Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Fakta Yang Terungkap


__ADS_3

Beberapa saat lamanya, suasana di ruangan itu berubah menjadi suasana Haru.


Kakek Cipto menangis sambil memeluk Dicky, selama ini, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Dicky cucunya, anak dari Pak Rahmat Pradita dan ibu Anjani.


Karena Pak Rahmat Pradita sudah terlebih dahulu meninggal pada saat Dicky baru dilahirkan ke dunia.


Dicky juga sama sekali tidak menyangka, bahwa kedatangannya ke Jogjakarta, seperti sebuah petunjuk dari Tuhan, sehingga terkuak sebuah kebenaran yang selama ini tertutup, dan tidak ada yang tahu termasuk Donny.


Dicky juga harus menerima kenyataan kalau Donny itu adalah saudara satu kakek dengannya, mereka sama-sama memiliki kakek yang sama walaupun dengan nenek yang berbeda.


"Jadi, kau benar putranya Rahmat anakku? Jadi kau adalah cucuku dari anakku Rahmat?" tanya kakek Cipto, sambil memegang kedua pipi Dicky dengan tangannya.


"Benar kek, Kalau Pak Rahmat Pradita itu adalah anak kakek, berarti aku adalah cucu kakek, aku sendiri belum pernah bertemu dengan ayahku, Karena dia sudah keburu meninggal tak lama setelah aku dilahirkan, dan aku bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk bertemu dengan kakek!" jawab Dicky sambil menangis.


Tiba-tiba Alex maju mendekati Dicky dan kakek Cipto yang sedang bertangisan sambil saling berpelukan itu.


"Jadi kakek itu kakeknya papa? berarti kakek itu adalah Kakek buyutku, sama seperti Reno!" tanya Alex sambil menunjuk ke arah kakek Cipto.


"Siapa anak pintar ini?" tanya kakek Cipto.


"Dia adalah Alex Kek, Putra sulungku!" jawab Dicky.


"Oalah, buyutku to, ayo sini dekat sama kakek buyut, Rasanya senang sekali ternyata anak cucuku memang banyak!" ucap Kakek Cipto sambil menarik Alex ke dalam pelukannya.


Setelah mereka saling berpelukan dengan rasa haru, mereka kembali duduk di ruang tamu.


Wajah kakek Cipto nampak berbinar, dia sama sekali tidak menyangka kalau kedatangan Donny kerumahnya dengan membawa keluarganya, akan mempertemukan dia dengan cucunya yang selama ini dia tidak pernah lihat.


"Aku tidak menyangka dokter, kalau ternyata kakekku dan kakek mu adalah orang yang sama, itu berarti kita bersaudara!" ucap Donny.


"Yah, mau bagaimana lagi? Takdirku memang selalu berjodoh denganmu kampret!" sahut Dicky.


"Sebagai tanda ucapan syukur, malam tahun baru nanti, aku mengundang kalian semua cucu-cucu dan buyutku, berkumpul disini untuk makan malam bersama, sekalian kita bakar-bakar, kakek akan menyediakan semuanya, dari ikan, udang, cumi-cumi, semua dari tambak kakek, kalian tak usah khawatir!" ucap kakek Cipto.


"Wah asik sekali! Memangnya Kakek punya peternakan ikan dan udang?!" tanya Dicky.


"Kau jangan salah dokter, kakek Cipto ini punya tambak terbesar se kota Semarang, bahkan semua hasil tambak itu, diolah menjadi makanan yang toko-tokonya sudah tersebar banyak di Indonesia, jadi walaupun kakek itu tidak bekerja, dia sudah pasif income dari hasil tambaknya itu!" jelas Donny.


"Wah, liburan kali ini, adalah liburan yang paling berkesan dan menyenangkan! dan akan selalu dikenang sepanjang sejarah!" ujar Fitri yang sedari tadi diam saja.


"Iya Fit, tidak menyangka ya, kalau suami kita itu ternyata masih ada hubungan saudara, memang dunia ini begitu sempit, dulu aku juga tidak menyangka, kalau aku punya keluarga, benar kata orang, kalau keajaiban itu itu selalu datang, dan akan menemukan caranya untuk menyingkapkan kebenaran!" timpal Anita.


