
Setelah selesai menikmati santapan lezat dan beberapa makanan khas daerah Nusantara, Dicky dan Fitri kemudian naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada Dimas dan Mia.
Mereka bagaikan raja dan Ratu dalam kerajaan di ruangan itu.
"Dim, selamat ya! Akhirnya kau tidak jadi jomblo ngenes lagi!" ucap Dicky sambil memeluk sahabatnya itu.
"Thank you Bro! Mana? Katanya kau mau jadi orang pertama yang datang di pestaku!" protes Dimas.
"Tadi aku memang datang duluan, tapi siapa sangka akan terjadi insiden di toilet!" gumam Dicky.
"Insiden apa??" tanya Dimas bingung.
"Ah, sudahlah, tidak penting juga!"
"Dokter Mia, Dokter Dimas, selamat ya, akhirnya hari yang di nanti tiba juga!" ucap Fitri sambil menjabat tangan keduanya.
"Trimaksih Fit, mana si kecil? Kenapa tidak kau ajak?" tanya Mia.
"Alex sedang bermain di rumah, kata Mas Dicky jangan membawa bayi di pesta resepsi!" jawab Fitri.
"Ah, Dicky saja kau dengarkan, dia itu hanya tidak ingin di ganggu anaknya!" ujar Dimas.
"Eh, Fit, kenapa hari ini aku melihatmu di mana-mana ya, tadi saat aku baru datang, ada kamu yang sedang mengantar karangan bunga, kau tega sekali Dicky, kenapa menyuruh istrimu sendiri mengantar karangan bunga kesini?? Apa kau sudah sebangkrut itu??" tanya Mia.
"Sembarangan! Mana mungkin aku menyuruh istriku mengantar karangan bunga! Aku sudah gila apa?!" sahut Dicky.
"Lah, kalau bukan Fitri lalu siapa dong?? Setan?!" cetus Dimas.
"Sudah! Sudah! Mentang-mentang pengantin baru, omongan kalian melantur saja!" sungut Dicky.
"Ayo Mas, kita turun, tuh antrian di belakang sudah panjang!" colek Fitri sambil menunjuk ke arah belakang, sudah banyak yang mengantri untuk bersalaman dengan mempelai.
"Dicky, nanti sore aku telepon ya, ada yang mau aku tanya!" kata Dimas.
"Dim, kalau kau mau tanya malam pertama, kau cari saja di internet, dia lebih jago dari pada aku!" bisik Dicky.
"Ayo ah Mas!" Fitri segera menarik tangan suaminya itu agar segera turun.
"Tuh kan benar Fit, Dimas pasti akan menanyakan aku soal malam pertama hehehe!" ujar Dicky terkekeh.
"Lalu kenapa? Kau bangga gitu? Merasa jago??" tanya Fitri cemberut.
"Bukan gitu Fit, hanya membuktikan saja kalau aku ini pejantan tangguh, dan patut untuk di tiru!" bisik Dicky.
Fitri lalu menarik tangan Dicky untuk kembali duduk di tempatnya semula, alunan musik menambah suasana romantis siang itu, para tamu semakin banyak yang berdatangan.
"Mas, katanya kau mau datang menemui Ibumu!" ucap Fitri.
__ADS_1
"Iya Fit, tapi entah mengapa hatiku menjadi bingung, aku tidak tau harus berkata apa pada Ibu!" balas Dicky.
"Mas, masa begitu saja kau bingung, tanya kabar kek, apa kek!"
"Aku takut ..."
"Apa yang kau takutkan Mas?" tanya Fitri.
"Aku takut Ibu akan memintaku kembali untuk tinggal bersamanya, aku takut hatiku jadi iba dan luluh!" jawab Dicky.
"Mas, sudahlah ... tidak pantas kalau saat melihatnya kau tidak datang menemuinya, ayo Mas, mumpung dia masih ada di sini!" desak Fitri.
Akhirnya Dicky menuruti keinginan istrinya itu.
Walaupun sesungguhnya ada yang Dicky takutkan jika dia bertemu dengan Ibunya.
Kemudian mereka berjalan ke arah ruang khusus VIP yang ada di sudut ruangan besar itu.
Bu Anjani nampak tersenyum saat melihat kedatangan putranya itu.
"Dicky ... akhirnya kau datang juga menemui Ibu!" kata Bu Anjani dengan wajah berbinar.
"Ibu apa kabar? Sehat kan?" tanya Dicky.
"Seperti yang kau lihat Nak, walaupun Ibu sudah bisa berjalan sedikit-sedikit, namun masih pincang dan belum sempurna!" jawab Bu Anjani.
"Ibu sabar saja, nanti juga pasti akan pulih!" ucap Dicky.
