
Fitri masih berdiri menatap wanita yang ada di hadapannya.
Rasanya dia tak percaya pada apa yang dilihatnya, wanita itu seperti sisi lain dari dirinya, bukan saja rupanya yang mirip, bahkan rambut dan wajahnya sangat identik.
Wanita di hadapan Fitri juga terlihat bingung dan terkejut, matanya membulat saat dia melihat Fitri di hadapannya.
Sesaat mereka hanya diam dan saling berpandangan.
"Ma-Maaf, sepertinya kita punya kemiripan, kalau boleh tau, siapa namamu?" tanya Fitri.
Wanita itu diam saja, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Fitri.
"Hei, kenapa diam saja? Setidaknya kita bisa menjalin pertemanan bukan?" tanya Fitri lagi.
Tiba-tiba wanita itu berpaling dan langsung berjalan keluar dari toilet, Fitri hendak mengejarnya namun sedari tadi dia sudah menahan perutnya yang mulas, akhirnya Fitri masuk ke toilet.
Sementara itu, Dicky gelisah mondar mandir di depan toilet, para tamu sudah berdatangan, tadinya Dicky ingin datang lebih awal untuk menggoda Dimas, tapi dia harus menunggu Fitri di toilet.
Saat melihat wanita yang sangat mirip Fitri itu keluar dari toilet, tanpa berpikir Dicky langsung menarik tangannya untuk masuk ke ruangan ballroom yang sudah mulai di padati orang.
"Dasar wanita! Ke toilet saja lama sekali, padahal aku baru saja mau ngecengin Dimas, dan aku tidak mau mengantri untuk makan!" cerocos Dicky.
Wanita itu berusaha melepaskan tangannya dari Dicky, namun Dicky semakin kuat menggenggamnya.
"Kau ini kebiasaan Fit! Bergandengan tangan di depan umum saja malu! Biasakan dong romantis sedikit di depan orang! Tunjukan kalau kita pasangan yang ideal!" ujar Dicky.
Dicky terus menarik tangan wanita itu hingga kini mereka ada di depan pelaminan, tiba-tiba wanita itu menepiskan tangannya dengan kasar, wajahnya merah.
Dicky kemudian menoleh, melihat sesuatu yang aneh pada wanita yang di sangkanya Fitri itu.
"Fit? Sejak kapan kau mengganti gaun mu? Jadi kau tidak suka dengan gaun pemberianku itu? Kenapa tidak kau katakan dari awal Fit? Kenapa dandananmu jadi berubah semua? Jadi kau ke toilet hanya untuk merubah penampilanmu??" tanya Dicky.
Wanita itu diam saja, namun tangannya bergerak sambil menggeleng kan kepalanya.
Dicky mulai merasa ada yang ganjil.
"Kau ini Fitri istriku kan??" tanya Dicky, wanita itu menggelengkan kepalanya.
Perlahan Dicky melepaskan genggaman tangannya.
"Lalu kau siapa?? Di mana Fitri istriku??" tanya Dicky setengah berteriak.
__ADS_1
Beberapa orang menoleh ke arah mereka.
Setelah Dicky melepaskan tangannya, dengan cepat wanita itu kabur dan berlari ke arah pintu keluar.
"Tingkah lakunya sungguh berbeda dengan Fitri!" gumam Dicky.
"Hei, kau kenapa Dokter?" tanya Dokter Tika yang tiba-tiba ada di belakang Dicky.
"Maaf, aku harus mencari Fitri!" sahut Dicky yang langsung bergegas keluar dari ruangan itu kembali menuju ke toilet wanita.
Fitri yang bingung karena Dicky tidak ada di depan toilet, dia langsung berjalan masuk ke ballroom hotel, mereka berselisih jalan.
Fitri bingung, mengapa Dicky meninggalkannya begitu saja? Padahal biasanya dia tidak pernah seperti itu.
Fitri terus mencari di antara kerumunan orang-orang yang mulai berdatangan ke pesta itu.
Acara baru saja dimulai, di sudut ruangan di tempat VIP, Bu Anjani nampak duduk di temani oleh Mbok Jum dan seorang Dokter yang bekerja di rumah sakitnya.