Tanpa terasa, mereka mengobrol hingga hari jauh malam, Alena sudah nampak tertidur di pangkuan Dicky, sementara Alex dan Reino juga terlihat sudah menguap beberapa kali.


"Kakek, Sepertinya kita mengobrol sudah sangat lama sekali di sini, sampai tak terasa sudah tengah malam! Kami mohon pamit kek, sampai bertemu di malam tahun baru nanti!" pamit Donny.


"Ya ya, kalian pulang lah, hari ini kakek senang sekali, Dicky pokoknya malam tahun baru nanti, kakek ingin mengobrol banyak denganmu, kakek akan ceritakan masa lalu ayahmu!" ucap kakek Cipto.


"Siap kakek! Sampai bertemu nanti di malam tahun baru!" jawab Dicky.

__ADS_1


Mereka kemudian mulai beranjak dari tempatnya, dan melangkah keluar, kearah dimana mobil mereka terparkir.


Dicky nampak menggendong Alena yang sudah tertidur sejak tadi, mereka langsung masuk ke dalam mobil mereka, dan Donny segera melajukan mobilnya itu, kembali ke tempat kediamannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, saat mereka sampai di tempat kediaman Donny.


Mereka lalu menuju ke kamar mereka masing-masing, untuk beristirahat. Dicky meletakkan Alena di tempat tidur besar itu, malam ini mereka akan tidur bertiga dalam satu kamar ini, sementara Alex tidur dengan Reino.


"Papa Dicky, aku masih tidak percaya kalau kau dan Pak Donny itu bersaudara!" ucap Fitri sambil mengganti pakaiannya.


"Aku juga tidak menyangka, akan bersaudara dengan si kampret! Tapi tak masalah, yang penting aku tidak sama kampretnya dengan dia!" sahut Dicky sambil mulai membaringkan tubuhnya di samping Alena.


"Pa, kau kan bersaudara dengan Pak Donny, kau juga saudara ipar dengan dia, apa kau tidak ingin mengubah panggilanmu padanya?" tanya Fitri.


"Untuk apa diubah? Toh semua orang juga tahu kalau aku memang memanggil dia kampret, bahkan Reino juga tahu kalau Kampret Itu adalah Batman!" sahut Dicky.


"Memangnya Apa susahnya sih, memanggil Pak Donny nama saja, tanpa ada embel-embel kampret segala?!" tanya Fitri lagi.


"Ya susah lah Ma, ini lidah bawaannya selalu kepeleset Panggil kampret, tidak bisa diluruskan lagi memanggil namanya, lagi pula aku alergi jika aku menyebut namanya!" jawab Dicky.


"Bicara dengan Papa Dicky tidak pernah menang, selalu kalah! Terserah Papa deh, mau panggil dia apa!" cetus Fitri sambil memeluk gulingnya dan membelakangi Dicky karena kesal.


"Tapi jangan pakai marah juga kali! Masa cuma gara-gara panggilan saja, kau jadi cuekin aku sih Ma?" tanya Dicky.


"Bawaan bayi!" sahut Fitri.


****


Sementara Fitri terlihat di dapur bersama Anita, Bi Sumi dan Mbok Jum, menyiapkan sarapan untuk mereka.


Rumah Donny memiliki pekarangan yang luas, cocok untuk berolahraga pagi, sekedar jogging dan mengelilingi daerah itu.


Pada saat Dicky sedang berolahraga ringan, Donny juga ada disitu sedang berolahraga pagi.


"Hai dokter, rupanya kau suka berolahraga juga!" sapa Donny.


"Kau lupa kalau aku ini adalah dokter, yang selalu menjaga kesehatan diri sendiri, supaya tetap fit dan stamina juga kuat!" jawab Dicky.


"Sekuat apapun stamina, tetap saja aku yang berhasil membuat bayi kembar dalam rahim Anita, dan kalau Bayiku lahir nanti, otomatis aku sudah menyaingimu memiliki 3 anak!" ujar Donny.


"Jangan sombong dulu! Saat ini di rahim istriku juga ada benihku, dan saat Bayiku lahir nanti aku juga memiliki 3 anak!" sahut Dicky tak mau kalah.


"Wah kalau begitu benar-benar saingan berat! Aku tidak menyangka Fitri akan bisa hamil lagi secepat itu!" ujar Donny.


