Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Siapa Perempuan Itu?


__ADS_3

Seolah tercekat sesuatu di kerongkongannya, Riana kesulitan untuk bersuara. Bahkan ia berusaha tetap pada kesadarannya ketika kalimat yang seperti ribuan jarum menghantam jantungnya.


"Rai, a-apa maksud kamu? Kamu jangan bercanda." Bibir Riana bergetar saat mengatakannya, ia berharap jika Raihan hanya bergurau atau sedang mengerjai dirinya saja.


"Maaf..." Kalimat itu yang mampu Raihan katakan kepada Riana. "Kamu jaga diri ya," imbuhnya kemudian.


"Rai.... tapi-"


Belum sempat Riana bicara, sambungan teleponnya sudah diputus secara sepihak oleh Raihan. "Raaaiii.... hallo Raii... kamu pasti bercanda 'kan Raiii?!"


Namun wanita itu tetap bicara meskipun Raihan tidak dapat mendengarnya di seberang sana. Air mata Riana meluruh, sungguh dadanya merasakan sesak. Ponsel yang di genggamnya tergelincir di atas kasur, seolah tenaganya menipis hanya untuk menggenggam ponselnya.


"Aku mau kita break dulu."


"Jangan ganggu aku lagi."


"Maaf..."


Dan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Raihan seperti audio yang terus berputar-putar di kepalanya.


"Kamu pasti bercanda Rai, nggak mungkin kamu tega sama aku. Kita nggak ada masalah apapun Rai. Kamu pasti bercanda, iya kamu pasti bercanda." Riana terus meracau dengan asumsinya sendiri. Ia menyakinkan diri bahwa Raihan tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Kalau kamu sibuk, aku nggak akan ganggu, jadi kamu nggak perlu bicara kayak gitu." Berbeda dengan bibir dan kata hatinya. Meskipun bibirnya terus bergumam jika semuanya akan baik-baik saja, tetapi air mata yang menganak sungai itu sudah mewakili hatinya yang merasakan seperti tertusuk belati, perih.

__ADS_1


Riana kemudian merebahkan dirinya, ia terisak dalam sepi. Berusaha memahami kekasihnya itu tetapi ternyata hanya dirinya yang memahami saja tidak cukup. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu, sehingga dapat berujar hal yang sedemikian menyakiti perasaan dan hatinya.


"Kamu jahat Rai..." Dalam tangisnya, Riana mengumpat Raihan berulang kali. Selama ini ia berusaha untuk menjadi kekasih yang baik, tidak banyak menuntut meskipun sikapnya terkesan manja. Tapi dengan mudahnya laki-laki itu mengucapkan kata break di saat hubungan mereka baik-baik saja dan mulai ke jenjang yang lebih serius, yaitu bertunangan.


***


Selama dua minggu terakhir ini, Riana mencoba menghubungi kembali nomor ponsel Raihan. Ia berharap jika Raihan sudah dapat dihubungi setelah ia menuruti laki-laki itu untuk tidak mengganggunya. Namun nomor ponsel Raihan tetap berada diluar jangkauan. Riana pun tidak menyerah, ia juga mencoba menghubungi nomor yang terakhir kali digunakan Raihan untuk menghubunginya dan hasilnya tetap sama. Hanya suara operator yang terdengar di seberang sana.


"Kamu kenapa sih Rai?" Ya, Riana butuh penjelasan. Jika Raihan memang meminta mereka untuk break dulu, tentu ia menginginkan sebuah kejelasan. Tidak mungkin tidak ada alasan yang mampu membuat Raihan berkata demikian.


"Ri...." Sella yang datang menghampiri menepuk bahu Riana. Ia terkejut karena lagi-lagi mendapati mata Riana yang mengembun dan siap ditumpahkan. "Are you okay, Ri?"


"I'm not okay, Sell." Dan pertahanan Riana runtuh, wanita itu tidak dapat berkata baik-baik saja seperti sebelumnya. Karena pada kenyataannya hatinya sangat tidak baik-baik saja.


"Nangis sampai puas Ri. Setelah itu nggak usah mikirin Raihan lagi. Dia terlalu bodoh buat perempuan sebaik kamu."


