Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Harta Yang Paling Berharga


__ADS_3

Dicky dan Fitri terkesiap saat tiba di rumahnya, suasana rumah nampak ramai.


Ada mobil polisi yang terparkir, warga yang berkerumun karena ingin tahu, juga para pejabat setempat yang nampak duduk berkumpul di dalam rumah itu.


Dicky menuntun Fitri masuk menerobos kerumunan orang-orang yang berdiri di depan rumahnya.


"Mama!!" Dina dan Dara berlari menghambur memeluk Fitri, juga Dicky.


Bi Sumi nampak masih shock saat beberapa orang polisi mewawancarainya.


"Apa yang terjadi di rumah Mas? Kenapa ramai sekali di sini?" tanya Fitri.


"Kau tenang sayang, yang penting semua anggota rumah ini selamat, itu yang lebih penting!" Jawab Dicky.


Fitri hanya menganggukkan kepalanya, lagi pula dia juga tidak terlalu jelas melihat, membuat kepalanya agak pusing.


Dicky duduk di tuang tamu itu sambil terus menggenggam tangan Fitri yang duduk di sebelahnya.


"Selamat siang Pak Dokter, subuh tadi di rumah anda telah terjadi kasus perampokan, beberapa barang berharga anda hilang, kamar anda juga di bobol dengan paksa, kendaraan bermotor dan dua unit mobil hilang di bawa perampok itu!" jelas sang polisi.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi?? Siapa pelaku perampokan itu?" tanya Dicky.


"Menurut saksi mata, perampoknya tidak di kenali, berjumlah lebih dari dua orang, mereka memakai topeng sehingga sulit untuk di kenali!" jawab Sang polisi.


"Bibi juga kaget Pak Dokter, pas Bibi baru bangun tiba-tiba langsung di sekap di kamar, tangan kaki di ikat dan mulut juga di sumpal!" tambah Bi Sumi.


"Berhubung Pak dokter baru pulang dari bepergian jauh, sebaiknya Pak Dokter dan istri istirahat dulu sambil menghitung jumlah kerugian akibat perampokan ini, nanti segera laporkan pada kami, saat ini pelakunya sedang kami kejar!" ucap Pak Polisi.


"Baik Pak, terimakasih atas kerjasamanya!" balas Dicky sambil menjabat tangan Pak polisi yang akan segera pamit itu.


Setelah polisi pergi, kerumunan warga juga sudah bubar, Pak Salim yang masih terlihat shock langsung menutup pintu gerbang rumah itu.


Sementara Dina dan Dara masih duduk menempel pada Fitri karena kejadian yang menimpanya itu, membuat kedua anak itu takut dan trauma.


"Kalian tenang saja, Mama dan Papa sudah pulang, kalian aman sekarang!" ucap Dicky sambil mengelus rambut keduanya.

__ADS_1


"Iya, sekarang kalian istirahat saja dulu, jangan takut lagi, mereka tidak akan datang lagi!" tambah Fitri.


"Papa dan Mama punya banyak hadiah untuk kalian, jadi jangan takut ya, yang penting kalian semua selamat, itu yang lebih utama dari pada harta yang hilang!" ucap Dicky seraya menyodorkan dua paper bag besar ke arah Dina dan Dara.


Kedua anak itu nampak senang, mereka lalu segera beranjak masuk ke dalam kamar mereka.


"Bi Sumi juga istirahat di kamar ya, tenangkan pikiran Bibi!" kata Dicky.


"Tapi Pak Dokter, Bibi belum masak ini, gara-gara kejadian tadi, maafin Bibi ya!" ucap Bi Sumi.


"Hari ini tidak usah memikirkan masak memasak Bi, nanti aku pesankan makanan lewat online untuk kita semua, aku juga menyuruh Mang Salim untuk istirahat dan tenangkan pikiran, jangan takut, masalah perampok itu sudah di tangani oleh polisi, kita tinggal tunggu kabar saja!" ujar Dicky.


"Terimakasih Pak Dokter!" ucap Bi Sumi yang langsung berdiri dan beranjak ke kamarnya.


Di ruang itu, hanya tinggal Dicky dan Fitri yang duduk.


