
Pagi itu di ruangannya, Dicky masih menunggu pasien sambil membaca catatan rekam medis pasiennya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Dicky tersenyum saat melihat Fitri yang meneleponnya pagi ini.
"Halo sayang, masa baru berapa jam berpisah sudah kangen sama Mas Dicky?" tanya Dicky menggoda.
"Dih Mas Dicky, aku cuma mau tanya Mas, kita jadi tidak siang ini belanja keperluan Dedek?" tanya Fitri balik.
"Oh, aku pikir kau sudah kangen padaku Fit, Nanti siang jadi kok sayang, nanti aku langsung jemput ya dari rumah sakit!" jawab Dicky.
"Baik Mas, aku tunggu ya nanti siang!" ujar Fitri senang sebelum menutup teleponnya.
Suster Wina tiba-tiba mendekati Dicky.
"Dokter Dicky, ada yang ingin bertemu anda!" kata Suster Wina.
"Langsung suruh dia masuk Sus, mumpung belum ada pasien!" sahut Dicky.
Tak lama kemudian seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan Dicky.
"Hai Dicky, apa kabar?!" tanya laki-laki itu yang ternyata adalah Adi, sang pengacara teman Dicky sesama di panti.
"Wah, Adi, ayo duduk!" sahut Dicky mempersilahkan.
Adi lalu segera duduk di hadapan Dicky. Kemudian dia mengeluarkan berkas dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya di hadapan Dicky.
"Ini surat adopsi kedua anak angkatmu, sekarang kau jangan khawatir, semuanya lengkap legalitasnya!" jelas Adi.
"Thanks Adi, kerjamu memang oke dan mantap!" sahut Dicky senang.
"Kau terlalu memuji Dicky, aku bahkan belum apa-apa, tidak sehebat dirimu!" ujar Adi.
"Semua orang hebat dalam bidangnya masing-masing, Oya, bagaimana hubunganmu dengan Bu Sita? Kapan kalian akan menikah?" tanya Dicky.
"Doakan saja Dicky, entah mengapa dalam perjalanan, aku merasa ada yang aneh dengan Sita, mulanya dia sangat baik dan perhatian, tapi dia seperti menyimpan suatu ambisi yang entah untuk apa!" ungkap Adi.
"Ambisi? Apa maksudmu?" tanya Dicky bingung.
"Dia selalu memamerkan aku di depan teman-temannya, seolah-olah dia hebat bisa mendapatkan seorang pengacara, padahal menurutku biasa saja, terus terang aku sangat risih!" lanjut Adi.
"Adi, kau harus banyak pertimbangan sebelum menyesal, pernikahan itu sakral, jangan sampai kalian ada masalah kelak di kemudian hari!" ujar Dicky.
"Iya Dicky, sementara ini aku masih menjajaki dia dulu,sampai aku merasa cocok dengannya, makanya aku tidak mau terburu-buru menikahinya!" jelas Adi.
__ADS_1
"Bagus Adi, sebaiknya memang kau harus mengenal dia luar dalam, kalau perlu kau selidiki latar belakangnya!" tambah Dicky.
"Siap Dicky, kalau begitu aku pamit, pasienmu pasti sudah menunggu di luar!" ujar Adi sambil beranjak bangkit dari duduknya.
"Sekali lagi terimakasih Di!" seru Dicky. Adi tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya, lalu dia segera keluar dari ruangan itu.
****
Siang itu Dicky di temani Mang Salim pulang ke rumah untuk menjemput Fitri.
Tak lama setelah mereka sampai rumah, Fitri nampak sudah menunggu di teras.
"Kita langsung jalan Fit?" tanya Dicky.
"Ayo Mas, langsung saja, aku sudah pamit kok sama orang rumah!" jawab Fitri semangat.
"Oke sayang, Ayo Mang Salim, langsung ke mall ya!" titah Dicky.
"Siap Pak Dokter!" sahut Mang Salim yang langsung melajukan mobilnya keluar lagi dari rumah itu, lalu langsung menuju ke sebuah mall yang terdekat.
Wajah Fitri nampak senang dan berbinar-binar, dia membayangkan apa yang mau di belinya nanti, membeli perlengkapan bayi adalah impian semua ibu di dunia ini.
