
Melihat Ken yang begitu rapuh dan terpuruk, membuat Dicky menjadi kasihan terhadap laki-laki itu.
Apalagi Ken juga bukan berasal dari keluarga yang harmonis, orang tuanya berpisah negara, ayahnya ada di Jepang, sedangkan ibunya ada di Indonesia.
Ken mencari pelampiasan dan kesenangan di luar tanpa bimbingan dan arahan orang yang lebih tua, maka wajar saja jikalau Ken seringkali bertindak seenaknya, tanpa memikirkan resiko yang harus dihadapi, termasuk bermain dengan banyak wanita.
Dicky sebenarnya enggan mengurusi sepupunya itu, apalagi Ken sudah pernah mengecewakan banyak orang, karena telah membatalkan pernikahannya sendiri secara sepihak, dan membuat malu keluarga.
Namun sebagai seorang Dokter, Dicky harus bertindak objektif, dia harus adil terhadap orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk pada Ken sepupunya.
Perlahan Dicky kembali melangkah mendekati Ken, dan duduk di bangku yang ada di kamar tamu itu.
"Ken, tapi kau harus berjanji, jangan lagi mengulangi kebiasaan buruk mu itu, setelah ini kau harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik!" ujar Dicky.
"Iya Bang, aku janji, aku sangat menyesal, telah menyia-nyiakan Dinda, dan aku juga sudah kapok, bergaul dengan banyak wanita!" sahut Ken.
Dicky menganggukan kepalanya, apalagi di wajah Ken terlihat ada penyesalan, tidak seharusnya Dicky menutup kesempatan untuk memberikan Ken maaf dan pengampunan.
"Baiklah, menurut saranku, kau tetaplah berobat pada Dokter Bella, dia Dokrer yang cukup handal untuk bidangnya, apalagi, penyakit yang kau derita saat ini baru gejala awal, dan masih bisa untuk di sembuhkan!" ucap Dicky.
"Jadi, aku tidak perlu mencari Dokter yang bagus untuk penyakitku ini?" tanya Ken.
"Kau pikir Dokter Bella tidak bagus? Dokter yang bekerja di rumah sakitku adalah Dokter yang telah melewati berbagai proses, jadi di jamin bagus dan ahli, kau jangan khawatir!" jawab Dicky.
"Baiklah kalau begitu Bang, nanti aku akan datang lagi dan berkonsultasi dengan Dokter Bella!" ujar Ken.
"Ya sudah, sekarang kau mandi dan ganti pakaianmu, setelah itu kau boleh sarapan di meja makan, lalu kau bisa pulang ke rumahmu!" kata Dicky.
"Trimakasih Bang Dicky! Trimakasih!" ucap Ken sambil menciumi tangan Dicky.
Kemudian Dicky segera berdiri dan keluar dari kamar itu.
Di ruang makan, Fitri dan anak-anaknya nampak sudah duduk bersiap akan sarapan bersama.
"Good Morning Papa Dicky, ayo sini duduk, makan sama-sama kita, Papa dari mana sih, sejak pagi menghilang dari kamar!" kata Fitri.
Dicky berjalan mendekati meja makan besar itu, lalu duduk bergabung dengan mereka.
"Tadi aku dari kamar Ken, mengobrol banyak dengan dia!" jawab Dicky sambil mencomot pisang goreng yang ada di atas meja makan itu.
__ADS_1
"Lalu di mana orangnya? Kenapa dia tidak sarapan sama-sama di sini?" tanya Fitri.
"Dia sedang mandi, paling nanti setelah mandi dia akan datang kesini, karena aku menyuruhnya sarapan dulu sebelum pulang!" jawab Dicky.
"Kasihan juga si Ken ya Pa, selama ini jarang ada orang yang menasehatinya, dia jatuh sendirian, sakit sendirian, sementara orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka, Ken nyaris terabaikan!" ucap Fitri.
"Kau benar Fit, dari Ken kita bisa belajar, kalau uang tidak bisa menyelamatkan kita dan mengubah kita menjadi baik, hanya diri sendiri dan lingkungan yang akan mengubah kita, sudahlah, aku juga sudah banyak menasehatinya!" ujar Dicky.