Sebenarnya Fitri ingin datang mendekati Bu Anjani, yang adalah mertuanya itu, namun dia mengurungkan niatnya karena ingat rasa sakit hati yang pernah dia alami, Fitri tidak ingin kembali menguak luka itu.
Sementara itu, Dicky terus mengeledah semua toilet wanita, namun dia tidak menemukan Fitri, Dicky mulai frustasi.
Dia kemudian berjalan ke arah lobby dan bertanya pada security mengenai Fitri, namun security tidak mengetahui nya.
Mau tidak mau Dicky berjalan ke arah parkiran untuk mengambil ponselnya itu.
"Sial!! Pernikahan Dimas membuatku sial!" rutuk Dicky kesal.
Padahal dia ingin memberikan yang terbaik untuk sahabatnya itu, namun kini justru Dicky kehilangan jejak istrinya.
Dicky mulai mencari ponselnya di mobil, hingga 15 menit mencari, barulah ketemu, ternyata ada di bawah kemudi karena terjatuh.
Tanpa menunggu, Dicky langsung menelepon Fitri.
Beberapa kali mencoba barulah Fitri mengangkat ponselnya.
"Halo Mas! Kau di mana?!" tanya Fitri.
"Aku yang seharusnya bertanya, kau di mana Fit??" balas Dicky.
"Aku ada di pesta Dimas Mas, tadi saat keluar dari toilet kau sudah tidak ada, ya sudah aku langsung masuk saja!" jawab Fitri.
__ADS_1
"Kalau begitu kau tunggu di situ!" Jangan beranjak sedikitpun! Kau mengerti??" tanya Dicky.
"Iya Mas, aku ada di depan pelaminan, aku berdiri di bawah gerbang bunga dan di depan gubug bakso!" kata Fitri.
"Baik! Jangan beranjak sedikitpun!" ujar Dicky yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tanpa menunggu lama, Dicky langsung berlari kembali ke ruangan ballroom, suasana sangat ramai di sana, Dicky terus mencari hinga dia melihat, wanita cantik bergaun abu-abu yang di yakinnya adalah istrinya.
Dicky langsung berlari memeluk Fitri dengan erat.
"Fitri!! Sekali-kali jangan kau pergi lagi dariku!!" ucap Dicky.
"Kau ini kenapa Mas? Aneh sekali!" tanya Fitri
Dicky kemudian membawa Fitri duduk di Kursi dan mengambil minuman, nafasnya tersengal-sengal.
"Tadi, ada wanita yang wajahnya sangat mirip denganmu, aku pikir itu kamu, aku main tarik tangannya saja dan masuk ke dalam ruangan, herannya dia hanya diam saja!" jelas Dicky.
"Lalu??"
"Lama-lama dia menarik tangannya dan menatapku heran, dari situ aku baru sadar kalau dia bukan Fitriku, dia orang lain!" lanjut Dicky.
"Mas, saat di toilet aku juga melihat wanita itu, aku sampai mau pingsan, tapi dia langsung pergi begitu saja, karena aku sakit perut ya aku masuk ke dalam toilet" ungkap Fitri.
"Siapa wanita itu Fit? Kenapa dia begitu mirip denganmu? Dulu juga ada dokter yang mirip denganku, Dokter Dave namanya ,tapi saat di dekati wajah kami beda, tapi ini, kau begitu mirip dengannya!" kata Dicky.
"Aku juga tidak tau Mas, saat aku tanya dia hanya diam saja, sudahlah, dari pada kita tegang, lebih baik kita makan, kau pasti sudah lapar kan?!" ajak Fitri.
Dicky menganggukan kepalanya dan mengikuti Fitri mengambil piring makan di maja prasmanan itu.
Mereka kemudian mulai duduk makan.
"Mas, di tempat VIP di sudut sana, ada Ibumu Mas!" ucap Fitri sambil menunjuk ke arah Bu Anjani yang kini sedang terlihat duduk makan.
"Rupanya Ibu datang juga, dia sudah sembuh ternyata!" gumam Dicky.
"Temuilah Ibu Mas, dia pasti akan senang jika putranya datang menemuinya!" kata Fitri.
Dicky menganggukan kepalanya.
"Nanti kita akan datang kesana bersama-sama!" bisik Dicky sambil melanjutkan makannya.
__ADS_1
Bersambung ...
*****