
Fitri duduk di bangku koridor rumah sakit di samping Bu Eni.
Bu Eni menatap dalam Fitri, menunggu Fitri akan mengungkapkan sesuatu. Dada Fitri mulai berdebar, ini kali pertama dia mengatakan suatu kejujuran yang selama ini di rahasiakan dari Ibu dan Bapaknya.
"Ibu, tapi aku harap Ibu jangan kaget ya, semua itu hanya masa lalu!" ujar Fitri lirih.
"Iya Fit, sekarang cepat cerita ke Ibu, perasaan Ibu mulai tidak enak ini!" sahut Bu Eni tak sabar.
"Sebenarnya ... waktu aku masih menjadi guru relawan di pemukiman kumuh, aku telah di perkosa oleh tiga orang tak di kenal, peristiwa itu sangat menyakitkan dan membuat aku sangat trauma, hingga aku harus di rawat di rumah sakit!" kata Fitri. Bu Eni melotot.
"Apa?? Jadi kau pernah di perkosa Fit? Dengan tiga orang sekaligus??" suara Bu Eni mulai bergetar.
Ibu mana yang tidak shock mendengar anaknya pernah jadi korban pemerkosaan.
"Benar Bu, ada yang mengejutkan lagi, ternyata aku hamil hasil dari pemerkosaan itu, aku makin depresi, rasanya dunia runtuh, aku malu dan merasa kotor, saat itu aku hanya ingin mengakhiri hidupku!" lanjut Fitri.
Bu Eni membulatkan matanya mendengar penuturan Fitri, ada yang menggenang di pelupuk matanya.
Sementara Fitri juga mulai berkaca-kaca, dia kembali teringat akan peristiwa masa lalunya.
"Pada saat aku hendak mengakhiri hidupku, Dokter Dicky datang dan langsung mengatakan ingin menikahiku, tapi aku tau dia hanya ingin menolongku agar aku tidak jadi bunuh diri, bukan karena dia mencintaiku!" lanjut Fitri.
"Jadi, waktu kalian datang untuk meminta restu, kau sudah hamil Fit?" tanya Bu Eni.
Fitri menganggukan kepalanya.
"Iya Bu, setelah kami menikah, kami tidak pernah melakukan hubungan apapun, sampai aku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan bayiku meninggal dalam kandungan!" ucap Fitri menunduk.
Bu Eni lalu memeluk Fitri dengan erat sambil menangis.
"Ya ampun Fit, ada peristiwa sebesar ini kenapa kau tidak cerita pada Ibu? Kau masih menganggap Ibumu masih hidup kan Fit?!" tanya Bu Eni.
"Aku malu Bu! Aku takut! Kalau sampai Ibu dan Bapak tau, kalian pasti terpukul, kalian pasti malu punya anak hamil dari hasil pemerkosaan!" Fitri kembali menangis.
Punggung Fitri berguncang saat dia teringat beberapa waktu lampau, luka yang teramat dalam yang pernah tertoreh dalam hatinya.
"Dicky ... kenapa dia menyelamatkanmu Fit? Tadi kau bilang, kalau dia menikahimu bukan karena cinta!" tanya Bu Eni.
__ADS_1
"Dia menyelamatkan aku karena hatinya yang tulus dan penuh belas kasihan, itulah sebabnya mengapa aku begitu memujanya dan mengaguminya!" jawab Fitri.
"Tapi Ibu lihat, sekarang Dicky mencintaimu Fit!" ujar Bu Eni.
"Yah, karena cintanya telah menutupi luka di hatiku, sekarang Ibu sudah tau semuanya, aku harap Ibu bisa mawas diri, jangan sombong, kalau bukan karena dia, entah bagaimana nasibku sekarang!" ucap Fitri. Bu Eni menganggukan kepalanya dan kembali memeluk Fitri.
"Maafkan Ibu ya Fit, selama ini Ibu salah, Dicky benar-benar malaikat yang dikirim Tuhan untukmu Fit!" Bu Eni kembali menangis.
Seorang suster datang mendekati mereka.
"Bu Fitri ada di sini rupanya, dari tadi Dokter Dicky mencari Bu Fitri, dia mau makan tapi hanya mau Bu Fitri yang menyuapinya, semua suster di buat bingung Bu Fitri!" kata suster itu.
Fitri dan Bu Eni langsung berdiri dan berjalan cepat ke ruangan Dicky.
