Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pengakuan Bu Eni


__ADS_3

Malam itu, Dicky menutup kliniknya lebih cepat dari pada biasanya, Suster Wina juga sudah pulang duluan.


Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan hal yang penting.


Dina dan Dara sudah masuk kamar mereka masing-masing, Bi Sumi juga masih sibuk di dapur membersihkan piring kotor bekas makan malam tadi.


Di ruang keluarga itu, duduk Pak Karta dan Bu Eni berdampingan, di hadapannya ada Dicky dan Fitri yang masih memangku Alex.


Pak Karta dan Bu Eni nampak diam dan saling menunggu, mereka bingung mau memulai pembicaraan ini dari mana.


"Bapak saja deh yang bicara!" kata Bu Eni tiba-tiba.


Pak Karta nampak menarik nafas panjang, seperti ada beban yang selama ini di pikulnya.


"Sebaiknya Ibu saja yang bicara, sepertinya Bapak belum sanggup, Ibu kan lebih kuat!" ucap Pak Karta.


Dicky dan Fitri saling berpandangan, Bingung.


"Sebenarnya ada apa sih Pak? Bu? Apa yang selama ini jadi rahasia kalian? Aku sudah dewasa Pak, Bu, bukan anak kecil lagi!" ujar Fitri. Hatinya mulai merasa gundah.


"Fitri, sebelumnya Ibu dan Bapak minta maaf, maafkan kami ya Nak!" ucap Bu Eni menunduk.


Suasana di ruangan itu mendadak hening.


"Fitri, Ibu dan Bapak sudah sepakat, ingin menceritakan hal yang sebenarnya padamu, sudah saatnya Fit, supaya Bapak dan Ibu juga bisa tenang tanpa di hantui rasa bersalah!" lanjut Pak Karta.


"Cepat katakan saja Pak, Bu!" sahut Fitri tak sabar.


"Dulu pada saat Ibu melahirkan, Ibu mengalami kesulitan dalam melahirkan karena bayi yang di kandung itu ternyata kembar Nak, saat itu tidak ada dokter kandungan atau rumah sakit terdekat, karena kami tinggal di kampung!" jelas Bu Eni.


"Kemudian ada seorang bidan desa yang membantu persalinan Ibu, dengan susah payah akhirnya Ibu berhasil melahirkan dengan selamat, bayi kembar perempuan yang lucu dan menggemaskan, Bapakmu memberi nama Fitri dan Putri, saat itu kami sangat bahagia, dan karena trauma melihat Ibu yang hampir mati melahirkan, bapakmu tidak ingin Ibu hamil dan melahirkan lagi!" ungkap Bu Eni.


"Jadi benar, kalau ternyata sebenarnya aku punya saudara kandung? Lalu di mana keberadaan saudara kandungku itu Bu?" tanya Fitri.

__ADS_1


"Karena dulu Ibu dan Bapak sangat miskin, kami berhutang pada bidan itu, belum melunasi pembayaran persalinan, sebagai jaminan, si Putri di bawa dulu sama bidan itu sampai kami bisa melunasi hutang, Bapakmu pontang panting cari pinjaman!"


"Setelah tiga hari mengumpulkan uang, kami datang ke rumah bidan itu, tapi ternyata ... dia sudah pergi dengan membawa si Putri, Ibu sedih dan terpukul, menyesal mengapa bisa memberikan putri pada bidan itu hanya karena belum melunasi hutang!" Bu Eni nampak menangis.


Punggungnya bergetar hebat, luka lama seolah kembali terkoyak, Pak Karta memeluk Bu Eni, mereka saling berpelukan dan bertangis-tangisan.


Fitri juga nampak terkejut dan terpukul, betapa selama ini ternyata dia mempunyai saudara kembar, tangannya bergetar.


Dengan cepat Dicky mengambil alih Alex dari gendongan Fitri.


"Bu, siapa nama bidan itu? Yang membawa pergi saudaraku??" tanya Fitri.


"Dulu dia biasa di panggil Bidan Acih, dia masih muda seumuran Ibu, tapi belum punya anak!" jawab Bu Eni.


"Jangan-jangan, Mak Acih itu Bidan Acih, dan si Tata itu saudaraku! Ya, aku yakin kalau itu dia!" gumam Fitri.