****
Hari ini Dicky sengaja tidak pergi ke rumah sakit, dia ingin menghabiskan waktunya di rumah bersama dengan istri dan anak-anaknya.
Apalagi belakangan Dicky selalu terlihat sibuk, karena banyaknya urusan yang ada di rumah sakit.
Walaupun kini Dicky sudah bebas praktek, namun dia masih tetap membuka konsultasi pada semua pasiennya.
"Papa! Hari Jumat Minggu depan aku bagi rapot lho, pokoknya Papa dan Mama harus datang!" kata Alex yang berjalan ke arahnya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Oya? Alex sudah mau bagi rapot? cepat sekali, kira-kira anak Papa bisa naik tidak ya ke TK?" tanya Dicky sambil mengambil Alex dalam pangkuannya.
"Iya dong Pa! Kata Ibu guru aku kan anak pintar!" sahut Alex bangga.
"Sempit Dek! Kamu sama Mama saja biar adil!" kata Alex sambil mendorong Alena.
"Mau sama Papa!" ucap Alena.
"Sudah sudah, semuanya Papa pangku, Mama juga lagi sibuk buat makanan kita!" sergah Dicky.
Mereka kemudian mulai bermain bersama di ruang keluarga itu, Dicky benar-benar sangat menikmati waktu spesial bersama dengan anak-anaknya itu.
Tak lama kemudian, Fitri muncul di ruangan itu, sambil membawa satu piring cemilan untuk mereka.
Alex dan Alena langsung berlari, lalu duduk dan mulai memakan aneka kue yang Fitri siapkan biar mereka.
"Pa, kata Anita, Ibu kangen sama Alex dan Alena, liburan akhir tahun ini kita ke Jogjakarta ya?!" ajak Fitri.
"Iya Pa, aku mau main di rumahnya Reino! Kata Reino, dia punya peliharaan kucing dan kelinci yang lucu!" sambung Alex.
"Aku mau! Aku mau!" seru Alena bersemangat.
__ADS_1
"Oke, nanti setelah Alex ambil rapot, kita liburan ke Jogjakarta ya!" ujar Dicky.
"Horeee!!!" Anak-anak bersorak gembira.
"Lalu ada berita bagus lagi, calon adiknya Reino ternyata kembar, jadi nanti Reino akan punya adik kembar!" lanjut Fitri.
"Wah, Reino pasti senang, kalau aku adikku cuma satu, nakal lagi!" cetus Alex.
"Hush, Kak Alex jangan bilang begitu, Alena kan sayang sama Kak Alex!" sergah Gitri.
"Iya sih, tapi ..." Alex menghentikan ucapannya.
"Sudah sana, lebih baik ajak Alena main di taman, supaya kalian kena matahari, jangan main di dalam terus!" ujar Fitri cepat.
Alex menganggukan kepalanya, kemudian dia segera menggandeng tangan Alena, dan mereka pun berlarian ke taman samping rumah mereka.
Dicky sejak tadi diam saja sambil membaca buku yang ada di ruangan itu.
Fitri langsung beringsut duduk di samping suaminya itu.
"Pa, nanti kita ke Jogjakarta rencana mau naik apa? Alena sangat ingin sekali naik kereta api katanya!" tanya Fitri.
"Naik apa saja boleh!" sahut Dicky.
"Oya Pa, nanti kalau Anita sudah laporan, dia langsung punya anak tiga lho, hebat juga ya, bisa kembar begitu calon bayinya!" ujar Fitri.
"Hmm, si Kampret sudah berani mengalahkan aku!" gumam Dicky.
"Mengalahkan apa sih Pa? Memangnya Kalian sedang bersaing?!" tanya Fitri.
"Anakku saja baru dua, dia bahkan mau tiga, itu kan mengalahkan aku namanya!" sahut Dicky.
Fitri tertawa mendengar ucapan suaminya itu.
"Ya elah, gitu saja kok pakai iri segala sih!" ujar Fitri.
"Makanya, kita harus gempur tiap malam supaya bisa mengalahkan di kampret itu! Aku tak rela dia punya lebih banyak anak dari pada aku!" sungut Dicky.
Fitri hanya tertawa geli melihat ekspresi suaminya itu, kalau sedang berhubungan dengan iparnya.
__ADS_1
Bersambung....