"Mas Dicky kapan berangkat ke Papua?" tanya Fitri.
"Rencana berapa hari di sana Mas?" tanya Fitri lagi.
"Paling cuma sehari Fit, tapi kalau kau bilang tidak, Mas tidak akan berangkat!" jawab Dicky.
"Sebenarnya aku berat Mas, apalagi aku lagi hamil begini, tapi kasihan juga Ranti Mas, katanya dia kan kritis!" ucap Fitri.
"Yah, aku lihat di akun media sosial nya Dio, Ranti memang saat ini hanya berbaring tanpa bisa melakukan apa-apa lagi, mungkin tinggal menunggu waktu!" jawab Dicky.
"Mas ..."
"Ya?"
"Kalau begitu, aku ikut ya ke Papua? Aku juga ingin melihat keadaan Ranti, walau bagaimanapun dia pernah melakukan kesalahan dan kejahatan di masa lalunya, saat ini dia pasti sangat butuh dukungan!" ucap Fitri.
"Nah, begitu dong Fit, aku juga butuh kau mendampingi aku, tapi kau harus pastikan kesehatan kandunganmu, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu!" ujar Dicky.
"Iya Mas, tenang saja!" sahut Fitri.
Mereka kemudian sudah sampai di mall yang di maksud, mereka lalu langsung menuju ke toko yang menyediakan perlengkapan bayi.
__ADS_1
Dengan semangat dan antusias Fitri segera memilih perlengkapan calon bayinya, mulai dari tempat tidur bayi, stroller, pakaian dan sepatu bayi, semuanya nampak lucu dan mungil.
"Wah, kita sudah terlalu banyak membeli Mas!" kata Fitri yang melihat trolinya sudah penuh terisi barang dan perlengkapan bayi.
"Beli sekalian yang banyak Fit, kau tak perlu risau memikirkan biayanya, dia kan calon anakku!" bisik Dicky.
"Iya Mas, tapi ini sudah berlebihan Mas, aku rasa sudah cukup, semua keperluan Dedek sudah terpenuhi semua!" ucap Fitri.
"Kau yakin ini sudah komplit Fit? Coba kau lihat lagi, apa yang masih kurang?" tanya Dicky.
"Sudah Mas, semua yang di catatan aku sudah komplit, bahkan apa yang tidak tercatat malah di beli!" sahut Fitri.
"Baiklah sayang, Mas bayar dulu ya!" Dicky kemudian berjalan ke arah kasir, dia membayar semua belanjaannya dengan uang cash.
Barang-barang besar seperti tempat tidur bayi mulai di angkat dari gudang penyimpanan.
Karyawan toko itu lalu memanggul barang-barang yang Dicky dan Fitri beli untuk di masukan kedalam mobil.
Pada saat mereka turun ke parkiran, secara tak sengaja tempat tidur bayi yang terbuat dari kayu jati dan besi terlepas dari panggulan karyawan toko itu.
Benda besar itu jatuh dan mengenai kepala Fitri yang berjalan di depan mereka di bawah tangga.
Fitri meringis sambil memegangi kepalanya, Sementara Dicky begitu terkejut.
"Fitri!! Kau tidak apa-apa sayang!!" tanya Dicky panik. Fitri menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mas, cuma pusing sedikit!" sahut Fitri.
"Maaf Bu, maaf, saya tidak sengaja!" ucap karyawan toko itu.
Dicky melotot ke arahnya.
"Dasar bodoh!! Kau telah membuat istriku kesakitan!! Awas saja kau, aku akan laporkan pada bos mu!" dengus Dicky.
"Ampun Pak! Saya sungguh tidak sengaja!" ujar karyawan itu dengan wajah ketakutan.
"Sudahlah Mas, hanya kepalaku yang sakit, yang penting perutku tidak apa-apa kan!" sergah Fitri.
Setelah semua barang di masukan ke dalam mobil, Mang Salim langsung melajukan mobil itu keluar dari mall itu.
"Kita ke rumah sakit Mang!" titah Dicky.
"Kita langsung pulang saja Mas, aku tidak apa-apa, hanya terbentur sedikit, tuh lihat, tidak berdarah kan?" tukas Fitri sambil menunjuk bagian kepalanya.
__ADS_1
****