
Hari ini, Dicky dan seisi keluarganya pindah ke tempat Bu Anjani.
Untuk sementara rumah Dicky yang lama di kosongkan.
Wajah seisi keluarga Dicky terlihat murung, mungkin karena mereka terbiasa tinggal di rumah ini, banyak kenangan yang terjadi di rumah ini.
Dicky pun juga demikian, rumah ini adalah rumah hasil dari tabungannya dan kerja kerasnya, di bangun dari setiap tetesan keringatnya.
Bagi Fitri, rumah ini juga yang telah banyak mengubah kehidupannya, dari Fitri yang depresi dan putus asa, menjadi Fitri yang ceria dan bahagia.
Mereka pindah hanya membawa diri dan pakaian mereka saja, semua barang-barang mereka tinggalkan di rumah ini.
"Ayo Fit kita berangkat!" ucap Dicky sambil menggenggam tangan Fitri.
Dari raut wajahnya, sepertinya Fitri masih berat meninggalkan rumah itu.
"Iya Mas!" sahut Fitri sambil melangkah meninggalkan rumah itu.
Bi Sumi juga terlihat murung, dia sudah terbiasa bekerja di rumah itu, baginya rumah itu adalah rumahnya sendiri, sangat nyaman dan tenang dia bekerja di rumah itu.
Sebenarnya Dicky juga berat meninggalkan rumah itu, dia tau semua anggota keluarganya nyaman berada di tempat itu.
Namun dia juga tidak bisa membiarkan Bu Anjani, Ibu kandungnya tinggal sendirian di sebuah rumah besar seorang diri dengan orang seperti Pak Bram, yang terus menggerogotinya secara diam-diam.
Hingga mereka tiba rumah Bu Anjani, Mbok Jum mengantarkan mereka ke kamarnya masing-masing.
Kamar Dicky dan Fitri ada di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Bu Anjani.
Sementara kamar Bi Sumi berada di dekat kamar Mbok Jum.
Kamarnya Dina dan Dara ada di lantai satu, mereka tidur dalam satu kamar, karena kamarnya yang begitu luas, membuat Dara menjadi takut kalau tidur sendiri.
Dicky dan Fitri yang sedang menggendong Alex juga mulai memasuki kamar mereka yg begitu luas, walaupun bangunan rumah itu kelihatan lama dan tua, tapi desain di dalamnya dan nuansa kamarnya terasa baru.
"Mas, kok aku merasa begitu asing ya berada di kamar ini, dari tadi jantungku terus berdebar-debar!" ungkap Fitri sambil terus memegangi lengan suaminya itu.
__ADS_1
"Iya Fit, aku juga, mungkin karena rumah ini juga asing bagi kita, jadi kita tidak terbiasa saja!" sahut Dicky berusaha menenangkan istrinya itu.
Ceklek!
Seseorang telah membuka pintu kamar itu, seorang wanita telah berdiri di hadapan Fitri dan Dicky, sebelumnya mereka tidak pernah mengenal wanita itu.
"Kau pasti Dokter Dicky putranya Bu Anjani kan? Kenalkan, namaku Lina, aku istri dari Pak Bram, tentunya kau sudah kenal kan?" Lina mengulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Dicky.
Kemudian dengan sedikit ragu Dicky menjabat tangan Lina yang terasa dingin itu.
"Ini istriku Fitri dan Alex putraku!" kata Dicky memperkenalkan.
"Yah, aku sudah tau, aku berharap kalian akan betah tinggal di rumah ini, kalau butuh apapun, jangan sungkan meminta bantuan padaku!" ucap Lina.
Kemudian Lina segera membalikan tubuhnya dan keluar dari kamar itu.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Mas, tatapan wanita tadi agak aneh, aku saja sampai merinding!" ucap Fitri.
"Maafkan aku Fit, kalau karena keinginanku membuat kalian tidak nyaman, kalau kalian mau kembali ke rumah lama kita, aku sama sekali tidak keberatan!" kata Dicky.
Fitri kemudian mulai membaringkan Alex di box bayi yang memang sudah di persiapkan sebelumnya.
Bayi mungil itu tampak tenang, mungkin dia berada bersama kedua orang tuanya sehingga tidak rewel.
****
Waktu makan malam tiba, Dicky dan seluruh keluarganya sudah duduk mengelilingi sebuah meja makan yang sangat besar.
Aneka hidangan telah tersedia di meja makan itu, Bu Anjani memiliki banyak pelayan, ada yang bagian masak, laundry, dan membersihkan rumah, masing-masing ada tiga orang, belum lagi di tambah supir dan tukang kebun juga security.
Jadi total yang bekerja di rumah ini ada 16 orang termasuk Mbok Jum.
Setiap pelayan memakai seragam rapi setiap harinya, mereka melayani dengan sepenuh hati, seperti jaman dahulu di istana, pelayan di sini juga sangat santun dan hormat pada majikannya.
__ADS_1
Ketika semua keluarga besar sudah duduk mengelilingi meja makan itu, para pelayan berdiri berjejer, mereka siap kapanpun majikan meminta tolong atau bantuan.
Bu Anjani duduk di paling sudut meja itu kemudian Dicky dan Fitri di sebelah kanannya, di sebelah kirinya Pak Bram bersama Lina istrinya.
Dina dan Dara duduk di sebelah Fitri,di antara Bi Sumi dan Mang Salim, karena terlalu banyak pelayan, Bi Sumi dan Pak Salim di anggap keluarga.
Makan malam pun di mulai, para pelayan menyiapkan piring dan menuangkan makanan di meja makan itu.
Dicky dan Fitri terkesiap, saat melihat perlakuan para pelayan, mereka seperti sudah terbiasa. Bu Anjani nampak seperti ratu di rumah itu, mungkin karena kehidupan masa lalunya yang sangat terhormat.
"Layani Tuan muda dan keluarganya dengan baik! Mulai hari ini mereka akan menjadi Bagian dari keluarga ini!" ujar Bu Anjani.
"Baik Nyonya!" jawab mereka serempak.
Mereka lalu mulai melayani Dicky dan Fitri untuk makan malam, sehingga Dicky dan Fitri merasa canggung karena tidak terbiasa di perlakukan seperti itu.
Bi Sumi dan Mang Salim juga terlihat canggung, biasa mereka melayani sekarang mereka di layani.
Mereka mulai menikmati santap malam mereka, selama makan malam berlangsung tidak ada satupun yang berbicara, semuanya diam dalam keheningan, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu satu sama lain.
"Bram, mulai besok untuk urusan laporan administrasi rumah sakit, aku akan menyerahkan langsung pada Dicky putraku, jadi tugasmu hanya mengawasi lapangan saja!" ujar Bu Anjani tiba-tiba.
Wajah Pak Bram mulai berubah.
"Tapi Mbak, selama ini kan aku yang Mbak percayai untuk memegang kendali rumah sakit itu, kenapa sekarang malah beralih ke Dokter yang bahkan baru saja kita kenal!" tukas Bram.
"Siapa bilang aku baru mengenalnya, dia adalah putraku, sudah sangat lama aku mengenalnya, hanya saja baru saat ini aku mempublikasikannya!" jawab Bu Anjani.
"Tapi ..."
"Kalau kau tidak suka, kau boleh pergi dari tempat ini, toh Mas Rahmat sudah memberikanmu bagian yang sesuai bukan?" jelas Bu Anjani sambil menatap tajam ke arah Bram.
Bram terlihat menunduk tanpa mampu untuk menyanggah lagi.
Bu Anjani benar-benar wanita yang berkharisma.
__ADS_1
Bersambung ...
****