"Mas Dicky, kau belum makan?" tanya Fitri yang langsung duduk di samping suaminya itu.
"Kau kemana saja dari tadi? Hanya periksa kehamilan mengapa selama ini?" tanya Dicky balik.
"Maaf Mas, tadi aku ngobrol dengan Ibu!" sahut Fitri.
"Nak Dicky, terimakasih ya!" ucap Bu Eni yang tidak kuasa menahan genangan air di matanya.
"Ada apa Bu? Mengapa kau menangis?" tanya Dicky bingung.
"Ibu sudah tau semua tentang peristiwa yang pernah terjadi padaku dulu Mas, sekarang, sudah tidak ada yang perlu kita sembunyikan lagi dari ibu!" jelas Fitri.
"Oalah Bu, aku pikir Ibu kenapa, lupakan saja masa lalu Bu, yang penting aku dan Fitri sudah bahagia sekarang, apalagi sebentar lagi calon cucu Ibu akan lahir!' ucap Dicky.
"Hanya orang yang memiliki hati emas yang sanggup melakukan seperti apa yang kau lakukan pada anakku Nak Dicky!" balas Bu Eni.
"Sudahlah Bu, aku tulus dan ikhlas melakukan semuanya itu, yang penting sekarang, anak Ibu bisa mencintaiku selamanya, itu sudah cukup!" jawab Dicky.
"Kalau semua orang memiliki cinta sepertimu, mungkin tidak akan pernah ada yang namanya luka!" kata Bu Eni.
"Sudah Bu, Ibu istirahat saja, aku mau menyuapi Mas Dicky dulu, kasihan dia sudah lapar dari tadi!" sergah Fitri.
"Kalau begitu Ibu ke kantin dulu ya, mau beli makanan buat Fitri!" ujar Bu Eni yang langsung beranjak meninggalkan Dicky dan Fitri.
__ADS_1
"Ini makanan sudah dingin, kenapa tidak di makan dari tadi Mas Dicky sayang? Kan tanganmu sudah bisa bergerak!" tanya Fitri.
"Untuk apa aku di rawat kalau makan saja sendiri, ayo suapi aku, aku sudah lapar Aaaa ...." Dicky membuka mulutnya lebar-lebar.
Fitri lalu mulai menyuapi Dicky perlahan hingga suapan yang terakhir.
"Hmm, pintarnya suaminya siapa ini!" ucap Fitri sambil membersihkan bibir Dicky dengan tissue.
"Bagaimana kabar Dedek? Dia sudah bisa apa sekarang?" tanya Dicky.
"Bayi kita laki-laki Mas, ini sudah akurat kata Dokter Mia, dia sehat, lincah, juga tampan!" jawab Fitri.
"Pasti tampan seperti aku!" sahut Dicky.
"Percaya diri sekali Papanya!" ujar Fitri.
"Kita lihat saja nanti, kau jangan iri ya kalau bayi kita mirip seperti aku!" kata Dicky.
Fitri tersenyum sambil menatap suaminya yang nampak senang mendengar kabar bayinya itu, dari dalam hatinya tak henti-hentinya dia mengucap syukur memiliki suami seperi Dicky.
Fitri mulai mengelus lembut rambut dan wajah Dicky.
"Hmm, istriku mulai agresif, apa kau sudah tidak sabar menunggu aku pulang ke rumah?" goda Dicky.
"Memangnya kau bisa apa Mas? Sudahlah, luruskan pikiranmu dan sembuh dulu kakimu, berjalan saja kau belum bisa, masih memikirkan hal lain!" cetus Fitri.
"Kau jangan meremehkan aku Fit, kakiku boleh sakit, tapi juniorku akan selalu sehat, apalagi kau selalu membelainya setiap hari hahahaha!!" Dicky tertawa lebar.
Fitri tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, pancaran kebahagiaan jelas terlihat dari wajah Dicky yang kini kemerahan itu, seolah semua rasa sakit sirna seketika.
"Kalau begitu, buktikan sekarang Mas, aku ingin melihatnya!" bisik Fitri dengan senyum menggoda.
"Hmm, kau ingin mengujiku rupanya, jangan di kira aku yang terbaring begini tidak bisa memuaskan istriku, persetan dengan tulang-tulangku yang patah dan retak, let's go Fit! Kita mainkan sekarang!" seru Dicky sambil melemparkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Bersambung ...
****
__ADS_1