
Mendengar permintaan Rama, kedua mata Riana menukik tajam. "Kamu sih jomblo. Sana cari pacar lagi," ujarnya mengejek.
Rama hanya terkekeh mendengarnya. "Kamu juga harus move on. Sana cari pacar lagi." Dan membalikan kalimat Riana, sehingga membuat bibir wanita itu mencebik sebal.
Bersambung
...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...