"Apa? Bidan Acih ada di Jakarta? Selama ini kami mencarinya kemana-mana, tapi tidak pernah ketemu!" lanjut Pak Karta.


"Pak, Bu, besok pagi akan aku ajak kalian kerumah Mak Acih, aku pernah ke rumahnya Bu, anaknya itu mirip sekali denganku, kata pemilik toko bunga tempatnya bekerja dia baru setahunan pindah ke Jakarta!" jelas Fitri.


"Iya Pak, beberapa kali aku bertemu dengannya secara tak sengaja, pokoknya besok aku mau ijin tidak mengajar, aku ingin bertemu dengan saudara kembar ku yang terpisah sejak lahir!" ujar Fitri.


"Aku juga Fit, besok aku liburkan sementara praktekku, aku alihkan pasien ku ke rumah sakit saja untuk sementara, aku akan mengantar kalian!" tambah Dicky.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tanpa terasa mereka mengobrol begitu lama.


"Maafkan Ibu dan Bapak Fit, baru mengungkapkan cerita ini sekarang, Ibu dan Bapak sangat merasa bersalah sekali, walau bagaimana kamu berhak tau kalau kamu masih punya saudara kandung di dunia ini!" ucap Pak Karta.


"Sudahlah Pak, Bu, aku sudah memaafkan kalian kok, aku paham mengapa kalian tidak menceritakannya padaku, tapi ternyata takdir memang mempertemukan aku dengannya, tapi sayang ..." Fitri menghentikan ucapannya.


"Sayang kenapa Fit?" tanya Bu Eni.


"Dia bisu Bu, tidak bisa bicara!" jawab Fitri.

__ADS_1


"Apa?? Bisu? Tidak mungkin!" cetus Pak Karta.


"Sejak lahir dia menangis keras, mana mungkin dia bisu!" timpal Bu Eni.


"Kata orang, dia bisu setelah mengalami kecelakaan, mudah-mudahan saja bisa sembuh!" ucap Fitri.


"Anakku, aku sangat merindukannya, dia pasti sama cantiknya denganmu Fit!" kata Bu Eni yang kembali menangis.


"Sabar Bu, besok kita akan bertemu dengannya, kalau benar dia saudaraku, aku akan mengajaknya tinggal bersamaku, jadi dia tidak usah lagi bekerja di toko bunga itu lagi!" ujar Fitri.


"Jangan Fit! Biar dia tinggal sama Bapak dan Ibu saja, jangan tinggal bersamamu!" sergah Dicky.


"Oh, Mas Dicky takut ya kalau salah menggandeng istri lagi!" ledek Fitri.


"Bukan begitu, tapi ..."


"Memang alangkah baiknya dia tidak tinggal bersamamu Fit, apalagi dia belum menikah, lebih baik tinggal saja sama Ibu dan Bapak!" kata Bu Eni.


"Sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat saja dulu, biar besok kita bisa bangun dengan segar!" ujar Dicky yang matanya merah dan nampak sudah mengantuk.


"Benar Nak Dicky, kita siapkan tenaga saja buat besok, Bapak tidak sabar bertemu dengan anak Bapak itu, mudah-mudahan benar dugaan Fitri, kalau dia itu adalah anak kami yang hilang dulu!" ucap Pak Karta.


"Ibu juga tidak sabar Pak, semoga keluarga kita bisa utuh lagi, tanpa ada yang terpisah, sakit rasanya hati ini kehilangan anak!" timpal Bu Eni.


Mereka kemudian mulai beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju kamar masing-masing.


Dicky langsung menghempaskan tubuhnya yang lelah di tempat tidur nya yang empuk itu.


"Hmm, aku baru tau kalau ternyata kau punya saudara kembar Fit, tapi ingat ya, jangan pernah mengajaknya untuk tinggal bersama kita, karena dia bisa menjadi orang ke tiga!" ujar Dicky.


"Mas! Kau jangan berburuk sangka, mana mungkin saudaraku sendiri bisa menjadi orang ketiga, jaga mulutmu!" sengit Fitri.


"Iya Maaf, jangan sewot dong sayang, aku ngantuk Fit, elus-elus dong, biar cepat tidur!" pinta Dicky yang langsung merebahkan kepalanya dengan manja di pangkuan Fitri.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2