"Tapi Sell." Suara Riana sesegukan di dalam dekapan Sella. "Aku nggak tau salah apa, seharusnya dia bilang kalau aku ada salah. Jangan tiba-tiba menghilang setelah ngucapin kata break. Bukannya break itu nggak ada bedanya sama kayak putus. Apa dia pikir hubungan kita sejauh ini cuma main-main aja?" Dan Riana meluapkan isi hatinya. Karena saat ini hanya Sella-lah yang mau mendengarkan curahan hatinya. Sebelumnya Riana sudah menceritakan permasalahannya kepada kedua sahabatnya dan Reaksi mereka tentu terkejut. Mereka juga ingin bertemu untuk menghibur Riana di akhir pekan.


Tangan Sella terulur naik turun untuk mengusap punggung Riana yang bergetar karena terisak. Ia membiarkan wanita yang sudah satu tahun ini menjadi temannya menumpahkan rasa sesak dan kesedihannya kepadanya. Tentu ia tidak merasa keberatan sedikitpun.


"Kamu pasti bisa ngejalaninnya Ri," lirihnya bergumam. Apa yang dirasakan oleh Riana, Sella turut merasakan kesakitan yang tengah dirasakan oleh temannya itu. Terlebih hubungan mereka sudah berjalan selama 7 tahun lamanya. Tentu sosok Raihan selama ini sudah menjadi sesuatu yang berharga bagi Riana, sehingga kehadirannya seperti suatu kebiasaan untuk menyambut hari-hari temannya itu.


Namun sudah satu bulan berlalu, benar-benar tidak ada kabar dari Raihan. Laki-laki itu tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di depan Riana. Bahkan Riana pernah mengunjungi gedung West dimana Raihan berada di divisi tersebut. Namun yang ia dengar jika Raihan sedang berada ke luar kota selama satu minggu.

__ADS_1


"Jadi kamu serius benar-benar mau break Rai?" Riana hanya mampu melihat potret dirinya bersama Raihan. Setidaknya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa rindunya kepada laki-laki itu.


"Apa benar yang diucapin sama Dinara Rai, kalau kamu udah pasti selingkuh?" Satu minggu yang lalu kedua temannya itu mengunjungi apartemennya. Dan kedatangan mereka tentu membuat Riana tidak merasa kesepian. Mereka bisa memberikan hiburan untuk Riana dengan lelucon receh tentunya.


Dan celetukan Dinara saat mengatakan jika laki-laki yang memutuskan hubungan secara sepihak sudah pasti mereka telah berselingkuh. Kini perkataan itu berdengung di dalam otaknya, sebelumnya ia pernah berpikir demikian, tetapi ia berusaha untuk menepisnya dan tetap pada percaya kepada cinta Raihan untuknya.


Namun bagaimana pun dirinya tetap meyakinkan diri, rasa curiga itu terpatri begitu saja di dalam hatinya. Membenarkan pada sebuah satu keyakinan bahwa Raihan telah berselingkuh sehingga begitu tega menyakitinya.


Riana kemudian memutuskan untuk membuka media sosialnya yang sudah lama tidak pernah ia buka. Karena Raihan tidak begitu menyukai jika Riana aktif dalam dunia maya. Ia yang kala itu menjadi kekasih yang penurut, hanya mengangguk patuh layaknya sebuah boneka yang harus mematuhi setiap ucapan Raihan.


Tidak. Sekarang tidak lagi. Ia pun harus mencari tahu mengenai Raihan. Feelingnya mengatakan jika Raihan benar-benar menjalin hubungan dengan wanita lain. Terlebih sikapnya yang tiba-tiba menghilang itu sudah cukup mewakili kecurigaannya.


Riana membuka laptop miliknya, ia membuka media sosial yang sempat ia nonaktifkan. Satu persatu ia mencoba mengetik nama Raihan di daftar pencarian. Matanya bergulir saat tidak menemukan nama Raihan, ia hanya melihat satu nama teman Raihan saat mereka kuliah dan saat ini satu perusahaan dengan mereka dan tentunya satu divisi dengan Raihan.


Riana mulai melihat akun profil yang diberi nama Aldy Sapororo. Seketika matanya membulat penuh ketika melihat satu tag yang mengarah kepada satu akun bernama NewR_raihan. Tangannya mendadak bergetar hebat ketika melihat foto akun tersebut seperti wajah Raihan, tunangannya. Dan yang membuat jantungnya mendadak berhenti berdetak ketika mendapati foto profil itu benar-benar Raihan yang sedang merangkul seorang wanita cantik dan status lelaki itu berpacaran dengan Anggun Shelimar.


Siapa perempuan itu, Rai?


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2