"Iya kan tergantung benihnya, kalau benihnya subur dan tokcer, dijamin deh sekali senggol langsung jadi, seperti aku ini! Kalau aku mau, setiap tahun aku juga bisa memiliki anak!" cetus Dicky.


"Memangnya kau pikir benihku kurang tokcer? Tuh buktinya sekali main dapat bayi kembar, Apa namanya kalau bukan double tokcer?!" sahut Donny.


Wajah Dicky memerah, karena tidak bisa menyanggah lagi perkataan Donny.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah dalam rumah Mbok Jum keluar dengan menenteng sebuah tas, sepertinya dia hendak pergi.


"Pak Dokter, saya pamit mau pulang kampung untuk menemui keluarga saya, saya janji nanti sehabis tahun baru saya akan kembali ke tempat ini!" pamit Mbok Jum yang berjalan mendekati Dicky.


"Silakan Mbok, selamat bersenang-senang dengan keluarga Mbok Jum, apa Mbok Jum ada Persediaan uang?" tanya Dicky.


"Oh masih ada Pak Dokter, uang saku yang diberikan Pak Dokter pada saat berangkat liburan belum saya sentuh sama sekali, saya masih memiliki persediaan uang banyak!" jawab Mbok Jum.


"Kalau begitu hati-hati Mbok Jum! Titip salam untuk keluarga tercinta di sana ya!" ucap Dicky sambil Melambaikan tangannya ke arah Mbok Jum yang mulai melangkah pergi ke arah gerbang.


Mbok Jum tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia melangkah lagi menuju ke gerbang depan.


Sebuah taksi sudah menunggunya di sana. Tak lama kemudian Mbok Jum naik kedalam taksi itu, dan taksi itupun segera meluncur meninggalkan rumah Donny.


Tiba-tiba Donny menepuk bahu Dicky dari belakang, sehingga Dicky terkejut dan langsung menoleh kearah Donny.


"Aku jadi ingat masa lalu, pada saat aku hendak menikahi Anita, kamu memberikan aku sejumlah uang, melalui ATM mu, kau banyak membantuku sehingga aku tidak malu di depan mertua!" ucap Donny.


"Aku malah melupakan peristiwa itu, karena pada saat aku membantu orang, aku memang berusaha untuk melupakannya, tanpa mengingat kembali!" sahut Dicky.


"Kenapa begitu?" tanya Donny.


"Karena saat aku menaburkan kebaikan, aku selalu menuliskannya di atas pasir, sehingga dengan mudahnya ombak menghapus tulisan itu, tapi semesta tidak akan pernah melupakan tulisan diatas pasir itu!" jawab Dicky.


"Ah kau terlalu bijak dokter!"


"Asal kau tahu saja kampret! Walaupun aku terlihat kasar di hadapanmu, tapi aku sebenarnya sangat menyayangimu, karena kau adalah saudaraku!" ucap Dicky.


"Kau juga harus tahu, aku tidak pernah keberatan dengan panggilan apapun, karena aku tahu itu adalah panggilan kesayangan mu untukku!" sahut Donny.


Dari arah dalam rumah, di jendela dapur yang besar, Fitri dan Anita mengamat-amati Dicky dan Donny yang nampak sedang berbicara di halaman rumahnya itu.


Mereka nampak akrab sekali, padahal biasanya mereka seperti Musuh bebuyutan.


"Kau lihat itu Ta, suamiku biasanya selalu kesal dan marah-marah terhadap suamimu, tapi kenapa pagi ini mereka tampak begitu akrab? Bahkan saling berpegangan pegangan bahu!" ujar Fitri.


"Iya Fit, apa jangan-jangan karena soal semalam itu ya, kalau ternyata suamimu itu adalah cucu dari kakek Cipto, yang adalah kakek suamiku, jadi rasa persaudaraan mereka semakin erat!" kata Anita.


"Bisa jadi!" sahut Fitri.


Bersambung....


****


Jangan lupa baca dan favoritkan novel terbaru author, yang adalah kisah lanjutan dari cerita ini, Keluarga Dicky akan sering muncul di novel baru itu, dengan cerita yang berbeda ...


Ini visual Dicky yang terakhir... Trimakasih...


__ADS_1


__ADS_2