
Fitri terhenyak ketika wanita separuh baya yang di lihatnya dan orang-orang memanggilnya Mak Acih itu membanting pintu dengan keras saat Fitri datang ke rumah kontrakannya.
Padahal sebelumnya Fitri sama sekali belum pernah mengenal wanita itu, tapi kenapa dia begitu takut saat melihat Fitri.
Fitri kemudian melangkah meninggalkan rumah kontrakan sederhana itu, dia kemudian duduk di depan sebuah kios sembako, sekedar ingin menanyakan tentang siapa sebenarnya Mak Acih dan Putrinya itu.
"Mbaknya mau ketemu sama Mak Acih atau si Tata?" tanya si Ibu pemilik kios itu.
"Mak Acih kelihatannya tidak suka di datangi tamu, saya langsung di tutupin pintu Bu!" ungkap Fitri.
"Masa sih? Padahal kalau di sini Mak Acih itu orangnya ramah lho, dulu ya setahun lalu sebelum dia sakit paru-paru, dia sering tuh bantuin orang yang mau melahirkan, bayarnya saja seikhlasnya, cuma gara-gara dia sakit, dia jadi tidak ada kerjaan lagi!" jelas si Ibu pemilik kios.
"Memangnya mereka sudah lama ya tinggal di sini?" tanya Fitri.
"Ya mungkin setahun lebih lah, atau dua tahun saya lupa deh, pokoknya si Tata sudah jadi bisu, kata Mak Acih dulu Tata bisa bicara, dia kecelakaan makanya jadi bisu!" jawab Si Ibu.
Tring ... Tring ... Tring
Ada suara panggilan masuk dari ponsel Fitri. Mang Salim sudah meneleponnya.
Di ponsel Fitri juga ada beberapa panggilan tak terjawab dari Dicky.
Fitri kemudian mulai mengusap layar ponselnya itu.
"Halo ..."
"Halo Mbak Fitri, ini saya sudah di depan toko bunga, Mbak Fitri di mana??" tanya Mang Salim.
"Lho, kok cepat sekali Mang?" tanya Fitri balik.
"Anu Mbak, Pak dokter suruh saya langsung jemput Mbak Fitri, tadi dia marah sata saya mengantar Dara tali Mbak Fitri tidak ada!" jawab Mang Salim.
"Ya sudah deh Mang, tunggu sebentar ya, saya jalan ke sana nih!" Fitri lalu menutup ponselnya dan beranjak pergi dari tempat itu setelah berpamitan dengan si Ibu pemilik kios sembako.
Sekitar 10 menit berjalan, Fitri kembali ke jalan raya, mobil yang di kendarai mang Salim nampak sudah menunggunya di depan toko Bunga tempat Fitri turun tadi.
"Dina mana Mang?" tanya Fitri sambil naik ke dalam mobil itu.
"Dina belum pulang Mbak, nanti saya balik lagi saja, yang penting Mbak Fitri pulang duluan saja deh, Pak Dokter sudah uring-urungan itu!" jawab Mang Salim yang langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Mas Dicky selalu saja berlebihan!" gumam Fitri dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
"Mbak Fitri beruntung, punya suami yang sayang sekali dengan Mbak Fitri, Pak dokter itu cuma khawatir sama Mbak Fitri, katanya dia telepon Mbak Fitri tidak angkat-angkat!" kata Mang Salim.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah, klinik nampak sedang sepi, mungkin karena jam istirahat siang, sudah ada tulisan Tutup di pintu kaca klinik itu.
Dicky duduk di depan teras rumahnya menunggu Fitri sambil memangku Alex.
Fitri yang baru turun dari mobil langsung datang menghampiri suaminya itu.
"Dari mana saja kau Fit? Kenapa kau tidak pulang langsung sama Dara tadi??" tanya Dicky dengan tampang juteknya.
Fitri langsung duduk di samping Dicky, dia tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya itu,
Fitri bingung harus mulai dari mana, pasalnya dia sendiri juga tidak mengerti apa tujuannya menyelidiki wanita yang mirip dengannya itu.
"Kenapa kau diam Fit? Tinggal jawab saja kok susah! Kau tau betapa khawatirnya aku, teleponku tidak kau angkat tanpa alasan, pesanku juga tidak kau baca, kau membuatku ..."
