
Bi Sumi yang masih ada di ruangan tengah rumah besar itu, nampak mondar mandir dan gelisah, Alex nampak tertidur dalam gendongannya.
Ini sudah hampir setengah jam namun Fitri belum keluar dari kamar Pak Bram.
"Duh Lex, ini Mamamu kok lama ya, Bibi mau nyusul, tapi nanti Alex sama siapa?" gumam Bi Sumi.
Tak lama kemudian, nampak Pak Bram dan istrinya datang kembali, Bi Sumi semakin pucat dan takut, Fitri masih ada di kamar Pak Bram.
Pak Bram menatap tajam ke arah Bi Sumi.
"Kenapa kau mondar-mandir di sini?? Apa tidak ada kerjaan lain??" tanya Pak Bram.
"Sa-saya sedang menidurkan Alex Tuan!" jawab Bi Sumi gugup.
Mereka kemudian berjalan ke arah kamarnya, Bu Sumi semakin takut.
Tidak ada pilihan lain, Bi Sumi harus nekad, dia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Dicky.
"Halo Bi, ada apa?" tanya Dicky dari seberang telepon.
"Pak Dokter, saya mohon, pulang ke rumah sekarang, Mbak Fitri dalam bahaya Pak!" kata Bi Sumi.
"Apa? Fitri kenapa Bi?" tanya Dicky cemas.
"Mbak Fitri ada di dalam kamar Pak Bram, dia dalam bahaya!" ujar Bi Sumi.
"Untuk apa dia ada di kamar Pak Bram?!! Apa yang sebenarnya terjadi!!?" tanya Dicky tambah bingung.
"Panjang ceritanya Pak Dokter, Pokoknya Pak Dokter pulang sekarang juga, sekalian bawa polisi ya Pak!" ujar Bi Sumi.
"Apa?? Polisi??" tanya Dicky bingung. Namun Bu Sumi sudah keburu mematikan sambungan teleponnya.
Sementara itu Fitri yang pingsan langsung di ikat kedua tangan dan kakinya.
Tak lama kemudian Pak Bram dan Lina segera masuk ke dalam kamar itu.
"Untung kalian cepat datang! Posisi kita sekarang dalam bahaya!" ujar Wanita itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Mbak?" tanya Pak Bram.
"Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, kita harus cepat meninggalkan tempat ini!" sahut wanita itu.
"Lalu, bagaimana dengan uang dan emas batangan yang ada dalam lemari itu? Juga serifikat rumah ini?" tanya Lina.
"Bodoh! Kau masukan ke dalam tas sekarang juga!" sengit Pak Bram.
__ADS_1
Lina lalu mengambil sebuah tas besar, tanpa menunggu dia langsung membuka lemari besi itu dan mengambil semua hasil curiannya selama bertahun-tahun lalu di masukan ke dalam tas besar itu.
"Lalu wanita ini bagaimana??" tanya Pak Bram sambil menunjuk Fitri yang masih tergeletak.
"Kita bawa dia, kita jadikan Sandra kalau-kalau kita tertangkap basah! Mungkin sudah saatnya semua akan terungkap, sudah saatnya!" jawab wanita itu.
Setelah selesai memasukan semua benda berharga ke dalam dua buah tas besar, mereka kemudian berjalan ke arah tangga rahasia yang menghubungkan ke dapur.
Pak Bram membopong tubuh Fitri sementara Lina dan wanita itu masing-masing membawa tas besar.
"Kita mau kabur kemana? Sementara di depan gerbang penjagaan begitu ketat!" tanya Pak Bram.
"Kita jalan sampai ke belakang dapur, di dekat laundry, ada pintu rahasia yang bisa kita lewati langsung menembus ke jalan raya!" jawab Wanita itu yang sepertinya sudah sangat hafal dengan seluk beluk rumah ini.
Mereka terus berjalan ke arah belakang, beberapa pelayan sempat memergoki mereka, namun wanita itu mengarahkan sebuah pisau untuk mengancam mereka sehingga mereka takut dan tutup mulut.
Setelah mereka sampai di laundry, tiba-tiba Fitri sadar dari pingsannya.
"Lepaskan!!" teriak Fitri.
Dengan cepat Pak Bram langsung membungkam mulut Fitri dengan tangannya, Fitri berusaha memberontak, tapi cengkraman tangan Pak Bram begitu kuat.