"Mas, semua orang kelihatan sedih dan shock dengan kejadian perampokan di rumah kita, kenapa kau kelihatan tenang-tenang saja?" tanya Fitri.


"Kau mau tau jawabannya Fit?" tanya Dicky balik. Fitri menganggukan kepalanya.


"Ah Mas Dicky, kata-katamu selalu menenangkan dan menyejukkan hati, Trimakasih ya Mas!" ucap Fitri.


"Terimakasih untuk apa sayang?" tanya Dicky.


"Untuk semua yang sudah Mas lakukan untuk aku dan keluarga ini!" jawab Fitri.


"Hmm, ya ya ... sekarang ayo kita istirahat Fit, setelah ini aku akan memesan makanan enak untuk kalian semua!" ujar Dicky sambil kembali menggendong Fitri menuju ke kamar mereka.


"Mas, mobil kita hilang, semua perhiasan di dalam lemari aku juga hilang Mas, semua laptop dan barang berharga lainnya juga hilang!" kata Fitri saat sampai di kamarnya dan membuka lemarinya.


"Sudahlah sayang, kan kita bisa membelinya lagi, lagi pula tidak semua harta di simpan di rumah, aku selalu menyimpan uang gajiku di bank, jadi aman, kau jangan khawatir!" ucap Dicky sambil mulai memesan makanan enak dari sebuah aplikasi di ponselnya.


"Tapi barang yang hilang di rumah ini banyak sekali Mas, aku kasihan padamu, capek-capek bekerja keras, malah di rampok seenaknya, aku tidak rela!" ujar Fitri.


Dicky tertawa mendengar ucapan Fitri dengan wajah cemberut, kemudian tanpa menunggu Dicky langsung mengangkat Fitri ke atas tempat tidur dan langsung menciumnya, Dicky mulai melepaskan pakaiannya sendiri, terlihat dada bidangnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu. Seluruh tubuh Fitri meremang seketika.

__ADS_1


"Kau baru boleh bersedih saat kehilangan aku sayang, sudah! Jangan pikirkan barang yang hilang, lebih baik berikan Mas Dicky mu ini servis yang memuaskan!" bisik Dicky sambil mulai mencumbu Fitri.


"Mas Dicky Ah! Baru juga kita sampai rumah, sudah mau berbuat mesum lagi!" sungut Fitri.


"Ayolah Fit, lagi pengen ini, masa tega sama Mas yang lagi pusing menahan hasrat, ayolah sayang ... mumpung semua orang sedang tidur!" rayu Dicky.


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bel dari pintu depan.


"Hmm, siapa sih yang bertamu? Mengganggu kesenangan orang saja!" sungut Dicky.


"Coba buka pintunya dulu Mas, mana tau penting, Bi Sumi kan sedang tidur, pak Salim juga, mereka pasti masih Shock!" ujar Dicky.


"Masa sih baru aku pesan, makanan sudah datang, cepat sekali!" gumam Dicky.


"Makanya coba di lihat dulu Mas!" kata Fitri.


"Oke lah, aku lihat siapa yang datang, kau tunggu disini ya sayang, jangan beranjak sedikitpun, hasratku masih belum tuntas ini!" ujar Dicky.


"Iya iya, sudah sana Mas, aku tunggu di sini!" sahut Fitri.


Dengan sedikit kesal Dicky lalu mulai berpakaian, kemudian dia keluar dari kamarnya, lalu berjalan ke arah pintu depan.


Saat Dicky membuka pintu depan, matanya sedikit terbelalak melihat siapa yang datang.


"Pak Hardi??" tanya Dicky kaget.


"Selamat sore Pak Dokter, Dina dan Dara apa sudah siap belajar? Maaf beberapa hari waktu itu saya tidak bisa datang karena sedang kurang sehat, makanya saya datang hari ini!" ujar Pak Hardi.


Dicky menatap tajam ke arah Pak Hardi yang berpenampilan seperti biasanya, memakai jaket dan kaca mata hitam, dengan rambut gondrongnya dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Bagaimana Pak Dokter?" tanya Pak Hardi yang membuyarkan lamunan Dicky.


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2