Cup!
Fitri langsung membungkam mulut suaminya itu dengan kecupan bibirnya, hanya dengan cara itu Dicky bisa diam tidak bicara lagi.
"Kita lanjutkan di kamar Fit!" bisik Dicky.
"Aku lapar Mas, aku mau makan siang dulu!" sahut Fitri sambil beranjak berdiri dan mengambil Alex dari pangkuan Dicky.
"Fit! Tapi ini tanggung Fit! Bagaimana nasib si junior ini, kau ini Fit! Tanggung jawab Fit!" panggil Dicky.
Namun Fitri terus melangkah menuju ruang makan, perutnya terasa lapar karena sejak tadi Fitri belum makan.
"Masak apa hari ini Bi Sumi?" tanya Alina yang langsung duduk di depan meja makan besar itu.
"Banyak Mbak, ada ikan asam manis, sup jagung dan telur balado, Pak Dokter yang pesan!" jawab Bi Sumi.
Fitri segera mengambil piring makannya, sementara Bi Sumi mengambil Alex dari gendongan Fitri.
"Alex sama Bi Sumi dulu ya, biar Mama makan dulu!" kata Bi Sumi yang berjalan menuju ke taman samping.
Sambil makan Fitri terus teringat tentang Mak Acih yang terlihat begitu takut saat melihatnya.
__ADS_1
Fitri mulai gelisah, dia harus menemukan jawaban dari apa yang menjadi pertanyaan di benaknya selama ini, siapakah Tata yang sebenarnya? Apakah dia ada hubungannya dengan tunangan Pak Donny yang katanya meninggal itu?
Begitu banyak pikiran yang berkecamuk di dalam otak Fitri, hingga dia tak sadar Dicky sudah duduk di sampingnya.
"Kau sedang berpikir apa Fit?" tanya Dicky yang membuyarkan lamunan Fitri.
"Eh, Mas Dicky bikin kaget orang saja! Untung aku tidak jantungan!" sahut Fitri cemberut.
"Fit, kenapa belakangan sikapmu sangat aneh, apa ada yang kau sembunyikan dari aku? Apa kau sudah tak percaya aku lagi Fit?" tanya Dicky.
"Bukan begitu Mas, bagaimana kabar juniormu? Masih tegang tidak?" tanya Fitri mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak biasanya kau begitu perduli dengan juniorku Fit, biasanya mau tegang atau tidak, mau keluar atau tidak, kau tidak pernah ambil pusing!" cetus Dicky.
"Mas Dicky jangan begitu ... "
"Katakanlah padaku Fit, apa yang selama ini mengganggu pikiranmu? Apa kau masih sakit hati pada Ibuku? Atau kau mulai jenuh mengajar di sekolah?" tanya Dicky.
"Bukan itu Mas!" jawab Fitri.
"Lalu apa??"
"Apakah Mas Dicky masih ingat saat di pesta Dimas, ada wanita yang begitu mirip denganku, kau saja hampir tak bisa membedakannya!" kata Fitri.
"Oh, wanita itu ... tapi tetap saja lebih cantik kamu Fit, kamu kan istriku!" sahut Dicky.
"Bukan masalah itu Mas, tapi aku penasaran saja dengan wanita itu, hari ini aku pergi ke toko bunga tempat wanita itu bekerja, kata Agus dia pernah melihat wanita yang mirip aku di toko Bunga!" jelas Fitri.
"Apa?? Agus?? Kau masih bertemu dengan sontoloyo itu Fit??" sengit Dicky.
"Tenang dulu Mas! Waktu aku pulang kampung dia juga pulang kampung, kami ketemu di rumah Ibu, dan dia ..."
"Tuh kan benar! Pantas saja aku waktu itu sangat berat melepas mu pergi! Ternyata kau bertemu dengan sontoloyo itu di kampung tanpa aku tau! Kenapa kau tidak bilang padaku Fit??" potong Dicky cepat.
Fitri menarik nafas panjang, susah juga menjelaskan pada suami yang belakangan ini selalu mudah cemburu.
Bersambung ....
****
__ADS_1