"Lina! Kau cepat pesan taksi sekarang juga, tunggu di sebrang jalan raya itu!" titah wanita itu.
"Hentikaannn!!!!" terdengar teriakan Bi Sumi.
Bi Sumi sudah berdiri di belakang mereka sambil menggendong Alex. Alex mulai menangis karena kaget.
"Menyingkir kau perempuan!! Atau aku akan melenyapkan wanita ini!" teriak Pak Bram.
"Jangan sakiti Mbak Fitri! Dia tidak tau apa-apa, dia orang baru di sini, tidak ada urusan dengan kalian!!" jerit Bu Sumi.
"Dia memang tidak ada urusannya dengan kami, tapi dia sudah masuk ke tempat persembunyian kami! Nasi sudah menjadi bubur, jangan salahkan kami jika kami melenyapkan dia atau kau memberikan kemi kesempatan untuk keluar dari tempat ini!" seru Pak Bram.
Bi Sumi sengaja mengulur waktu untuk menunggu kedatangan Dicky, namun Dicky belum datang-datang juga.
Wanita itu kembali melanjutkan jalannya menuju ke sebuah pintu rahasia, di ikuti Lina dan Pak Bram yang nampak menyandera Fitri.
"Kalian akan menyesal!!" teriak Bi Sumi.
Wanita misterius itu kemudian membalikan tubuhnya, dia mulai mengeluarkan sebuah senjata api lalu diarahkannya pada Bi Sumi yang masih menggendong Alex.
"Bi Sumi pergi saja selamatkan Alex!! Jangan memperdulikan aku!!" teriak Fitri kencang.
"Sudah terlambat! Kau juga harus kami lenyapkan!" teriak wanita itu, tanpa menunggu dia langsung mengarahkan senjata api itu tepat di hadapan Bi Sumi dengan jarak sekitar 8 meter.
__ADS_1
Dooorrrrr!!!!
"Tidaaaak!!" teriak Fitri.
Bi Sumi yang memejamkan matanya sambil memeluk dan melindungi Alex terkejut.
Dia sama sekali tidak terkena tembakan itu, justru di hadapannya, seseorang dengan memakai seragam pelayan jatuh tersungkur bersimbah darah.
"Hah?? Isah?? Kenapa kau menyelamatkan dia??" teriak Pak Bram.
"Saya capek Tuan! Terus-terusan mengikuti perintah kalian, menaruh obat tidur setiap jam makan malam, membuat racikan obat berbahaya, mereka orang baik Tuan!" ucap Isah sambil memegangi dadanya yang bersimbah darah. Tubuhnya mulai mengejang.
"Isah! Bertahanlah, Sebentar lagi Pak Dokter datang!" ujar Bi Sumi sambil berlutut memegangi tubuh Isah.
"Bram! Taksinya sudah datang! Cepat pergi dari sini!" teriak wanita misterius itu.
Mereka cepat-cepat kembali berjalan dan mulai membuka pintu rahasia yang terbuat dari besi itu.
Pada saat mereka akan keluar, tiba-tiba terdengar suara letusan senjata berapi di udara. Mereka mulai panik. Fitri semakin dia sekap, hingga dia menjadi lemah.
"Rumah ini telah kami kepung!! Kalian menyerahlah!!" terdengar suara seseorang dari arah belakang, di ikuti dengan suara sirine mobil polisi.
Bi Sumi menarik nafas lega.
Dicky muncul dari arah depan di ikuti oleh beberapa pelayan yang mengadu padanya.
"Jangan mendekat!! Atau aku lenyapkan wanita ini!!" teriak Bram sambil mengarahkan sebuah pisau ke leher Fitri.
Suasana menjadi sangat tegang.
"Lepaskan istriku pengkhianat!!" jerit Dicky.
"Tidak akan!! Biarkan kami pergi kalau kau mau istrimu selamat!!" sahut Pak Bram.
"Jangan sentuh istriku atau aku patahkan lehermu!!" sengit Dicky.
Tiba-tiba Bu Anjani muncul dari kerumunan, dia berjalan perlahan ke arah Wanita misterius itu, dia menatap dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Wanita misterius itu juga menatap dalam ke arah Bu Anjani, tatapan mata penuh kebencian.
Mereka saling bertatap-tatapan beberapa saat lamanya.
Bersambung ...
****
__ADS_1