"Fitri, Ibu minta maaf ya, benar-benar Ibu minta maaf ... sudah pernah melukai hatimu!" ucap Bu Anjani.
"Iya Bu, jangan minta maaf terus, aku sudah memaafkan Ibu!" jawab Fitri.
"Fitri, bujuklah suamimu agar dia mau kembali tinggal bersama Ibu, di rumah besar itu, Ibu begitu kesepian, tidak ada siapapun, hanya Mbok Jum dan beberapa orang pembantu, Ibu kesepian Fit!" mohon Bu Anjani.
Fitri terdiam, dia baru menyadari mengapa suaminya enggan menemui ibunya, apalagi Dicky adalah tipikal orang yang lembut, tidak tega melihat ada air mata yang keluar.
"Kau ajaklah semua keluargamu yang lain untuk tinggal bersama ibu, lagi pula Ibu sangat merindukan Alex, Ibu kangen Fit, kangen sekali!" Bu Anjani mulai menitikan air matanya.
Fitri menggenggam tangan Bu Anjani dengan hangat dan erat.
"Maafkan aku Bu, semua keputusan ada di tangan Mas Dicky, hanya dia yang berhak memutuskan untuk tinggal dimana, Ibu tanyakan langsung saja pada Mas Dicky!" ucap Fitri.
Bu Anjani kemudian menoleh ke arah Dicky.
"Bagaimana Nak? Istrimu sudah setuju Kau kembali tinggal bersama Ibu, sekarang keputusan ada di tanganmu Dicky, kalau kau ingin buka klinik, kau bisa bangun di depan rumah besar itu!" mohon Bu Anjani.
"Maafkan aku Bu, untuk saat ini aku belum bisa memenuhi keinginan Ibu, aku sudah berkomitmen, untuk membahagiakan keluargaku!" ucap Dicky.
__ADS_1
"Apakah di rumah Ibu kau tidak bahagia?!" tanya Bu Anjani sambil mengusap air matanya.
"Bahagia Bu, tapi ... ijinkan aku merajut rumah tanggaku sendiri, nanti kapan-kapan kami pasti akan mengunjungi Ibu, Ibu akan bertemu dengan Alex cucu Ibu!" ungkap Dicky.
Ada guratan kekecewaan di wajah Bu Anjani, semua usahanya untuk membujuk Dicky sia-sia, Dicky tetap tak bergeming dengan keputusannya.
Mbok Jum beringsut datang mendekati mereka.
"Maaf Nyonya, sepertinya kita harus pulang sekarang, Nyonya kan harus minum obat, supir sudah menunggu di pintu utama Lobby hotel!" kata Mbok Jum.
"Baik Mbok, kita pulang sekarang!" sahut Bu Anjani.
Bu Anjani segera berdiri dari tempatnya, dengan jalan sedikit pincang.
Tiba-tiba Dicky berjongkok di hadapan Bu Anjani.
"Ayo Bu, naik ke punggungku, aku akan gendong Ibu sampai di depan lobby!" ucap Dicky.
Bu Anjani terperangah, padahal hatinya baru kecewa mendengar penolakan Dicky untuk kembali tinggal di rumahnya.
"Tidak usah Dicky ..." sergah Bu Anjani.
"Ayo Bu, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk berbakti Pada Ibu!" kata Dicky.
Akhirnya perlahan Bu Anjani mulai naik ke punggung Dicky, ada rasa hangat dan nyaman yang Bu Anjani rasakan dalam hatinya.
Dicky mulai berjalan perlahan melewati para tamu undangan yang masih banyak sambil menggendong Ibunya di punggungnya.
Banyak orang-orang yang berdesas-desus membicarakannya.
"Kau lihat Mia, walaupun aku tau Dicky dulu begitu kecewa terhadap Ibunya, semua fasilitasnya di cabut, tapi dia malah menggendong Ibunya sekarang!" Bisik Dimas pada Mia yang kini telah menjadi istrinya.
"Itu kan Dokter Dicky, yang waktu itu keluar dari rumah sakit dan meninggalkan rumah Ibunya, dia masih mau saja menggendong Ibunya itu!" kata salah seorang tamu undangan.
"Ah, andai saja aku punya anak seperti dia, betapa bangganya aku!" ucap seorang tamu yang terlihat sudah sepuh.
Dicky terus berjalan tanpa memperdulikan gunjingan orang terhadapnya, sementara Fitri juga terus berjalan mengikuti di belakangnya.
Bersambung ....
****
Halo guys...
Mampir yuk di novel terbaru author.
"Permadani Cinta"
__ADS_1
Kisah yang berbeda, terinspirasi dari kisah nyata.
Tetap dukung Author yaa...